Stuck In Love CEO

Stuck In Love CEO
Bab 18. Cowok bucin



Ken dan Bryan kompak mengamati pria yang membawa Naina pulang itu dari atas sampai ke bawah tanpa ada yang terlewat.


Dua pertanyaan yang terdengar tajam itu, membuat Juna menjadi gugup. Naina melihat Juna dengan khawatir.


Tetap kalem Jun, kamu tidak boleh gugup. Juna turun dari motornya, ia tersenyum penuh percaya diri dan berjalan menghampiri pria kembar itu.


"Assalamualaikum om, perkenalkan saya teman nya Naina.. nama saya Juna" ucap Juna sopan sambil membungkuk hormat kepada Ken dan Bryan


Papa nya Naina yang mana ya?. Juna melirik ke arah Ken dan Bryan dengan bingung. Menebak-nebak yang mana papa dari temannya itu.


"Waalaikum salam, saya Ken.. om nya Naina". kata Ken cuek


Boleh juga nyalinya anak ini. Tampilannya preman tapi sopan juga. Ken tersenyum tipis


Oh jadi yang penampilannya lebih menyeramkan ini adalah om nya Naina. batin Juna


"Waalaikum salam, saya Bryan.. papa nya Naina." jawab Bryan agak ramah


"Iya om, papa, ini teman sekelas ku sekaligus teman kelompok belajar ku. Kami baru saja pulang dari kerja kelompok" jelas Naina pada om dan papanya


"Teman sekelas? tapi kayanya dia lebih tua dari kamu ya?" tanya Bryan


"Dia awalnya teman sekelas Kelvin pah, tapi gak naik kelas. Jadi dia sekelas sama Naina" jawab Kelvin yang tiba-tiba sudah ada dibelakang om dan papanya.


Mampus kamu Jun. Kelvin menyeringai, tersenyum jahil.


Wah wah, si Kelvin bener bener deh niat membunuhku. Nilai ku bisa minus nih di depan papa sama om nya Naina.. Juna merasa terancam dengan tatapan Ken dan Bryan yang mulai tajam padanya.


Kakak iseng banget sih, kasihan kan Juna. Naina memonyongkan bibirnya, sebal pada Kelvin.


"Juna memang tidak naik kelas pah, tapi Juna anak baik kok. Dia hanya suka bolos sekolah, makanya dia gak naik kelas. Tapi, Juna pintar dan orangnya cepat belajar"


Asyik! dibelain malaikat. Hati Juna terbang mendapatkan pembelaan dari Naina tentang dirinya.


"Pintar apanya, nilainya juga doremi terus" gumam Kelvin usil


Gak semudah itu kamu mau mendekati adikku ya, Ferguso!


Kelvin, kamu tidak bisa diam ya?. Juna mulai terlihat kesal dengan Kelvin yang terus memberinya nilai minus di depan om dan papa nya.


"Oh ya papa kamu kerja apa? kamu tinggal dimana?" tanya Bryan mengintrogasi


"Papa saya..." Juna terlihat bingung menjelaskan kalau papa nya sudah tiada


"Papa, om, kak, cukup ya! ini sudah sore dan mau magrib. Nanti saja lagi tanya tanya nya, Juna harus pulang" kata Naina berusaha menolong Juna


Saat Juna akan pulang, Alma keluar dari rumah itu dan menyuruh Juna untuk shalat magrib di rumah nya sekalian makan malam bersama. Mendengar ajakan Alma, Juna juga tidak bisa menolak nya. Juna bersyukur karena Naina mirip dengan mama nya yang lembut dan polos, walau sedikit galak.


Alunan suara merdu adzan mulai terdengar menggema, segera Naina dan keluarga nya pergi mengambil air wudhu dan bersiap-siap melaksanakan shalat berjamaah bersama.


Sementara itu Juna terlihat bingung saat akan menyalakan keran air. Naina yang melihatnya juga ikut terheran-heran.


"Jun, kenapa? airnya mati?" tanya Naina


"Sebenarnya gue.. gue.. "


Gimana bilangnya ya? apa dia bakal ilfeel padaku kalau aku bilang, aku lupa doa wudhu dan cara berwudhu.


