Stuck In Love CEO

Stuck In Love CEO
Bab 115. Kembali



POV Junai


...πŸ€πŸ€πŸ€...


Juna masuk ke dalam ruang perawatan Naina. Gadis itu sedang duduk, tangannya berusaha menggapai gelas berisi air minum di meja yang tak jauh dari ranjangnya. Namun, dia kesusahan karena alat alat medis yang terpasang ditubuhnya.


Dengan sigap Juna mengambil gelas berisi air minum itu dan dia memberikan nya pada Naina.


"Kamu mau minum?" Juna menyodorkan gelas berisi air minum itu pada Naina.


Naina mengangguk. Pelan-pelan Juna meminumkan air di gelas itu ke mulut Naina, tangannya menyentuh dagu menjaganya dari kemungkinan air minum yang tumpah.


GLEK


GLEK


Pelan-pelan Naina meneguk minuman itu, dia sangat haus dan lapar. Rasanya seperti sudah lama dia tidak makan dan minum. Segelas air minum di dalam gelas itu habis dalam 2 kali tegukan, saking hausnya.


"Kamu masih haus? aku ambilkan lagi air nya ya" kata Juna perhatian pada tunangan nya itu.


"Aku masih haus, tapi aku gak mau minum air biasa"


"Terus? kamu mau minum air luar biasa gitu?" goda Juna pada Naina seperti biasanya, dia tersenyum untuk memberikan Naina semangat.


"PFut.. memangnya ada air luar biasa?" Naina tertawa kecil mendengar celetukan Juna, dalam hatinya dia sangat merindukan menghentikan ocehan Juna.


"Ada, air sungai, air laut, air k*ncing, dan air..."


"Stop! kamu bercanda terus deh, kamu mesum juga huh!" seru Naina sambil tersenyum pada Juna.


Sudah lima hari aku tidak mendengar suara itu, aku tidak melihat senyuman itu. Rasanya waktu seperti sudah lama berlalu. Namun, syukurlah aku masih bisa melihat dan mendengar suaramu Nai. Juna tersenyum memandang ke arah Naina dengan bahagia, pria itu terlihat seperti melamun.


Naina bingung, Juna tidak meresponnya dan hanya diam. Dia juga menyadari kalau Juna terlihat kurusan, terlihat dari pipi nya yang tirus dan tangannya kurus.


"Juna, kamu gak papa kan? Juna.. hey! Junjun!" teriak Naina pada Juna yang melamun


GREP


Bukannya mendapat jawaban, tapi Naina malah mendapat kan pelukan lembut dari Juna. "Junjun... kenapa??"


"Nai, makasih banyak. Makasih kamu udah kembali, makasih sudah memberikan waktu untuk ku berumur lebih panjang" ucap Juna dengan mata yang berkaca-kaca


"Juna kamu lagi ngomong apa sih? memangnya umur mu akan pendek?"Naina bingung dan tidak tahu apa-apa.


Pelan-pelan Juna melepaskan pelukan itu, dia menatap Naina dengan penuh rasa syukur. Tangan nya membelai rambut kedua pipi yang sudah tampak kurus itu.


"Aku hampir saja mengakhiri hidupku, kalau kamu benar-benar pergi" kata Juna bersungguh-sungguh


"Memangnya aku mau pergi kemana? bukankah aku hanya tidur? kenapa juga kamu mau bunuh diri?" tanya Naina dengan polosnya mengatakan bahwa dirinya hanya tidur.


"Angry cat..kamu bukan hanya tidur, kamu koma selama 5 hari. Dan hari ini kamu sempat mati suri"


"Aku? koma? tapi aku gak papa" jawab Naina tak percaya


Aku kan hanya tidur, lalu aku bermimpi. Tapi kata Juna, aku koma? jadi karena itu, tadi semua orang menangis?.Pikirnya dalam hati


"Sudahlah, jangan dibahas lagi. Yang penting sekarang kamu sudah sadar" Juna menunjukkan senyuman nya.


Tangan Naina membelai pipi Juna dengan lembut, dia merasakan bahwa hanya sedikit daging yang ada di wajah tunangan nya. Apa yang terjadi pada Juna sehingga wajahnya menjadi kurus? badannya juga kurus? lalu, rambutnya yang acak acakan seperti tidak disisir berhari-hari?


"Nai? aku tau kamu juga merindukan ku kan?"tanya Juna sambil memegang tangan Naina yang menyentuh pipinya. Dengan cepat Naina menarik tangannya kembali, keningnya berkerut, matanya menatap tajam ke arah Juna.


"Kenapa kamu melihatku begitu?" tanya Juna heran


"Kamu gak mandi ya? kamu bau banget" Naina cemberut sambil memegang hidungnya seolah menahan bau


"A-aku.."


