
Rencana Juna cs untuk balapan motor sesudah pulang sekolah, terancam batal karena hasil ulangan harian matematika Juna.
15 menit yang lalu...
Bu Febby membagikan hasil ulangan harian matematika kepada para muridnya. Juna, sebagai ketua kelas membantu Bu Febby membagikan hasil ulangan harian itu kepada teman-temannya. Naina mendapat urutan pertama dalam pembagian hasil ujiannya itu.
"Naina, ini punya Lo" kata Juna sambil memberikan kertas ulangan milik Naina dengan orangnya.
Nilainya selalu bagus, jangan-jangan dia emang genius turunan kakak nya. ucap Juna sambil melihat nilai sempurna pada kertas ulangan milik Naina.
Naina tersenyum melihat hasil ulangannya, lalu menyimpan kertas itu ke dalam bukunya." Oh ya Jun, nanti kasih tau ya kalau hasil ulangan kamu sama Damar udah keluar"
"O-oke" jawab Juna gugup.
Entah kenapa, aku tidak pede. Semoga nilai ku diatas 3.
Juna melanjutkan perjalanan nya membagi-bagikan hasil ulangan harian. Lalu tibalah saat nama Damar disebut. Damar tersenyum senang melihat hasil ulangannya, ia menunjukkan hasil ulangannya pada Keira, orang yang mengajarinya.
"Thanks banget Kei, berkat Lo gue dapat nilai 7 pertama kalinya dalam hidup gue " Damar terlihat girang
"Jangan berterimakasih sama aku, aku cuma menunjukkan jalannya saja. Kamu kan sudah berusaha sendiri, selamat ya Damar" Keira ikut senang dan bangga, karena penjelasan nya di mengerti oleh Damar.
Ia merasa seperti guru yang berhasil membuat anak didiknya sukses dalam waktu satu minggu meskipun hanya dapat nilai 7. Bagi Keira, itu adalah kemajuan yang luar biasa untuk Damar yang sebelumnya mendapatkan nilai dua.
"Pokoknya, gue bakal traktir Lo nanti ya. Tapi gak bisa siang ini, gue ada acara sama si Juna" kata Damar
"Ah gak usah mar, ngerepotin aja" kata Keira sambil tersenyum
"Tolong jangan nolak, lagian cuma di warteg aja kok. Besok luangkan waktu Lo, ya" Damar tersenyum pada Keira
Damar dan Keira sedang berbahagia, tapi disisi lain Naina sedang memarahi Juna karena nilai matematika Juna jauh dibawah ekspetasi. Ia tak percaya, bahwa Juna mendapatkan nilai seperti itu.
Melihat Juna terlihat resah, Damar menanyakan kepada sahabatnya itu apa yang terjadi padanya.
"Mar, tolongin gue. Si Naina ngamuk" kata Juna pada Damar
"Kenapa dia ngamuk?" tanya Damar
"Nilai gue, nilai gue.. "
"Nilai Lo jeblok lagi? kali ini berapa? 1,2,3, atau nol?" tanya Damar
"Lo ngeledek gue!!"
"Biasanya Lo kan dapat nilai segitu" jawab Damar santai dengan wajah datarnya.
"Lo matahin hati gue, mar" Juna terlihat lesu, ia tak bisa membayangkan kecewanya Naina. Saat baru melihat kertas nya saja, Naina sudah mengerutkan dahinya.
"Wah ini salah Lo sih, waktu ulangan harian Lo malah tidur. Semoga Lo selamat bro!" Damar menepuk bahu sahabatnya itu.
Kenapa sih si Juna ini nurut banget sama si Naina?. batin Risya sambil melihat ke arah Juna dan Damar
Naina pun membawa kertas ulangan milik Juna ke depan kelas, untuk meminta penjelasan dari Bu Febby.
"Bu, maaf.. apakah nilai Juna benar-benar segini Bu? ibu tidak salah memeriksanya kan?" tanya Naina
"Tidak Naina, itu sudah benar. Tenang saja, ini bukan salah kamu sebagai teman kelompok belajarnya. Juna nya saja yang tidak mengerti apa yang kamu jelaskan" kata Bu Febby menghibur Naina
"Jadi.. Juna benar-benar mendapatkan nilai segini Bu?" tanya Naina kecewa dan setengah tidak percaya
Apa saja yang terjadi selama aku tidak masuk sekolah? padahal waktu itu dia berhasil mengerjakan semua soal dariku dengan benar? aku percaya kemampuan nya. Kenapa nilainya do re mi begini?!!. Naina menahan kesal nya, ia tetap tersenyum di depan wali kelasnya itu.
