
...🍀🍀🍀...
Keesokan harinya, pagi itu Naina bersiap-siap pergi ke galerinya untuk mulai melukis lagi.
Naina baru saja keluar dari kamar mandi, ia sudah berpakaian lengkap. Kini ia sedang bercermin dan hendak berdandan tidak seperti biasanya. Di mejanya terlihat ada lipstik, bedak, maskara, eyeliner dan shading yang jarang ia pakai.
Gadis itu melihat dirinya di cermin, ia memegang bibirnya dengan jari nya sambil senyum-senyum sendiri.
Perasaan ini? apa benar aku jatuh cinta pada Juna? kami sudah berciuman, artinya kami bukan teman lagi, kan? apa aku benar-benar suka sama Juna sebagai cowok? tau ah.. aku pusing.
CEKRET
Naina terkejut saat mendengar suara pintu kamarnya yang terbuka, ia menoleh ke arah pintu untuk melihat siapa orang yang sudah membuka pintu kamarnya tanpa mengetuk.
"Mama, mama ngagetin aja! kenapa mama gak ketuk pintu dulu?" tanya Naina sambil memegang dada dengan satu tangannya
"Kata siapa mama gak ketuk pintu dulu? mama udah ngetuk sampai empat kali, tapi kamu nya gak dengar. Malah senyum-senyum sendiri kle arah cermin" ucap Alma sambil tersenyum pada putrinya, ia melangkah menghampiri Naina yang masih duduk di kursi meja rias nya.
"Siapa yang senyum-senyum? enggak kok, aku gak senyum senyum" Naina menggigit bibirnya seraya menahan senyum.
Tanpa sadar aku senyum-senyum sendiri mikirin Juna. batin Naina senang
"Ayo, pagi-pagi udah senyum-senyum sendiri? ada apa nih?" goda Alma pada putri nya
"Gak papa mah, oh ya ma.. ada apa mama kesini?" tanya Naina pada mama nya
"Mama cuma mau bangunin kamu, siapa tau kamu masih tidur karena begadang nonton drakor" ucap Alma sambil mengambil sisir di meja dan menyisir rambut Naina yang panjang itu.
SRET
SRET
"Hehe, aku bangun pagi kok ma. Hari ini aku mau ke galeri, mau lukis lagi. Mama, mama gak usah sisir rambut ku.. aku kan udah gede.."
"Gak papa dong sayang, udah lama mama gak menyisir rambut kamu. Tiba-tiba mama kangen waktu kamu sama Kelvin masih kecil" Alma tersenyum, dengan senang hati ia menyisir rambut anaknya
"Ya udah deh gak papa, makasih mama" jawab Naina dengan senyuman ceria di bibirnya.
"Iya sayang.. oh ya, Nai...apa kamu udah kepikiran untuk menikah?" tanya Alma sambil mengambil ikat rambut untuk mengikat rambut Naina.
Kalau Naina udah kepikiran untuk menikah, aku pikir untuk menjodohkan Naina dengan Theo.
"Menikah?!" Naina tersentak kaget mendengar pertanyaan mama nya
"Sayang, jawab dong. Mama lagi tanya sama kamu nih!" seru Alma pada putrinya
"A-aku belum ada kepikiran kesana ma, aku masih mau berkarir. Bukannya kak Kelvin yang mau nikah duluan?" tanya Naina mengalihkan isu pernikahan nya pada Kelvin
"Kelvin mau nikah duluan? benarkah? kok mama gak tau ya!!" Alma terkejut, ia tak tahu kalau Kelvin ingin menikah
Apa Kelvin sudah punya calon?siapa? apa Sherly? atau Keira?
"Harusnya Mama tanya dulu sama kakak sebelum tanya sama aku" Naina tersenyum cerah
Maaf kak.. batin Naina memohon maaf pada kakak nya.
"Kalau gitu, mama mau tanya sama kakak kamu sekarang! dia mau nikah kapan dan nikah sama siapa, baru mama tanya kamu"
Setelah selesai mengikat rambut anaknya, Alma keluar dari kamar putrinya itu dan segera menemui Kelvin yang sedang sarapan pagi bersama Bryan, suaminya.
"Kelvin..beneran kamu mau nikah, nak??!" tanya Alma heboh pada putra sulungnya yang sedang memakan roti selai coklat nya
"Nikah? siapa yang bilang?" tanya Kelvin sambil memakan rotinya dengan santai
"Kelvin, apa kamu mau nikah sama Sherly?" tanya Bryan pada putrinya
Kelvin mengernyitkan dahinya, "Papa, mama kenapa sih? siapa yang mau nikah dan sama Sherly pula?!"
"Itu Naina bilang katanya kamu mau menikah" jawab Alma dengan wajah polosnya.
Ninaina?! dia lagi. Kelvin mendengus kesal
"Ma, pah, dia tuh yang mau nikah" ucap Kelvin kesal sambil memakan rotinya, ia kesal karena pagi-pagi sudah membahas pernikahan. Padahal ia baru saja ditolak oleh Keira.
