Stuck In Love CEO

Stuck In Love CEO
Bab 124. Operasi Naina



πŸ€πŸ€πŸ€


"Vin, ada apa? Papa bilang apa? Apa Naina baik-baik saja?" tanya Keira melirik ke arah suaminya yang resah setelah bicara dengan papa nya di telpon


"Sayang, katanya ada yang gawat di rumah sakit. Kayanya kita harus segera pergi"


"Gawat? ya sudah ayo kita pergi yuk, aku sudah selesai makan kok" Keira menggandeng tas selempang nya, dia terlihat cemas. Tentu saja dia mencemaskan Naina yang masih di rawat di rumah sakit.


"Kamu mending pulang aja deh ke rumah sama Kayla, kamu kan sedang hamil sayang.." ucap Kelvin cemas


"Kelvin hanya karena aku sedang hamil, bukan berarti aku gak bisa kemana-mana. Ayo ah, cepetan ke rumah sakit! kita lihat Naina" Keira menggandeng tangan Kelvin dengan buru-buru


Kelvin dan Keira beranjak dari tempat duduk mereka, Kayla melihat kakak dan kakak iparnya pergi begitu saja dengan terburu-buru dan meninggalkannya disana.


"Eh! kak Kelvin, kak Keira! kalian mau kemana? kok aku ditinggal sih! Aku kan belum selesai makan desert nya!" seru Kayla setengah berteriak pada Kelvin dan Keira yang sudah pergi jauh dari restoran itu.


Kayla segera mengabiskan eskrim yang ada di dalam mangkuk dengan cepat. Dengan buru-buru Kayla menggandeng tas nya, dia beranjak pergi ingin menyusul Keira dan Kelvin.


"Ets! mau kemana lo bule nyasar? Lo belum bayar!" tanya Damar sambil memegang tangan Kayla


Kayla menepis tangan Damar, gadis itu mendengus kesal. "Gue hampir lupa, sorry" Kayla mengeluarkan beberapa uang lembaran seratus ribuan sebanyak 5 lembar, dan dia memberikan nya pada Damar. "Udah dulu ya, gue buru-buru"


Kayla langsung berlari menuju ke luar restoran, Damar menyusulnya karena uang yang diberikan Kayla padanya kelebihan dan sangat banyak.


"Woy! bule nyasar!" teriak Damar sambil berlari menyusul ke arah Kayla yang sedang menuruni anak tangga dengan sepatu heels nya.


Damar berlari menyusulnya. Kayla yang buru-buru, tak sengaja tersandung sepatunya sendiri. Tubuhnya oleng dan hampir jatuh, beberapa karyawan Damar melihat nya.


"Ah!!" Kayla panik melihat anak tangga yang masih banyak di bawahnya.


"Hey! hati-hati!" teriak Damar panik melihat Kayla hampir jatuh.


Damar berlari menuruni anak tangga, dia sudah berada di depan Kayla. Damar menangkap tubuh wanita itu, mereka berdua terguling-guling sampai ke bawah anak tangga.


BRUGH!


"Bos!!" teriak para karyawan yang ada di dalam restoran, mereka kaget melihat bos mereka terjatuh bersama Kayla. Mereka menghampiri Damar dan Kayla.


Kayla berada di dalam pelukan Damar, dia masih menutup matanya. Gadis itu keheranan karena tubuh nya sama sekali tidak merasa sakit. Dan dia merasakan sepasang tangan kekar terkulai lemah di tubuhnya.


Kayla mendongakkan kepalanya, dia terkejut melihat Damar tidak sadarkan diri dan berada di bawah tubuhnya. "Cowok rese?? hey! cowok rese! bangun! Lo kenapa?!" Kayla panik, ia menggoyang-goyangkan tubuh Damar. Kening Damar terluka, tangannya juga ada lecet-lecet disana.


"Saya akan telpon ambulans!" kata seorang karyawan Damar


"Kelamaan! tolong carikan taksi, dan salah satu dari kalian temani saya ke rumah sakit untuk membawanya!" seru Kayla


"Baik mbak" jawab Jordi ( salah satu karyawan di D'cafe)


Kayla dan Jordi, membawa Damar ke rumah sakit dengan mengendarai mobil taksi karena Kayla tidak membawa mobilnya.


****


Di rumah sakit, Keira dan Kelvin baru sampai di depan ruangan Naina. Mereka membuka pintu kamar Naina dengan perasaan berdebar karena takut terjadi sesuatu pada Naina.


CEKRET!


Prutt.. Prutt..


