
🍂🍂🍂
Naina tersentak melihat Risya, anak yang pernah menjadi anak tiri papa nya ada di hadapannya. Naina terlihat tidak senang dengan kehadiran Risya disana. Ia teringat masa lalu yang tidak menyenangkan saat melihat Risya.
Aku harus bagaimana? haruskah aku menyapanya? aku bingung.. batin Naina bingung
Kedatangan Risya bukan hanya menjadi kehebohan di kelas itu saja, tapi anak-anak kelas lain ingin melihat betapa cantiknya Risya. Wanita cantik, dan memiliki tubuh bak model itu. Belum lagi dia adalah artis Instagram yang terkenal. Siapa yang tidak mau dekat dengannya?
Setelah perkenalannya di depan kelas, Risya mencari tempat duduk yang masih kosong. Semua pria di kelas itu bahkan berebutan karena ingin duduk dengan Risya. Kecuali Damar dan Juna yang cuek cuek saja, tidak tertarik dengan kehadiran Risya disana.
Akhirnya Risya menemukan satu bangku yang kosong di sebelah Damar, di bagian belakang. Risya tersenyum ramah pada semua orang yang ingin berkenalan dengannya.
"Kenalin Risya, aku Fian"
"Kenalin aku Dodo, yang paling ganteng di kelas ini" kata Dodo pede
"Iya, kenalin aku Risya. Salam kenal semuanya, mohon bantuannya juga ya" Risya tersenyum ramah
"Woy berisik! pelajaran mau mulai, kalian masih pada ribut aja! balik ke meja kalian masing-masing!" ujar Juna pada semua pria yang mendekati Risya.
Ini cewek bikin rusuh aja. gerutu Juna dalam hatinya.
"Ketua kelas ganggu aja deh" ucap Dodo mendengus kesal
Para siswa itu kembali ke tempat duduk mereka masing-masing setelah di bubarkan oleh Juna.
Risya tersenyum manis, seperti tebar pesona pada Juna. " Ketua kelas, makasih ya kamu udah nolongin aku. " ucap Risya sambil merapikan rambutnya ke belakang telinga.
"Gue bukan nolongin Lo. Baru pertama masuk aja udah bikin rusuh" gerutu Juna pada gadis itu
Risya tersenyum pahit, ia seperti tersentak akan sesuatu. Wajahnya terlihat kaget dan matanya membulat, melihat reaksi Bryan berbeda dengan pria lain di kelas itu. Risya mengakui bahwa Juna adalah pria paling tampan di kelas itu.
"Maaf ya ketua kelas, aku gak bermaksud bikin rusuh" ucap Risya sambil menunduk, dengan wajah sedih
"Cih! " gumam Juna kesal
Kok aku jijik ya liat mukanya. Kagak ada imut imutnya. batin Juna tidak senang
Juna mengabaikan Risya dan ia pun duduk kr bangkunya sendiri. Wajah jutek Juna berubah jadi senyuman saat ia sedang bersama Naina. Risya terlihat tidak senang melihat itu, ia mengepalkan tangannya dengan kesal.
"Maafin temen gue ya, dia emang orangnya judes dan cuek" ucap Damar yang duduk di samping Risya.
"Iya, tenang aja. Aku gak papa kok" Risya menunjukkan senyuman ramahnya, seolah tidak ada yang membuatnya kesal.
"Seperti yang Lo lihat, si Juna itu sudah takluk sama satu cewek" Damar melirik ke arah Juna dan Naina yang sedang mengobrol di bangku depan.
"Maksud kamu cewek itu? dia siapa sih?" tanya Risya sambil menatap tajam pada Naina, tapi bibirnya tersenyum.
"Dia wakil ketua kelas namanya Ninaina" jawab Damar
"Ninaina? ya ampun?" tanya Risya kaget
"Kenapa? Lo udah kenal dia sebelumnya?" tanya Damar melihat reaksi kaget Risya
Sayangnya, obrolan mereka harus terputus karena guru sudah mulai menerangkan materinya di depan kelas. Mau tidak mau sebagai murid mereka harus mendengarkan guru. Sudah tugas mereka sebagai pelajar untuk belajar. Bukannya fokus belajar, Risya malah asyik berkaca dan menyembunyikan kacanya di bawah bangku. Belum lagi di dalam tas nya banyak sekali peralatan make up, dan dia hanya membawa 1 buku.
