Stuck In Love CEO

Stuck In Love CEO
Bab 74. Libur untuk Theo



POV Theo, Naina, Juna.


...🍁🍁🍁...


Theo menatap kotak merah itu dengan perasaan galau. Kemudian Theo membuka pelan-pelan kotak itu, didalamnya adalah sebuah cincin berlian dengan permata berwarna merah muda berbentuk marah. Untuk siapa cincin itu dia persembahkan? hanya Theo sendiri yang tau jawabannya.


"Nai, aku harus bagaimana kalau ternyata kamu lebih memilih dia daripada aku? apakah benar bahwa aku bukan siapa-siapa buat kamu? Apa aku tidak pernah menjadi orang spesial di hati kamu?" Theo menatap cincin itu dengan mata lelahnya.


Tidak, itu tidak mungkin. Si trouble maker itu adalah orang baru dalam hidup kamu Nai, tidak mungkin dia akan merebut posisi penting di hati kamu, akulah yang pertama hadir dalam hidup kamu Nai. Theo berusaha meneguhkan hatinya meski ia ketakutan, karena Juna bisa saja merebut posisi penting di dalam hati Naina.


Theo tidak tahu saja, bahwa hati Naina memang untuk Juna dan bukan untuk dirinya. Theo masih memandangi cincin itu, cincin yang diperuntukkan untuk Naina.


CEKLEK


Pintu ruangan Theo terbuka tiba-tiba, Theo terkejut dan tak sengaja menjatuhkan cincin yang ada di dalam kotak merah itu.


"Yaah!!" Theo terkejut dengan kedatangan papa nya yang tiba-tiba itu, kemudian dia melihat cincin itu menggelinding ke arah Ian.


"Theo?" sapa Ian sambil tersenyum lembut pada putranya. Ian merasakan ada sesuatu yang mengganjal di bawah sepatu nya.


"Papa! papa ngagetin aja! angkat kaki nya, pa.." ujar Theo sambil menghampiri Ian dan menyuruh nya untuk mengangkat kaki kanannya.


Ian mengangkat kaki kanannya, ia lebih dulu mengambil benda yang mengganjal di bawah sepatunya itu. Kini Ian sudah memegang cincin berlian itu, Theo terlihat tidak senang karena papa nya mengambil cincin itu.


"Pa.. balikin cincinnya!" seru Theo


"Kamu... apa kamu ingin memberikan ini untuk Naina?" tanya Ian sambil mengembalikan cincin itu ke tangan putranya. Dengan cepat Theo mengambilnya dan meletakkan nya ke dalam kotak, lalu menyimpan nya ke saku seolah-olah itu adalah benda yang berharga dalam hidupnya.


"Hampir saja, untunglah cincinnya tidak apa-apa" Theo menghela napas lega, dia bersyukur cincinnya tidak hilang dan kotor.


Jadi Theo mengumpulkan uang selama ini untuk membeli cincin berlian itu. Harganya kan sangat mahal. Seperti nya cincin itu adalah desain khusus. Ian mengernyitkan dahi melihat ke arah Theo yang menganggap cincin itu sangat berharap. Ian melihat kalau selama ini Theo mengumpulkan uang dengan rajin, entah untuk membeli apa.


Lalu pada suatu hari dia memecahkan celengan dan mengambil semua tabungan nya di bank. Apa itu untuk membeli cincin?


"Papa mau apa kesini?" tanya Theo dengan bibir nya yang mengerucut


"Kamu belum jawab pertanyaan papa, apa kamu beli cincin itu buat Naina? kamu memecahkan celengan dan mengambil semua uang tabungan mu itu karena beli cincin?" tanya Ian sambil merebahkan tubuhnya di sofa ruangan kerja Theo.


"Hm... itu.." Theo terlihat ragu menjawab, ia agak cemas kalau papa nya akan marah karena ia mengambil semua tabungan yang sudah ia kumpulkan selama 2 tahun untuk membeli cincin berlian.


