
Akhirnya semua kesalahpahaman Ken dan keluarga nya berakhir dengan masuknya Wildan ke dalam penjara. Pria tua itu berhak mendapatkan hukuman atas semua perbuatannya di masa lalu dan di masa sekarang. Dan dosanya yang terbesar adalah memisahkan Ken dari keluarga nya.
" Terimakasih kakak, kamu sudah memaafkan ku " ucap Ken sambil tersenyum lembut pada Bryan
" Hem.. kita keluarga Ken, kamu tidak perlu berterimakasih pada keluarga. " Bryan menepuk bahu Ken.
" Kelvin kamu sangat cerdas, berkat kamu kita bisa menemukan tempat ini dengan cepat. " Leon tersenyum dan mengelus kepala Kelvin, dengan senyuman penuh kebanggaan
" Iya om " jawab Kelvin
" Oh ya, Mama sama Albry kecil dimana om?" tanya Naina penasaran soal ibunya yang sedang hamil itu.
" Oh ya, Alma dan Kak Laura ada dimana? aku tak sabar ingin bertemu mereka " ucap Bryan
" Mereka bersama pak Mike dan ada di...
Mike? dia bilang Mike?. batin Bryan kesal mendengar nama Mike
Drett... Drett..
Ponsel Leon bergetar dari saku celananya, ia segera mengambil ponselnya dan melihat siapa yang menelpon nya.
" Pak Mike?" tanya Leon sambil melihat penelpon nya
Tit!
" Halo pak Mike, ada apa?" tanya Leon
" Gawat pak Leon! saya sedang mengantar Alma dan bu Laura ke rumah sakit. "
" Rumah sakit? apa yang terjadi? bukankah kamu bilang mereka baik-baik saja?" tanya Leon panik
" Akan saya jelaskan nanti kalau kita bertemu, beritahu Bryan juga untuk cepat kesini..Rumah sakit kasih ibu !" ujar Mike dengan suara yang cepat
Leon menutup telponnya, wajahnya tampak panik. Hal itu juga membuat Ken, si kembar dan Bryan cemas melihatnya.
" Ada apa Leon?" tanya Bryan
" Alma dan Laura masuk rumah sakit, kita harus cepat kesana. " ucap Leon
" APA?!" Bryan dan si kembar kaget mendengar nya.
" Kak, kamu dan kak Leon pergi lah ke rumah sakit. Aku akan bersama anak-anak " ucap Ken sambil melirik ke arah si kembar.
" Aku sangat berterimakasih Ken, aku titip anak-anak " Bryan tersenyum lembut pada saudaranya itu.
Sebenarnya masih banyak yang ingin mereka bicarakan, tapi Bryan Leon harus pergi ke rumah sakit. Ken juga harus menjaga si kembar dan Kayla.
Ken dan si kembar pergi ke rumah keluarga Aditama. Entah kenapa hati Ken terasa sangat berat menginjakkan kaki nya di rumah itu lagi. Terlintas kenangan masa kecil nya bersama Bryan dan Laura di rumah itu. Bersama Bu Delia dan Pak Fahri, orang tua nya yang sudah tiada.
Mama, Papa. Ken sudah pulang ke rumah ini lagi. Tapi kalian sudah tidak ada. Sudah berapa lama banyak waktu yang Ken lewati, karena kesalahpahaman aku bersembunyi dari kalian semua. Kali ini aku akan bersama dengan kalian.
" Om, ayo masuk " ajak Naina sambil tersenyum ramah pada Ken
" Iya ayo, Naina " Ken tersenyum dan menggandeng tangan Naina.
Ma, pah.. bisakah aku bisa hidup normal seperti kak Bryan dan kak Laura? hidup berkeluarga, merasakan kasih sayang keluarga. Punya anak anak yang lucu. Aku bisa kan? sekarang hatiku sudah bebas dari dendam, aku bukan alat lagi.
Ken melihat si kembar dengan tatapan penuh kasih sayang. Ia merasa kalau si kembar adalah anak anak yang menggemaskan, ia jadi ingin berkeluarga seperti Bryan dan Laura.
Ken menginjakan kakinya di rumah yang penuh kenangan itu dengan penuh rasa haru. Tiba-tiba saja ada yang anak kecil lain yang menyambut nya di rumah itu.
" Eh, ada om Bryan!" sapa Kayla sambil membawa boneka kesayangan nya
" Haha, bahkan Kayla saja mengira kalau om Ken adalah Papa " Naina tertawa kecil
" Om Bryan kok bajunya aneh gitu kaya anak geng motor yang ada di drama-drama " Kayla termangu melihat penampakan Ken yang memakai setelan jaket kulit, berbaju hitam hitam dan di bagian kanan jaketnya ada gambar naga berwarna hitam.
