
Melihat reaksi Kelvin, Keira sudah bisa menebak bahwa pria itu sudah tau bahwa pelayan bermasker itu adalah dirinya.
"Bisakah kamu duduk dulu? aku mau bicara sebentar" ucap Kelvin pada gadis itu.
" Maaf saya tidak kenal siapa anda " kata Keira
Apa sudah terlambat untuk pura-pura tidak kenal?
Keira menyerah, ia sudah ketahuan. Keira membuka topi yang ada di kepalanya, dan melepas masker nya juga, setelah Kelvin menatapnya dengan tajam.
"Iya tapi sebentar saja ya, aku lagi kerja" bisik Keira
Keira duduk di kursi yang berhadapan dengan tempat Kelvin duduk. Kelvin menatap Keira dengan tajam, ia menunggu penjelasan dari gadis yang tampak bingung itu.
Akhirnya Keira berinisiatif menjelaskan sendiri kenapa ia harus bekerja paruh waktu, pada Kelvin. Kondisi ekonomi nya yang tidak stabil, mbok Darmi yang sudah mulai menua, ia tak bis terus bergantung pada mbok Darmi untuk mengurus hidupnya. Pria itu hanya diam dengan wajah dingin yang tampak marah mendengarkannya.
"Aku harap kamu merahasiakan ini ya Vin, terutama dari anak-anak di sekolah" itu lah akhir kata dari penjelasan Keira
"Kenapa?apa kamu malu?" tanya Kelvin
"Enggak bukan gitu! aku cuma takut Naina sama yang lain tau kalau aku kerja"
"Kenapa kamu takut?" tanya Kelvin
"Aku gak mau mereka khawatir" jawab Keira sedih
"Lalu kamu gak sadar kalau sekarang kami sudah buat kami cemas? Kei, apa kamu pernah menganggap kami sahabat kamu?" tanya Kelvin dengan pandangan tajam
"Tentu saja kalian sahabat ku, karena itu aku tidak mau kalian khawatir padaku" jawab Keira
"Haa.. seperti nya kamu gak pernah menganggap kami sahabat kamu" Kelvin tersenyum sinis, ia tampak kesal
"Kenapa kamu ngomong kaya gitu? kalian sahabat aku" tanya Keira
"Kalau kamu menganggap kami sahabat kamu. Kamu gak akan nyembunyiin hal seperti ini dari kami. Seperti nya kami tidak penting dalam hidup kamu, terutama aku"
"Kelvin.. kamu, Naina, kak Theo dan Nisha adalah orang yang penting untukku. Kalian sahabatku, apalagi kamu. Kamu sangat penting " jelas Keira merasa bersalah
"Bohong, kalau kamu menganggap kami penting. Kamu tidak akan menyembunyikan hal ini, tidak akan ada rahasia pada sahabatmu sendiri. Apa kamu benar-benar menganggap kami sahabat?" tanya Kelvin tegas
" Kelvin kamu salah paham.. bukan maksudku menyembunyikan"
"Aku bahkan gak tau apa-apa tentang kamu, padahal kamu selalu bilang kalau kamu adalah sahabatku. Giliran aku ingin tau tentang kamu, kamu selalu tertutup dan merahasiakan semua hal. Bahkan .. ketika dulu kamu pergi 5 tahun dulu, tidak bilang dulu padaku dan aku selalu jadi orang terakhir yang tau tentang kamu. Kamu tidak menganggap kami penting, apalagi menganggap ku penting" jelas Kelvin dengan tatapan marah.
"Kelvin.. aku tidak bermaksud begitu. Kamu benar-benar sahabat ku, kita sahabat Vin" Keira memegang tangan Kelvin
"Aku sudah selesai bicara, aku pergi" Kelvin beranjak dari kursinya, pria itu terlihat marah pada Keira.
"Kel.. Kelvin.." panggil Keira pada Kelvin
Keira melihatnya dengan rasa bersalah, ia menyusul Kelvin sambil menyerahkan kue pesanan Kelvin yang dibawa pulang.
"Vin, ini pesanan kamu!" seru Keira pada Kelvin sambil mengasongkan keresek pada temannya itu.
Kelvin mengambil keresek berisi kue yang ada di tangan Keira, wajahnya tampak dingin.
"Aku akan rahasiakan ini, dari yang lainnya. Tapi kalau Naina tau sendiri tentang ini, menurutmu dia akan bereaksi seperti apa? cepat lambat Naina dan yang lainnya akan tau" jelas Kelvin
"Kelvin.. aku...minta maaf Vin" Keira tampak bingung ingin menjelaskan dari mana.
Kenapa Kelvin semarah itu?
Kelvin pergi begitu saja meninggalkan Keira yang terlihat sedih. Baru saja melangkah beberapa langkah, Kelvin menghampiri Keira kembali.
"Kelvin?"
"Nomor!" Kelvin menyodorkan hp nya ke depan Keira.
"Nomor apa?"