Dan cincin berlian dengan desain khusus itu pun baru ia dapatkan setelah menunggu 1 tahun dari pemesanan. Karena cincin itu adalah cincin dengan permata dan desain langka, jadi sulit untuk mendapatkan nya.


"Tanpa kamu menjawab nya, papa sudah tahu bahwa itu benar kan?" tanya Ian dengan senyuman lembut di bibirnya.


"Maafin aku pa, aku gak bilang sama papa soal ini. Papa jangan marah ya, karena aku mengambil semua tabungan ku" Theo duduk di sofa yang ada di depan papa nya.


"Marah? siapa yang marah?! justru papa senang, kamu selalu mandiri dari dulu. Papa bangga sama kamu The," Ian bangga pada Theo yang selama ini hidup mandiri dengan hasil kerja kerasnya sendiri, ia bahkan pergi keluar negri, kuliah sambil kerja disana. Bahkan Theo jarang sekali meminta uang pada kedua orang tua nya, meskipun ia tau kedua orang tua nya kaya raya.


"Papa gak marah? syukurlah.." Theo tersenyum lega


"Kenapa papa harus marah? itu kan uang yang kamu kumpulkan sendiri. Jadi, kapan papa dan mama melamar Naina untukmu?" goda Ian sambil melihat putranya yang tersipu-sipu.


"Papa.. sebenarnya aku sudah pernah mengatakan perasaan ku para Naina" Theo mulai menceritakan kisah nya dan Naina pada papa nya. Dengan kata lain, curhat.


"Sudah? kapan? lalu bagaimana responnya? dia pasti menerima mu, kan?" tanya Ian bersemangat mendengarkan kisah cinta anaknya itu.


Theo tidak pernah curhat padaku dan selalu curhat pada mama nya saja, ini kesempatan ku untuk mendengarkan curahan hatinya.


Theo terlihat galau saat ditanya papa nya apakah Naina menerima dirinya atau tidak.


"Wajahmu kenapa, nak?" tanya Ian keheranan melihat kesedihan di wajah Theo.


"Dia menolak ku pa" jawab nya sedih


"A-Apa? anak papa yang hebat ini ditolak? apa kurangnya anak papa? lalu, bukankah kamu dekat sama Naina selama ini?" tanya Ian yang tidak percaya kalau Naina akan menolak putranya itu.


"Iya pa, aku memang dekat dengannya tapi dia bilang hanya menanggap ku sahabat. Katanya aku sudah seperti Kelvin baginya" jelas Theo mengutarakan perasaannya pada Ian


"Apa dia bilang begitu? artinya dia masih belum melihatmu sebagai seorang pria. Kamu tidak berfikir untuk menyerah disini kan?" tanya Ian sambil menepuk pundak Theo seraya meyakinkan nya agar jangan menyerah


"Tentu saja pa, Theo tidak akan menyerah sebelum janur kuning melengkung di rumah nya!" Theo tersenyum penuh percaya diri


"Bagus, itu baru anak papa! Nah.. Theo, untuk meyakinkan hati Naina dan membuat dia melihat kamu sebagai seorang pria. Kamu harus bersikap sedikit tidak tahu malu" ucap Ian sambil nyengir pada putranya yang memiliki karakteristik lemah lembut itu.


"Tidak tahu malu??" Theo menatap papa nya dengan mata bingung bertanya-tanya.


Ian tersenyum lalu membisikkan sesuatu ke telinga Theo. Theo tercengang mendengar apa yang dibisikkan oleh Ian padanya.


"Papa! masa aku harus kaya gitu?!" kedua mata Theo membulat dengan saran papanya.


"Kamu coba dulu cara itu, nanti kalau cara itu gak ampuh. Kamu bisa minta bantuan papa sama mama sebagai langkah terakhir. Papa dan mama akan sangat bahagia kalau kamu bisa bersama orang yang kamu cintai" Ian berharap untuk kebahagiaan anak tunggalnya dengan tulus.


"Iya pa, makasih udah dukung aku" Theo tersenyum lembut sama papanya.


Drett..


