
๐๐๐
Semua tamu sudah hadir memenuhi gedung pernikahan itu, gedung mewah berlantaikan dua milik perusahaan Aditama. Para bapak-bapak berkumpul dan sedang mengobrol dengan pengantin pria yang sebentar lagi akan menjadi seorang suami. Dia adalah Kelvin.
Kelvin sudah bersiap dengan setelan jas berwarna putihnya, bersamaan dengan menandakan sucinya hari itu. Matanya menatap tajam ke arah pak penghulu yang sudah datang dan duduk di sebuah kursi.
"Vin, jangan tegang" ucap Leon sambil menepuk kedua bahu Kelvin, dia tersenyum menyemangati keponakan nya yang akan menikah.
"Aku gak papa kok om" jawab Kelvin dengan tangan dan kaki yang tidak mau diam, wajahnya yang sudah memakai sedikit make up basah karena keringat yang tiba-tiba muncul.
"Gak papa gimana? kamu keringat dingin gitu?" tanya Ken menggoda keponakan nya itu. Dia tidak percaya kalau Kelvin yang selalu percaya diri dalam segala hal, bisa mengalami gugup karena seorang wanita yang sudah mencuri hatinya
"Gak kok, aku gak papa" jawab Kelvin resah
Sebentar lagi aku akan ijab kabul sama Keira, tapi rasanya jantungku ini mau copot. Apa aku bisa melakukan nya tanpa kesalahan?. Kelvin mulai meragukan dirinya sendiri.
"Kamu pasti bisa Vin! memang dulu papa juga deg degan waktu mau menikah dengan mama mu dulu. Tapi percayalah setalah kamu melewati semua ini, malam nya kamu akan mendapatkan kebahagiaan dunia" Bryan membayangkan bagaimana malam pertamanya bersama Alma dulu
"Kebahagiaan dunia?" tanya Kelvin polos dan tidak tahu apa maksud kata-kata papa nya
"Jangan dengarkan papa mu Vin, dia pasti berfikiran mesum lagi" ucap Leon sambil melirik ke arah Bryan
"Hey, apa yang aku katakan ini fakta nya kakak ipar! bukankah kamu merasakan kebahagiaan dan kenikmatan malam setelah ijab kabul ini?" Bryan menepuk bahu kakak iparnya
"Kenikmatan? kebahagiaan?" gumam Kelvin dengan wajah bingung nya. Bukannya membuat Kelvin merasa lebih baik, kedua paman dan papa nya malah membuat dirinya semakin gugup dan bingung.
Disisi lain ada Juna dan Theo sedang berada di salah satu stan makanan bersama tamu lainnya yang baru hadir. Mereka kompak memutar mata melirik kesana kemari, entah apa yang mereka cari.
"Lo nyari apaan?" tanya Juna yang sadar kalau Theo seperti sedang mencari sesuatu
"Lo sendiri cari apa?"tanya balik Theo pada Juna
"Kebiasaan ya Lo, orang nanya malah nanya balik" gerutu Juna sebal
"Hemph! suka suka gue lah" ucap Theo dengan gaya cueknya
Nisha dimana ya? kok gak kelihatan?
"Apa jangan-jangan Lo cari tunangan gue?" tanya Juna curiga
"Gue cari Nisha" jawab Theo jujur, dia memang sedang mencari Nisha.
"Jadi sekarang Lo udah jadian sama dia?" goda Juna pada pria itu
"Belum, tapi kami lagi memberikan kesempatan pada hubungan ini. Udah tanya tanya nya? kenapa Lo bukannya cari Naina? dia gak keliatan dari tadi" jelas Theo dingin pada Juna
"Gue juga lagi nyari dia, tadi dia pergi sama mama nya sih. Mau ke ruang pengantin katanya" jawab Juna
"Tapi Lo tetap cemas kan?"
"Ya iyalah, gue cemas. Gue gak punya siapa-siapa lagi selain Naina, kalau Naina kenapa-napa gue mungkin gak bisa hidup lagi. Membayangkan nya saja sudah membuat gue ngeri" Juna terlihat sedih dan khawatir kalau terjadi sesuatu yang buruk pada Naina.
