
Sean menyeringai tipis, lalu melepaskan tangannya dari bibir manis itu, kemudian ia memundurkan langkahnya namun tatapan tajamnya enggap berpaling dari wajah imut dan manis itu.
"Tentu saja lo nggak sama seperti mereka. Lo beda dan akan mendapatkan perlakuan spesial dari gue," ucap Sean, namun terdengar begitu menohok dihati Irene.
Irene menggeleng pelan saat mendengar perkataan Sean, dan ia balik menatap tajam Sean. "Sampai kapan pun kamu nggak akan pernah berubah!" ungkap Irene, merasa sesak didalam dadanya.
Bukankah perkataan Sean membuktikan jika pria itu menyamakan dirinya dengan wanita yang pernah ditiduri Sean?
"Gue memang pria bejat dan brengsek! Tapi, apakah pria brengsek ini tidak mempunyai kesempatan?" tanya Sean, menatap Irene dengan dalam.
"Kesempatan dalam hal apa? Kesempatan untuk mencicipi tubuh aku?" balas Irene dengan tajam.
Sean mengerasakan rahangnya saat mendengar perkatan Irene. "Sehina itukah gue dimata lo, Ren?" tanya Sean, menghimpit tubuh Irene lagi, lalu memegang dagu Irene dengan salah satu tangannya dan menatap Irene dengan nanar.
Tentu hatinya sakit, bagai tercabik saat mendengar perkaatan Irene yang begitu menusuk didalam dadanya. Dan baru pertama kali, ia merasakan perasaan yang seperti itu.
Lo hebat Ren, mampu membuat dunia gue jungkir balik! Batin Sean.
Irene menghembuskan nafasnya dengan kasar, lalu menepis tangan Sean yang masih memegang dagunya. "Haruskah aku jawabnya, Se?" tanya Irene.
"Apa lo nggak pernah melihat sisi baik gue selama ini, Ren?" Sean balik bertanya.
Irene terdiam, jujur didalam hatinya ia merasa tersentuh dengan perhatian dan perlakuan baik yang selama ini Sean berikan kepadanya. Akan tetapi hatinya merasa takut jika dia terluka, terlebih lagi Sean adalah seorang cassanova.
"Jawab!!" ucap Sean penuh penegasan.
Irene menundukkan kepalanya, menahan air matanya yang ingin menetes dari pelupuk matanya. "Aku takut," cicit Irene.
"Takut? Apa yang lo takutin?" tanya Sean, memegang kedua sisi bahu Irene. "Lihat gue dan tatap mata gue, Ren!" Sean menarik dagu Irene agar mau menatapnya.
Namun Irene memejamkan matanya, enggan menatap mata elang itu. Dia takut terhipnotis dan takut terbuai.
"Ren! Buka kedua mata lo! Atau gue ..."
Walaupun kedua mata mereka beradu hanya untuk sesaat, akan tetapi Sean dapat melihat pancaran cinta dari mata sipit itu.
"Atau apa?!" tanya Irene dengan nada ketus, seraya memalingkan wajahnya kesamping kiri, menghidari Sean yang masih menatapnya dengan dalam.
Sean mengulas senyum tipis. "Apa yang ada didalam hati lo? Lo suka sama gue?" tanya Sean, to the point, sembari menunjuk dada kiri Irene.
"Ngaco!" jawab Irene, lalu menepis tangan Sean yang menunjuk dadanya.
"Bibir lo ini bisa berbohong tapi mata kamu tidak bisa berbohong, Ren," ucap Sean.
Dan dengan gerakan tidak terduga, pria itu memeluk tubuh Irene dengan erat. Membuat tubuh Irene menegang.
"Se ..." Irene ingin lepaskan pelukan itu, namun gerakannya terhenti saat mendengar kalimat yang terlontar dari bibir Sean.
*
*
*
"Tuh 'kan! Gwen sudah pergi! Kamu sih kelamaan nyetirnya!" Oma Airin menyalahkan Jeje.
Sedangkan Jeje mendengus kesal dibuatnya.
"Coba saja tanya ke orangnya langsung. Sean lagi berada di ruangan Sekretarisnya," ucap Aiden dengan ringan membuat Nathan melotot lebar.
"Hah? Sean ada disini? Bagaimana bisa?!" seru Oma Airin heboh dan segera berjalan menuju ruangan Irene.
Like dan Vote jangan lupa!😘