Dreet..


🎢🎢🎢


Ponsel Theo berbunyi, ia segera mengambil ponselnya di dalam saku jas nya. "Halo"


"Dokter Theo! pasien di bangsal VIP mengalami pendarahan, bisa tolong anda kesini?!" tanya seorang pria dengan suara paniknya


"Baik, saya akan kesana sekarang" jawab Theo dengan cepat langsung menutup telponnya dan melangkah pergi dari ruangan itu. Sebagai dokter baru dan sangat diandalkan, Theo selalu sibuk di rumah sakit.


Melihat anaknya yang selalu sibuk sampai tidak ada waktu untuk pulang ke rumah. Ian pun mengambil alih pekerjaan Theo.


"Kamu pulang aja ya, libur selama 3 hari ini" Ian menepuk pundak Theo dengan senyuman lembut nya.


"Ta-tapi pah.." Theo terlihat ragu, ia memikirkan pasiennya.


"Pulang aja ke rumah, dandan yang ganteng. Ajaklah Naina jalan-jalan, pasien kamu biar papa dan dokter lain yang akan menghandle nya" Ian mencoba membuat peluang untuk Theo agar bisa mendekati Naina.


Gimana ya? aku kasihan pada pasien ku, tapi jarang sekali aku bisa libur. Kesempatan ini harus aku manfaatkan dengan baik.


Di satu sisi Theo khawatir pada pasiennya, namun disisi lain Theo juga ingin libur. Memanfaatkan liburannya yang sangat jarang itu bersama Naina.


"Ya udah pa, Theo pulang ya.. Theo titip pasien pasien Theo" ucap nya pada sang papa


"Oke, sukses ya kamu nak!" Ian mengepalkan tangannya seraya menyemangati Theo.


Theo pun pergi meninggalkan rumah sakit dengan wajah yang gembira. Ian tersenyum melihat anak nya itu.


Apa Theo punya saingan cinta ya? makanya dia kesulitan mendapatkan Naina. Aku harus cari tau nih dari si Bryan.


Pada saat itu juga, Ian langsung menelepon Bryan.


"Ada apa kamu menelpon ku?" tanya Bryan ketus


"Santai dulu dong bro, aku mau bertanya padamu. Bagaimana nasib perjodohan anak kita?" tanya Ian yang berupaya membantu anaknya mendapatkan jalan yang mudah


"Kapan aku setuju menjodohkan anakku yang berharga dengan putramu?" Bryan tersenyum sambil melihat dokumen menumpuk di mejanya.


"Hey! kamu terlalu kejam bro, anakku sudah suka pada anakmu sejak lama" Ian sedih


"Ya, aku tau dan aku akan senang kalau Theo bisa bersama Naina. Hanya saja, mungkin Theo harus banyak berusaha" Bryan teringat pada sosok Juna yang sudah pernah membuat anaknya terluka. Bryan merasa kalau Naina juga memiliki perasaan pada Juna.


Sudah kuduga, pasti Theo punya saingan.


"Haa.. kamu tau kan kalau anakku itu sempurna sama seperti ku, dia pasti banyak yang suka.. jadi tentu saja anak mu harus mengantri" Bryan tersenyum penuh percaya diri, kenarsisan nya mulai mencuat lagi.


"Haha.. dari dulu kamu masih saja narsis ya Bryan" Ian tertawa mendengar ucapan sahabat karibnya itu.


"Memang benar begitu kok. Aku hanya bisa menyemangati Theo untuk mendapatkan Naina, keputusan Naina pada akhirnya yang akan menentukan pilihannya. Aku tidak mau terlalu ikut campur dengan kebahagiaan nya" ucap Bryan jujur pada temannya, bahwa ia suka Theo tapi tidak mau mempengaruhi pilihan Naina.


"Jadi siapa yang menjadi saingan anakku itu?" tanya Ian penasaran dengan siapa orang yang sudah membuat anaknya kesulitan mendapatkan cinta nya.


"Dia presdir Ardiwinata grup. Mau tanya apa lagi kamu?"