"Selamat!!" sorak sorai ramai terdengar begitu Kelvin dan Keira membuka pintu itu. Semua keluarga Aditama kecuali Kayla ada di dalam ruangan itu.


Kamar ruang rawat itu di hias sedemikian rupa, layaknya sebuah pesta perayaan. "Selamat ya!! kakak!" Naina berdiri di depan Keira dan Kelvin, menyambut kedatangan mereka dengan wajah bahagia. Naina meniup peluit dan menaburkan bunga pada pasangan suami istri itu.


"Selamat ya, Keira atas kehamilan kamu" kata Viona dan Laura sambil tersenyum pada Keira. Mereka tersenyum bahagia dan siap menyambut anggota keluarga baru.


"Selamat ya Vin, kamu akan menjadi ayah" Ken dan Leon memberikan selamat pada Kelvin yang akan menjadi seorang ayah.


Pasangan suami istri itu tersenyum bahagia, semua kekuatan memberikan mereka ucapan selamat atas kehamilan Keira. Setelah itu mereka berniat untuk makan-makanan bersama di ruangan Naina.


Naina merasa senang karena ruangan nya yang sepi kini menjadi ramai, rumah sakit jadi tidak begitu menyeramkan karena ada keluarga nya disana.


"Akhirnya aku akan menjadi Tante" kata Naina sambil mengelus perut Keira dengan lembut. Naina bahagia karena Kelvin dan Keira bahagia, ditengah badai yang melanda hati semua orang karena keadaan Naina. Akhirnya semua orang bisa tersenyum karena berita bahagia dari Keira.


Kapan ya aku bisa kaya gini? menikah lalu hamil...membayangkan..nanti kalau aku hamil anaknya Juna. Kenapa aku sudah kepikiran sampai situ ya? nikah aja belum? sehat aja belum.


Naina menertawakan dirinya sendiri di dalam hati. Dia sudah membayangkan masa depan bersama tunangannya, pria bernama lengkap Arjuna Ardiwinata, yang saat ini sedang berada di Australia.


"Iya, kamu akan jadi Tante Nai" Keira tersenyum pada adik iparnya itu. Keira membelai pipi Naina, menatap nya penuh kasih sayang


"Iya, aku senang sekali.. akan ada kak Kelvin junior. Aku berharap semoga anak ini tidak mirip papa nya" Naina melirik ke arah Kelvin


"Loh? kok gitu sih Nai?" tanya Bryan heran mendengar ucapan putrinya


"Karena gawat kalau mirip kakak, kakak kan gak ada imut-imut nya" jawab Naina sambil tersenyum


"Benar juga. Kalau anak itu mirip Kelvin, nanti dia akan mempunyai sikap dingin dan datar" kata Leon sambil melihat ke arah Kelvin yang berwajah masam.


"Setuju! nanti dia gak ada imut-imut nya, mending mirip sama Keira mama nya" kata Laura sambil tersenyum, dia setuju dengan perkataan suaminya.


Ketika asik bercanda tawa bahagia, Naina kembali muntah darah dengan volume yang lebih baru dari sebelumnya. Perhatian semua orang jadi terpusat padanya.


"UHUK!! UHUK!!"


Darah itu muncrat ke baju dan lantai yang ada di ruangan itu. "Naina!!" teriak semua orang panik melihat ke arah Naina.


Tubuh kurus gadis itu oleng, matanya tertutup rapat. Bryan yang tidak jauh dari tempat putrinya berdiri, dengan sigap menangkap tubuh Naina.


"Naina!!"


"Sayang..bangun sayang.." pinta Alma pada anaknya yang tidak sadarkan diri di dalam dekapan Bryan.


"Aku akan panggil Dokter!" seru Kelvin panik sambil berlari keluar dari ruangan itu.


Suasana hangat itu berubah kembali menjadi suasana yang mencekam.


Dokter Firlan segera memeriksa kondisi Naina, keadaan Naina kembali dalam masa kritis. Sementara keluarga Naina menunggu di luar ruangan.


"Ya Allah, bagaimana bisa keadaan nya menjadi drop lagi seperti ini?" tanya Firlan. "Nai, aku mohon.. bertahanlah..kamu pasti bisa" Firlan menatap gadis itu dengan tatapan penuh harapan.


Beberapa menit kemudian, dokter Firlan keluar dari ruangan Naina. Dia menjelaskan kepada semua keluarga Naina kalau operasi Naina terpaksa harus dipercepat sebelum kondisi Naina lebih drop lagi.


Kelvin pun mempersiapkan dirinya menjalani pemeriksaan sebelum operasi, Keira ada disampingnya untuk menemaninya.


