
Hai Readers! jangan lupa atuh kalau udah baca, like dan komen nya ya πππ
...ππππ...
.
.
.
Wajah Alma memerah dan segera mendorong Bryan dengan pelan. Menjauhkan dirinya dari pelukan Bryan.
" Bulan madu apa? tidak, kita belum bisa pergi sekarang !"
" Kenapa sayang?" tanya Bryan
" Bukankah kamu banyak pekerjaan, dan aku juga ingin menghabiskan waktu lebih banyak dengan Kelvin dan Naina. "
" Aku juga mau berduaan denganmu"
" Dasar genit! simpan dulu rencana bulan madu kita. Aku punya sesuatu yang penting untuk dibicarakan denganmu. "
" Apa? bicara sekarang saja!"
" Nanti saja saat kita berdua, aku akan bicara " Alma tersenyum
" Maksudmu bicara di ranjang, sayang ?" goda Bryan
PUK
PUK
Tangan Alma gatal sekali dari tadi ingin memukul Bryan, dan akhirnya ia memukulnya juga.
" Sakit Al!" Bryan merintih kesakitan tangannya di pukul oleh Alma
" Rasakan, siapa suruh kamu memikirkan itu terus hah? cepatlah masuk, anak-anak sudah menunggu. " Alma tersenyum manis
" Woah.. kamu curang sekali, setelah memukulku barusan lalu kamu tersenyum manis menggodaku " Bryan tersenyum
" Bryan, kamu tuh ya "
CUP
Bryan mencium kening istrinya " ini kompensasi " Lalu berlari ke dalam rumah, ia takut terkena kemarahan dan pukulan istrinya lagi.
***
Tidak peduli ada orang di rumah atau tidak, Bryan tidak ragu menunjukkan kemesraan dan perhatian nya pada Alma. Bahkan di depan anak-anak mereka, hingga hal itu membuat Kelvin kesal.
" Mama sama Papa stop dulu deh adegan 18 ke atas nya ! kita kan masih kecil " gerutu Kelvin pada kedua orang tua nya
" Kamu ini ya berani sekali melarang papa menyentuh istri papa sendiri. Dasar anak nakal " kata Bryan sambil memonyongkan bibirnya
Bagaimana bisa anak yang berusia 6 setengah tahun berbicara seperti orang dewasa? Bryan sedikit heran dengan kecerdasan anaknya ini. Kelvin tidak hanya cerdas segera pedagogik saja, tapi ia juga cerdas secara emosional.
" Biarin " kata Kelvin cuek
" Ya ampun, kalian ini bertengkar terus. Like father like son " ucap Alma sambil menyiapkan makan malam di meja. Ia menggelengkan kepalanya sambil tersenyum kepada ayah dan anak itu.
" Woah, masakan Mama memang yang terbaik. Sudah lama tidak merasakan masakan Mama " Naina semangat melihat sepiring nasi goreng spesial telur dan sosis ada di depannya
" Mencium wanginya saja sudah membuat ku ngiler, apalagi istriku yang cantik ini lah yang membuatnya " goda Bryan pada istrinya
" Cuihhh.. uwekk " Kelvin merasa geli mendengar Bryan menggoda Alma
" Kelvin dasar kamu tuh ya !" Bryan gemas pada Kelvin yang terus mengejeknya.
" Haha " Naina tertawa melihat keributan Papa dan kakak nya itu.
" Sudah sudah, ayo makan. Kalau dingin nanti ga enak nasi goreng nya " Alma tersenyum melihat ketiga orang yang akan menyantap makanan nya itu. Termasuk dirinya.