"Nai, tolong bantu Juna belajar dengan lebih baik lagi ya. Jika nilai Juna tetap seperti ini di minggu berikutnya, maka akan berpengaruh terhadap nilai kelompok kalian" Bu Febby tersenyum dan mengingatkan
"Iya baik Bu" jawab Naina lesu
Naina kembali ke bangkunya dengan wajah kesal, ia tidak bicara pada Juna dan hanya menyandarkan tubuhnya di tembok dekat jendela.
"Nai, gue.. itu..." Juna bingung, ia ingin menjelaskan
"Nanti sajalah bicaranya" jawab Naina malas
"Jangan ngambek dong, gue bakal lebih baik lagi deh. Maafin gue, please.. jangan marah " Juna mengatupkan tangannya di depan Naina, ia memohon pengampunan dari gadis itu, dengan sangat serius.
Hati ku tidak akan tenang melihat kamu cemberut sedikit saja, apalagi kalau kamu marah padaku.
"Kamu mau dimaafin?" tanya Naina
"Iya gue mau!" jawab Juna semangat
"Pulang sekolah, belajar lagi sama aku"
"A-Apa?"
"Kenapa? gak bisa?" tanya Naina dengan wajah cemberutnya
"Harus ya hari ini? gak bisa besok?" Juna membujuk
"Ya udah kalau gak mau, aku tidak akan memaksa" jawab Naina dengan wajah yang suram.
Curang! gimana bisa dia bilang gak akan maksa dengan wajah kaya gitu. Ini sih jelas-jelas dia marah.
"Udah dong jangan ngambek, iya gue belajar pulang sekolah bareng Lo.Tapi, kasih gue waktu 1 jam aja ya. Nanti gue ke rumah lo buat belajar bareng" jelas Juna
"Ya udah, emang kamu mau kemana selama satu jam itu? kalau kamu memang ada acara penting, gak papa besok lagi aja belajar nya"
"Lah.. lah..Lo kok ngambek lagi sih. Ini bukan acara penting kok, suer deh!!" ujar Juna merasa bersalah
"Siapa yang ngambek? b aja tuh" jawab Naina sambil merapikan bolpoin nya ke tempat pensil.
Jelas-jelas dia ngambek.
"Ya udah gue minta nomor hp Lo, nanti gue hubungin Lo kalau urusan gue udah kelar"
"Hmm.." Tanpa banyak bicara, Naina menuliskan nomornya pada secarik kertas kecil. Lalu ia memberikan kertas kecil itu pada Juna.
"Naina, gimana kalau Lo sama Keira ikut gue sama si Damar ke tempat gue bakalan pergi?" tanya Juna
"Kalian mau kemana emangnya?" tanya Naina sedikit cuek
"Ke tempat balapan, udah dari balapan itu.Kita bisa belajar bareng"
"Kamu suka balapan liar??!" tanya Naina
"Ini bukan balapan liar kok, ini balapan motor resmi. Lo gak usah cemas Nai" kata Damar yang ada dibelakang Juna dan Naina
"Syukurlah.."
"Lo cemas sama gue?" tanya Juna senang
"Idih, siapa yang cemas sama kamu dasar cowok preman"
"Gue tau Lo peduli sama gue kan, cewek gila?" tanya Juna dengan senyuman menggoda pada Naina
"Aku gak peduli sama kamu, aku peduli sama nilai kamu tuh! " seru Naina sebal
Imut banget sih Naina, lagi cemberut aja masih bisa secantik ini.Juna memandangi wajah cemberut Naina itu.
Damar dan Keira hanya tersenyum, menggelengkan kepala mereka melihat perdebatan kecil antara couple Junai.
"Lihat tuh Kei, mereka mulai lagi"
"Iya dasar haha"
🎵🎵
Ting tong
Bel pulang sekolah pun berbunyi, semua siswa dengan girangnya mulai bubaran dari kelas mereka masing-masing, bersiap untuk pulang.
