
...🍀🍀🍀...
"Sayang, kalau kamu tidak mau.. aku tidak akan memaksa kamu. Aku minta maaf, seharusnya aku berfikir panjang sebelum bicara.. aku tidak merasakan gimana sakitnya kamu menjalani pengobatan itu. Aku minta maaf, " ucap Juna memeluk istrinya dari belakang, meminta maaf padanya karena tidak bicara tanpa berfikir panjang.
"Pengobatan ke Singapura ya?" Naina terlihat berfikir.
"Kalau kamu tidak mau, aku gak akan maksa. Aku juga gak mau kamu kesakitan lagi. Tolong jangan anggap omongan ku ini," Juna merasa bersalah karena sudah mengatakan keinginan nya membawa Naina untuk berobat ke Singapura.
"Aku mau kok, kita pergi saja ya" jawab Naina sambil tersenyum.
Juna langsung membalikkan tubuh istrinya, sehingga mereka berhadapan."Nai, kalau kamu gak mau...aku gak maksa,"
"Justru kamu harus memaksaku, kalau kamu gak memaksaku itu berarti kamu gak mau aku sembuh,"
"Bukannya gitu, aku cuma gak mau kamu sakit saat menjalani pengobatan itu Nai" tangan Juna memegang tangan Naina dengan hangat.
"Aku gak apa-apa, bukankah selama ini aku bisa bertahan? Kamu kan ada disisiku, sekarang kamu bisa dua puluh empat jam bersamaku. Aku akan lebih kuat untuk bertahan karena ada kamu" Naina tersenyum percaya diri, dia memegang kedua pipi Juna.
"Iya kamu benar.. tapi Nai, kamu gak merasa terpaksa kan?"
"Demi kesembuhan dan kesehatan ku, aku tidak merasa terpaksa kok"
Pasti nanti aku di kemoterapi lagi, entah apa yang akan terjadi nanti. Rambutku mungkin akan botak lagi, padahal sudah susah payah aku menumbuhkan nya. Naina mengeluh di dalam hatinya. Tapi, aku harus semangat! Ada Juna disisiku, aku harus sembuh agar bisa kembali hidup normal. Naina kembali membangkitkan semangat nya, karena ada Juna.
"Kamu yakin? Mau ke Singapura untuk pengobatan?" tanya Juna meyakinkan Naina sekali lagi.
"Iya yakin" jawab Naina tegas.
"Haah.. ya sudah, kita pergi secepat nya ya. Tapi, bulan madu kita ke Maldives harus ditunda dulu. Gak apa-apa kan?"
"Gak apa-apa kok, kita kan bisa sekalian bulan madu di Singapura. Tapi Jun, aku memikirkan gimana pekerjaan kamu disini, kalau kamu ikut aku ke Singapura,"
"Kamu gak usah mikirin itu, kebetulan aku ada bisnis di Singapura. Jadi aku bisa berada disana sementara waktu menemani kamu" Juna tersenyum sambil mengecup kening istrinya, "Nah, sekarang tidur ya sayang.. udah malam,"
Naina mengangguk, "Iya.. kamu juga Jun"
"Sayang!" Juna menaikkan alisnya, menatap Naina dengan tajam.
"Hehe, iya sayang" Naina tersenyum melihat tingkah suaminya yang mau dipanggil sayang.
Mereka pun tidur bersama di malam pertama pernikahan mereka dan tidak melakukan apa-apa. Keduanya tampak lelah, hingga mereka terlambat bangun.
"Uhhh.. kenapa seperti ada sesuatu yang berat menindih tubuhku?" gumam Naina sambil mengucek ngucek matanya. Dia merasa ada sesuatu yang menindihnya.
Naina membalikkan badannya, dia memegang tangan seseorang yang memeluknya. Dia tercengang melihat Juna dengan kondisi telanjang dada ada disampingnya.
"Ahh! Juna kenapa kamu ada disini?!!" Naina beranjak duduk di ranjang, dia berteriak kaget mendapati pria itu tidur disampingnya.
"Kamu kenapa sih sayang? Kok tanya nya gitu, kita kan sudah menikah," Juna beranjak duduk, dia mengecup kening Naina dengan manis.