Saat Naina dan Bryan akan mengambil suapan pertama ke dalam mulutnya, Alma menghentikan nya. " Ets, baca doa sebelum makan dulu " Alma mengingatkan
" Eh iya, lupa hehe " Naina nyengir
Lalu mereka sekeluarga dengan di pimpin oleh Bryan. Membaca doa sebelum makan. Sudah lama mereka berempat tidak merasakan momen kebersamaan keluarga. Bahkan setelah makan malam pun, Bryan dan kedua anaknya itu masih bercanda ria. Sementara Alma melihatnya dengan bahagia, rasanya kebahagiaan sudah lengkap sekarang.
" Ayo ayo cepat tidur, ini sudah malam " kata Bryan kepada kedua anaknya yang masih dengan aktivitas mereka masing-masing. Anak sulungnya bermain game, anak bungsunya menonton drama di tv.
" Iya, besok kan hari kelulusan kalian dari TK. Kalian harus bangun pagi " Alma menghampiri kedua anaknya itu.
" Iya ma " Kelvin dengan patuh langsung menyimpan video game nya, dan mencharge nya. Sementara Naina masih terbawa suasana drama yang ia tonton, sampai tak mendengarkan kedua orang tuanya bicara.
" Naina, sayang. " Bryan tersenyum melihat anak perempuan nya yang masih duduk di sofa dan asyik menonton drama Korea kesayangan nya itu.
Kelvin mengambil remot dan langsung mematikan televisi nya. Hingga membuat Naina marah pada kakak nya.
TAK
" Hey! siapa yang mematikan TV nya? Ji Hyun akan mengetahui siapa ibu kandungnya?!!" Naina heboh dengan drama yang ia tonton barusan dan sekarang TV nya sudah mati
" Hentikan semua drama mu, ayo pergi tidur! dasar tukang drama " ucap Kelvin kesal
" Kak Kelvin benar-benar menyebalkan, aku saja tidak pernah menganggu kakak main game. Tapi kakak terus saja menganggu ku menonton drama kesukaan ku! "
gerutu Naina kepada kakak nya itu. Dimarahi seperti itu oleh adiknya, Kelvin tak bergeming ia masih dengan wajah nya yang stay cool, calm.
" Aku hanya tidak mau otakmu penuh dengan drama percintaan yang tidak sesuai untuk usia mu " Kelvin tersenyum tipis, mencoba menasehati adiknya
" Kakak tidak tau saja serunya nonton drama! awas saja kalau kakak nanti punya pacar dan kakak minta saran tentang perempuan padaku. Aku tidak akan memberitahu mu" Ancam Naina sambil mendengus kesal
" Aku juga tidak akan meminta saran darimu, aku tidak akan pacaran! aku mau belajar saja " seru Kelvin tegas
" Hei hei, kenapa kalian malah berantem? ya ampun " Bryan gusar melihat kedua anaknya bertengkar
Apa mereka memang selalu bertengkar seperti ini? kenapa aku baru tau?
Kelvin, Naina masih terus berdebat beradu mulut. Padahal hari itu sudah malam, bahkan Bryan saja tidak bisa menghentikan mereka. Lalu semuanya hening saat Alma mengeluarkan amarahnya yang meledak.
" DIAM !!"
Mama ngamuk? gawat!. Batin Kelvin dan Naina panik
Kelvin, Bryan dan Naina langsung tutup mulut dan terdiam di tempat mereka masing-masing.
" kalian membuatku pusing, pergi ke kamar kalian dan cepat tidur !" Alma mendengus kesal
Jarang sekali Kelvin dan Naina seperti kucing dan tikus. Dasar ckckck. Alma mendecak keheranan melihat kedua anaknya itu
Bryan kagum pada Alma karena istrinya itu bisa membuat anak-anak nya berhenti bertengkar.
Istriku keren sekali.
" Maaf ma.." ucap Kelvin dan Naina
" sebelum pergi ke kamar, ayo kalian maafan dulu. Cepat!" ujar Alma tegas
" Iya Ma, kak aku minta maaf ya "
" Ya aku juga minta maaf Nai " kata Kelvin sambil berjabatan tangan dengan adiknya.
