
🍀🍀🍀
"Aku akui daya juang kalian cukup tinggi untuk mendapatkan putriku, tapi ini saja tidak cukup. Benar kan, Ken?" tanya Bryan sembari melirik ke arah adiknya dengan senyuman tipisnya
"Tentu saja, tanpa pemenang semua ini tidak akan berakhir" jawab Ken bangkit dari tempat duduknya. "Ayo, bangunlah kalian! ini bahkan belum tengah malam. Masih ada ujian untuk kalian!" ujar Ken pada kedua orang pria yang masih berada di kolam renang itu dengan tubuh yang gemetar menggigil kedinginan.
"Kak Naina, tolong kakak kakak ganteng itu! papa sama om Bryan menyiksa mereka" bisik Sonya pada Naina, meminta kakak sepupunya untuk menolong Theo dan Juna
"Papa sama om ngapain sih? kak Theo.. Juna.. ayo naik" Naina mengulurkan kedua tangannya pada Theo dan Juna yang ada di kolam renang.
"Nai.." panggil Theo dan Juna secara bersamaan. Mereka menatap Naina dengan tatapan berkaca-kaca, berharap untuk di tolong olehnya.
"Baiklah, kami akan melepaskan kalian kali ini..Tapi nanti masih ada ujian berikut nya" ucap Ken mengingatkan.
"Sayang sekali, ckckck.. ingat ya, poin kalian itu masih seri" ucap Bryan seraya bangkit dari tempat duduknya
Mau mendapatkan putriku? Heh! tidak semudah itu. batin Bryan sambil tersenyum menyeringai pada kedua pria yang sedang berada dalam persaingan sengit itu.
"Papa sama om Ken bener bener deh! malam malam begini orang disuruh nyebur!" gerutu Naina pada om dan papa nya, bibirnya mengerucut melihat om dan papa nya itu.
"Maaf Nai, tapi lain kali kamu gak boleh ikut campur. Pemilihan menantu laki-laki di keluarga Aditama harus melalui proses seleksi 3 tahap" jelas Ken dengan senyuman tipis di bibirnya
"Betul, tiga tahap" Bryan menganggukkan kepalanya, setuju dengan ucapan Ken.
"Mereka baru melalui satu tahap, masih ada tahap yang lainnya" Ken menunjukkan satu jari telunjuk nya, sambil menatap tajam pada Theo dan Juna
DEG
Serem juga banget papa sama om nya Naina.
Gak papa.. meski harus mendaki gunung berapi atau mengarungi samudra sekalipun, aku rela demi Naina. Sabar Jun, nanti kamu akan diterima oleh keluarga ini. Aku kan memiliki dukungan dari Naina.
"Hey! kalian mau terus berada disana?! naik sendiri!" teriak Bryan pada kedua pria itu
"Siap om!" jawab Theo dan Juna yang langsung bangkit dari kolam renang itu, lalu naik ke atas.
"Nanti masuk ke dalam, ganti baju dan ikut makan malam!" ujar Bryan tegas
"Siap om!" jawab Theo dan Juna lagi kompak.
Kenapa aku selalu kompak dengannya?!
Sialan kamu Theo!
Bryan, Ken dan Sonya masuk ke dalam rumah lebih dulu. Sementara Naina, Juna dan Theo masih ada di halaman belakang rumahnya dekat kolam renang.
Tubuh Theo dan Juna basah kuyup, kedua pria itu menggigil kedinginan. Naina merasa bersalah karena mereka berdua di kerjai oleh papa dan om nya.
Hal yang pertama ditanyakan keadaan nya oleh Naina, adalah Juna. "Jun, kamu gak papa? aku ambilkan handuk ya?" tanya Naina cemas melihat Juna yang kedinginan.
Maafin aku kak Theo, kalau kamu tidak mengerti dengan kata-kata. Kamu harus melihat kalau Juna adalah pria yang aku cintai.
Theo sakit hati dan cemburu melihat kedekatan Juna dan Naina. Theo menelan saliva nya, mengepal tangannya dengan kesal. Padahal dia juga kedinginan, tapi Juna lah yang lebih dulu diperhatikan oleh Naina.
Kenapa Nai? kenapa kamu dan Juna.. apa kamu sudah memilih nya?
"Tidak usah Nai, melihat tatapan mata kamu yang hangat saja sudah membuat tubuhku hangat" Juna memegang tangan Naina dan meletakkan tangan Naina di pipi nya yang dingin. Mata Juna melirik ke arah Theo seolah menunjukkan bahwa Naina sudah memilihnya.