"Oh ya, aku lupa kalau kita sudah menikah," bibir Naina membulat, dia tersenyum karena malu sendiri.
"Dasar kamu ini," Juna tersenyum dengan tingkah manis Naina.
"Hehe, habisnya menikah sama kamu itu masih berasa mimpi," Gadis itu masih merasa kalau pernikahan nya dan Juna seperti mimpi.
"Aku juga, aku pikir kita tidak akan sampai kesini. Kalau kamu tidak mengulur waktu, kita pasti sudah menikah sejak dulu,"
"Siapa yang mengulur waktu? Kamu lupa siapa yang meninggalkan aku dulu?" sindirnya pada Juna.
"Ya, aku salah. Ya sudah, kita mandi yuk terus sarapan pagi," ajak Juna kepada istrinya.
"Hem, iya. Mau kamu dulu atau aku dulu?"
"Kenapa gak barengan aja?" usul sang suami kepada istrinya, ajakan untuk mandi bersama.
"A-Apa?!!" pekik nya terkejut mendengar ucapan Juna.
"Kenapa? Bukankah sah sah aja ya kalau kita mandi bersama? Selain pahala, hemat air juga kan?" ucap nya sambil memeluk sang istri, menatapnya dengan penuh cinta.
"Bagaimana bisa kamu mengatakan hal yang tidak tahu malu begitu??" suara Naina mulai meninggi.
GREP
"Tidak tahu bagaimana? Kamu istriku Nai, kita suami istri. Sah sah saja kalau mandi bersama, aku juga bisa membantumu mandi Nai," tangan Juna melingkar di pinggang Naina, pria itu memandang istrinya dengan penuh cinta.
"Ka-kamu.."
"Tenang saja, aku gak akan macam-macam sama kamu. Aku kan sudah bilang, kalau aku tidak akan melakukan hal yang menyakiti kamu...hanya mandi saja," Juna menggendong tubuh Naina.
Naina sangat ringan.
"Juna..."
Juna tersenyum, dia sadar bahwa cinta bukan soal n*fsu saja. Dia sayang pada Naina dan dia tidak mau menyakiti nya. Kondisi Naina dan kondisi nya yang sedang menggebu itu tidak bisa di kendalikan. Juna takut kalau penyatuan tubuh itu akan membuat Naina terluka.
Dia benar-benar hanya memandikan Naina di dalam sana dan tidak berbuat macam-macam, walau dalam hati dia ingin menyentuh Naina dan melakukan tugasnya sebagai suami. Tapi, Juna tetap menahan hasratnya.
"Nai, aku ambilkan handuk ya," Juna beranjak dari bathtub itu. Kemudian Naina menarik tangan Juna
BYUR!!
Tubuh Juna ada diatas tubuh telanjang Naina, mereka berdua kini berada di dalam bathtub yang sama. "Nai, ada apa?"
Kali ini Naina berinisiatif, tangannya melingkar di leher Juna. Naina mencium suaminya dengan lembut, kemudian ciuman itu berubah menjadi ciuman yang bisa membuat gairah membuncah.
Hmphh!!
Naina menciumku?. Juna melingkarkan tangannya di pinggul Naina, memegang erat pinggul itu untuk berpegangan.
"Nai, jangan-" Juna meminta Naina menghentikan aktivitas nya.
"Aku mau kamu Juna," ucap Naina lembut, kemudian dengan berani, Naina menggigit leher Juna. Dia menggoda Juna dengan gerakan lidahnya, tangan Naina meraba-raba otot dada milik suaminya.
Dalam keadaan sama-sama basah, mereka sama-sama tidak merasa kedinginan. Malah tubuh mereka menjadi panas, keinginan untuk berbuat lebih terlintas di pikiran mereka.
Juna mendorong pelan tubuh istrinya, wajah Juna tidak dapat dikondisikan lagi.
"Nai, kamu jangan menyulut api.."
"Aku benaran gak apa-apa Jun, kalau kamu mau sekarang.. ini kewajiban ku, tolong jangan merasa tidak enak," ucap Naina sambil menatap suaminya. Tangannya gemetar memeluk Naina.