"What?! Presdir Ardiwinata grup? dia si Presdir muda itu yang sukses itu adalah saingan anakku?!!" Ian terkejut setelah mendengar siapa saingan cinta Theo. Ian tau kalau perusahaan Ardiwinata grup yang sempat bangkrut itu kembali berjaya karena Presdir muda yaitu Arjuna Ardiwinata.


πŸ€πŸ€πŸ€


Siang itu Naina kembali bertemu dengan Juna untuk membicarakan masalah pekerjaan. Naina datang ke kantor Juna bersama Caroline sekretaris nya.


"Pak, ada beberapa berkas lagi yang harus bapak tandatangani" ucap seorang karyawan wanita pada Juna.


"Baik,kamu simpan saja disini dan pergilah" ucap Juna pada karyawan nya itu.


"Baik pak" ucap karyawan wanita itu pada Juna sambil meletakkan beberapa dokumen di meja.


Karyawan wanita itu melangkah pergi dari ruangan kerja Juna. Tanpa Juna sadari, Naina, Caroline dan Ardi sudah berada di depan ruangan Juna.


Aku tidak menyangka kalau kamu bisa fokus bekerja. Padahal dulu kamu selalu mencontek saat ulangan, dan sering bolos sekolah. Naina tersenyum bangga melihat sosok Juna yang berbeda saat bekerja.


Juna yang dulu adalah preman dan Juna yang sekarang adalah seorang presdir sebuah perusahaan besar dengan ribuan karyawan dibawah nya. Tidak heran jika dulu Juna sangat sibuk sampai melupakan semua aktivitas sehari-hari nya, Juna benar-benar belajar.


"Ayo, Bu Ninaina.. mari saya antar masuk ke dalam" kata Ardi dengan senyuman ramahnya pada Naina, ia menyambut penuh hormat pada gadis yang sudah mencuri hati bos nya itu.


"Tidak usah, seperti nya dia masih sibuk. Saya akan tunggu saja di kursi depan. Ayo, Caroline!" ajak Naina pada asistennya itu untuk menunggu Juna yang masih sibuk, sambil duduk di kursi depan.


"Bu Ninaina, tolong jangan buat saya berada dalam masalah. Saya antar saja sekarang ya, soalnya dari tadi pak Presdir sudah menunggu anda" bujuk Ardi pada Naina, ia takut dimarahi Presdir nya karena membiarkan Naina menunggu.


Bisa bisa aku dikirim lagi keluar negri kalau membuat Bu Ninaina menunggu. batin Ardi


"Tapi Juna lagi sibuk" Naina menatap Juna yang duduk di kursi sambil memegang pena menandatangani dokumen menumpuk di mejanya.


"Benaran gak papa kok Bu, ayo masuk saja" kata Ardi agak memaksa, dan dengan suara yang mengeras berharap Juna akan mendengar mereka.


"Tapi..."


"Nai, kamu udah datang?" tanya Juna sambil melangkah mendekat pada Naina yang berada di depan pintu ruangannya. Juna tersenyum, menyambut kedatangan Naina.


"Juna, maaf ya aku ganggu" kata Naina merasa tidak enak karena Juna meninggalkan semua dokumen itu untuk menyambutnya. Naina masih malu-malu juga karena kejadian tadi pagi.


"Kata siapa kamu ganggu?"tanya Juna sambil menatap ke arah Naina dengan senang.


Lihat tatapan matanya itu, saat melihat Bu Ninaina.. pak presdir tampak bahagia. Ardi melihat ke arah Juna yang terlihat senang dengan kedatangan gadis itu.


Disisi lain ada Caroline yang juga senang melihat Naina dan Juna bersama. Tak sengaja, Ardi dan Caroline saling melirik, lalu mereka memalingkan wajah mereka.


"Aku datang tiba-tiba, harusnya aku buat janji dulu. Maaf banget ya aku gak tau kamu lagi sibuk"


"Apa dia yang bilang kalau aku sibuk? Ardi, kamu ngomong apa sama nyonya Presdir mu ini?" tanya Juna sambil menatap ke arah Ardi dengan tatapan mata yang tajam.