Disisi lain, Naina dan Keira terlihat fokus mendengarkan penjelasan dari guru yang ada di depan kelas. Naina juga mencatat apa yang ditulis oleh gurunya di papan tulis, sementara teman sebangkunya hanya tertidur di mejanya dengan santai.
"Jun, perhatikan ke depan! nanti Bu Yuli marah lagi loh" bisik Naina pada Juna
"Gue ngantuk dengerin ceramahnya, bangunin gue kalau dia udah selesai nerangin nya" jawab Juna malas, dengan mata tertutup.
"Jun, kamu gak sopan banget sih! Ya udah, aku udah ngasih tau ya" Naina kesal
Juna menutup matanya, ia sangat ngantuk karena semalam begadang memikirkan hadiah untuk menghibur Naina.
Dengan jahilnya, Damar yang duduk di belakang Juna melempar kertas ke punggung Juna. Lalu ia berbisik pada temannya itu" Jun, jam istirahat!"
Sontak saja Juna langsung terbangun dari lelapnya di kelas. Juna berdiri dan berkata dengan semangat "Asik jam istirahat" teriak Juna yang sontak membuat gelak tawa murid murid yang ada di kelas itu
"Hahahaha "
"PFut.. " Naina menertawakan teman sebangku nya itu, Damar yang jahil juga tertawa sampai terpingkal-pingkal.
"Loh? kok pada belum keluar kelas? bukannya ini udah jam istirahat?" tanya Juna polos, melihat semua temannya masih duduk di bangku mereka masing masing.
"Jam istirahat?!! " Bu Yuli langsung menghampiri Juna dengan kesal dan mencubit pipi Juna dengan gemas. " Kamu tidur lagi di kelas ya! Arjuna Ardiwinata!" ujar Bu Yuli
"Ah.. ampun bu, atitt.. Bu.." ucap Juna lebay
"Haha haha.." murid lain tertawa melihatnya, kecuali Risya yang wajahnya menjadi dingin.
"Saat jam istirahat, kamu sama Naina di hukum pergi ke perpustakaan untuk merapikan buku disana! "ujar Bu Yuli tegas
"Lah? kenapa saya juga ikut Bu?" tanya Naina tak mengerti
"Kamu cuma bantu Juna saja, kamu tidak dihukum kok. Karena cuma kamu yang bisa menolong anak ini, tolong awasi dia ya Naina..." Bu Yuli melirik ke arah Juna dengan gemas
"Ya baiklah Bu" jawab Naina pasrah
Naina melirik ke arah Juna dengan mata yang kesal dan bibir yang mengerucut. Juna tersenyum, lalu mengangkat kedua jarinya seolah memohon maaf pada Naina.
Syukurlah, aku melihatmu tertawa lagi Nai.
...****...
Ting tong!
Bel istirahat pun berbunyi..
1 jam berlalu, setelah 2 mata pelajaran selesai. Naina dan Juna membereskan buku-buku yang bertumpuk di meja guru untuk dibawa ke perpustakaan.
"Gue aja yang bawa" ucap Juna
"Tapi itu kan banyak?" tanya Naina sambil melihat Juna yang kerepotan membawa buku ditangannya.
"Gak papa, kalau Lo bawa buku-buku yang berat ini..Yang ada Lo tambah pendek" ejek Juna
"Apa? aku pendek?!" Naina kesal
"Udah, gue ke perpus sama si Damar aja. Lo ke kantin aja sama si Keira, si Nisha di kelas sebelah" ucap nya
"Tumben kamu baik, apa kamu baik juga sama cewek lain?" gumam Naina
"Gue emang baik, tapi sama lo doang"
"Hah? maksudnya?" tanya Naina tak paham
"Bodoh! udah ah gue mau cabut ke perpus. Mar, ayo bantuin gue!" seru Juna pada sahabatnya itu
"Otw bro!" jawab Damar sambil menghampiri sahabatnya itu.