" Wah, kamu mirip sekali dengan kak Laura. Hai, perkenalan nama ku Ken. Aku juga om kamu " Ken berjongkok dan memegang pipi chubby Kayla.
Semua keponakan ku sangat lah imut, belum lagi yang akan segera lahir. Mereka pasti sama imut dan lucunya seperti kedua kakak-kakak nya.
" Ah? " Kayla tertegun, ia tampak bingung dengan kata-kata Ken padanya yang mengajaknya berkenalan.
Kelvin dan Naina pun berinsiatif untuk memperkenalkan Ken sebagai om mereka, saudara kembar dari Papa mereka pada Kayla. Kayla tampak terkejut, namun ia juga merasa senang karena ternyata ia punya om lain selain Bryan.
...****...
...🍂🍂🍂...
.
.
DRAP
DRAP
Sesampainya di rumah sakit, Bryan dan Leon langsung berlari menuju ke tempat istri mereka di rawat. Di salah satu ruang rawat, mereka melihat Mike, Laura dan Andre yang sedang duduk dengan keadaan cemas.
" Laura, sayang.. kamu gak apa-apa? apa kamu ada luka?" Leon memegang tangan istrinya dan memburunya dengan pertanyaan yang mengatakan bahwa ia khawatir. Tatapan nya melihat pada tubuh istrinya, takut kalau ada luka di tubuh istrinya.
" Aku gak papa sayang, tapi Alma...dia demi aku.. dia.. hiks " Laura tidak tahan lagi dan menangis di bahu suaminya, tubuhnya gemetaran. Ia sangat ketakutan
" Ada apa ini? hey Mike, dimana istriku?" tanya Bryan pada Mike
" Dia ada di ruangan UGD, tadi dia jatuh dari tangga.." jawab Mike menjelaskan secara singkat
" Alma demi menyelamatkan aku.. dia jatuh di dorong orang itu.. hiks " ucap Laura diiringi tangisan, tangannya menutup wajah nya yang menangis.
Bryan yang panik setelah mendengar nya, segera masuk ke dalam ruang UGD itu. Beberapa suster mengehentikan langkahnya.
" Maaf pak, bapak tidak boleh masuk! pasien sedang dalam kondisi kurang baik " ucap seorang suster sambil menahan Bryan masuk ke dalam ruangan itu
" Tapi istri ku di dalam sana ! minggir !" teriak Bryan sambil menerobos masuk ke dalam ruangan itu. Ada 3 orang suster, dan dua orang dokter di dalam sana yang menangani Alma. Salah satu dokter itu adalah Ian.
Terlihat banyak darah di ranjang tempatnya terbaring. Bryan memegang tangan Alma, air mata jatuh dan mengalir. Ia bahagia melihat lagi istrinya setelah 5 hari dalam penyekapan. Namun kenapa harus dalam kondisi seperti ini?
Bryan tidak mengindahkan para suster yang mengusirnya keluar, yang ia inginkan adalah menggenggam tangan istrinya dan berada disampingnya.
Alma masih tersadar, ia merasakan tangan hangat yang menggenggam nya. Melihat sosok pria yang sudah ia rindukan sudah ada di sampingnya.
" Aku..aku tidak bermimpi kan? kamu.. ini benar-benar kamu Bry? " tanya Alma sambil melihat ke arah Bryan, menatap suaminya baik-baik memastikan bahwa ia tidak bermimpi.
" Syukurlah kamu baik-baik saja, aku pikir aku tidak akan bertemu denganmu lagi.. " ucap Alma sambil tersenyum di wajahnya yang pucat.
" Bryan, seperti nya istrimu harus melahirkan sekarang. " kata Ian dengan wajah serius
" Kandungan nya baru 7 bulan! bagaimana bisa istriku melahirkan sekarang?" tanya Bryan tak percaya dengan apa yang didengarnya, kelahiran prematur?
Ian menjelaskan kalau air ketuban dan terjadinya pendarahan di awal membuat Alma harus segera melahirkan bayinya secara prematur. Bryan tau resiko melahirkan prematur untuk Alma dan bayinya, tapi mau tidak mau Alma akan melahirkan lebih awal karena hal itu tidak bis dicegah.
Ditemani beberapa suster, dua dokter dan suaminya disampingnya, Alma mulai persiapan melahirkan Albry kecil yang baru menginjak usia 7 bulan itu.
Ditengah suasana yang menegangkan itu, Bryan memegang tangan istrinya. Memberikan kekuatan untuk nya, dengan kata-kata dan sentuhan agar istrinya bersemangat dalam prosesi kelahiran nya.
" Tarik napas.. hembuskan.. tarik napas hembuskan.." ucap seorang dokter wanita memberi aba-aba dan memandu Alma yang akan melakukan proses lahiran.