"Juna.. "
Kamu lihat ini Theo, Naina memilihku. Jadi lebih baik kamu menyingkir dan dari wanita lain saja. batin Juna
Wajah Theo tampak terluka melihat gadis yang ia cintai itu memegang pipi Juna, bermesraan dengan pria lain di depannya. Selama ini siapa dirinya di dalam hidup Naina? Theo yang selalu ada untuk Naina di saat saat tersulit nya, tapi Naina malah memilih Juna, pria yang pernah meninggalkan nya dan belum lama kenal dengannya seperti Theo yang selalu bersama Naina dan mengenalnya dari kecil.
Sakit! itulah yang dirasakan Theo saat ini, arti dirinya dalam hidup Naina seakan tidak pernah ada. Kenangan masa kecil, remaja bahkan sampai sekarang, seperti nya tidak berarti untuk Naina. Begitulah yang Theo lihat dari sikap Naina padanya saat ini.
Merasa tidak nyaman melihat kesedihan di wajah Theo, Naina pun mulai berbicara padanya, "Kak Theo, aku mau bicara sama kak Theo.." pinta Naina
Ini saat nya bicara, aku tidak bisa menundanya lagi. Kalau kak Theo masih berharap padaku, artinya aku tidak tegas pada Juna dan malah menyakiti hati mereka berdua. Tapi, apakah kata-kata ku ini akan menyakiti kak Theo?. Naina masih punya hati pada sahabat kecil nya itu, dia sedih melihat wajah Theo yang muram dengan mata yang sayu itu. Naina bisa melihat sakit hati di wajah Theo.
"Nanti saja bicaranya Nai" jawab Theo yang menolak bicara dengan Naina.
Aku tidak tau apa yang mau dikatakan Naina, tapi aku rasa kalau hal itu bukanlah hal yang baik. Jarang sekali Naina bisa memasang wajah serius dan seperti merasa bersalah begitu. Haah... apa aku akan ditolak? apa aku kalah? aku yang selalu ada untuk Naina, kalau oleh orang baru? pria macam dia?. Tangan Theo terkepal gemas, dia sudah memiliki perasaan bahwa dirinya kan ditolak. Theo melihat wajah Naina yang memiliki rasa bersalah saat menatapnya. Hati Theo menjadi resah, tidak tenang dan mulai berfikir yang tidak-tidak.
"Gak bisa, harus sekarang! Nai, ayo bilang sama dia" seru Juna yang juga ingin mengakhiri persaingan diantara mereka, Juna menatap Naina dengan mengisyaratkan bahwa Naina harus tegas.
Naina menarik napas dalam-dalam, seperti kata mama dan tante nya. Dia harus mengambil tindakan tegas untuk kedua pria yang menyukai nya itu. Namun pastinya salah satu dari mereka harus ada yang terluka karena keputusan Naina. Naina merasa berat mengatakan nya, dia terus menarik napas dan menatap Theo dengan gugup, takut sahabatnya akan sakit hati.
"Kak Theo.. aku.." Naina terlihat ragu, ia memperhatikan raut wajah Theo dengan seksama. Dia sangat takut menyakiti hati Theo.
Tap, tap, tap
Theo melangkah pergi, namun Juna menahan Theo agar pria itu mendengarkan kata-kata Naina sampai akhir. Theo menepis tangan Juna yang memegangnya.
"Jangan sentuh gue!"
"Dengerin dulu apa yang mau diomongin Naina!" seru Juna
"Gak mau!" seru Theo sambil menatap tajam Juna dengan marah
Tubuh mereka sama-sama dingin, tapi hati mereka sama-sama panas. Terutama hati Theo, yang sudah merasa bahwa dirinya akan ditolak dan kalah oleh seorang Juna. Harga diri nya akan sangat terluka. Dia tak mau mendengar kan Naina sampai akhir.
Naina angkat bicara "Kak Theo maafin aku, aku sama Juna sudah menjalin hubungan dan kami akan menikah!!" seru Naina.
DEG!
JLEB!
Hati Theo bagai tersambar petir, apa yang dia takutkan dan apa yang tidak ingin dia dengar, akhirnya dikatakan juga oleh Naina. Sakit hatinya mendengar kata-kata itu dari Naina. Apalagi kata maaf!
Theo membeku di tempatnya, tangannya gemetar menahan marah. Dalam keadaan tubuh yang dingin itu, Theo melayangkan tinjunya ke wajah Juna.