Si kembar pun kembali ke kamar mereka masing-masing. Begitu pula dengan Alma dah Bryan yang juga sudah bersiap untuk tidur. Bryan sudah rebahan santai di ranjang nya, sementara Alma sedang mengganti bajunya dengan piyama tidur. Celana panjang, dan baju atasan seperti kemeja.
" Kenapa pakai baju yang itu? pakai baju yang sebelumnya saja " ucap Bryan
" Cuaca dingin gini, pakai baju tipis? aku tidak mau kedinginan " Alma naik ke ranjangnya, ia berada tepat di sebelah Bryan
" Kan ada aku yang akan menghangatkan mu " Bryan memeluk Alma yang berbaring di sebelahnya.
" Bryan, tidak sekarang " Alma tersenyum lembut, menolak kode dari suaminya itu
" Baiklah aku tau, besok kamu harus bekerja dan pergi ke acar wisuda anak-anak. Kamu pasti lelah "
" Bryan aku akan berhenti bekerja " jawab Alma
" Apa?" Bryan terkejut dan langsung duduk di atas ranjangnya
" Ini lah yang ingin ku bicarakan denganmu, aku akan berhenti bekerja dan tidak akan pergi ke kantor "
" Kenapa kamu tiba-tiba memutuskan semua ini? bukankah pekerjaan itu adalah mimpimu?" tanya Bryan heran
" Alma, aku tidak akan melarang mu atau memaksamu melakukan semua ini. Aku tidak masalah kamu pergi bekerja, aku sungguh tidak keberatan " Bryan memegang tangan istrinya dengan lembut
" Suamiku, aku juga tidak keberatan. Aku sudah memikirkan nya matang-matang, buat apa aku bekerja keras lalu waktu ku tersita karena pekerjaan itu. Bukankah ada suami yang menafkahi ku dan anak-anak ku?" tanya Alma sambil tersenyum manis
Bryan tersenyum dan menghargai keputusan istrinya itu. Bryan jadi teringat pesan mendiang sang kakek padanya saat ia masih kecil. Pak Hardi, pernah menyatakan pada Bryan jika Bryan dewasa dan mempunyai istri nanti jangan biarkan istrinya bekerja terlalu keras. Sebisa mungkin Bryan harus membuat istri dan anak nya bahagia, membantu istrinya mengerjakan pekerjaan rumah juga adalah kewajiban seorang suami selain memberi nafkah.
" Benarkah Alm kakek Hardi pernah berkata seperti itu? " tanya Alma
" Iya, sekarang aku tau apa maksud nya. Bahwa aku harus mencintai mu, menjaga mu dan anak-anak. Sebagai kepala keluarga, aku bertanggungjawab besar untuk kebahagiaan keluarga ku. "
Rasa sesal ada di hati Bryan saat mengetahui makna dari perkataan sang kakek yang dulu masih hidup, selalu ia abaikan. Padahal kata-kata pak Hardi mengandung makna yang mendalam. Bryan dan Alma sama-sama sedih jika teringat kembali dengan sosok pak Hardi yang menjadi perantara antara hubungan mereka.
" Bryan, dulu sebelum kakek meninggal. Kakek pernah mengatakan sesuatu padaku dan aku mengabaikan nya. " ucap Alma dengan mata berkaca-kaca
" Apa itu?" tanya Bryan
" Kakek bilang kalau aku dan kamu harus bersama, dan aku harus menjaga kamu. Tapi, aku malah pergi meninggalkan kamu " Alma menahan kesedihan dan air matanya
Tangan Bryan menyentuh kepala Alma dan membuat nya bersandar di dekapan nya.
" Sudah, itu sudah berlalu. Jangan diingat ingat lagi, kakek juga pasti akan senang melihat kita sudah bersama sekarang. Dan seterusnya kita akan tetap bersama " Bryan memeluk istrinya itu
" Iya kamu benar " Alma beranjak dari dekapan suaminya lalu tersenyum.