" Huuuu.... Haaaahhhh..... Huuuh.. Haaah... " dengan patuh, Alma mengikuti aba-aba dari dokter itu. Wajahnya sudah mulai berkeringat, ditambah perutnya yang terus menendang nendang, merasakan sakit seperti di remas-remas.
" Sayang.. aku disini sayang, aku menemani kamu.. aku menepati janjiku. Aku ingin menemani kamu saat kamu melahirkan anak kita. Sekarang aku disini, kamu dan Albry kecil pasti baik-baik saja "
Bryan tersenyum, senyuman yang memberikan kekuatan untuk istrinya. Hari itu ia akan menyaksikan peristiwa yang tidak pernah ia saksikan selama hidupnya, hati Bryan berdebar debar tidak karuan.
Doa selalu terucap di dalam hatinya untuk keselamatan Alma dan bayi mereka.
Benar. Bryan ada disini, aku pasti bisa. Ya Allah, beri aku kekuatan.
" AKHH....." terdengar erangan panjang meluncur dari mulut Alma, seperti nya Alma merasakan sakit yang nikmatnya luar biasa pada bagian bawah perutnya yang mengencang. Sesekali dari dalam perutnya menendang nendang seperti tak sabar mau keluar.
Tak tega melihat dan mendengar istrinya kesakitan, Bryan semakin menggenggam Alma dengan erat pria itu menangis. Ini pertama kalinya ia menyaksikan wanita yang akan melahirkan, ia merasa ngeri seperti merasakan rasa sakit nya.
" Ayo Bu, terus.. ibu pasti bisa.. mengejan yang kuat Bu...Kepalanya sudah mulai terlihat.. " ucap seorang Dokter memandu, sambil melihat bagian bawah Alma. Dokter itu tersenyum melihat kepala sang bayi mulai terlihat.
" Sayang, kamu pasti bisa. Sayang, aku disini. " Bryan tersenyum, tangannya yang lain sibuk menyeka keringat yang bercucuran di wajah istrinya. Alma sempat tersenyum, lalu ia kembali fokus pada persalinan nya.
Sakit di perutnya sudah tak bisa dibendung lagi, dan harus segera di keluarkan. Para suster dan dokter senantiasa memandu, mengawasi perkembangan kondisi Alma yang akan melahirkan prematur itu.
1 menit, 2 menit, 5 menit berlalu. Teriakan Alma terdengar sampai ke luar ruangan itu. Bryan dengan setia menemani nya. Pandangan Alma mulai kabur, dan setengah sadar. Tangan Alma memegang erat tangan Bryan, sakit yang sungguh luar biasa untuknya.
" Huuh...Haaahhh.. Huuuhh... Haaa.a... AHHHHHH!!!!"
Beberapa saat kemudian, sampailah Alma pada saat terakhir dari prosesi lahirannya. Sang bayi telah keluar dengan selamat, diiringi tangisan keras yang menyenangkan telinga orang yang mendengar nya. Tangisan seorang bayi, bisa membuat bahagia para orang tua yang sudah menantikan kelahiran nya.
" OWAaaaa... OWAAA OWAA .. "
" Alhamdulillah, bayinya sudah keluar dengan selamat. Bryan, Bu Alma selamat bayinya laki-laki, sehat dan selamat " ucap Ian memberi selamat pada bayi yang ukuran nya mungkin lebih kecil dari bayi-bayi lainnya, kulitnya putih bersih, tanpa cacat, hidungnya mancung, dia tampak terlihat seperti Bryan dan Kelvin kakaknya.
Setelah mandikan oleh salah satu suster dan di bedong oleh kain batik, Bryan tak sabar untuk menggendong bayi mungilnya itu dengan senyuman bahagia.
" Sayang, terimakasih. Lihatlah anak kita sangat tampan, dia mirip seperti ku. Albry kecil kita telah lahir, sayang.. dia selamat dan sehat" ucap Bryan dengan senyuman cerah di wajahnya, seakan lelah dan sakit nya hilang seketika melihat bayi yang ada di dalam gendongan itu. Walaupun caranya menggendong bayi masih terasa kaku.
Alhamdulillah, terimakasih ya Allah. batin Bryan senang
Bryan memberikan kecupan lembut di kening istrinya, merasa sangat bersyukur bahwa istri dan anak nya baik-baik saja meski bayinya lahir prematur.
" Syukurlah, Albry kecil baik-baik saja. Dia sangat tampan seperti kamu Bry. " Alma tersenyum bahagia, tangannya menyentuh pipi bayi yang baru saja ia lahir kan. Jari-jari mungil sang bayi memegang jari Alma.
Kenapa ini? aku sangat ingin menutup mata.
Tangan Alma terkulai lemas, matanya menutup secara tiba-tiba. " sa-sayang? kamu kenapa?'