BUK
BRUGH!
"Kyaaa!!!" Naina berteriak terkejut melihat Juna jatuh ke lantai setelah dihajar oleh Theo.
"Oke, Lo boleh lampiaskan kemarahan dan kekecewaan Lo sama gue. Tapi jangan marah sama Naina. Kita saling cinta, dan gak ada yang bisa merubah itu, termasuk Lo. Maafin gue Theo, tapi Naina cinta nya sama gue" Juna sama sekali tidak mengejek Theo karena ditolak oleh Naina, dia justru kasihan pada Theo dan meminta pria itu melampiaskan kemarahan hatinya padanya.
"Lo ngejek gue?!" Theo menarik baju Juna dengan kasar, mereka berdua sama-sama dalam posisi berdiri. Mata Theo berkaca-kaca bercampur marah menatap Juna.
"Maafin gue Theo.."ucap Juna dengan sudut bibirnya yang terluka.
BUK
"Juna, kak Theo! stop! udah! hentikan!!" teriak Naina panik melihat Theo yang emosi pada Juna dan menghajar nya.
"Pria seperti Lo gak pantas mendapatkan Naina! gak pantas!!" teriak Theo penuh emosi pada Juna. Dalam hatinya Theo sudah menangis.
"Jangan salahin Juna kak, aku yang memutuskan semua ini. Aku yang menyakiti hati kakak, jadi seharusnya kakak marah nya sama aku bukan sama Juna" jelas Naina yang sedih melihat Juna saling memukul
🍁🍁🍁
Sementara itu di dalam rumah, Keira terlihat sedang mengobrol bersama Alma dengan akrab. Kelvin senang melihat kedekatan Keira dan mama nya. Belum lagi setelah Kelvin menceritakan pada orang tuanya nya tentang ibu dan adik tiri Keira.
Bryan dan Alma pun menjadi bersimpati pada Keira. Bryan juga tak menyangka bahwa Bu Novi, rekan bisnisnya itu adalah seseorang yang licik dan kejam.
Syukurlah papa dan mama sudah mulai membuka hati pada Keira. Ini adalah awal yang bagus, setelah bertunangan kita akan menikah, lalu berbulan madu di tempat yang kami inginkan, tidak perlu menunda lama untuk punya anak. Kelvin sudah merancang masa depannya bersama Keira.
"Oh ya, keasyikan ngobrol sampai lupa makan malam. Maaf ya Keira, kamu pasti sudah lapar, hehe" Alma tersenyum sambil melihat jam sudah mau menunjukkan pukul 9 malam.
"Gak papa kok Tante, santai aja" jawab Keira sambil tersenyum manis
"Oh ya Vin, panggilkan Naina, Theo dan Juna dong!" titah Alma pada anak sulungnya itu.
"Wah? Theo sama Juna ada disini? mereka berdua?" tanya Kelvin dengan mata membulat kaget, kedua pria yang naksir adiknya berada di tempat yang sama.
"Iya mereka berdua ada disini juga, panggilkan mereka gih!" seru Alma pada Kelvin
"Jangan lupa Vin, suruh mereka ganti baju dulu. Mereka pasti kedinginan" Ken tersenyum menyeringai
"Apa yang om lakukan pada mereka?" tanya Kelvin penasaran
"Om kamu ngasih ujian praktek sama mereka, haha" jawab Bryan sambil tertawa mengingat kelakuan nya dan Ken kepada Theo dan Juna.
"Ah.. dasar om Ken. Tapi, aku dukung deh" Kelvin tersenyum senang karena tau om dan papa nya mengerjai Juna dan Theo.
"Ya sudah cepat kamu panggil mereka, kita makan malam bersama" ucap Alma
"Ok ma!" Kelvin mengacungkan jempolnya
Kelvin melangkah ke arah halaman belakang, matanya terbelalak melihat apa yang terjadi disana. Kelvin segera memisahkan kedua pria yang sedang emosi itu. Tadinya hanya Theo saja yang memukul Juna, tapi kini mereka berdua saling pukul.
Naina takut dan panik melihatnya.
"Brengsek Lo Theo! Lo pikir Lo pantas buat Naina!" mata Juna mengancam tajam pada Theo.
"Lo yang pantas buat Naina!" bentak Theo penuh emosi pada Juna yang berada di bawah tubuhnya.
"Woy! kalian ngapain hah??!!" teriak Kelvin sambil menengahi Juna dan Theo yang sudah sama-sama terluka itu.