"Sayang..."Keira menatap suaminya dengan cemas


"Aku akan baik-baik saja, kamu tenang saja. Doakan operasi nya lancar ya" Kelvin membelai pipi Keira seraya menenangkan istrinya itu.


Dreet..


Dreet..


🎢🎢🎢


Ponsel Kelvin berdering, Keira membantu Kelvin mengambil ponselnya. Dia melihat telpon yang tersambung kesana.


Juna Calling..


"Siapa Kei?"


"Juna menelpon" jawab Keira sambil menyerahkan ponsel itu pada Kelvin.


Kelvin duduk di ranjang itu, dia langsung mengangkat telponnya. "Halo.."


"Vin, gimana keadaan Naina? dia baik-baik aja kan? dia gak ngangkat telpon dari gue" tanya Juna yang cemas dengan keadaan Naina. Dia baru saja sampai di hotel tempatnya akan menginap di Sydney.


"Naina collapse, Jun" jawab Kelvin memberitahukan kondisi adiknya


"Apa?! Gue bakal kesana sekarang juga, tunggu gue!" Juna panik mendengar keadaan Naina


"Gak akan keburu, bentar lagi Naina mau operasi. Lo juga harus pesan tiket pesawat dulu, walaupun Lo naik helikopter pribadi sekalipun, Lo tetap akan terlambat" kata Kelvin memberitahu Juna untuk berfikir jernih


"Terus gue harus gimana? Naina collapse dan gue gak ada disisi nya!" Juna berfikir harusnya dia tidak pergi, hatinya jadi dipenuhi rasa cemas karena jauh dari Naina.


"Lo masih bisa berada di dekat dia" ucap Kelvin yang memiliki ide agar Juna bisa melihat operasi Naina.


Beberapa menit kemudian, Kelvin memasuki ruang operasi. Keira memegang ponsel Kelvin, disana ada Juna yang sedang melakukan Video call.


"Kei, gimana?"


"Kelvin udah masuk ke ruang operasi. Operasi nya sudah mau dimulai Jun" Keira mengarahkan ponselnya pada ruangan operasi dengan lampu yang menyala. Tanda operasi sedang berlangsung di dalam ruangan itu.


Juna melihat ruangan operasi itu dengan perasaan cemas, dia berharap kalau Naina akan baik-baik saja.


1 hingga 2 jam telah berlalu, masih belum ada orang yang keluar dari ruang operasi itu. Keira sudah terlihat lelah, tubuhnya roboh karena pusing berdiri terlalu lama menunggu suaminya.


"Sayang, kamu ngantuk ya? kamu pulang saja ya, diantar sama Tante Viona. Tante Viona juga mau pulang" Alma melihat menantunya yang sudah pusing


"Tapi Kelvin gimana.." Keira terlihat bingung


"Operasi nya masih lama, kamu pulang saja duluan. Ingatlah, kamu itu tidak satu tubuh lagi! kamu sedang mengandung cucu papa" Bryan mengingatkan pada Keira bahwa ada nyawa di dalam perut menantunya.


Keira pun pulang bersama dengan Viona, meski hatinya masih memikirkan Kelvin di rumah sakit. Telpon video call Juna pun beralih pada Ken yang juga masih berada di rumah sakit menunggu operasi Naina bersama Bryan dan Alma. Sementara yang lainnya pulang ke rumah lebih dulu.


"Anak nakal, tenanglah.. Naina pasti akan baik-baik saja" ucap Ken sambil tersenyum pada pria yang sedang video call dengannya itu.


"Iya om" jawab Juna dengan hati yang resah.


Naina, kamu akan baik-baik saja. Kita akan menepati janji kita, lalu kita akan menikah. batin Juna


5 jam berlalu, akhirnya lampu tanda operasi dimatikan. Dokter Firlan bersama suster yang menemani operasi Naina dan Kelvin, keluar dari ruangan itu secara bersamaan.


"Dokter, bagaimana operasi nya?" tanya Alma memburu dokter Firlan dengan pertanyaan yang cemas. Disisi lain ada Bryan dan Ken, juga Juna yang masih berada di video call menantikan jawaban dokter.


"Alhamdulillah.. operasi nya berjalan lancar. Namun, keadaan Naina dan Kelvin masih berada dalam pemantauan. Kita tidak tahu apakah tubuh Naina menerima atau menolak tranplantasi tulang sumsum belakang milik pak Kelvin"


"Lalu, kapan kedua anak kami akan siuman dok?" tanya Bryan khawatir


"Untuk pak Kelvin, mungkin beliau akan siuman dalam beberapa jam. Tapi untuk Naina, saya tidak tau kapan dia akan siuman. Hanya saja, jika dalam 1x 24 jam.. Naina belum siuman, maka hal itu akan membuat kita dan saya sebagai dokter menjadi cemas. Karena itu berarti ada sesuatu" jelas Firlan kepada keluarga Naina.