Turun naik, saliva nya Juna ketika melihat tubuh telanjang sang istri yang menggoda nya. Namun, ketika merasakan tangan Naina yang gemetar, Juna mengesampingkan n*fsu dan mengedepankan pikirannya.
"Nai, hentikan! Aku akan ambil handuk, kamu sudah terlalu lama berada di kamar mandi," Juna menepis tangan Naina yang melingkar di lehernya.
"Jun..."Naina melihat suaminya keluar dari kamar mandi dengan tatapan sedih.
Aku tau kamu sudah menahannya semalaman, Jun.
Setelah selesai mandi bersama, Juna dan Naina saling bergantian mengeringkan rambut masing-masing. Mereka sarapan pagi bersama, tak lupa Juna mengingatkan nya untuk minum obat.
"Makan sudah, minum obat sudah, yuk kita ke rumah mama dan papa untuk mengatakan tentang Singapura," ucap Juna sambil memegang tangan Naina, mereka sudah bersiap untuk pergi ke rumah lama Naina untuk bertemu dengan Bryan dan Alma.
Naina saling berpegangan tangan dengan Juna, tiba-tiba saja keluar darah dari hidung Naina.
tes, tes, tes.
"Sayang," ucap Juna menoleh ke arah Naina, dia melihat istrinya mimisan
"Juna..," pandangan Naina mulai kabur, dia melihat suaminya berada di hadapan nya.
BRUGH
Tubuh Naina oleng, dia jatuh pingsan. Juna menahan tubuh Naina dengan kedua tangannya, dia terlihat panik. Juna segera membawa Naina kembali ke ranjang, dia menelpon dokter Firlan.
Begitu dipanggil, Firlan langsung memeriksa kondisi Naina. "Gimana?"
"Saya sudah seperti dokter pribadi, tapi ini demi Naina jadi saya datang dengan cepat," Firlan agak kesal karena Juna menelpon nya meminta untuk buru-buru datang.
"Cepat bilang saja! Istri say gak apa-apa kan dok?" tanya Juna tidak mau basa-basi.
"Naina tidak apa-apa, dia hanya kedinginan. Apa kalian melakukan nya dikamar mandi?" tanya Firlan curiga.
"Eh...itu..." Juna kebingungan bagaimana menjelaskan nya.
"Kamu boleh melakukan nya, tapi jangan sampai melukai Naina," Firlan mengingatkan.
Aku saja belum melakukan nya dan Naina sudah seperti ini. Juna menatap istrinya dengan sedih.
"Iya saya tau, makasih dok" jawab Juna datar.
"Oh ya, tentang ke Singapura? Bagaimana?" tanya Firlan.
"Naina sudah setuju, kami tinggal meminta izin kepada para orang tua," jelas nya singkat.
"Baiklah, kalau kalian jadi pergi kesana. Temui lah dokter Marcel, dia adalah temanku dan dokter kanker terbaik disana," ucap Firlan.
"Hem iya" jawab Juna singkat.
Firlan pergi meninggalkan hotel itu. Tepat setelah Naina siuman, dia meminta agar Juna mengantar nya ke rumah lama.
''Kita gak usah kemana-mana, mama sama papa bilang mereka yang akan kesini. Sama Kelvin, maksudku kakak ipar juga,"
"Aku gak enak banget, harusnya kita mengunjungi mereka.. tapi malah mereka yang mengunjungi kita," Naina merasa bersalah.
"Gak apa-apa, mama sama papa juga yang lainnya gak keberatan kok," Juna mengelus kepala Naina.
Tak lama kemudian, Keira, Kelvin, Bryan dan Alma mengunjungi Naina dan Juna di kamar hotel itu. Juna langsung membicarakan tentang pengobatan Naina ke Singapura. Semua keluarga Naina setuju, karena ini demi kesembuhan Naina. Mereka merelakan Juna dan Naina pergi ke Singapura.
Alma, Bryan dan yang lainnya akan mengunjungi Naina di Singapura. Hari itu juga mereka langsung berangkat ke Singapura.