"Tapi kamu kan kakak nya, kamu harus menikah duluan. Adik kamu nyusul" kata Bryan tegas
"Kenapa sih pagi-pagi udah bahas nikah? pusing tau gak!" Kelvin masih bete dengan kejadian semalam, ia langsung pergi begitu saja dengan wajah kesalnya.
Saat akan mengambil tas nya, Kelvin melihat Naina yang baru saja keluar dari kamarnya. Kelvin terkejut melihat penampilan Naina yang berbeda dari biasanya.
"PFut.. " Kelvin menahan tawa melihat Naina dengan setelan rok dan sepatu kets yang terlihat tidak cocok dengan style nya.
"Apa lihat-lihat?" tanya Naina tidak senang dengan tatapan kakak nya itu.
"Kamu mau kemana pake baju kaya gitu? hey.. kamu dandan ya?" Kelvin mengusap bedak yang ada di wajah Naina dengan jahil
"Kakak! apa apaan sih?!" Naina membentak kakak nya
"Haha.. kelihatan banget yang lagi jatuh cinta, sampai dandan segala" Kelvin tertawa melihat penampilan adik nya yang memakai make up dan dress itu.
Dasar Ninaina, dari dulu dia emang gak bisa menyembunyikan perasaan nya. Bahkan aku bisa merasakan kalau dia sedang bahagia. Dia benar-benar suka sama si trouble maker itu, aku masih sangat menyayangkannya.
"Siapa yang lagi jatuh cinta? eng-enggak kok" sangkal Naina dengan bibirnya yang mengerucut itu.
Kelvin tersenyum lalu mendekatkan wajahnya pada wajah Naina, kemudian ia berbisik "Bibirmu tidak sakit kan?" goda Kelvin pada saudara kembarnya.
DEG!
Kakak tau aku sama Juna kemarin di depan restoran???
Kedua mata Naina terbelalak mendengar pertanyaan Kelvin. Naina menjadi membatu, ia menepuk pundak kakak nya dengan keras.
PLAK
"Aduh Nai! sakit!!" pekik Kelvin kesakitan sambil memegang pundaknya
"Jangan bilang-bilang sama mama, kalau bilang-bilang.. AWAS ya!!" Naina mengepalkan satu tangan nya dan menunjuk ke arah Kelvin
Kelvin hanya tersenyum menyeringai menanggapi adiknya itu. Naina tidak mengerti apa maksud senyum kakak nya yang jahil itu.
"Kasih tau Mama papa gak ya?" Kelvin memutar-mutar matanya seolah sedang berfikir
"Kakak!!" seru Naina kesal
Mendengar keributan itu, Bryan yang akan berangkat bekerja segera menghampiri kedua anak kembarnya.
"Ada apa sih ini? kok ribut-ribut??"tanya Bryan pada Kelvin dan Naina yang berdiri tak jauh dari kamar Naina.
Bryan langsung tertawa melihat penampilan aneh putrinya itu, ia mengira kalau Naina akan pergi ke kondangan. Tawa Bryan juga diikuti oleh Kelvin, mereka berdua kompak menertawakan Naina.
"Tuh kan, apa aku bilang? kamu kaya mau ke kondangan..haha" Kelvin masih asik menertawakan adiknya itu.
"Nai, mending kamu hapus make up kamu terus ganti baju. Nanti kamu di ketawain orang-orang loh" saran Bryan pada putrinya itu.
Naina cemberut dan kesal dengan papa dan kakaknya yang asyik tertawa.
"Asik banget ya kalian menertawakan anak gadis mama" Alma datang membela Naina. Raut wajah gadis itu langsung sumringah melihat mama nya.
"Mama, papa sama kak Kelvin jahat ma.. mereka menertawakan aku. Marahin mereka ma" ucap Naina sambil memeluk mama nya dan merengek seperti anak kecil.
"Lihat dia pah! dia kaya bayi..haha" ucap Kelvin terpana seraya menunjuk ke arah Naina yang sedang menjulurkan lidahnya mengejek Kelvin.
"Woah.. anak gadis ku ternyata masih bayi" Bryan tersenyum melihat Naina dan Alma. Kepalanya menggeleng melihat pemandangan itu
"Siapa yang bilang putriku yang cantik ini seperti bayi?! kalian papa dan anak sama saja ya! jangan goda Naina lagi" Alma memarahi suami dan anak sulungnya yang menggoda Naina.
Naina terlihat senang dengan pembelaan mama nya itu, ia bersikap seperti anak kecil di depan mama nya. Kemudian setelah perdebatan kecil itu, Alma membantu Naina berhias dan memilih bajunya dengan benar sebelum Alma berangkat bekerja.
"Sayang, kamu tuh cocoknya dandan natural karena kamu sudah cantik. Jangan terlalu mencolok dan tebal" Alma memuji anaknya itu
"Makasih ma, aku sayang mama" Naina memeluk ibunya dengan penuh kasih sayang.
Tiba-tiba saja Alma merasa sedih
Ya Allah, bagaimana jika suatu saat nanti anak anakku menikah? apakah mereka akan tetap tinggal disini atau meninggalkan ku dan Bryan?bagiku mereka masihlah anak kecil.
...---***---...