Juna terlihat bingung dan berfikir keras, dia lupa sudah berapa lama dia tidak mandi. Karena dia terus berada di rumah sakit dan menjaga Naina, bahkan dia membawa semua pekerjaan kantornya ke rumah sakit.


Ya ampun, berapa lama aku tidak mandi? apa aku sebau itu?. batin Juna khawatir pada keadaan tubuhnya


"I-itu.." Juna gelagapan, dia bingung mau menjawab apa.


"Seperti nya itu benar ya? ya sudah, pulang sana! pergi mandi dan makan! ganti baju mu juga" titah Naina ngambek


"A-Apa aku sebau itu?" tanya Juna sambil mengendus bau badannya sendiri.


"Masalahnya bukan itu, b*doh!" Naina ngambek


"Oke oke fine, Naina ku.. angry cat tersayang, jangan marah. Kamu mau aku ngapain sekarang?" Juna mengalah, dia ingat peringatan dokter kalau Naina harus tenang dan menjaga kondisi emosional nya.


"Tumben kamu nurut, biasanya kamu keras kepala" kata Naina dengan bibir mengerucut


"Yang keras kepala itu siapa? bukannya kamu ya.." gumam Juna pelan


"Kamu bilang apa??!" tanya Naina dengan suara meninggi


"Tenang Bu, tenang lah ibu negara! jangan marah-marah ya?" Juna menunjukkan wajah manisnya di depan Naina, dia menahan diri untuk berdebat karena kondisi Naina masih belum stabil.


"Hmph! ya udah pulang sana, ketika kamu kembali kesini kamu harus sudah makan dan mandi" pesan Naina pada tunangannya itu.


"Iya, aku akan pergi setelah ada yang menjaga kamu disini" kata Juna


CEKRET


"Aku dengar kamu sudah sadar, Alhamdulillah" kata seorang pria tampan memakai jas dokter sambil membuka pintu ruangan itu. Dia adalah Theo yang sedang bertugas jaga sore.


"Nisha? kak Theo?" Naina melihat Theo dan Nisha bergandengan tangan, masuk bersama ke dalam ruangan itu.


Nisha menghampiri Naina sambil tersenyum bahagia, dia memeluk sahabatnya itu pelan-pelan. Nisha senang karena sahabatnya sudah siuman.


Ada apa ya? kenapa kak Theo dan Nisha barengan? apa jangan-jangan mereka.. Naina menangkap sinyal kalau ada apa-apa dengan Theo dan Nisha yang terlihat semakin dekat.


"Karena udah ada kita disini, Lo bisa pulang Jun" usir Theo pada Juna


"Wah.. Lo ngusir gue?" Juna mendelik sinis ke arah Theo


"Bukan gue tuh, Naina yang nyuruh Lo pulang kan?" tanya Theo santai


"Cih!" Juna enggan untuk pulang


"Udah Jun, kamu pulang aja. Makan dan mandi ya, nanti kamu boleh kesini lagi kalau sudah wangi" goda Naina pada tunangannya itu


"Ya udah deh, aku pulang dulu ya. Nis, titip Naina ya" pesan Juna pada Nisha yang berada di dekat Naina


"Eh?" Nisha melihat Juna dengan heran, mengapa pria itu hanya menitipkan Naina padanya saja?


"Kenapa Lo gak nitipin sama gue juga? Lo menganggap gue kasat mata?" goda Theo pada Juna


"Siapa ya yang ngomong? gue gak denger" Juna bicara seolah tidak ada Theo disana, walau dia tau Theo dan Nisha sudah menjalin hubungan tapi Juna tetap cemas dengan perasaan Theo yang mungkin akan muncul kembali.


Aku tidak percaya cinta pertama bisa dilupakan dengan mudah begitu saja, aku harus tetap waspada. batin Juna merasa terancam


Dia masih kekanakan dan menganggap ku musuhnya, dasar. gumam Theo dalam hati nya


Tanpa mempedulikan ada siapa saja di ruangan itu, Juna mencium kening Naina seraya berpamitan pada tunangannya itu. Nisha terlihat geli bercampur haru melihat kemesraan pasangan itu.


"Aku pergi dulu ya"


"Oke, hati-hati" jawab Naina dengan pipi yang memerah karena malu.


"Kamu mau titip apa saat aku kembali kemari lagi nanti?" tanya Juna


"Aku mau Boba, martabak, kebab, hamburger, mie goreng, seblak yang pedas!" kata Naina semangat.


Theo, Nisha dan Juna langsung menohok mendengar apa yang di pesan oleh Naina pada Juna.


...---***---...


Sesuai janji, hari ini up lagiπŸ₯°πŸ₯° thanks untuk kalian yang sudah setia menunggu, terimakasih juga buat dukungan kalian untuk karyaku.. yang kasih gift, vote, komen nya πŸ€—πŸ€—