My Hot ART

My Hot ART
Minta imbalan



Hari ini udah up 6 bab ya. Kasih like, komentar, gift dan vote ya. ❤


Tatapan mereka saling beradu, hingga Sean yang mempunyai jiwa casanova mulai menunjukkan taringnya.


Pria itu mengikuti nalurinya, ia semakin mendekatkan wajahnya, dan bibirnya siap untuk mengecup bibir pink yang ranum itu.


PLAK


Sean terperangah saat mendapatkan tamparan dipipi kirinya.


"Maaf," cicit Irene, lalu menarik selimut untuk menutupi wajahnya. Tangannya reflek terangkat untuk menampar pipi Sean.


"Kenapa lo nampar gue?" protes Sean, masih berada diatas tubuh Irene. Sebenarnya Sean merasa malu dengan perbuatannya, akan tetapi ia berusaha untuk menutupinya.


"Aku reflek dan aku takut! Bukankah bagus karena tamparanku menyadarkan mu dari otak mesummu itu!" jawab Irene ketus, menyembulkan separuh wajahnya dari balik selimut itu.


"Ck!" Sean berdecak dengan kesal lalu menggulingkan tubuhnya kesamping Irene.


"Kok kamu tidur disini?" tanya Irene, menudukkan tubuhnya dan memukul badan Sean dengan bantal yang sebelumnya ia gunakan.


"Terserah gue lah!" jawab Sean, menangkap bantal yang dipukulkan kearahnya dan membuangnya kesembarang arah.


"Sean! Keluar sana! Tidak baik seorang perjak— eh mantan perjaka tidur satu ruangan dengan perawan sepertiku!!" kesal Irene, beranjak lalu menarik kaki Sean agar pria itu pergi dari kamarnya.


Sean yang mendengar perkataan Irene melotot sempurna, walaupun yang di ucapkan oleh Irene semua benar entah kenapa dia tidak suka mendengarnya.


"Gue mantan perjaka dan lo masih perawan bukankah itu kesatuan yang bagus? Lo yang polos dan gua yang berpengalaman! Ya nggak?" Sean menaik turunkan alisnya, membuat Irene bergidik ngeri.


"Hih!! Sean!! Kamu itu nyebelin banget sih!!" kesal Irene lalu bersedekap didada dan memalingkan wajahnya kesal, seperti anak kecil yang ngambek tidak dibelikan permen. 🤣


"Bilang nyebelin tapi nanti kalau udah nyoba pasti ketagihan, mau lagi dan lagi," lanjut Sean diiringi tawa, hingga membuat Irene semakin kesal.


"Dasar otak mesum!! Tukang celap celup!" umpat Irene, lalu berkacak pinggang menatap Sean dengan tajam, berharap jika Sean takut kepadanya. Namun pria itu malah tertawa terbahak.


"Sean! Sakit!!" kesal Irene, mengusap hidungnya yang terasa sakit.


Sean hanya terkekeh saja menanggapinya, lalu manarik tangan Irene hingga gadis itu jatuh keatas pangkuannya.


"Karena gue sudah menolong lo. Gue meminta imbalan," ucap Sean, sambil mengendus leher Irene.


"Jangan macam-macam, Se!" ancam Irene.


"Nggak macam-macam, tapi cuma satu macam saja. Boleh ya?" Sean mengelus kedua bahu Irene dengan lembut lalu semakin turun keperut ramping itu dan memeluknya dengan erat, mengunci pergerakan Irene.


"Se!" Irene memejamkan matanya, jantungnya berdetak tidak karuan.


"Kenapa? Lo takut?" tanya Sean, lalu membawa Irene keatas tempat tidur dan merebahkan tubuh mungil itu disana.


"Sean jangan macam-macam kepadaku, atau aku akan berteriak!" ancam Irene lagi, ingin beranjak namun kedua tangannya di tahan oleh Sean.


"Berteriak saja, dan tidak akan yang mendengarnya karena paviliun ini kedap suara," jawab Sean, lalu merebahkan tubuhnya disamping Irene, membuat gadis itu berjingkat kaget dan merasa ketakutan.


"Pijat kakiku!! Cepat!" titan Sean, sambil menggerakkan kakinya berulang kali.


Eh


Irene terkejut dibuatnya, namun ia juga bernafas lega.


"Anggap saja ini hukuman buat lo karena sudah banyak merepotkan gue! Dasar pendek! Burik!! Kaki gue pegal sekali seharian bekerja restoran itu!" kesal Sean.


"Bilang dong minta pijit, nggak perlu pakai acara nakutin anak orang!" sewot Irene, beranjak dari duduknya dan berpindah didekat kaki Sean.


"Sengaja biar lo ketakutan! Awwwww!! Sakit!" teriak Sean, saat kakinya cubit oleh Irene.


"Mampus!" umpat Irene.