
...🍀🍀🍀...
Kayla menangis sendirian di pojokan yang gelap tak terkena sinar. Dia berada di belakang mobilnya. Damar melihat dan mendengar suara Kayla dengan penuh kelembutan, ditangannya ada eskrim durian.
"Hiks..kenapa.. kenapa baru sekarang? Kenapa baru sekarang papa datang? Kenapa papa jahat?" gumam Kayla sambil menangis dan mendudukkan kepalanya di lutut.
"Sepertinya ada suara tikus menangis disekitar sini, tikusnya besar dan rambutnya berwarna coklat" kata Damar sambil tersenyum, dia berjalan mendekati Kayla perlahan-lahan.
Kayla mendongakkan kepalanya, sesekali dia sesegukan. Matanya menatap pria yang tengah berdiri di depan nya, "Damar?"
"Ada yang pesan eskrim?" Damar tersenyum lebar, dia duduk di samping Kayla. Pria itu menyerahkan eskrim durian pada Kayla.
"Aku gak pesan" jawab Kayla sambil menyeka air matanya.
"Sayang sekali, padahal eskrim ini adalah kesukaan seseorang. Apa kamu gak suka baunya? Ini rasa durian loh" Damar membujuk Kayla untuk memakan eskrim nya. Kayla pun membuka penutup eskrim itu, dia memegang sendok eskrim nya juga.
Ternyata Damar tau kalau aku suka durian. Kayla terharu karena Damar tau eskrim kesukaan nya.
Mendadak, secara tidak sadar Damar dan Kayla bicara jadi menggunakan aku-kamu, tidak seperti biasanya yang pakai gue-elo.
"Makasih cowok rese, aku makan eskrim nya tapi bayarnya nanti ya"
"Apa? Maaf ya nona, tidak ada yang gratis di dunia ini! kamu harus membayarnya! Masa model papan atas ngutang?" tanya Damar sambil tersenyum tipis.
"Aku gak bermaksud ngutang, aku cuma gak ada uang cash untuk sekarang" kata Kayla sambil memakan eskrim nya. Perasaan hatinya menjadi lebih baik dari sebelumnya, setelah memakan yang manis-manis.
"Siapa yang bilang bayar nya pakai uang?"
"Terus pakai apa dong?" tanya Kayla penasaran.
"Pake senyum"
"Apa?" Kayla tercekat mendengar jawaban Damar.
"Bayarnya pake senyum" jawab Damar sambil menoleh ke arah Kayla dan tersenyum pada gadis itu.
"Kenapa pakai senyum?" tanya Kayla keheranan.
"Karena aku pengen lihat senyuman kamu" jawab Damar sambil menatap gadis itu dan tak berpaling darinya.
"Apaan sih? Memangnya aku kenapa, sampai kamu nyuruh aku senyum... ekspresi wajah yang seperti itu kan tidak bisa dibuat-buat" jelas Kayla kebingungan, matanya masih terlihat sedih.
"Kalau kamu gak mau senyum, gimana kalau nangis aja. Bahuku siap menampung kamu" Damar mempersilahkan Kayla untuk menumpahkan kesedihannya.
"Siapa yang mau nangis?!" Kayla menghentikan makan eskrim nya, dia menatap ke arah Damar dengan bingung. Apa yang diketahui oleh pria itu tentang dirinya?
"Aku tau pasti berat rasanya memaafkan orang yang sudah menyakiti hati kamu. Tapi kamu harus ingat satu hal Kay, dia adalah keluarga kamu.. dia papa kamu, dalam hati kamu masih ada cinta dan kasih sayang untuknya" Damar berusaha menasehati Kayla dan memberikan nya masukkan.
"Gak! Aku gak sayang sama dia! Tau apa kamu soal hatiku?" Kayla meninggikan suaranya, dia kembali emosional. Dia tau arah pembicaraan Damar kemana.
"Kamu sayang sama papa kamu, aku tau itu Kay. Tapi di dalam hati kamu, masih sulit untuk memaafkan nya. Bagaimana pun juga kalian terhubung dalam ikatan darah yang kuat, walaupun ada rasa tidak suka, namun itu bukan benci. Penyebab kamu menangis saat ini adalah karena kamu bingung, hati kamu sedang berusaha berdamai rasa cinta dan benci di dalam sana. Kamu sayang sama ayah kamu makanya kamu begini" Damar menganalisis perasaan Kayla terhadap ayahnya.