Saat Bu Febby akan keluar kelas, Risya menghampiri Bu Febby dengan wajah sedih. Ia mengatakan kalau ia belum punya kelompok belajar.
"Maafkan ibu ya Risya, ibu hampir lupa. Kamu kan baru masuk kesini. Kamu mau masuk kelompok belajar siapa?" tanya Bu Febby ramah
"Di kelas ini saya cuma kenal sama Naina dan Keira, Bu..apa boleh saya masuk kedalam kelompok mereka?" tanya Risya
Lebih seru kalau menghancurkan orang dari dalam. batin Risya
"Naina, Keira, Juna, Damar, gimana menurut kalian? boleh kan kalau Risya gabung dalam kelompok belajar kalian?" tanya Bu Febby pada ke empat muridnya yang sedang piket kelas itu.
"Cari aja kelompok lain, kelompok kita udah penuh" kata Juna cuek
Feeling ku gak enak soal si Risya ini, wajahnya kelihatan lembut. Tapi aku merasa dia punya niat jahat. batin Juna cemas
"Gak papa Bu, Risya gabung aja ke kelompok kami. Gak papa kan tambah satu orang aja? kalian setuju kan, Kei, Jun, mar?" tanya Naina kepada ketiga temannya yang terlihat tidak senang melihat Risya.
"Aku sih terserah Naina saja" jawab Keira sedikit ragu
Naina kan orang yang polos, dia tidak akan menyadari kalau ada orang yang berniat jahat padanya. Aku harus menjaganya.
"Gue setuju deh, gak ada salahnya nambah satu anggota baru" kata Damar menyambut ramah
"Thanks ya, Naina juga makasih banyak ya" Risya mendekati Naina, lalu memeluk gadis itu dengan senang.
"Iya gak papa, santai aja Ris" ucap Naina sambil tersenyum polos
Setelah itu Bu Febby keluar dari kelas, sementara Naina, Keira, Juna dan Damar sedang menjalankan tugas piket mereka. Naina menyapu, Damar menghapus papan tulis juga membersihkan debu, Juna mengepel, dan Keira membersihkan kaca. Risya juga ikut membantu Naina menyapu.
Sialan! aku kan tidak pernah melakukan pekerjaan seperti ini. gerutu Risya sambil menyapu lantai yang kotor.
Disisi lain, Juna terlihat linglung dan bingung saat sedang mengepel lantai. "cowok preman, kamu kenapa?" tanya Naina
"Gue gak papa kok cewek gila" jawab Juna
Gimana ya, aku mau kasih ini tapi takut dia gak suka. Tangan Juna merogoh saku celana abu abu nya, ia tampak bingung.
"Junai, kalian haus gak? gue sama Keira mau beli minuman ke kantin" ucap Damar yang sudah selesai mengerjakan pekerjaan nya.
"Aku mau jus stoberi" jawab Naina
Tuh kan bener kata si Keira, dia suka sama stoberi. Tapi gimana aku kasih ini ya? malu..dan kayanya dia masih ngambek.
"Gue air putih aja" jawab Juna
"Lo mau apa Ris?" tanya Damar
"Aku juga air putih aja deh" jawab Risya
"Oke, Junai..gue pergi dulu sama Keira ke kantin ya" kata Damar
"Yu, Mar"
Damar dan Keira pergi ke kantin untuk membeli minuman untuk ketiga teman mereka yang masih ada di kelas. Ketika sedang berjalan di kantin, Keira dan Damar berpapasan dengan Kelvin yang sudah menggendong tas sekolahnya, dibelakangnya ada Ghina dan ketiga temannya.
Kelvin agak tidak nyaman melihat Keira yang akhir-akhir ini terlihat dekat dengan Damar.
"Hai..kak Kel.." sapa Keira pada Kelvin
"Naina dimana?" tanya Kelvin yang langsung memotong kata-kata Keira.
"Naina masih di kelas, lagi piket" jawab Keira
Tanpa bicara apa-apa lagi, Kelvin dan Ghina cs berjalan menuju ke kelas Naina. Keira melihat Kelvin dengan sedih, lagi-lagi ia diabaikan lagi oleh Kelvin.
Keira juga bertanya-tanya, mau apa Kelvin jalan bersama Ghina dan teman-teman nya lalu menanyakan Naina?
...---***---...