Stuck In Love CEO

Stuck In Love CEO
Bulan madu (1)



Setelah menempuh berjam-jam perjalanan, akhirnya Alma dan Bryan tiba di Hawai. Tempat dimana mereka akan berbulan madu, bulan madu yang tertunda satu bulan karena banyak alasan.


Di malam yang sudah larut itu, Alma dan Bryan memasuki sebuah hotel mewah yang sudah di reservasi oleh Bu Delia untuk mereka berdua.


" Sayang, apa kamu mau langsung ke kamar? atau kamu mau makan dulu? " tanya Bryan


" Kita langsung ke kamar saja, mataku sudah tidak kuat. Makan nya di bawa ke kamar saja " Alma terlihat lelah, matanya sudah seperti mata panda.


" Baiklah, kamu tunggu disini biar aku ambil dulu kunci kamarnya di resepsionis " Bryan menyuruh istrinya menunggu di lobi dan menjaga koper bawaan mereka.


Bryan melangkah pergi untuk mengambil kunci kamar dari resepsionis. Alma duduk di kursi, ia jadi kepikiran dengan Bu Delia. Alma merasa ada yang aneh dengan ibu mertuanya itu, yang melakukan semuanya secara mendadak. Dari mulai acara bulan madu mereka, lalu pernikahan Leon dan Laura yang dipercepat. Hal itu seperti, Bu Delia takut akan sesuatu.


" Alma apa yang kamu pikirkan, Mama pasti baik-baik saja. Mari berfikir positif, mungkin saja Mama memang ingin merencanakan semua ini untuk membuat kami bahagia. " jelas Alma pada dirinya sendiri, hatinya masih cemas dengan sikap Bu Delia yang berubah secara tiba-tiba. Hatinya merasa ada sesuatu yang mengganjal.


" Apa yang kamu gumam kan?" tanya Bryan yang sudah berdiri di belakang nya, tangannya mengambil koper.


" Tidak ada, ayo kita pergi ke kamar. " Alma langsung berdiri dan memasang senyum di bibirnya


Aku harus bicara semua yang mengganjal di hatiku ini pada Bryan.


Pasangan suami-istri itu berjalan menaiki lift menuju ke kamar mereka yang ada di lantai 10.


3 menit berlalu.


Ting!


Pintu lift terbuka lebar, Alma dan Bryan keluar dari lift itu mereka sama-sama berjalan di lorong yang akan menuju ke kamar mereka. Kamar mereka berada di paling ujung, dan paling dekat dengan pemandangan indah pantai.


Alma dan Bryan memasuki kamar itu. Sesegera mungkin Alma merebahkan tubuhnya yang sudah lelah itu di ranjang yang empuk. Merasakan udara yang berbeda dari udara di ibu kota.


" Akhirnya aku bisa rebahan juga, aku sangat lelah " Alma tengkurap di ranjangnya


" Kamu jangan tidur dulu Al. Kamu harus mengisi perutmu dulu, kamu belum makan apa-apa selama di pesawat " Kata Bryan sambil mengusap punggung istrinya dengan lembut


" Iya, aku hanya rebahan saja kok. Aku tidak akan tidur dulu, karena aku sangat-sangat lapar " gumam Alma


" Baiklah, aku sudah menelpon pihak hotel untuk membawa makanan. Kamu tunggulah disini, aku mau mandi dulu "


" Mandi? malam-malam begini?" Alma langsung beranjak dari tengkurap dan rebahan santai nya.


Mau apa dia mandi malam malam begini? dia tidak akan melakukan nya kan?. Wajah Alma memerah


" Kamu memikirkan apa hah? tenang saja, malam ini aku tidak akan menyiksa mu. Aku hanya akan mandi " Bryan menyentil kening Alma, merasa gemas pada istrinya itu


PLETAK


" Bryan! sakit ! " Alma memonyongkan bibirnya.


" Benar kata Kelvin, kamu mirip Naina kalau sedang seperti ini " Bryan tersenyum melihat gelagat istrinya itu.


" Naina yang mirip aku, aku kan ibunya !" ujar Alma membenarkan ucapan suaminya yang salah


" Iya iya terserah kamu deh. Aku mandi dulu "


" perlu aku siapkan airnya dulu?" tanya Alma


" Tidak apa, aku bisa sendiri. " jawab Bryan sambil mengambil handuk di dalam koper


" Oke, aku akan menyiapkan baju tidur mu " Alma tersenyum sambil membuka buka baju di dalam koper dan membereskan baju-baju di dalam sana.


Bryan masuk ke dalam kamar mandi dan mandi dengan air hangat yang ada di bathtub itu dengan santai. Tubuhnya sudah lengket penuh keringat.


ZRAASH..


ZRAASH..