Kayla menangis tersedu-sedu, dia jadi teringat Jason. Damar tidak tega melihat Kayla yang selalu terlihat tangguh itu menangis sampai seperti ini, dia pun memeluk Kayla untuk menenangkan nya.
"Aku harus gimana Mar, hatiku sakit banget.. hiks.. aku bingung, aku sayang papa tapi aku..juga sakit hati sama papa" Kayla menangis di dalam dekapan Damar.
"Maka cobalah berdamai dengan papa kamu, tapi dengan hati mu juga. Kamu sayang papa kamu kan? Cobalah untuk memaafkan nya dan buka hatimu" Damar memberikan saran pada Kayla untuk memaafkan Jason.
Kayla sempat terdiam mendengarkan saran Damar, dia berfikir apakah sudah waktunya dia menghentikan semua kebencian nya pada Jason. Berada dalam pelukan Damar, dia mengerti kalau memaafkan mungkin akan lebih baik untuk semuanya.
"Aku akan coba buka hatiku, aku akan coba memberikan papa kesempatan" kata Kayla setuju.
"Bagus" jawab Damar.
Damar dan Kayla pun tersenyum satu sama lain. "Ah maaf, baju kamu jadi basah" Kayla menyadari kalau baju Damar jadi basah karena air matanya
"Iya nih kaya kebanjiran" Damar tersenyum melihat bajunya yang basah di bagian dada.
"Air mataku banyak sekali" kata Kayla sambil melihat baju Damar yang basah itu.
"Ini bukan air mata, tapi kayanya ingus kamu deh" Damar tertawa kecil, merasakan ada yang lengket di bajunya.
"Ingus? Aku gak ingusan!" Sangkal Kayla malu.
"Ini ingus, nih kamu lihat lengket gini" Damar memegang bajunya yang basah dan lengket itu, memang benar yang basah di bajunya adalah ingus.
"Ih.. jijik tau gak, kenapa kamu pegang ingusnya kaya gitu?" Kayla mengernyitkan dahinya, melihat Damar dengan berani memegang ingus di bajunya.
"Kenapa? Malu karena ini benar-benar ingus? Nih..nih.." Dengan sengaja Damar menempelkan ingus itu pada baju Kayla.
"Woah! Kamu ini benar-benar ya! ini baju limited edition!" Kayla kesal karena Damar mengotori bajunya yang mahal.
"PFut.. Hahahaha" Damar malah tertawa melihat wajah Kayla yang kesal.
"Kamu malah ketawa! Ayo! Tanggungjawab hah!" Kayla mengerucutkan bibirnya, dia menaruh kedua tangan nya di pinggang. Menatap Damar dengan sebal.
"Gak mau..aku gak mau tanggungjawab" Damar menolak untuk bertanggungjawab, dia malah tertawa jahil.
"Damar kamu nyebelin!"Kayla mendengus kesal.
"Nih nih.. ingus kamu sendiri kan" Damar semakin sengaja menempelkan ingus itu pada tas mahal milik Kayla.
"Ini tas dari Paris!" seru Kayla kesal sambil memukul-mukul tubuh Damar dengan gemas. Namun akhirnya gadis itu tertawa karena merasa terhibur dengan tingkah jahil Damar.
"Kalau dari Paris, terus kenapa?" Damar menjulurkan lidahnya pada Kayla dengan sengaja memancing emosinya. Bahkan Damar mengorek hidungnya, lalu menempelkan kotoran hidung itu ke bajunya.
Sontak saja hal itu membuat Kayla tertawa.
"Hahahaha.. Damar, ternyata kamu orangnya jorok. Gimana kalau semua pengunjung restoran tau kalau pemilik restorannya itu jorok"
"Mereka gak tau, kalau rahasia makanan enak mereka tuh karena kotoran hidung" bisik Damar pada Kayla dengan senyuman jahilnya.
"Damar ih! Gak lucu hahaha" Kayla yang tadinya menangis langsung tertawa terbahak-bahak, ketika berhadapan dengan Damar.
"Gak lucu, tapi kok ketawa?" Damar tersenyum bahagia melihat Kayla tertawa karena leluconnya.