"Ada apa Jun? bilang aja?" tanya Naina


"Gue.. gue lupa doa wudhu, dan cara berwudhu" jawab Juna malu


Tidak tau berapa lama Juna tidak melaksanakan kewajiban nya, beribadah dan berkomunikasi dengan Tuhan-nya. Juna sampai lupa doa dan tata cara berwudhu, bahkan mungkin ia juga lupa bagaimana bacaan shalat. Hati nurani Juna tersentak dengan keadaan memalukan itu, ia seperti kacang lupa kulitnya, manusia yang lupa pada Tuhannya.


Naina dengan santainya, ia tidak mengejek Juna sama sekali. Dengan lembut Naina mengajarkan Juna bagaimana caranya berwudhu, ia bahkan menempelkan kertas yang berisi doa wudhu di dekat sana agar Juna bisa melihatnya dan membacanya.


Juna merasa senang karena Naina sama sekali tidak merasa ilfeel padanya, malah mau mengajarinya. Tidak heran kalau Theo memanggilnya sebagai peri cantik, sekarang Juna tau betapa menariknya Naina meskipun gadis itu tidak peka dan menyebalkan.


"Tenang aja Nai, nanti gue bakal jadi imam yang baik "


"Hah??" Naina terheran-heran


"Gue butuh waktu buat belajar, jadi Lo harus liat perkembangan gue ya. Lo harus percaya sama gue" Juna tersenyum pede


Dia ngomong apa sih? Aku iya in aja deh biar cepet.


"Ya iya.. terserah kamu aja deh. Kalau sudah selesai wudhu nya, yuk shalat barengan" ajak Naina


Sekarang aku tau siapa malaikat tak bersayap yang ada di lagu. Itu kamu Nai. Juna tersenyum, menunjukkan bahwa ia terpesona pada Naina.


Juna, Ken, Bryan dan Kelvin shalat dibarisan paling depan, sementara Alma, Naina, Viona dan Sonya, berada di shaf belakang. Setelah selesai solat magrib, mereka sedikit berbincang di ruang tamu selagi menunggu makan malam disiapkan oleh para wanita.


Juna menikmati kehangatan keluarga Aditama, ia yang tidak pernah merasakan kasih sayang orang tuanya. Tiba-tiba saja merindukan kedua orang tuanya yang sudah meninggalkan nya, papa nya meniggalkan nya selamanya, sementara ibunya meninggalkan nya dan menikah lagi dengan pria lain. Juna sudah kehilangan kasih sayang orang tuanya sejak usia nya 8 tahun. Dan sejak saat itu Juna di asuh oleh pengasuhnya dan Opa nya dari pihak papa.


Di dapur, Alma, Naina dan Viona sedang sibuk menyiapkan makan malam. Mereka juga melihat para pria sedang mengobrol di ruang tamu yang tak jauh dari dapur.


"Nai, siapa tuh cowok itu? pacar kamu ya?" goda Viona pada Naina


"Pacar? Tante Vio, aku belum mau pacaran" jawab Naina sambil tersenyum dan menyiapkan beberapa gelas ke nampan untuk diisi air.


"Kayanya cowok itu suka tuh sama kamu" Viona melihat ke arah Juna yang sedang melihat ke arah Naina


"Tentu saja kami saling suka, kami kan teman Tante" jawab Naina polos.


"Aduh kamu tuh ya" Viona menggelengkan kepalanya


"Kalau kamu mau pacaran, mama gak ngelarang kok. Asalkan tidak menganggu belajar kamu, Nai" kata Alma menimpali


"Siapa yang mau pacaran ma? aku mau belajar dulu! pacaran nanti saja pas masuk kuliah" jawab Naina penuh keyakinan


"Huu.. kasihan sekali dong pria pria yang mengejar kamu, mereka pasti sedih karena kamu belum mau pacaran." Viona tersenyum


"memangnya siapa yang mengejar ku Tante?" tanya Naina


"Siapa lagi kalau bukan anaknya dokter Ian dan cowok tampan yang lagi duduk di samping kakak kamu itu" ucap Viona seraya melihat ke arah Juna


"Itu gak benar Tante, kita semua cuma teman" Naina tersenyum santai


Memang kepolosan nya itu mirip dengan kak Alma.