Juna dibantu oleh Damar, membawa puluhan buku itu dan berjalan menuju ke perpus. Tiba-tiba saja Risya menangis lalu mendekati Naina, Keira dan Nisha yang sedang menuju ke kantin. Di saat itu, semua orang melihat ke arah mereka.
"Kamu benar Naina, kan?" tanya Risya
"Iya" jawab Naina singkat
Kenapa dia nangis?. ucap Naina dalam hatinya
"Aku tau kamu gak suka aku ada disini, tapi aku gak bermaksud jahat sama kamu dan Kelvin. Aku cuma mau menebus kesalahan Mama ku sama kalian, terutama tante Alma dan papa Bryan" ucap Risya dengan air mata mengalir di wajah cantiknya.
Perhatian semua orang tertuju pada Risya yang menangis meminta maaf pada Naina. Naina terlihat bingung dengan apa yang terjadi. Semua orang disana berbisik-bisik begitu mendengar kata Kelvin si genius disebutkan dalam obrolan mereka.
"Kelvin? kenapa Lo bawa-bawa Kelvin? emang apa hubungannya cewek ini sama Kelvin?" tanya Ghina yang kebetulan lewat disana
"Kakak gak tau? Kelvin sama Naina kan adik kakak" jawab Risya dengan wajah polosnya
DEG!
Semua orang disana tersentak kaget begitu mendengarkan fakta bahwa Naina adalah adik Kelvin. Mereka tak percaya, terutama Ghina cs yang sempat salah paham.
Apa maksud Risya bicara seperti ini di depan semua orang?. batin Naina bingung.
Akhirnya hubungan dua bersaudara itu terbongkar, Naina merasa tidak masalah lagi karena ia memang berniat untuk mengumumkan kepada semua orang bahwa Kelvin dan dia adalah saudara kembar. Cepat atau lambat mereka pasti akan tau juga.
Damar dan Juna yang belum melangkah jauh pun kaget mendengar nya.
"Gila Jun, ternyata si genius cold man itu kakak nya? Lo cemburu sama orang yang salah" ucap Damar terpana
"Woy, sama siapa gue cemburu!" kata Juna
Ternyata si Kelvin kakaknya, ini lebih gawat. Batin Juna panik
Sial! waktu itu kan aku menjahili nya. Jadi alasan dia terlihat dekat dengan Kelvin adalah karena mereka saudara an?. Ghina merasa tertohok, karena sebelumnya ia dan teman-temannya menjahili Naina di kamar mandi.
"Nai, mama ku sudah mendapat ganjarannya. Dia sudah menebus dosa dosa nya, kamu jangan membenciku lagi ya Nai" kata Risya
"Tapi kamu pura-pura tidak kenal denganku, itu karena kamu masih membenciku, kan?" Risya memelas
"Maaf, aku bukannya pura-pura tidak kenal dengan kamu. Aku hanya bingung, bagaimana aku harus menyapamu" ucap Naina
"Jadi kamu tidak benci padaku kan?" tanya Risya sambil memegang tangan Naina
"Enggak kok" jawab Naina sambil tersenyum
"Kalau begitu, kita bisa temenan kan?" tanya Risya dengan mata berbinar binar
"Tentu saja Risya" jawab Naina ramah
"Makasih Naina. Dari dulu sampai sekarang, kamu tetap baik hati" Risya tersenyum senang dan memeluk Naina.
Setelah itu, Risya juga berkenalan dengan Nisha dan Keira. Risya mengikuti Naina dan kedua sahabatnya itu ke kantin sekolah untuk jajan bersama. Semua pandangan mengarah ke arah empat gadis itu, mungkin pertama karena Risya adalah selebgram, dan yang kedua karena hubungan Naina dan Kelvin sudah terbongkar.
Aku sudah menduganya bahwa ini akan merepotkan. gumam Naina di dalam hatinya, melihat orang-orang yang menjadikan dirinya pusat perhatian.