****
Keesokan harinya...
Pagi itu Naina bersiap-siap pergi ke sekolah tempat nya dulu menimba ilmu untuk menjadi guru ujian praktek seni selama satu hari disana.
"Nai, kamu mau kemana? Rapi banget" kata Keira yang sedang menyiapkan roti panggang untuk sarapan pagi.
"Benarkah aku udah rapi? Penampilan ku udah kelihatan formal belum?" tanya Naina pada kakak iparnya
"Kamu kaya guru yang mau ngajar ke sekolah" Alma muncul dan membantu Keira mengolesi roti itu dengan selai.
"Tepat sekali, aku mau pergi ke sekolah! Aku mau jadi guru sehari" Naina tersenyum ceria, kemudian dia duduk di meja makan.
"Guru sehari?" Kelvin dan Bryan muncul bersamaan, mereka mendengar ucapan Naina.
"Aku belum cerita ya sama kalian, hari ini aku diundang sama sekolah lama kita kak. Aku akan berpartisipasi dalam ujian praktek sekolah dan memberikan penilaian seni pada anak-anak kelas tiga" jelas Naina pada semua keluarga nya.
"Oh gitu, wah anak mama mau jadi guru rupanya" Alma tersenyum, dia menyiapkan bubur untuk Naina. Bubur dengan rasa hambar seperti biasanya, sementara untuk yang lain sarapannya roti dengan selai.
"Kamu gak apa-apa mempunyai kegiatan begitu? Lusa kamu menikah loh, papa takut kamu kenapa-napa Nai" kata Bryan cemas dengan kondisi kesehatan anaknya.
"Papa tenang saja, aku gak akan kelelahan. Aku tau kondisi tubuhku, kapan aku harus berhenti dan kapan aku harus maju" kata Naina bijak, sambil memakan buburnya pelan-pelan.
"Ya sudah kalau kamu yakin, tapi kami gak mau kamu kelelahan dan pingsan lagi" kata Bryan pada putrinya.
"Iya pa! Siap! Aku sudah siapkan amunisi untuk bertempur, obat, botol minum, cemilan yang sehat" kata Naina semangat. Dia menuruti semua saran dari dokter Firlan untuk tidak melupakan obat dan keperluan nya ketika bepergian kemanapun.
Mulai sekarang Naina harus membiasakan semua itu karena dia tidak bisa bertahan tanpa obat. Dan setiap kambuh, Naina harus segera meminum obatnya. Dia tidak boleh lupa minum obat itu.
"Oke deh, sampai jam berapa kamu di sekolah?" tanya Kelvin pada adiknya.
"Sampai jam 11 siang" jawab Naina sambil memakan bubur itu perlahan-lahan.
"Nai, aku boleh ikut gak ke sekolah?" tanya Keira yang ingin pergi keluar dari rumah.
"Kei.. kamu kan.." Kelvin hendak melarang istrinya pergi keluar rumah.
"Gak papa Vin, Keira pasti bosan di rumah terus. Biarkanlah dia keluar sesekali, lagipula ada pengawal yang akan menjaga nya dan Naina" kata Alma merasa kasihan pada Keira yang selalu berada di rumah sejak kejadian teror itu.
"Mama Alma memang paling pengertian" Keira tersenyum ke arah Alma.
Kemudian Keira memelas pada Kelvin, meminta suaminya memberinya izin keluar rumah.
"Haahhh.. baiklah, kamu boleh keluar rumah dan ikut Naina. Tapi, kamu dilarang untuk keras kepala apalagi jauh-jauh dari pengawasan pengawal. Kalau kamu melanggarnya dan anak kita sampai kenapa-napa aku benar-benar akan marah sama kamu Kei" ancam Kelvin tegas pada istrinya.
"I-iya sayang, aku akan patuh. Tidak akan keras kepala lagi" Keira tersenyum pada suaminya dengan manja.
"Ya sudah, habiskan sarapan kalian. Aku akan mengantar kalian ke sekolah sebelum berangkat bekerja" kata Kelvin pada Naina dan Keira. Kedua wanita itu dengan kompak menganggukkan kepala.
Memang mereka tuh memiliki kemiripan, sampai kompak begini. batin Kelvin sambil menatap ke arah istri dan adik perempuannya dengan penuh kasih sayang.