Suara air mengalir terdengar sampai keluar dari kamar mandi, setelah makanan sudah datang. Selagi menunggu Bryan selesai mandi, Alma membereskan baju baju yang ada di dalam koper. Ia kaget melihat ada baju tipis dan seksi yang ada di kopernya.


" Haah? ini bukan punya ku, kenapa ada di dalam sini?" tanya Alma bingung " Ba-baju ini sangat tipis " gumam Alma malu-malu melihat baju itu.


KLAK


Bryan membuka pintu kamar mandinya, pria itu hanya memakai handuk bagian bawahnya saja. Bryan tampak seksi dan tampan. Apalagi dengan rambut nya yang basah. Mirip dengan artis Korea, ucap Alma di dalam hatinya.


Ternyata benar kata orang, Bryan suamiku sangat tampan, badannya juga bagus. Aku tidak menyangka bahwa gadis biasa seperti ku akan mendapatkan pria sempurna seperti dirinya. Ini adalah berkah dari Tuhan.


" Ka-kamu bawa baju apaan tuh?" Bryan tersenyum melihat Alma sedang memegang baju tipis, seksi berwarna merah itu di tangannya.


" I-ini bukan punya ku" Alma langsung menyembunyikan baju itu dibelakang tubuhnya.


" Benarkah? jika bukan punya mu kenapa bisa ada di koper mu?" goda Bryan pada istrinya itu


" Hen-hentikan itu! sudah kubilang bukan punya ku " Elak Alma


" Ya ya baiklah " Bryan mengambil baju tidurnya di ranjang.


Siapa yang menyimpan baju ini di koperku? dasar benar-benar deh!


#FLASHBACK


Sebelum Naina menginap di rumah neneknya, Naina pergi dulu ke rumah nya untuk mengambil boneka kesayangan nya. Gadis kecil itu membawa sesuatu di tas kecil yang ia gendong.


" Ini koper Mama kan? kata nenek aku harus menyimpan ini agar Mama bisa cepat punya adik bayi " Naina membuka sesuatu yang ada di dalam tas gendong nya. Selagi kedua orang tua nya sedang berbenah, Naina menyelipkan pakaian dan beberapa baju tipis yang di sediakan oleh neneknya.


Naina menyimpan baju baju itu ke dalam koper milik ibunya.


" Selesai " Naina tersenyum lebar, karena tugasnya dari neneknya sudah selesai.


" sayang, kamu udah ambil boneka nya?" tanya Alma yang baru saja habis masak di dapur


" Hehe iya Ma udah " Naina menunjukkan boneka kesayangan nya yang berbentuk kelinci itu pada ibunya.


" Ya sudah, ayo sayang kita keluar. Pak Jeffry udah nunggu kamu. Nanti kamu kasihin ya makanan yang Mama buat sama nenek kamu " kata Alma


" Oke Ma, ayo !"


Semoga Mama bisa cepat cepat kasih aku adik perempuan.


#END FLASHBACK


Bryan terus menggoda Alma karena baju baju tipis yang ia bawa. Bahkan saat mereka sudah makan saja, Bryan masih menggoda nya.


" Sayang, aku mau lihat kamu pakai baju itu. Kenapa kamu pakai piyama tidur? " Bryan berbaring di ranjang, ia melihat istrinya yang baru saja keluar dari kamar mandi dan memakai piyama tidurnya


" Itu bukan baju milikku. Sudahlah, ayo kita tidur besok aku mau jalan-jalan " Alma terlihat kesal, ia naik ke ranjangnya dan mengambil selimut.


" Baiklah, tidurlah dengan nyenyak. Karena besok kita harus mulai bekerja keras "


" Be-bekerja keras apa? kita kan kesini untuk bulan madu dan bersantai " Alma langsung berbalik ke arah suaminya yang berbaring tepat disampingnya. Tangan Bryan melingkar di tubuh Alma.


" Sayang, apa kamu tidak dengar apa kata Mama dan si kembar. Mereka pesan seorang adik "


" Ehm.. itu "


" kenapa? kamu terlihat tidak senang? apa kamu tidak mau punya anak lagi?" tanya Bryan yang mulai mengerutkan keningnya


" Bukan itu, aku senang kalau kita punya anak lagi. Tapi, aku belum benar-benar siap " ucap Alma


" Alasannya kenapa?" tanya Bryan serius


" Aku masih ingat dulu saat melahirkan si kembar dan aku merasa sedikit takut " jawab Alma sedih


" Maaf, aku tidak tau kalau kamu kesulitan melahirkan anak-anak kita. Aku baru ingat saat Mia mengatakan kalau kamu mengalami kesulitan saat persalinan si kembar sampai tidak bisa berjalan berminggu-minggu. Aku tidak mengerti penderitaan mu, dan malah menginginkan sesuatu yang membuat mu takut, maafkan aku " Bryan terlihat merasa bersalah


" tidak, aku yang harusnya minta maaf karena aku mengatakan kalau aku belum siap hamil lagi. Bryan, maafkan aku " Alma terlihat sedih


" Sudahlah tidak apa, aku tidak akan memaksa mu. Aku akan memberi pengertian kepada si kembar begitu pulang nanti " Bryan tersenyum pahit, ia memang agak kecewa dengan penolakan Alma terhadap permintaan nya dan anak-anak. Namun, ia juga tak mau memaksa istrinya jika ia belum siap.