"Nai, Nis, kalian mau pesan apa? aku pesankan sekalian?" tanya Keira pada kedua sahabatnya.
Entah kenapa feeling ku gak enak soal Risya ini. Keira terlihat tidak nyaman berdekatan dengan Risya.
Kenapa dia tidak bertanya padaku? aku juga kan ada disini, apa aku tidak dianggap?. batin Risya kesal
"Aku es susu saja" jawab Naina
"Aku mau mie rebus sama air mineral satu" jawab Nisha
"Kamu mau pesan apa Ris?" tanya Naina ramah
"Aku pesan susu low fat aja satu" jawab Risya
"Hah? susu low fat?!!" Naina dan Nisha tercengang mendengar nya. Sementara itu Keira pergi ke tempat memesan makanan, meninggalkan ketiga temannya.
"Hey iya, aku ada pemotretan nanti siang. Jadi, aku gak boleh makan yang bikin gemuk" jelas Risya
"Oh gitu ya? wajar aja sih, kamu kan selebgram dan model majalah juga." kata Nisha
Wah, pantas saja bentuk badannya bagus banget. Ternyata diet toh. Nisha menatap Risya dengan kagum.
"Iya, aku harus diet" ucap Risya dengan wajah sedihnya
"Pasti berat ya jadi model, karena harus jaga tubuh terutama pola makan. Sayang banget kamu gak bisa makan gorengan" kata Nisha sambil tersenyum
"Ya gitu deh" jawab Risya
"Oh ya Ris, gimana kabar om Jason dan tante Selina?" tanya Naina dengan wajah yang tulus
Sebenarnya aku sangat tidak suka, kamu menyebut nama ibu dan ayahku dengan mulutmu yang kotor itu. Tapi, aku akan melayani mu untuk saat ini.
"Papa ku masih ada di Paris, kalau Mama.. Mama udah lama meninggal Nai.." Risya terlihat sedih, matanya berkaca-kaca.
"Innalilahi.. meninggal? kapan itu terjadi? dan kenapa?" tanya Naina cemas, Nisha yang melihat Risya hampir menangis juga merasa cemas.
"Mama ku.. mengakhiri hidupnya Nai, mama ku sudah meninggal pada saat usiaku 8 tahun" jawab Risya sambil menunduk
Kenapa aku tidak tau kalau Tante Selina mengakhiri hidupnya? papa dan Mama juga tidak pernah cerita tentang Tante selina. Kasihan juga Risya, dia pasti sedih dan kehilangan kasih sayang seorang ibu.
Naina tersentak mendengar nya, ia menunjukkan simpatinya pada Risya. Naina kasihan pada Risya yang ditinggalkan ibunya.
"Udah jangan nangis lagi ya Risya, tenang saja. Sekarang kan ada aku disini, kamu akan punya banyak teman" Naina tersenyum tulus dan memberikan selembar tisu pada Risya untuk menghapus air matanya.
"makasih Nai, kamu baik sekali" Risya menghapus air matanya dengan tisu itu.
"Sama-sama Ris, sekarang kan kita teman" ucap Naina tulus
"Iya Nai, aku bersyukur banget masih bisa berteman sama kamu. Kalau ingat sikap Mama ku dulu, aku malu banget mau nyapa kamu" jelas Risya memelas
"Udah jangan ngomongin masa lalu lagi ya, kita jalanin aja masa sekarang" ucap Naina sambil tersenyum ramah. Nisha juga ikut tersenyum ramah pada Risya.
"Iya Nai..hiks" Risya menyeka air matanya.
Beberapa saat kemudian, Keira datang membawakan pesanan teman-teman nya itu. Mereka berempat makan sambil mengobrol menghabiskan waktu istirahat bersama sama.
***
Di perpustakaan, Juna dan Damar sedang menyusun buku buku yang mereka bawa ke rak buku, atas perintah Bu Yuli. Mereka melihat Kelvin, Theo dan Rio ada di sana.