Theo terlihat lega karena Juna mencintai Naina lebih dari yang dia pikirkan. Mungkin Theo bisa percaya pada Juna untuk menjaga Naina.
"Seperti nya Lo harus mulai khawatir, karena Naina gak ada disana" Theo mulai mencemaskan Naina juga, karena Theo melihat ke arah salah satu pintu di gedung itu. Semua orang ada kecuali Naina.
"Nai..." Juna mulai kalang kabut sendiri.
"Gue bantu cari" ucap Theo sambil melangkah pergi mencari Naina.
Juna menghampiri Nisha, Kayla dan Keira yang sedang berjalan menuju ke tempat ijab kabul akan dilaksanakan. Dengan wajah paniknya dia bertanya pada mereka bertiga tentang keberadaan Naina.
Kayla terpana melihat ketampanan Juna. Woah, siapa dia? tampannya. Kulitnya Indonesia banget.
"Dimana Naina? kok gak sama kalian?" tanya Juna pada ketiga wanita itu
Dia nanyain kak Naina?. batin Kayla heran
"Tadi Naina bilang kalau dia kebelet, dia pergi ke kamar mandi"
Tanpa bicara apa-apa lagi, Juna langsung berlari menuju ke arah kamar mandi wanita. Keira, Kayla dan Nisha melihat Juna dengan bingung.
"Si Juna kenapa tuh?" tanya Nisha
"Wah! Daebak banget! dia ganteng banget sih, siapa pria yang manis itu kakak ipar?" tanya Kayla tertarik pada Juna.
"Kayla, dia itu tunangan nya Naina. Jangan sampai kamu jatuh cinta padanya" jawab Keira mengingatkan Kayla
KREKKK!!
"Kenapa aku selalu suka pada orang yang sudah mempunyai pasangan??! huh, apakah ada pacar dengan gaya Indonesia untukku?" gerutu Kayla kesal
"Kamu mau yang seperti itu? aku tau orang yang cocok untuk kamu. Masih ada kok stok jomblo buat kamu" jelas Nisha sambil tersenyum
Dia benar-benar tidak jauh beda dengan Naina.
"Benaran kak? tipeku yang manis manis kaya tunangan kak Naina itu loh. Harus yang manis, jangan bule!" seru Kayla menawar
"Oke, nanti aku kenalkan kamu padanya" Nisha tersenyum, dia teringat seseorang di pikiran nya.
"Kita friend ya kak!" Kayla tersenyum ceria. Keira hanya tersenyum mendengar percakapan mereka berdua.
"Tapi ngomong-ngomong kenapa Juna keliatan panik ya?" tanya Keira khawatir
"Mungkin dia mau bucin bucinan kali sama Naina. Udahlah gak papa, ayo kita otw ke pelaminan" ucap Nisha sambil menggandeng tangan Keira dengan hati-hati.
"Iya deh" Keira tertawa kecil.
Di saat sedang bahagia, Naina sedang berjuang dengan rasa sakit dari efek kemoterapi yang tiba-tiba terasa sangat menyakiti tubuhnya. Naina mengambil obat dan meminumnya, darah mengucur dari hidungnya juga sudah dibereskan. Bagian dalam tubuhnya terasa panas, kepalanya seperti ditusuk-tusuk.
"Ayo Nai.. kuat Nai, sebentar lagi aja..please.. ya Allah kumohon..ughh.." Naina jatuh terduduk di lantai, dia menahan rasa sakit di dadanya itu.
Tak lama kemudian..
Tok, tok, tok
"Juna, kamu udah gila ya? gimana bisa kamu masuk toilet wanita sembarangan!" Naina marah sambil membuka pintu toilet itu.
"Kamu mau buat aku mati karena cemas ya? kamu tau betapa paniknya aku?!!" teriak Juna marah-marah
"Juna, ayo kita keluar. Nanti kalau ada yang masuk kesini, gimana? gak enak" ucap Naina mengajak Juna keluar dari toilet wanita.
Mereka berdua keluar dari toilet wanita, Juna masih saja mencemaskan Naina. Kedua tangannya meraih pipi Naina. "Pipi kamu dingin Nai"
"Aku gak papa Jun, sebentar lagi kakak mau ijab kabul, aku harus melihat momen penting ini" ucap Naina sambil memegang tangan Juna
"Nai, kita ke rumah sakit aja"
"Enggak, kita ke tempat Kak Kelvin sama kak Keira. Ijab kabul kan gak lama, cuma sekali aja seumur hidup. Aku tidak mau melewatkan nya.."