Sebagai pria aku tidak mengerti bagaimana sakit nya melahirkan. Aku hanya memikirkan kebahagiaan ku sendiri, Bryan kamu sungguh egois. Alma dulu berjuang seorang diri melahirkan anak-anak mu tanpa mu yang mendampingi nya, ia juga mengalami kesulitan saat melahirkan kedua anak mu. Kamu harusnya jangan meminta lebih.


***


Bryan pun tertidur pulas, begitu pula dengan Alma yang sudah lelah seharian dalam perjalanan. Keesokan harinya, Alma sudah bangun lebih dulu dan membawakan sarapan untuk Bryan yang masih ada di tempat tidur.


Pria itu mulai membuka matanya, melihat istrinya sedang berada di balkon kamar mereka. Alma sedang melihat pemandangan pantai yang indah berada di depannya, sembari menikmati mentari yang terbit dengan indahnya.


" Alma?" panggil Bryan


" Bry, kamu sudah bangun? mau mandi atau sarapan dulu?" tanya Alma dengan senyuman hangat di wajahnya


" Aku mandi dulu saja " Bryan beranjak dari ranjangnya dan mengambil handuk yang sudah tersedia di meja.


" Aku akan siapkan air panasnya dulu "


" Tidak usah, aku bisa sendiri." tolak Bryan tanpa menoleh sedikit pun pada Alma. Alma merasa kalau Bryan marah padanya.


Apa Bryan marah padaku? bagaimana ini?. Alma terlihat resah melihat sikap suaminya


Bryan langsung masuk ke dalam kamar mandi nya, wajahnya memang sedikit kecut. Bryan masih kepikiran soal pembicaraan anak dengan Alma, sebenarnya ia tidak marah. Tapi merasa bersalah pada istrinya.


Seusai sarapan, mereka bersiap-siap untuk bermain-main di pantai. Jalan-jalan disekitar pantai, menikmati udara pagi yang sejuk dan menyegarkan seperti rencana bulan madu mereka pada umumnya.


Tidak biasanya Bryan menjadi pendiam, dan wajahnya terlihat datar. Hal itu membuat Alma semakin yakin kalau Bryan marah padanya. Suasana bulan madu pertama mereka pun tidak berlangsung dengan baik, karena diamnya Bryan.


" Bry, kita naik perahu yuk " ajak Alma


" Iya terserah kamu saja, aku sih ikut aja " kata Bryan


Sial! aku tidak bisa fokus, aku sudah menahan untuk menyentuh Alma dari tadi. batin Bryan resah


Benar kan, dia marah. Aku juga salah sih, kenapa aku menolak nya secara langsung begitu? padahal dia sangat menginginkan nya.


Bryan dan Alma naik ke perahu berdua. Namun mereka tidak tampak menikmati suasana yang romantis itu, Bryan tampak sibuk ke arah lain, tangannya sibuk mendayung. Sementara Alma melihat nya dengan cemas.


Apa mungkin Bryan sudah bosan padaku? tidak mungkin kan? pikiran Alma sudah masuk ke dalam area negatif.


" Bryan pemandangan nya indah ya " Alma tersenyum canggung, berusaha mencairkan suasana yang dingin


" Iya, aku senang kamu suka. Tidak salah kita mengambil bulan madu kita kemari " jawab Bryan


Alma terpana melihat Bryan tidak tersenyum padanya sama sekali. Dari pagi sampai sore, sikap Bryan terasa sangat dingin untuk nya.


" Kalau kamu marah, seharusnya kamu bilang dong! jangan seperti ini " mata wanita itu mulai berkaca-kaca, ia mengepalkan tangannya dengan erat.


" Hey, kamu kenapa Al? siapa yang marah? aku tidak marah padamu " Bryan mulai melihat ke arah Alma, dan menghentikan tangannya yang sedang mendayung. Mereka berada tak jauh dari tepi pantai.


" Kita sedang bulan madu dan kamu malah seperti ini. Kalau ada yang membuatmu tidak senang seharusnya kamu bicara !" teriak Alma kesal " Ah, apa kamu sudah bosan padaku?" tanya Alma emosi


" Sayang, kamu kenapa sih? kamu sensitif sekali "


" Aku? sensitif? aku sendiri atau kamu nya yang marah padaku " emosi Alma tidak terkendali, ia sampai berdiri dari perahu nya


ada apa dengan emosinya? dia tidak biasanya sensitif seperti ini. Bryan heran melihat istrinya yang bisa marah meledak seperti itu


" Almahyra, aku tidak marah pada mu "


" Bohong! "


Wanita itu kehilangan keseimbangan nya, dan akhirnya jatuh ke air dari perahu nya.