"Sa-saya.." Ardi gemetar ketakutan, ia tak berani menatap Juna.


"Haha, Juna kamu apa-apaan sih! nyonya Presdir apaan??" Naina dibuat tertawa lagi oleh Juna.


Akhirnya mereka pun masuk ke dalam ruangan. Sementara Caroline dan Ardi pergi ke pantry untuk menyiapkan minuman.


"Kenapa mereka lama banget ya, cuma ngambil minum doang?" gumam Naina kepada dua orang yang belum kunjung datang kesana.


Aku kan canggung berduaan sama Juna disini.


Bagus Ardi, yang lama aja pergi nya biar aku bisa berduaan sama Naina. Memang sekretaris pengertian kamu tuh. Juna senang karena Ardi dan Caroline masih belum kembali.


"Memangnya kamu haus banget? disini kan masih ada air putih" ucap Juna sambil mengambilkan segelas air minum untuk Naina.


"Gak papa kok. Oh ya Jun, kita bicarakan masalah ke Maldives itu. Aku kesini untuk membicarakan nya" kata Naina sambil mengeluarkan beberapa dokumen dari tas gendong yang dibawanya.


"Kamu masih aja suka bawa bawa tas gendong" Juna ingat betul kalau Naina yang agak tomboy itu suka memakai tas gendong kemana-mana, dan sampai sekarang pun tidak berubah.


"Iya dong, daripada pake tas selempang yang manfaatnya minim. Aku lebih suka memakai barang-barang yang bermanfaat. Ayo Jun, ah serius!" seru Naina sambil tersenyum pada Juna.


"Oke deh" ucap Juna sambil melihat dokumen yang dibawa Naina.


Mereka pun mulai serius membicarakan masalah pekerjaan, meskipun kadang kadang Juna bercanda dan menggoda Naina.


"Eh Nai, itu ada sesuatu!"


"Apaan?"


"Itu.. " Juna melihat Naina dengan tatapan kaget.


"Apaan sih?" Naina kebingungan, "Apa ada sesuatu di wajahku?"


"Ya benar, ada sesuatu"


Kerjain Naina ah.. diam-diam Juna tersenyum jahil.


"Apaan?" Naina menyentuh nyentuh wajahnya dengan bingung.


Apa bedak ku luntur? atau lipstik ku berantakan? aku pakai sedikit lipstik hari ini. Aduh gimana nih..malu..


Tangan Juna dengan jahilnya melepas ikatan rambut Naina dan membuat rambut gadis itu tergerai.


"Junjun!! kamu jahil ya!" seru Naina sebal karena Juna menarik ikat rambutnya.


"Gak ada apa-apa kok di wajah kamu, hanya saja kamu sangat cantik. Apalagi saat rambut kamu di gerai, cantiknya jadi double" Juna tersenyum, matanya tak bisa berpaling dari wanita cantik itu.


"Jun-juna.."


"Nai.." Juna mendekati Naina, tangannya membelai lembut leher Naina. Matanya menatap tajam penuh hasrat pada gadis itu.


Deg Deg.. Deg..


Saat wajah mereka hampir bersentuhan, sebuah dering telpon menghancurkan suasana. Naina langsung menjauh dari Juna.


Ya ampun, apa yang mau aku lakukan dengan Juna?. Naina tersadar dan terlihat malu, ia langsung mengambil ikat rambutnya di meja dan mengikat rambutnya kembali.


Drett.. Dreet...


🎢🎢🎢


Juna, apa yang kamu lakukan? benar-benar tidak rasional sekali. Aku sangat bersyukur dengan seseorang yang menelpon Naina, dia menghentikan ku dari berbuat yang tidak-tidak.


Theo calling...


Naina langsung mengangkat nya, "Halo kak Theo?"


Theo!


Juna mengerutkan dahinya mendengar Naina memanggil nama Theo.


...---***---...