"Kamu ini... baiklah, tapi kamu gak boleh jauh-jauh dari ku" Juna menggenggam tangan Naina
"Iyah" Naina tersenyum membalas genggaman tangan Juna.
,๐๐๐
Kelvin dan Keira sedang sama-sama deg degan. Keira di gandeng tangannya oleh Bryan, mereka berjalan menuju ke arah Kelvin dan penghulu yang sudah menunggu di dekat pelaminan.
"Makasih pa, papa udah mau mendampingi aku" Keira tersenyum haru melihat ke arah papa mertuanya. Dia jadi teringat papa nya yang sudah lama meninggal.
"Sekarang kamu juga adalah putriku, sama hal nya dengan Naina. Keira, papa percaya kalau kamu tidak akan mengecewakan Kelvin..papa titipkan anak keras kepala dan dingin itu padamu" ucap Bryan sambil memegang tangan Keira, pria itu tersenyum lembut.
"Papa bisa percaya padaku, aku tidak akan pernah mengecewakan Kelvin dan akan selalu membahagiakan nya" Keira bicara penuh kesungguhan dari lubuk hatinya yang paling dalam. Matanya berkaca-kaca, seperti akan menangis.
"Jangan menangis,make up mu luntur nanti" ucap Bryan mengingatkan
"Hehe, iya pah" Keira menahan air matanya sekuat tenaga.
Mereka berdua berjalan mendekati ke arah Kelvin yang sudah menantikan momen penting ini. Tak lupa fotografer mengabadikan momen itu dengan mengambil gambar.
Kelvin menyambut Keira dengan senyuman, matanya tak bisa berpaling dari Keira. Bahkan dia tidak berkedip ketika melihat Keira berbalut kebaya putih yang terlihat bercahaya.
Aku tidak percaya bahwa hari ini, aku akan menikah.. aku akan menjadi suami seseorang. Kepala keluarga.
"Hem Ehem.. papa tau kalau menantu papa, maksud papa.. putri papa sangat cantik. Tapi ijab kabulnya sudah mau di mulai loh" kata Bryan pada putranya yang terus memandangi Keira.
Keira dan Kelvin yang terlihat tegang, kini sama-sama tertawa kecil mendengar ucapan Bryan. Ketegangan mereka berkurang. Kemudian Keira duduk di sebelah Kelvin, Alma memakaikan tudung berwarna putih pada mereka berdua. Sekarang prosesi ijab kabul akan segera di mulai.
Karena sudah tidak ada nya orang tua atau kerabat terdekat, wali Keira di wakilkan pada seorang wali hakim. Penghulu sudah berdiri bersama wali hakim dan saksi kedua belah pihak, yakni Bryan dan Leon.
Disisi lain ada Naina yang sedang berdiri di dekat Juna. Naina mulai menangis haru melihat kakak nya, sembari menahan sakit di tubuhnya dia mencoba berdiri tegap. Juna dengan setia dan sigap, memegang kedua tangan Naina, menopang dan menjaga agar Naina tidak jatuh.
Kelvin berjabatan tangan dengan seorang wali hakim. Pria itu menarik napas lalu mengeluarkan nya.
"Bismillahirrahmanirrahim..saya nikahkan dan saya kawinkan engkau Ananda Kelvin Aldara Aditama bin Bryan Alvaro Aditama dengan ananda Keira Saraswati binti Pramono Hardiwijaya dengan maskawinnya berupa 500 gram emas dan seperangkat alat shalat, dibayar Tunai!!"
"Saya terima nikahnya dan kawinnya Keira Saraswati Hardiwijaya binti Pramono Hardiwijaya dengan maskawinnya yang tersebut, dibayar tunai!" dalam sekali ucap tanpa gugup, Kelvin berhasil mengucapkan ijab Kabul nya dengan lancar.
"Bagaimana para saksi? sah??!"