" Sudah ya, jangan menangis lagi. Kita harus segera tidur " Bryan mengajak istrinya tidur karena harus sudah semakin malam.
Alma dan Bryan sama-sama berbaring dan saling berhadapan. Tak lupa Bryan memberikan kecupan kening selamat malam pada istrinya, dan memeluk istrinya sambil tidur.
πππ
Sinar mentari menerobos masuk melalui celah jendela kamar, dan cahaya nya semakin terang ketika Alma membuka tirai kamarnya. Sementara sang suami masih terbaring di ranjangnya, dengan tidak memakai baju atasan.
" Bryan, bangunlah. Hari ini adalah hari yang sibuk " Alma tersenyum menyambut pagi suaminya, ia duduk di samping suaminya yang baru saja membuka mata.
" Apakah ini surga? aku melihat bidadari tersenyum menyambut pagi ku " goda Bryan sambil tersenyum pada Alma.
" Bryan, kamu jangan gombal lagi deh. Cepat pergi mandi, aku sudah menyiapkan air panas di kamar mandi untukmu. Jangan lupa hari ini adalah hari kelulusan anak-anak, kamu harus...
MUACH
Bibir Bryan mengecup bibir ranum istrinya itu. Alma masih saja malu-malu, saat Bryan menciumnya atau mengatakan hal-hal romantis padanya. Padahal mereka sudah menikah. Tetap saja Alma tidak terbiasa dengan sikap Bryan.
Kenapa aku masih saja merasa berdebar seperti ini? padahal aku dan Bryan sudah menjadi suami istri.
" Iya iya aku pasti datang, aku sudah mengatakan pada Andre untuk memindahkan jadwal rapat ku ke jam lain "
GLEK
Alma menelan ludah, mata nya fokus melirik pada tubuh Bryan. Lagi-lagi Bryan menggodanya, dengan mengatakan sesuatu yang terdengar seperti gombalan.
" Kenapa sayang? apa kamu mau lagi yang semalam? atau kamu mau menyentuh otot otot dada ku ini?" Bryan memegang tangan Alma dan meletakkan tangan Alma pada otot dadanya
" Ka-kamu..tidak tahu malu ya, cepat pergi mandi !" Alma menghindar, lalu melempar handuk pada wajah Bryan.
Aku tidak percaya, kalau aku tidur dengan pria yang bertubuh atletis seperti ini. Ah, Almahyra apa yang kamu pikirkan.
" Ternyata istriku mesum juga ya, apa mau mengulang lagi yang semalam? " goda Bryan dengan senyuman mautnya.
Alma mendorong tubuh suaminya itu menuju ke kamar mandi.
Semalam yang tadinya akan tidur saja, mereka malah melakukan hubungan. Bryan terus saja menggoda Alma dengan segala cara, seperti musim kawin yang sedang gencar-gencarnya nya pacaran. Mereka melakukan itu hampir setiap hari. Beruntung nya sekarang Bryan bergerak lebih lembut tidak seperti saat malam pertama mereka.
πππ
Naina, Kelvin, Bryan dan Alma sudah bersiap-siap untuk melakukan aktivitas mereka masing-masing setelah sarapan pagi bersama. Sebelum suaminya berangkat bekerja, Alma membantu Bryan merapikan baju nya. Sama hal nya seperti yang ia lakukan pada kedua anaknya.
" Aku sudah bilang padamu untuk mengikat rambut mu " gerutu Bryan sebal melihat Alma menggerai rambutnya
" Maaf suamiku, ini permintaan dari princess kita. Dia ingin hari ini Mama nya menggeraikan rambutnya " Alma tersenyum
" Kalau itu permintaan putri kita, aku tidak bisa melawan " Bryan tersenyum lalu mencium leher Alma. Alma kaget dengan tindakan Bryan.