Beberapa menit kemudian, makan malam telah siap di meja makan. Semua keluarga Aditama yang ada disana berkumpul dan menikmati makan malam bersama.


"Ayo nak Arjuna, kamu ikut juga" ajak Alma ramah


"Makasih tante, panggil saja saya Juna" jawab Juna sambil tersenyum ramah


Makan malam itu berlangsung menyenangkan karena Juna yang tidak canggung lagi, ia juga menceritakan beberapa cerita lucu pada keluarga Naina. Belum lagi si kecil Sonya yang tidak biasa dekat dengan orang lain, juga menempel pada Juna padahal baru sekali bertemu. Juna merasa senang karena diajak ikut makan malam bersama.


Benar-benar seperti rumah dan keluarga. ucap Juna sambil melihat rumah sederhana berlantai kan dua itu dan memperhatikan orang-orang yang ada di dalam sana.


Jam sudah menunjukkan pukul 8 malam, Juna pun berpamitan pulang pada semua anggota keluarga Aditama yang sedang ada di rumah Bryan.


"Om, tante, semuanya.. saya pamit ya" kata Juna sopan


"Ya, ya jangan datang lagi ya" kata Kelvin tak suka


"Kelvin sayang, kamu gak boleh gitu ah" ucap Alma pada anak sulungnya itu. "Juna, kamu boleh kok datang lagi, pintu rumah kami akan selalu terbuka lebar untuk kamu"


"Ehem.. kalau kamu mau main, datang saja kemari. Tapi kamu gak boleh berduaan sama Naina" kata Bryan mengingatkan


"Beneran om? makasih ya om" Juna menjabat tangan Bryan dengan girang.


Sinyal bagus nih! Theo, harusnya kamu lihat ini.


Tingkah Juna membuat semua orang yang ada disana tersenyum senang."Iya iya" jawab Bryan cuek


"Kak Juna, nanti main lagi kesini ya. Rumah Sonya ada diujung jalan sana" tunjuk Sonya pada ujung jalan yang ada di kompleks itu


"Iya nanti kakak main lagi ya, sekarang kakak pulang dulu" Juna mengelus kepala Sonya dengan lembut


CUP! MUACH


"Hehe.." Sonya nyengir setelah mencium pipi Juna.


Juna terpana mendapat ciuman pertama di pipinya, oleh seorang gadis kecil. Juna langsung memegang pipinya. Semua orang disana kaget melihat tindakan Sonya, termasuk kedua orang tuanya.


"PFut.. " Naina dan Kelvin menahan tawa melihatnya


Ah, ciuman pertama ku. Padahal aku ingin Naina yang melakukan nya.


"Sonya sayang, kamu gak sopan ya. Aduh Juna maaf ya, sonya biasanya tidak seperti ini" Viona tersenyum dan memegang kedua bahu anaknya itu.


Seperti nya Sonya menggemaskan karena mirip ibunya. ucap Ken dalam hatinya.


"Haha, gak papa kok Tante.. santai aja" Juna tertawa canggung


Pria itu segera memakai helmnya, ia juga naik ke atas motor nya bersiap untuk pulang.


Fiks, aku harus masuk ke dalam keluarga kamu Nai. Tunggu aku 6-7 tahun lagi. ucap Juna dalam hatinya penuh tekad.


"Gak papa, harusnya gue yang bilang makasih, karena Lo.. gue bisa ngerasain hal yang udah lama gak pernah gue rasain. Makasih Nai" kata Juna lembut


"Tumben cowok preman lembut, huh" Naina tersenyum


"Gue emang lembut, cuma Lo nya aja nyebelin."Juna mencubit pipi Chubby Naina dengan gemas


"Uh.. Junjun sakit!" gerutu Naina sebal


Juna melepaskan cubitannya dari Naina, setelah melihat ada 3 pasang mata yang melihatnya tajam dari atas balkon rumah itu. Ya siapa lagi kalau bukan ketiga pria dari keluarga Aditama.