"Paling males banget gue ke perpus, gak kaya anak rajin disana tuh" gerutu Damar sambil melihat ke arah Kelvin, Theo dan Rio yang sedang duduk dan belajar.
Juna melihat ke arah Kelvin yang duduk, ia tampak bingung dan salah tingkah. Entah kenapa? apakah ini karena dia sudah tau kalau Kelvin adalah kakak nya Naina? Atau karena Juna malu?
"Woy Jun, kenapa muka Lo merah banget kaya kepiting rebus?" goda Damar
"Bisa diem aja gak sih Lo" ucap Juna kesal, sambil menyimpan buku ke rak.
"Cie.. Juna marah, Juna malu ni yeehh.." goda Damar pada sahabatnya itu.
"Bacot Lo ya!"
Malu banget aku udah salah paham sebelumnya sama si Kelvin. Aku bahkan menyebut adiknya gila.
Kelvin dan Theo yang sudah selesai membaca buku, berjalan mendekati rak tempat Juna dan Damar sedang menyusun buku-buku. Dengan gugupnya, Juna menyapa Kelvin, bermaksud baik ingin berteman dengannya.
"Hai, genius cold..maksud gue, hai Kelvin"
"Lo kerasukan apaan?" tanya Kelvin dingin
Dia dingin banget!. ucap Juna dalam hati
Damar, dan Theo yang berada di belakang mereka ,menahan tawa mendengar pertanyaan Kelvin. "PFut.."
"Gue cuma nyapa Lo doang, kagak boleh?"
"Apa maksud Lo kaya gini sekarang?" tanya Kelvin dengan senyuman tipis di bibirnya
"Gue mau temenan sama Lo, gak ada salahnya kan kita berteman. Toh, gue juga temenan sama adik Lo"
"Sayangnya, gue gak mau temenan sama Lo" jawab Kelvin cuek.
Dia mudah ketebak, dia suka sama Naina. ucap Kelvin dalam hatinya
"Gue gak lupa ya, Lo pernah bilang adik gue cewek gila" kata Kelvin
"Woy! itu salah paham, jangan diambil hati" ucap Juna menjelaskan
"Gue gak salah paham. Gue ingetin ya, Jan macem-macem sama adik gue" Kelvin memberikan tatapan ancaman pada Juna." Theo, ayo cabut" ajak Kelvin
"Yuk Vin"
Theo tersenyum mengejek pada Juna yang di cuekin oleh Kelvin. Ia merasa menang karena Kelvin tidak menyukai Juna, itu menjadi peluang besar bagi nya untuk dekat dengan Naina karena Kelvin dekat dengannya. Juna dan Damar melihat kepergian Kelvin dengan wajah kecewa.
"Si Theo itu, dia benar-benar deh..Haihh" gerutu Juna kesal melihat Theo mengejeknya.
"Jadi sekarang Lo udah tau kan saingan Lo siapa?" tanya Damar
"Saingan apaan?"
"Saingan cinta, lah? apa lagi?" tanya Damar
"Emang gue cinta sama siapa? sampe ada saingan cinta segala" kata Juna pura-pura tak tahu
"Alah, loh masih aja jaim ya Jun. Kalau udah di tikung orang. Baru tau rasa loh" Damar mengingatkan
"Gue gak akan pernah kalah apalagi sampe ditikung orang, karena gue yang suka nikung orang"
"Lo pikir cinta itu sama kaya balapan motor? Medan cinta itu lebih rumit dan sulit, Jun." Damar menepuk bahu sahabatnya itu.
"Alah, Lo sok nasehatin gue? tau apa Lo? Dasar jomblo " Juna tersenyum
Si Damar bener juga, kalau aku mau dekat sama Naina. Aku harus deket juga sama si Kelvin. Si Theo emang bukan lawan yang mudah.
"Haha.. bisa aja Lo, jun" Damar tersenyum malu
"Yuk cabut ah udah beres" ajak Juna pada temannya.
"Oh ya, siang ini balapan jadi kan?"
"Iya dong" jawab Juna santai
Mereka berdua keluar bersama-sama dari perpustakaan.
...---***---...