"Tulis nomor hp kamu disini!" seru Kelvin
"Aku gak punya hp" jawab Keira sambil tersenyum
"zaman sekarang mana ada yang tidak punya hp? ya ampun.." Kelvin mendengus kesal
"Aku serius, aku gak punya" jawab Keira jujur
"Haa.. sialan" gumam Kelvin pelan
Kali ini Kelvin benar-benar berjalan pergi meninggalkan Keira. Pria itu tampak kesal.
...***...
Di rumah Bryan..
Naina dan Albry baru pulang dari sekolah. Karena tidak ada Alma, maka Naina lah yang memasak makan siang bersama Bi Asih. Naina makan bersama Albry berdua di rumah, setelah selesai makan Albry segera mengerjakan PR nya.
"Ada yang susah gak Albry? mau kakak bantuin?" tanya Naina pada adiknya itu
"Enggak usah kak, ini udah beres kok" jawab Albry sambil menutup bukunya. Ia tersenyum pada kakak perempuan nya itu.
"Kamu mau tidur siang de?" tanya Naina
"Aku gak ngantuk kak, aku mau main sepeda di luar"
"Ya sudah, kita main sepeda sama-sama yuk" ajak Naina
"Ayo kak, kita ke taman ya" ajak Albry dengan senyuman ceria nya
Beruntung nya ya Albry tidak terlalu dingin seperti kak Kelvin. Aku lebih senang melihat Albry yang manja dan seperti anak-anak ini.
"Ayo ayo, kakak juga sekalian mau olahraga sore. Biar kakak yang bawa sepeda nya buat Albry ya, Albry tunggu aja di luar"
"Enggak kak, Albry aja yang bawa sepedanya. Sekalian punya kakak juga, kakak yang tunggu diluar"
"Hem? tapi kan berat bry.. biar kakak aja yang bawain sepedanya."
"Aku aja, kakak duluan. Aku bisa kok"
Aku mau kasih sesuatu buat kak Naina, nanti aku simpan di keranjang sepedanya kak Naina aja.
"Ya sudah, kakak tunggu di depan ya Albry"
Albry mengangguk, ia segera pergi ke garasi untuk membawa sepedanya dan sepeda Naina keluar dari garasi. Namun sebelum mengeluarkan sepedanya, Albry merogoh sesuatu di sakunya. Terlihat lah sebuah boneka beruang berwarna Stoberi, Albry meletakkan boneka itu di keranjang sepeda milik kakak nya. Albry tersenyum puas, ia pun mendorong sepeda Naina keluar dari garasi, lalu mengeluarkan sepedanya.
"Ayo kak main sepeda" ajak Albry yang sudah naik ke sepeda nya dan bersiap mengayuh sepeda.
Naina tersenyum pada adiknya itu lalu ia naik ke sepedanya, ia melihat ada sesuatu yang berada di keranjang depan sepedanya. Sebuah boneka beruang berwarna pink stoberi, tangan boneka itu memegang bentuk hati dan ada tulisan disana.
...From: Albry...
Senyum indah menyungging di bibir indah Naina, ia terharu mendapat hadiah dari adik bungsunya itu. Naina memegang boneka beruang itu dengan penuh kasih sayang.
"Albry.. kenapa kamu kasih kakak boneka? hari ini kan bukan hari ulang tahun kakak?" tanya Naina senang
"Memangnya kasih hadiah sama kakak sendiri harus ada hari spesial ya? Aku kasih buat kakak karena aku.."
Naina memeluk adiknya dengan penuh kasih sayang, ia sangat terharu. Tak hentinya Naina mengucapkan terimakasih pada adiknya yang sudah memikirkan nya. Albry tau kalau saat bermain di mall, Naina ingin sekali boneka beruang yang seperti itu. Maka dari itu, Albry memesan boneka itu untuk Naina.
Sore itu kedua adik kakak itu bermain sepeda di sekitar taman yang ada di kompleks rumah mereka dengan gembira.
Disisi lain, Alma baru saja dan pulang bersama Bryan. Mereka baru turun dari mobil dan melihat kedua anak mereka sedang bersepeda.
"Sayang.. bukannya itu Albry sama Naina?" tanya Alma
"Ya, mereka lagi main sepeda" jawab Bryan sambil melihat ke arah Albry dan Naina yang sedang mengayuh sepedanya.
"Omong-omong, sudah lama kita tidak olahraga juga, ayo kita olahraga hari ini sama anak-anak" ajak Alma semangat
"Bagaimana kalau kita olahraga berdua saja?" tanya Bryan sambil tersenyum
"Berdua? bukankah lebih seru kalau olahraga nya bersama?" tanya Alma polos
"Sayang, olahraga yang ini hanya bisa di lakukan berdua" bisik Bryan pada Alma sambil memeluk istrinya dengan mesra.
"Olahraga berdua?kamu mau kita melakukan apa? sit up? sikap lilin?"