Haha, aku lupa kalau masih ada 3 gunung es yang harus di lewati. Juna tersenyum tipis


"Nai, gue balik ya!" Juna menyalakan motornya.


"Iya hati-hati ya, kabarin aku kalau sudah sampai rumah" kata Naina cemas


"Oke, kalau Lo emang mau gue kabarin" goda Juna


"Apa? aku begini karena aku khawatir tau! kamu jangan mikir macam-macam, huh" gerutu Naina sebal


"Gue senang Lo khawatir sama gue" jawab Juna senang " Assalamualaikum"


Kayanya aku bakalan susah tidur malam ini.


"Waalaikum salam" jawab Naina sambil tersenyum melihat kepergian Juna dan sepeda motornya.


Kenapa si Juna terus mengatakan hal hal yang aneh ya?


Di dalam perjalanan pulang, Juna terus tersenyum bahkan bersenandung menyanyikan sebuah lagu cinta. Orang-orang yang melihat nya, mengira kalau Juna sudah gila.


...****...


Disisi lain, juga ada yang hatinya sedang berbunga-bunga. Malam itu Keira baru saja pulang bekerja, gadis itu tampak duduk di depan rumahnya yang sangat sederhana. Dia memegang ponsel pemberian Kelvin yang belum di nyalakan nya sama sekali.


"Non Keira belum tidur?Non Kei pasti capek ya habis bekerja?" tanya Mbok Darmi dengan logat Jawa nya yang kental


"Gak papa kok mbok, aku cuma lagi bingung aja"


"Non Keira beli hp? padahal si mbok mau belikan bulan depan, soalnya si mbok belum gajihan" jelas Mbok Darmi sambil duduk di samping Keira.


"Aku juga belum gajihan mbok, ini temanku yang kasih" jawab Keira


"Pasti cowok ya?" tanya Mbok Darmi sambil tersenyum yakin


"Mbok kaya peramal aja deh"


"Apa yang kasih hp ini adalah sahabat non waktu kecil yang ngasih gantungan itu?" tanya Mbok Darmi


"Iya mbok" jawab Keira sambil tersenyum


Mbok Darmi tersenyum dan mengatakan pada Keira bahwa ada kemungkinan kalau Kelvin menyukai Keira sebagai wanita bukannya sahabat. Keira juga merasakan sebaliknya, bahkan ia sudah menyukai Kelvin sejak lama. Hanya saja Keira selalu merasa kalau ia tak bisa menebak apa isi hati Kelvin. Keira tidak mau kepedean sendiri, walaupun hatinya memang sedikit baper karena tindakan Kelvin.


Mbok Darmi meminta Keira untuk menghubungi Kelvin dengan ponsel pemberiannya itu. "Dia pasti akan senang menerima telpon dari non Kei, percaya deh sama si mbok."


Setelah selesai berbicara dengan mbok Darmi. Keira memasukan SIM card ke dalam ponsel baru itu, dan ia pun memasukan nomor Kelvin. Dengan ragu-ragu, ia menghubungi Kelvin.


Tut... Tut...


Di kamar Kelvin..


Drett..Dreet...


"Siapa yang telpon malam-malam gini?" tanya Kelvin sambil menatap layar ponselnya, nomor tak di kenal yang menghubunginya itu.


Kelvin tercengang karena mengenali nomor yang tak dikenal itu, ia langsung mengangkatnya.


Keira? ini kan nomor yang aku berikan padanya.


"Hem ehem.. halo"


"Halo, Assalamualaikum, Vin"


"wa.. waalaikum salam" jawab Kelvin


Kenapa aku mendadak gugup begini?