Pada malam hari, Juna dan Naina sudah sampai di sebuah rumah yang sudah dibeli Juna disana untuk tempat tinggal Juna dan Naina nantinya.
"Kapan kamu membeli rumah ini Jun?" tanya Naina sambil membereskan baju-baju yang ada di dalam koper.
"Kemarin," jawab Juna sambil membantu Naina membereskan kopernya.
"Mendadak sekali ya, makasih Jun rumahnya bagus," ucap Naina memuji rumah sederhana dan sesuai dengan standarnya itu, bahkan ada danau dibelakang rumahnya.
"Aku sengaja memilihnya karena rumah ini dekat dengan rumah sakit," Juna tersenyum, kemudian dia duduk di sudut ranjang.
Naina usai membereskan barang-barang dan bajunya, dia meminta Juna untuk segera mandi karena tubuhnya berkeringat dan bau. "Apa aku sebau itu?" tanya nya sambil mencium bau tubuhnya.
"Iya, tubuh kamu bau apek! Bikin aku mulai sana mandi yang bersih, aku juga mau mandi di kamar mandi di luar,"
"Kenapa gak mandi bareng aja?" tanya Juna dengan bibir monyong nya.
Naina menolak tegas ajakan suaminya, "Gak mau, aku mau mandi sendiri,"
"Ya udah, aku mandi dulu. Kalau ada apa-apa teriak aja ya sayang," ucap pria itu perhatian pada sang istri.
Setelah yakin suaminya sudah masuk ke dalam kamar mandi, Naina tiba-tiba senyum sendiri. Dia mengeluarkan sebotol parfum, dan baju lingeriiie miliknya. Baju yang bisa menonjolkan keindahan tubuhnya.
"Malam ini kamu tidak boleh menahannya lagi, Jun, kamu harus mandi lagi!" Naina menatap pintu kamar mandi itu dengan tatapan penuh harapan. Dia menebarkan parfum itu di sekitar kamarnya.
Kemudian, Naina pergi membawa lingerie yang akan dipakainya dan pergi ke kamar mandi diluar kamar itu.
Cekret...
Juna lebih dulu keluar dari kamar mandinya, pria itu tampan seksi dengan kimono handuk yang dipakai nya. Tubuh berotot nya terpampang nyata.
"Sayang...," panggil Juna pada istrinya.
Kenapa kaya ada bau aneh di kamar ini? Juna mencium ada bau aneh di dalam kamar itu.
"Ya sayang," sahut suara lembut itu pada Juna.
Tatapan Juna langsung terpana melihat sosok seorang wanita dengan memakai lingerie berwarna hitam sedang berdiri di depan pintu. Rambut palsunya terlihat panjang, wanita itu memakai sedikit make up di wajahnya,
Dia terlihat seksi, belum lagi dia tersenyum pada Juna. "Sayang, kamu udah mandi?" tanya nya dengan suara lembut.
Gairah nya menjadi naik turun, begitu pula dengan saliva nya. Juna langsung terperanjat, dia seperti terhipnotis oleh penampilan istrinya.
"Nai.."
Pelan-pelan Naina berjalan mendekati Juna, dengan malu malu dia memberanikan diri untuk menggoda suaminya.
Bibir Naina menyusuri leher Juna, mengecupnya dengan lembut. Tangan Naina membuka kimono handuk yang dipakai suaminya.
"Naina...jangan.."
"Aku benar-benar gak apa-apa,"
"Aku gak bisa menahannya lagi Nai," Juna merasakan bahwa tubuhnya sudah mulai memanas. Bagian bawah tubuh itu juga sudah mengeras, sebentar lagi tidak bisa dikendalikan lagi.
"Gak usah ditahan, aku sudah siap,"
"Nai..."
Tangan Juna meraih wajah Naina, dia melahap bibir cantik istrinya. Hingga keduanya berciuman dengan dalam, sampai mereka terbaring di ranjang.
Hmphh...
Haahhh...
"Nai, aku akan pelan-pelan..bilang kalau sakit,"
Naina mengangguk, "Iya"
Kira-kira jadi gak ya, Juna sama Naina malam pertama? Apa gagal lagi?
...---***---...
Mau lanjut? Komen dulu 😘😘😂