"SAHH!!" semua orang tersenyum bahagia setelah menyaksikan prosesi ijab kabul yang berakhir lancar itu. Keluarga, kerabat, sahabat bahkan teman bertepuk tangan sembari mengucapkan lafadz hamdalah.
"Alhamdulillahhirobil alamin..allahumma inni asโaluka min khoirihaa wa khoirimaa jabaltahaa alaih. Wa aโudzubika min syarrihaa wa syarrimaa jabaltaha alaih." penghulu membaca doa setelah selesai akad.
Alma berjalan mendekati Naina dan memeluk anaknya itu, dia membagi kebahagiaan dan harunya dengan Naina karena anak sulungnya sudah menikah. "Alhamdulillah sayang, kakak kamu sudah menikah"
"Alhamdulillah mah.." Naina ikut menangis bahagia memeluk mama nya. Juna tersenyum, berharap kalau suatu saat nanti dia akan berada di posisi
Setelah prosesi ijab kabul selesai, Keira dan Kelvin menandatangani buku nikah mereka yang ada di meja. Dengan perasaan bahagia yang malu-malu kucing mereka saling melirik saat penandatanganan buku nikah tersebut.
Tidak ku sangka, aku sudah menjadi seorang istri. Aku adalah istrimu..Keira mencium punggung tangan Kelvin dengan penuh rasa syukur dan bahagia.
Kini kita sudah menjadi suami istri, Kei kelinci. Mulai hari ini dan seterusnya aku akan membahagiakan mu. Kelvin menatap istrinya dengan penuh cinta. Rasa bahagia tidak luput dari wajahnya.
Kelvin memegang buku nikah berwarna merah, sementara Keira memegang buku berwarna hijau. Mereka berfoto di depan kamera, tak lupa Nisha, Naina, Kayla, Damar dan teman-teman yang lain mengabadikan momen bahagia itu di ponsel mereka.
"Selamat berbahagia ya Keira dan Kelvin" gumam Damar sambil tersenyum pahit melihat ke arah Keira dan Kelvin.
Terakhir, penghulu meminta Kelvin mencium Keira sebagai tanda sah nya mereka sebagai sepasang suami istri. Dengan tidak sabar, Kelvin mencium bibir Keira dan memeluknya di depan umum. Semua orang terkejut melihatnya, dan terpana.
"wow!! amazing!!" seru Kayla sambil bertepuk tangan dan tersenyum lebar melihat pemandangan itu
"Sonya, kamu gak boleh lihat!" Viona menutup mata anaknya yang masih remaja itu.
"Alex, kamu gak boleh lihat!" seru Laura pada anak laki-laki nya yang masih remaja itu ,Laura juga melakukan hal yang sama dengan Viona.
Naina menatap kakaknya dengan bahagia. Kini tinggal prosesi resepsi dan foto-foto. Naina bersyukur karena dia bisa bertahan, tak hentinya di dalam hati dia mengucapkan syukur atas waktu yang diberikan Allah kepada nya.
Namun, tiba-tiba saat semua orang sedang sibuk di pelaminan. Naina memuntahkan darah, tubuhnya roboh tepat di depan Juna.
"Ohok!!"
BRUGH!!
Sontak saja hal itu membuat perhatian semua orang tertuju pada Naina. Alma, Bryan, Kelvin, Keira, menghampiri Naina dengan panik. Juna menangkup tubuh Naina. Di belakang nya ada Kayla, Nisha dan Theo menyusul menghampiri Naina.
Gaun yang dipakai Naina itu berlumuran darah. "Nai!! Nai!!" teriak Juna sambil memegang pipi Naina, gadis itu masih sadar. Namun kesadaran nya mungkin hanya setengah.
"Naina sayang!!" teriak Alma sambil memegang tangan anaknya dengan wajah panik. Hatinya bertanya-tanya apa yang terjadi. Belum apa-apa Alma sudah menangis.
"Nai..." mata Kelvin membulat melihat adiknya terkapar di pangkuan Juna.
"Mama.. maafin aku ma" ucap Naina sebelum dia menutup matanya.
Theo memeriksa kondisi Naina, memeriksa denyut nadinya. Wajah Theo tampak tegang, tanpa banyak bicara dia meminta Juna membawa Naina ke rumah sakit segera.
...---****---...
Mau up lagi? komen dan like nya ya๐๐