"Kelvin ini aku Keira" jawab Keira


"Jadi kamu udah pakai hp nya?" tanya Kelvin


"Iyah Vin, makasih ya. Tapi kayanya aku gak bisa nerima hp ini begitu saja, harganya sangat mahal. Jadi, aku mau nyicil bayar sama kamu tiap bulannya" jelas Keira


"Kamu nelpon aku cuma buat bilang kaya gini? Kei.. aku ikhlas ngasih hp itu buat kamu" kata Kelvin kesal


"Ya.. ya aku tau, tapi tetap saja kan aku gak enak dapat hp secara cuma-cuma kaya gini" gerutu Keira


"Kamu mau bayar biaya hpnya?" tanya Kelvin


"Iya, aku mau bayar" jawab Keira


"Kalau gitu bayar pakai kue coklat vanila setiap hari, setiap jam istirahat. Aku mau makan itu" kata Kelvin


"Maksud kamu kue coklat vanila buatan aku? tapi kan kamu gak suka yang terlalu manis, Vin"


"Aku suka, kalau kamu yang buatnya. Jadi gimana nih? mau buat kan untukku kan?" tanya Kelvin sambil tersenyum


Kenapa sih Vin, kamu suka bikin aku baper.


"Iya aku buatin, tapi kamu harus abisin ya. Soalnya..mu.."


"Mubazir.. aku tau" potong Kelvin dengan cepat


"Haha.." Keira tertawa lepas mendengar Kelvin memotong ucapannya.


"Haruskah aku panggil kamu si mubazir?" goda Kelvin


"Kelvin.. kamu tuh ya.."


Tanpa sadar mereka mengobrol selama satu jam lamanya dengan akrab. Kelvin yang selalu cuek pada wanita, hanya bisa bicara bebas saat bersama Keira.


"Gak kerasa udah satu jam kita telponan, hp ku juga belum di cas" ucap Keira


"Iya, kamu cepat tidur gih! udah malam. Besok pagi kamu harus siapkan kue coklat vanila untukku" titah Kelvin


Kok rasanya seperti pacaran ya? telponan sampai malam seperti ini sama Kelvin.


"Baiklah kamu tenang saja, besok aku buatkan untuk kamu"


"Oh ya, sebelum tidur aku mau bilang sesuatu sama kamu. Tentang Risya"


"Risya? ada apa?" tanya Keira heran


Apa Kelvin tertarik dengan kecantikan Risya?. Keira curiga


"Tolong jagain Naina dari Risya, aku yakin dia punya niat jahat sama Naina. Kamu kan teman sekelasnya dan kamu pasti selalu ada sama dia dibandingkan aku." jelas Kelvin


"Ya, sebenarnya aku juga merasa ada yang janggal sama dia. Tenang aja Vin, aku akan jagain Naina buat kamu" kata Keira tulus


"Hem.. kamu juga harus jaga diri kamu sendiri Kei"


"Buat siapa aku harus menjaga diriku?"tanya Keira


"Buat aku juga" jawab Kelvin


Gila! aku bilang apa barusan? Kelvin, gila gila! Kelvin menampar diri nya sendiri.


Habis sudah, Keira langsung senyum-senyum sendiri mendengar kata-kata Kelvin yang seperti perhatian padanya. Karena gugup dan terlalu senang, tanpa mengucapkan salam selamat malam. Keira menutup telpon nya dengan Kelvin.


"KYAAK!!!" Keira berteriak-teriak tak karuan.


PRAK


Keira tak sengaja menjatuhkan ponsel baru miliknya itu ke lantai, Keira segera memunguti ponselnya itu dan memeluknya dengan penuh kasih sayang.


"Uh.. syukurlah kamu gak papa" Keira mencium ponsel itu dengan bibirnya.


"Non Kei, ini sudah malam. Ayo tidur non!" teriak Mbok Darmi dari dalam rumah


"Ah iya mbok! aku datang " Keira tersenyum senang lalu masuk ke dalam rumahnya.


...---***---...


Hai Readers! makasih untuk dukungan kalian ya untuk novelku ini 😘 Jangan lupa kalau udah baca, like dan komennya ya untuk author, biar tambah semangat.


Yang mau kasih giftnya juga boleh kok 🥰🥰