CUP
" Bry! Bryan apa yang kamu lakukan?" tanya nya sambil memegang lehernya
" Aku meninggalkan tanda, agar tidak ada pria yang melirik mu disana " Bryan tersenyum puas melihat tanda merah yang ada di leher istrinya itu.
Alma pun bercermin dan melihat tanda merah itu. Ia tampak kesal dengan suaminya.
" Siapa juga yang akan melirik ibu dengan dua anak?" tanya Alma
" Ada, aku nih. Sayang, aku perlu isi daya " Bryan dengan wajah genitnya, menyodorkan pipi nya ke arah Alma.
Alma tersenyum lalu mencium pipi suaminya dengan lembut. Lalu berkata " Semoga semuanya berjalan hari ini suamiku "
" Iya. Isi daya selesai !" Bryan tersenyum senang.
****
Alma dan Bryan keluar dari kamar mereka dan akan segera berangkat.
" Papa, papa nanti dateng kan ke acara kelulusan kami?" tanya Naina pada Bryan
" Iya tentu saja, nanti Papa menyusul. Kalian sama Mama kalian dulu ya "
" Iya pa "
" Oh ya, Mama kenapa pakai syal? ini kan bukan musim dingin?" tanya Kelvin melihat ibunya yang memakai syal di lehernya.
" Eh ini, Mama tadi digigit serangga " Jawab Alma sambil tersenyum sinis pada Bryan mengalihkan pandangannya ke arah yang lain seolah tak mau disalahkan.
" Oh gitu ya " jawab Kelvin dingin seperti biasanya.
Setelah selesai bersalaman dan saling berpamitan, Alma dan si kembar pergi bersama pak Jeffry menuju ke sekolah TK. Sementara Bryan, pergi ke kantornya dengan menyetir sendiri.
πΆπΆ
Ponsel Alma berbunyi dan ia mendapat telpon dari Bu Delia. Alma langsung mengangkat nya dalam sekali dering.
" Halo Al "
" Iya Ma, ini Alma " jawab Alma ramah
" Al, acara wisuda anak-anak jam berapa?" tanya Bu Delia
" Mulainya jam 10 Ma, ada apa ma?" Alma menyalakan loud speaker agar si kembar bisa mendengarkannya juga
" Tidak apa, nanti Mama akan datang sedikit terlambat. Mama harap Kelvin dan Naina tidak marah ya " Bu Delia tersenyum senang
Aku mau siapkan kejutan untuk cucu cucuku.
" Mereka tidak akan marah kok ma " jawab Alma
" Iya nenek, nenek tenang aja. Kami akan tunggu nenek ya " kata Naina senang
" Iya sayang, nanti nenek datang ya. " Bu Delia terlihat hangat dan ramah setelah mendengar suara cucu nya
" Kelvin juga tunggu nenek " ucap Kelvin
" Kakak gak usah tunggu nenek, aku aja yang tunggu nenek. Kaka main games aja sana !" ujar Naina yang masih sebal sama kakak nya
" Apaan sih kamu GJ banget?" Kelvin tak mau kalah dari adiknya
" Huu.. gara-gara kakak aku jadi tidak tau siapa ibu kandung Ji Hyun! " gerutu Naina kesal
" Bodo amat " kata Kelvin cuek
" Ya ampun kenapa kalian berantem lagi kaya kucing sama tikus aja? Astagfirullah.." Alma pusing dengan kedua anaknya itu.
" Haha ternyata mereka bisa berantem juga, jangan lama-lama ya berantemnya cucu cucu nenek " Bu Delia tertawa mendengar dari telpon bahwa kedua cucu nya berdebat
" Aduh, maaf ya Ma. Jarang-jarang kok mereka seperti ini " Alma mengawasi dengan tajam kedua anaknya itu.
Bu Delia hanya tersenyum mendengar nya, ia teringat pada Laura dan Bryan sewaktu kecil dan mereka juga berantem.
...---***---...