"Terimakasih dok" jawab Bryan dan Ken


Juna menutup video call itu, dia masih terlihat galau. Karena Naina tidak bisa langsung sadar begitu saja, dia ingin segera menyelesaikan semua urusan nya dan pulang lalu menemui Naina secepat nya.


****


Keesokan harinya, di ruangan Naina dan Kelvin yang disekat oleh gorden. "Sayang.. kamu sudah sadar?" Keira merasa lega melihat suaminya mulai membuka mata setelah semalaman tidak sadarkan diri. Wajah Kelvin terlihat pucat, dia tersenyum dan membelai pipi Keira.


"Sayang, aku gak apa-apa. Kamu jangan cemas" Kelvin beranjak duduk di ranjang nya.


"Vin, aku panggil dokter ya!" kata Keira sambil membantu suaminya untuk duduk. Kelvin terlihat pucat dan hal itu membuat Keira cemas.


"Aku gak apa-apa sayang. Naina gimana? apa dia sudah sadar? operasi nya lancar kan?" tanya Kelvin memikirkan adiknya


"Operasi nya berjalan lancar, tapi Naina masih belum sadar. Dokter bilang operasinya dinyatakan berhasil, kalau Naina sudah sadar dan diperiksa keadaan nya" Keira menjelaskan kondisi Naina


"Jadi masih harus menunggu ya.." Kelvin menghela napas. Dengan langkah tertatih-tatih, Kelvin membuka tirai penghalang itu, dia menghampiri Naina.


Gadis itu masih terbaring lemah tidak sadarkan diri, dengan selang infus terpasang di beberapa bagian tubuhnya. Selang oksigen juga terpasang di hidung dan mulutnya.


Hati Kelvin sakit melihat saudara kembarnya dalam keadaan tidak berdaya. "Aku harap aku bisa membantu kamu lebih banyak Nai, aku mohon...cepatlah siuman, cepat sembuh Nai. Aku kangen kamu" Kelvin memegang tangan Naina sambil tersenyum pahit melihat adiknya itu.


"Ughhh" Kelvin memegang kepalanya


"Sayang, kamu kenapa?!" tanya Keira cemas melihat suaminya kesakitan


Keira meminta Kelvin untuk kembali berbaring di ranjang nya. Dia pun memanggil dokter untuk memeriksa kondisi Kelvin. Setelah operasi keadaan Kelvin masih lemah dan belum bisa kemana-mana.


Pekerjaan kantor di perusahaan A-Tech untuk sementara waktu dia percayakan pada Farel dan tantenya Viona. "Kamu harus cepat sembuh sayang" Keira dengan setia menyuapi suaminya dengan bubur


"Iya, maafin aku ya Kei..padahal kamu sedang hamil dan membutuhkan perhatian lebih dari aku, tapi aku nya malah sakit seperti ini" Kelvin merasa bersalah pada Keira karena keadaan nya masih lemah pasca operasi dan dia belum bisa memperhatikan Keira dan bayinya dengan full.


"Sayang jangan bicara begitu ah! sakit itu bukan sesuatu yang bisa di prediksi dan bukan sesuatu yang diinginkan. Aku gak apa-apa Vin, asalkan kamu baik-baik saja dan cepat sehat"


"Anak kita gak rewel kan? dia gak protes kalau papa nya sakit?" tanya Kelvin sambil tersenyum menatap wajah sang istri.


"Enggak, anak kita baik-baik saja kok. Malah dia bilang sama aku.. papa cepat sembuh ya" Keira tersenyum


"Iya, papa akan segera sembuh sayang. Doakan Tante kamu juga ya" Kelvin tersenyum sambil mengelus perut Keira dengan lembut.


Tak lama kemudian, seseorang membuka pintu ruangan rawat Kelvin dan Naina. Terlihat lah seorang wanita cantik berambut pendek berwarna coklat, berdiri disana.


"Kelvin! kamu baik-baik saja?" tanya wanita cantik itu sambil menghampiri Kelvin dan memegang tangan Kelvin


Keira melihat ke arah wanita itu dengan pandangan tidak suka, dia bertanya-tanya siapa wanita yang memegang tangan Kelvin itu.


Kelvin menepis tangan wanita itu, dia mengerutkan dahinya."Clay? kenapa kamu ada disini??"


...---****---...