My Hot ART

My Hot ART
S2. Cinta dan kasih sayang untuk Anaya



Setelah dua hari berada di rumah sakit, akhirnya Gwen dan bayinya sudah di perbolehkan pulang ke rumah. Semua orang yang ada di rumah utama menyambut kedatangan Gwen dan Anaya dengan penuh suka cita.


"Wah, cantik sekali seperti Mommy-nya," puji beberapa pelayan yang sedang mengerumuni bayi mungil yang sedang tidur pulas di dalam Box bayi tepatnya di ruang tamu.


"Dan gembul sekali, gemas. Pengen nyubit pipinya yang tembem," ucap salah satu pelayan yang gregetan dan Anaya.



"Hei! Kalian ini menjauhlah, jangan sampai cucu buyutku terbangun!" usir Oma Airin dari kursi rodanya.


"Baik, Oma. Kami hanya merasa gemas dengan Baby A," jawab salah satu pelayan sembari melirik Anaya yang masih sangat pulas dan tidak merasa terganggu sama sekali. Jelas saja karena bayi kecil itu tidak bisa mendengar suara yang ada di sekitarnya.


"Sana lanjutkan pekerjaan kalian," titah Oma Airin dan beberapa pelayan itu pun patuh dan pamit undur diri.


Semua orang yang ada di dalam rumah itu sudah tahu tentang apa yang terjadi pada Anaya, bayi mungil yang baru lahir itu. Akan tetapi mereka di suruh bungkam dan bersikap biasa saja agar tidak menimbulkan kesedihan di hati Gwen dan Aiden.


"Oma kenapa berada di luar? Seharusnya Oma berada di kamar untuk beristirahat," ucap Kirana yang datang ke ruang tamu sembari menggendong salah satu anaknya.


"Aku merasa jenuh Rana. Aku sangat bersemangat melihat cucu buyutku yang baru lahir ini, tapi ..." Oma Airin tidak dapat melanjutkan perkataannya lagi. Ia merasa sangat sedih saat mengetahui kenyataan yang ada tentang cucu buyutnya itu.


"Oma ..." Kirana menurunkan anak yang ada di dalam gendongannya, lalu memeluk Oma Airin dengan erat, agar wanita yang sudah lanjut usia itu merasa lebih tenang dan damai.


"Kita semua merasa sedih, Oma. Tapi, ini sudah suratan takdir yang diberikan oleh Tuhan, semoga kita bisa menjalani semua ini terutama untuk Anaya, semoga bayi kecil ini menjadi anak yang sangat kuat, tegar dan juga pintar," ucap Kirana di sela pelukannya itu.


"Amin," jawab Oma Airin mengaminkan do'a Kirana.


"Kalian kenapa berpelukan seperti itu?" tanya Aiden yang baru datang dari lantai atas sembari membawa botol susu di tangannya.


"Ini Oma merasa sangat bahagia," jawab Kirana seraya mengurai pelukannya, lalu mengusap air mata Oma Airin.


Aiden tersenyum kecut menanggapinya, karena ia tahu jika Omanya itu merasa sedih dengan keadaan putrinya.


"Gwen sedang beristirahat di kamar, katanya perutnya terasa sakit jadi aku menyuruhnya untuk memompa Asi untuk Anaya," ucap Aiden sembari memperlihatkan botol susu di tangannya.


"Melahirkan secara Caesar sangat menyakitkan, Ai. Biarkan istrimu beristirahat dulu, lagi pula kami semua siap untuk menjaga Anaya," ucap Oma Airin kepada cucunya itu.


"Iya, Oma," jawab Aiden seraya tersenyum tipis. Merasa bersyukur karena ia di kelilingi oleh orang-orang yang sangat baik dan tulus kepada dirinya.


"Kamu harus memperhatikan bagaimana caranya mengangkat tubuh kecil putrimu ini," ucap Kirana seraya mengangkat tubuh mungil Anaya ke dalam pangkuannya.


Aiden melihat cara Kirana mengangkat putrinya dengan seksama. Ia menganggukkan kepalanya bertanda mengerti dan paham.


"Kita bangunkan dulu putri cantik ini, karena sudah waktunya minum susu," ucap Kirana sembari menciumi pipi gembul Anaya yang membuat Kirana menjadi sangat gemas.


Jojo menekuk bibirnya kebawah saat melihat ibunya menggendong Anaya. Bayi yang baru berusia 6 bulan dan pandai merangkak itu merengek keras lantaran cemburu dengan Anaya.


"Jojo pinjam Mommy-nya dulu ya," ucap Aiden dan langsung menggendong keponakan itu.


Jojo menggelengkan kepalanya berulang kali dan menangis keras.


"Jojo tidak boleh nakal, Nak," ucap Kirana yang sedang memangku Anaya sembari memberikan ASI kepada bayi kecil itu.


"Sama Oma saja ya, mau?" tanya Oma Airin seraya mengulurkan tangannya kepada Jojo.


"Ada apa ini?" tanya Nathan yang baru pulang kerja di sore hari itu.


"Mas, kamu gendong Jojo dulu, tapi kamu ganti baju dan cuci tangan dulu," pinta Kirana kepada suaminya.


"Maaf, merepotkan kalian," ucap Aiden kepada Kirana dan Nathan.


"Jangan sungkan begitu," jawab Nathan seraya berlari menaiki tangga menuju kamarnya untuk berganti pakaian dan mencuci tangan.


"Sepertinya aku akan mencari babysitter untuk Anaya," ucap Aiden sembari menenangkan Jojo yang masih menangis di dalam gendongannya.


"Jangan dulu, Ai. Mengingat kondisi Anaya yang seperti ini. Kami siap untuk membantumu," jawab Kirana sembari tersenyum tulus.


"Tapi--"


"Benar yang di katakan Kirana, jangan terburu-buru untuk mencari Babysitter," sela Oma Airin.


"Kita harus melimpahkan Anaya dengan kasih sayang dan juga cinta, agar dia tidak merasa kekurangan." Kirana menimpali lagi sembari memandang wajah cantik bayi yang ada di dalam pangkuannya itu.


Jangan lupa dukungannya, terima kasih semuanya. ❤❤