"Bukan itu olahraga yang ku maksud sayang" Bryan tersenyum lagi memandangi istrinya
"Lalu, olahraga apa sayang?" tanya Alma
"Olahraga yang hanya bisa di lakukan berdua saja, di dalam kamar. Menurutmu apa?" jawab Bryan sambil tersenyum menggoda
Wajah cantik ibu dari tiga anak itu langsung memerah saat mendengar ucapan suaminya. Tangan Alma menepuk-nepuk dada suaminya, ia tersipu malu.
"Kamu mesum.."
"Aku ini sedang bersikap romantis, bukan mesum sayang." Bryan mencium pipi Alma dengan manja.
"Bry, ini masih di luar? ya ampun kamu tuh"
"Lalu kapan dong? sekarang ya?"
"Nanti malam ya, ini masih siang" bisik Alma pada suaminya
"Baiklah, tapi aku minta bunga nya dulu"
"Bunga?"
Bibir Bryan menyunggingkan senyuman menggoda, lalu ia mencium bibir Alma dengan lembut.
"Bryan! ini di luar!" Alma sebal, bibirnya langsung mengerucut.
"Bunga nya sudah di dapat, pelunasan nya nanti malam ya"
Setelah berhasil mencium bibir istrinya yang manis itu, Bryan masuk buru-buru ke dalam rumah. Ia takut menghadapi kemarahan Alma padanya. Benar saja, Alma terlihat marah dan ia menyusul suaminya ke dalam rumah.
Pasangan suami-istri itu terlihat seperti pasangan baru menikah, bukan pasangan yang sudah menikah 8 tahun. Mesra nya masih tetap sama meski sudah punya tiga orang anak.
.
.
Kelvin, Naina, Alma, Bryan dan Albry berkumpul di meja makan untuk makan malam bersama. Menu malam itu adalah Omelet spesial buatan Alma yang paling digemari oleh semua orang di keluarga kecilnya itu.
"Wah, Omelet buatan Mama nih. Dijamin pasti enak" Naina tersenyum senang melihat makanan yang sudah tersaji di depannya itu, ia mencium bau nya yang lezat.
"Selamat makan semua, jangan lupa berdoa" ucap Alma pada keluarga nya yang siap menyantap makanan yang berada di depan mereka.
Albry dan Naina makan dengan lahap nya, menikmati Omelet buatan Alma yang tidak ada bandingannya. Sementara Kelvin terlihat tidak bersemangat seperti memikirkan sesuatu, Bryan terlihat cemas melihat nya.
"Vin, ada apa? kamu terlihat galau?" tanya Bryan pada anak sulungnya itu
Kelvin kenapa ya dari tadi gitu terus? apa dia ada masalah? batin Bryan cemas
"Tidak apa-apa pah" jawab Kelvin lesu, sambil memainkan omelet nya di piring.
Kenapa sih Kei? kenapa kamu harus diam dan memendam semuanya sendirian. Kenapa juga aku marah karena semua ini?
"Iya kak, kakak kenapa? biasanya kakak makan banyak" tanya Albry
Kelvin tersenyum tipis, lalu ia pamit pergi ke kamarnya dengan jalan yang gontai. Kedua orang tuanya, dan kedua adiknya melihat Kelvin dengan tatapan bingung. Bahkan makanan di piringnya belum habis.
Keluarganya bertanya-tanya ada apa dengan Kelvin?
...****...
Malam itu..
Di sebuah jalanan sepi yang tak jauh dari sekolah harapan bangsa tempat Naina dan kakak nya bersekolah. Terlihat Juna cs, alias geng Virsche boys sedang berkelahi dengan anak geng motor Thanios yang menuntut balas karena beberapa anak buah mereka yang di pukuli oleh Juna.
Pertarungan itu berlangsung sengit satu lawan satu, termasuk Juna yang sedang berkelahi dengan ketua geng Thanios yang bernama Axel.
Beberapa teman-teman Juna berjatuhan dan hampir kalah, namun Juna sang ketua geng Virsche masih tetap semangat melawan Axel.
"Nyerah aja Lo! teman-teman Lo yang kaya cecunguk itu udah kalah sama anak buah gue!" kata Axel, pria tampan tinggi yang berada di hadapan Juna.
"Itu sih Lo nya yang curang bawa-bawa anak geng lain kesini. Ternyata ketua geng Thanios yang hebat itu cemen banget" ejek Juna
"Sialan Lo!"
BUK
BUK
Axel memukul Juna, begitu pun sebaliknya. Pada akhirnya Axel jatuh oleh Juna, ia sudah kalah. Segera setelah itu Axel dan anggota geng nya kabur.
"Awas Lo ya! gue bakal balas dendam!" ancam Axel pada Juna sebelum pergi. " Gue bakal ngambil sesuatu yang berharga buat Lo!" teriak Axel marah
"Gue gak punya " jawab Juna santai
Gue bakalan cari kelemahan Lo Vin, dan buat Lo bertekuk lutut sama gue. ucap Axel penuh kemarahan.
...---***---...
Maaf readers yang ini up nya gak full 2500 kata seperti biasanya. Harusnya udah up tadi sore, tapi karena kehapus episode nya sama si kecil. Jadi author nulis ulang lagi dehπ π