BYURR


KYAA


" Alma!"


Bryan menceburkan dirinya ke air dan menolong istrinya yang hampir tenggelam itu. Ia pun membawa istrinya yang tidak sadarkan diri ke tepi pantai. Ada penjaga pantai yang melihat mereka berdua, dan menawarkan bantuan.


Bryan memberikan napas buatan pada istrinya itu, beberapa saat kemudian Alma bangun dan mulai sadarkan diri. Wajah Bryan tampak cemas.


" Ohok ohok" Alma batuk batuk


" Syukurlah kamu baik-baik saja, kamu membuatku takut. Dasar wanita bodoh " Bryan memeluk istrinya dengan lembut dan penuh rasa syukur


Bryan, dia terlihat cemas padaku? apa dia sudah marah padaku?


" Apa kalian sudah baikan? perlu saya bawakan baju ganti yang kering untuk kalian?" tanya penjaga pantai


" Tidak usah, kami akan ke hotel saja. Terimakasih tuan atas bantuan nya " kata Bryan


Bryan menangkup Alma, dan berjalan kembali menuju ke hotel tempat mereka menginap. Kedua tubuh mereka basah, dan penuh garam dari air laut.


" Kamu tidak usah menggendong ku, aku bisa jalan sendiri " kata Alma merasa tidak enak hati


" Kamu diam saja disitu " ucap Bryan sambil melihat Alma


Mereka pun sampai di kamar tempat mereka menginap.


" Kamu mandi saja duluan, jangan sampai masuk angin " kata Bryan sambil tersenyum


Apa sikapku hari ini sangat berlebihan ya? tidak, aku sangat kekanakan. Harusnya aku tidak perlu menghindar sampai seperti ini. Dan aku malah membuatnya berfikir yang tidak-tidak.


" I-iya" jawab Alma gugup


Alma masuk ke kamar mandi lebih dulu, ia mandi dengan air hangat. Dan terlihat seperti memikirkan sesuatu. Setelah beberapa menit Alma menyelesaikan pekerjaan nya di kamar mandi, kini giliran Bryan yang membersihkan dirinya di kamar mandi.


Alma mengeluarkan baju tipis yang sebelum nya ia sembunyikan itu. Ia tampak melamun, dan masih memakai kimono handuknya.


" Aku harus mengambil keputusan, aku tidak boleh takut! aku harus bisa ! karena sekarang Bryan akan selalu ada disisi ku " Alma menatap baju tipis itu dengan waktu yang cukup lama.


ZRASH


ZRASH


Bryan masih berada di kamar mandinya " Aku harus minta maaf pada Alma setelah ini " gumam nya


CEKRET


Bryan membuka pintu kamar mandinya, ia memakai kimono handuk. Beberapa otot dada nya terlihat sedikit. Bryan terkejut melihat Alma yang memakai baju tipis dan seksi itu.


" Al-alma apa yang kamu lakukan? kamu bisa masuk angin !"


" Aku tidak apa-apa, kalau harus masuk angin " ucap Alma yang sebenarnya malu-malu memakai pakaian tipis itu


" Kamu.. " Bryan menelan saliva nya, berusaha keras mempertahankan keteguhan hatinya. Bagian bawah tubuhnya mulai mengeras.


GLEK


GLEK


Alma terlihat seksi dengan pakaian yang dipakai nya, lekuk tubuhnya yang indah mulai terlihat, kedua buah gunung milik nya terlihat tampak menyembul saat Alma memakai baju itu. Kulit paha nya yang putih bersih, membuat Bryan tidak tahan untuk menyentuh nya.


Wajahnya sudah memerah seperti terkena air uap yang panas. Sementara itu Alma sudah menantikan Bryan untuk mendekat padanya.


" Bryan?"


" Hah.. apa?" Bryan tersadar dari lamunannya


" Alma kamu jangan begini, aku tidak yakin tidak bisa menahan nya lagi "


" Kamu tidak perlu menahannya, lakukan saja. Mari kita punya bayi lagi " Alma mendekati Bryan, tangannya melingkar di leher Bryan, bibirnya mengecup pipi Bryan dengan lembut


Apa yang harus kulakukan? bagian bawahku sudah tidak bisa diajak kompromi? Bryan menelan saliva nya kuat-kuat, berusaha menahan godaan istrinya yang ada di depan mata.


...---***---...


Readers! gimana nih? mau lanjut apa engga chapter nya? jangan lupa like dan komennya ya 😀😀😁😁😁