Setelah selesai sarapan pagi, Kelvin mengantar Naina dan Keira pergi ke sekolah lama mereka. Sesampainya disana, tak lupa Kelvin mengelus perut istrinya. Naina tersenyum senang melihat kemesraan kakak dan kakak iparnya itu, sambil bermimpi kapan dia dan Juna akan menjadi pasangan mesra seperti mereka dan apakah dia dan Juna bisa seperti itu.
"Sayang, papa berangkat kerja dulu ya. Kamu baik-baik sama mama..jangan rewel. Kalau mama kamu keras kepala, kamu boleh rewel untuk mengingatkan mama kamu" kata Kelvin pada anaknya yang belum lahir itu.
"Sayang, bilang sama papa kamu. Kali ini dan seterusnya mama akan nurut sama dia demi kamu juga" jawab Keira pada suaminya.
Kelvin mencium kening istrinya dengan lembut penuh kasih sayang. "Iya.. kamu jangan bandel ya Kei" kata Kelvin pada istrinya.
"Iya, kamu juga jangan bandel. Jangan main mata sama cewek lain di luar sana" Keira memeluk suaminya dengan manja.
"Ehem, udah dong pelukan nya. Nanti telat loh ke kantor" kata Naina sambil tersenyum ke arah Keira dan Kelvin.
Kelvin langsung naik ke mobilnya dan berangkat ke kantor. Naina dan Keira masuk ke dalam sekolah, dibelakang mereka ada 3 orang pengawal yang ditugaskan Ken untuk menjaga Keira.
Naina disambut baik oleh kepala sekolah yang baru disana, dia adalah pak Tamrin. "Selamat datang Bu Ninaina dan.. ini siapa?" tanya Tamrin pada orang yang berada di sebelah Naina.
"Ini adalah kakak ipar saya pak, dia juga adalah alumni di sekolah ini. Saya dan dia sekelas" jawab Naina memperkenalkan Keira pada Tamrin.
"Perkenalkan pak, nama saya Keira Saraswati Aditama" kata Keira dengan sopan.
"Saya Tamrin, salam kenal Bu Keira" Pria paruh baya itu tersenyum ramah pada Keira.
Jadi dia adalah istri genius Kelvin Aldara Aditama.
Setelah perkenalan itu..Bu Feby, mengajak Naina dan Keira pergi ke ruang seni. Naina dan Keira melihat-lihat suasana sekolah yang sama sekali tidak berubah.
Suasana disana mengingatkan mereka akan masa remaja yang indah di sekolah. Naina melihat sebuah pohon yang masih berdiri tegak, tempatnya dan Juna selalu bersama.
"Berasa nostalgia ya Nai"
"Kakak juga merasakan hal yang sama?" tanya Naina pada kakak iparnya.
"Iya, di sekolah ini banyak sekali kenangan indah" jawab Keira pada Naina sambil tersenyum.
"Oh ya, Nai.. katanya kamu sakit ya? Maaf ya ibu gak sempat jenguk kamu.. ibu baru tau kamu sakit dari papa kamu" jelas Bu Febby meminta maaf.
"Iya gak apa-apa kok Bu" Naina tersenyum santai.
"Tapi gimana keadaan kamu sekarang nak?" tanya Bu Febby sambil melihat ke arah Naina, wajahnya yang tampak kurus dan tubuhnya terlihat kering. Bahkan Naina selalu memakai topi kemana-mana.
"Saya udah baikan kok Bu, walau kadang penyakit saya suka kambuh" Naina tersenyum santai.
"Beneran nih kamu gak apa-apa? Kalau kamu capek, bilang sama ibu ya" kata Bu Febby perhatian pada Naina mantan murid kesayangan nya.
Mereka pun tiba di ruang seni, terlihat beberapa murid kelas tiga sedang berada di ruangan itu.
"Anak-anak! Perkenalkan kakak ini adalah seniman terkenal, kalian tau kan keluarga Aditama? Dia adalah Ninaina Alisya Aditama, seniman lulusan universitas seni di London" kata Bu Febby memperkenalkan Naina dengan bangga pada anak muridnya.
"Selamat pagi semuanya, perkenalkan nama saya.." Naina terhenti ketika melihat wajah wajah yang dia kenal ada di dalam ruangan itu.
...---***---...