Bryan melihat istrinya tidak sadarkan diri dan tidak bergeming saat ia memanggil namanya ia pun berteriak memanggil dokter, suster yang masih ada disana.
" Ian! dokter! suster! apa yang terjadi?!" ucap Bryan panik
" Bryan, kamu minggir dulu sebentar. Kami akan memeriksa nya " ucap Ian dengan wajahnya yang serius. Seorang suster lainnya mengecek denyut nadi Alma.
" Dokter Ian, dokter Sarah! denyut nadinya sangat lemah " ucap seorang suster cemas
" Apa maksudnya? denyut nadinya lemah? Alma baik-baik saja kan??!" tanya Bryan dengan suara nya yang meninggi.
" Bryan! kamu tenang dulu, pergilah keluar! kami akan memeriksa istrimu!" teriak Ian marah karena Bryan terus menganggu nya. Akhirnya Ian menyeret Bryan yang sedang menggendong bayinya keluar dari ruangan itu.
Leon, Mike, Laura masih berada di ruang tunggu. Mereka senang melihat Bryan keluar dengan membawa bayi di dalam gendongan nya. Berfikir bahwa Alma baik-baik saja karena sudah melahirkan bayinya dengan selamat. Namun wajah Bryan yang khawatir meruntuhkan kelegaan di hati mereka, membuat mereka bertanya-tanya.
" Leon aku titip dulu bayiku, aku harus menemani Alma di dalam " ucap Bryan sambil menyerahkan bayi nya pada Leon.
" Ada apa? Alma baik-baik saja kan?" tanya Leon sambil menggendong bayi yang mungil itu.
Bryan langsung berlari masuk ke dalam ruangan itu dan tidak menjawab pertanyaan Leon.
Dengan tubuh gemetaran karena takut dan panik, Bryan melihat kedua dokter dan dua suster itu sedang berusaha menyelamatkan istrinya.
" Siapkan alat denyut jantung!" ujar Ian pada salah satu susternya
Mendengar itu, Bryan semakin panik dan takut terjadi sesuatu pada istrinya yang terbaring tidak berdaya di ranjangnya.
Ian meletakkan alat pacu jantung itu tepat di dada Alma, beberapa kali tubuh Alma kejang-kejang karenanya. Namun belum ada reaksi tanda-tanda Alma akan sadar.
Ian mencoba ke dua kalinya, menggunakan alat pacu jantung itu, tidak ada reaksi. Namun hanya suara mesin medis berbunyi panjang Tit......menggema di ruangan yang penuh ketegangan itu. Kedua suster dan kedua dokter itu berdiri mematung dengan wajah yang tegang bercampur sedih.
" Bryan, maafkan aku. Pendarahan nya terlalu banyak, istrimu dia.. " ucap Ian pada Bryan, dengan penuh penyesalan dalam kata-kata nya. Ian tak melanjutkan kata-kata nya, ia tak sanggup untuk mengatakan nya pada Bryan.
Air mata mengalir deras dari mata Bryan, ia berlari menghampiri Alma yang terbaring tak sadarkan diri. Bryan merasakan tubuh istrinya yang dingin, dan memeluknya semakin erat.
" waktu kematian pasien, pukul 15.32 lebih 45... " ucap seorang dokter sambil melihat jam tangan nya dengan wajah yang sedih dan berduka.
" TIDAKK!! Istriku tidak mati! Hentikan! jangan bicara lagi kalian orang-orang bodoh !" Teriak Bryan sambil menangis histeris, memeluk tubuh Alma yang terbaring di ranjang.
" Sayang, bangun sayang.. sayang... kamu baik-baik saja! aku sudah pulang sayang.. aku sudah pulang.. ARGHHHH !!! "
Ya Allah aku mohon, aku mohon jangan ambil dia. Aku belum sempat membahagiakan nya, aku belum menjadi suami yang baik untuk nya. Ya Allah, kumohon.. jangan.. ambil istriku. ucap Bryan di dalam hatinya, penuh duka dan kesedihan.
Melihat pemandangan itu, Ian juga ikut menangis. Ia menepuk pundak Bryan untuk menenangkan nya.
Teriakan Bryan sampai terdengar keluar ruangan, hingga membuat Leon, Laura dan Mike yang penasaran, ikut masuk ke dalam ruangan untuk melihat apa yang terjadi di dalam ruangan bersalin itu.
Bayi yang baru lahir yang tadinya tertidur pulas, tiba-tiba menangis kencang saat memasuki ruang bersalin nya.
Mereka bertiga bagai tersambar petir saat melihat pemandangan Bryan yang menangis histeris sambil memeluk erat istrinya yang tidak sadarkan diri. Apa maksudnya semua ini?
...---***---...