"Kakak!! baguslah kakak datang! mereka berkelahi seperti orang gila dan aku tidak bisa menghentikan nya!" ucap Naina merasa lega karena kakak nya datang.
Mendengar perbincangan mereka, mereka pasti berkelahi karena Naina. Apa Naina sudah menentukan pilihan nya? batin Kelvin
"Kalau kalian cuma mau bikin rusuh disini! balik aja kalian! kalau orang tua sampai dengar, habis kalian berdua!" teriak Kelvin marah pada kedua orang pembuat keributan itu.
Juna dan Theo menciut.
Akhirnya suasana tegang dan panas itu berubah menjadi reda, saat Juna dan Theo dengan patuh pergi untuk mengganti pakaian mereka. Dan mengobati luka mereka sendiri. Kelvin yang menyuruhnya.
Semua orang berkumpul untuk makan malam, namun mereka terkejut melihat wajah Juna dan wajah Theo yang terluka.
Mereka kenapa tuh? apa mereka berantem?. Batin Alma dan Viona yang menanyakan hal yang sama.
Selain itu Naina juga terlihat tidak nyaman dengan keadaan disana bersama Juna dan Theo. Lebih tepatnya Naina merasa bersalah karena kedua pria itu bertengkar gara-gara dia.
"Vin, kenapa tuh Juna sama kak Theo?" bisik Keira pada Kelvin.
"Berantem" jawab Kelvin sambil memakan, makan malam nya yang ada di piring dengan santai.
"Berantem? gara-gara?" tanya Keira sambil melihat ke arah Juna dan Theo yang diam saja dan tidak bicara seperti menahan amarah satu sama lain.
"Gara-gara siapa lagi" jawab Kelvin seraya menunjukkan tatapan nya pada saudara kembarnya yang duduk di seberangnya.
"Wah hebat! Naina direbutin kaya gitu" Keira malah tersenyum bahagia dengan masalah Naina
"Kenapa kamu senang?" tanya Kelvin
"Naina seperti tokoh dalam drama-drama yang selalu aku tonton, dia terlibat cinta segitiga yang jadi rebutan cowok tampan dan kaya. Haah.. aku pikir cerita itu cuma ada di dalam drama saja" Keira tersenyum sendiri
"Haah.. mulai lagi deh dengan drama konyol mu" gumam Kelvin yang sebal kalau pacarnya sudah membahas drama.
Makan malam itu berakhir dengan lancar, namun hanya kedua pria itu yang diam saja. Mereka berdua pamit pulang bersamaan, pada keluarga Naina.
"Nai, besok aku jemput ya" ucap Juna
"Iya Jun. Kamu sama kak Theo gak papa?" tanya Naina yang masih mencemaskan keadaan Juna dan Theo.
"Kita gak apa-apa, ya kan Theo?" tanya Juna sambil menepuk tangan Theo dengan keras.
"Ya, kamu tidak usah cemas Nai. Perkelahian antara pria adalah hal yang wajar. Tapi, meski begitu aku gak akan nyerah" Theo berusaha tersenyum meski hatinya sudah terluka dengan penolak Naina. Dia masih memiliki keyakinan di hatinya.
"Kak Theo jangan kaya gini.. aku cuma menganggap kak Theo sama seperti kakak ku sendiri" jawab Naina tegas pada Theo
"Lo gak tau malu banget ya, udah ditolak masih aja mepet" celetuk Juna dengan tatapan dan senyuman sinis nya pada Theo.
"Orang tua Naina juga belum kasih lampu hijau sama Lo, jadi masih ada kesempatan dong buat gue. Kita masih seri, Jun" jelas Theo yang tidak mau kalah dari Juna
"Gue yang menangin hati Naina, jangan lupa itu!"
"Nai, kamu masih bisa berubah pikiran. Pikirkan baik-baik apa kamu mau menikah sama orang yang slengean dan playboy kaya gini?"
"Apa Lo bilang gue playboy?!"
Zzzrrtttttt...
Kedua pria itu kembali memanas, tatapan mereka tajam menusuk. Naina mulai pusing dengan pertengkaran mereka yang tidak berujung, lalu menyuruh kedua pria itu pulang saja dari rumahnya.
Aku sudah memilih Juna, tapi kenapa aku masih saja pusing?!. Naina memegang kepalanya, melihat mobil Juna dan mobil Theo yang sudah pergi dari area rumahnya.
Tanpa Naina sadari Kelvin dan Keira melihatnya dari balkon lantai dua rumah itu.
...----***----...