
Sawerannya ya, udah up 3 bab loh. ❤
Malam harinya.
Pesta pernikahan yang begitu meriah itu telah berakhir, suasana di Balai Desa itu pun sudah mulai sepi hanya ada beberapa orang yang sedang membereskan tempat tersebut.
Sedangkan Nathan dan Kirana sudah berada dirumah begitu juga yang lainnya. Mereka semua pun sudah berganti pakaian, dan saat ini sedang duduk di atas karpet yang ada di ruang tamu tersebut.
Ruang tamu yang di jadikan tempat tidur para pria yang ada disana, sedangkan para wanita tidur di dalam kamar.
"Ah, lelahnya." Nathan merenggangkan otot tubuhnya, lalu merebahkan dirinya diatas karpet tersebut. Seharian berdiri diatas pelaminan membuat otot tubuhnya terasa kaku dan juga sangat lelah, akan tetapi dirinya sangat bahagia karena berhasil memperistri Kirana, gadis pujaannya.
"Semangat dong, mau belah duren ini," ledek Ansel, menaik turunkan alisnya.
"Ck! Durennya lagi berdarah-darah!" jawab Nathan sembari berdecak kesal.
Sean dan Ansel cekikikan melihat saudara kembarnya sengsara karena harus menunda malam pertama mereka.
Aiden hanya diam menatap ketiga saudaranya itu, sembari menyesap rokok yang terselip di sela jarinya.
Sedangkan Xander dan Bapak berada di ambal, ngopi bersama. Dan Para wanita berada didalam kamar.
"Masuk kamar sana! Kasihan kakak ipar di anggurin." Kali ini Sean yang meledek.
Nathan mendudukan dirinya lalu menatap ketiga saudaranya itu dengan serius. "Sebenarnya aku takut," ucap Nathan dengan nada pelan, seperti berbisik.
"Takut kenapa?" tanya Aiden, seraya mematikan ujung rokok tersebut diatas permukaan asbak.
"Aku takut tidak bisa melakukannya," jawab Nathan, seraya menghembuskan nafasnya dengan kasar. Dia menahan rasa malunya, karena harus mengakui perasaannya yang mengganjal dihatinya.
Sebagai pria dewasa tentu dia pernah menonton film dewasa akan tetapi dia tidak tahu cara memulainya dari mana.
"Pffttttt, ha ha ha ha." Tawa ketiga pria itu menyembur bersamaan, dan menggeleng pelan melihat saudaranya yang ternyata sangat polos.
Nathan mencebik kesal, sembari menatap Sean dengan sinis. "Aku 'kan masih original dan perjaka tong-tong. Wajar kalau aku tidak tahu, berbeda denganmu yang sudah suhu!" balas Nathan dengan telak.
"Mamposss lo!" seru Ansel didekat telinga Sean, lalu tergelak keras.
"Sakit telinga gue, Nyet!!" maki Sean, sembari mengusap telinganya berulang kali.
"Kamu tinggal masukin saja kelubangnya. Emangnya kamu nggak pernah melihat film bokep?" tanya Aiden mencoba untuk bersikap biasa untuk menutupi rasa sakit hatinya.
"Lo pikir lubang semut?! Dasar oon kalian semua!" Sean kembali bersuara.
"Ck! Aku juga masih perjaka jadi wajarlah kalau tidak tahu. Jadi sekarang mending SUHU saja yang menjelaskan," ucap Aiden terkesan meledek dan menakan kata Suhu.
Ansel cekikikan sembari memegangi perutnya yang terasa kaku karena menahan tawa.
Sean menggeram kesal, karena ketiga saudaranya itu tidak berhenti meledeknya.
"Kalau masih perawan itu lakukan dengan pelan—" kemudian Sean menjelaskan semuanya dengan detail dari mulai pemanasan hingga mencapai kli•maks.
"Gila!! SUHU benar kamu ini. Sudah berapa cewek yang kamu ajak wik-wik?" tanya Ansel tidak berfilter, langsung mendapat tonyoran kepala dari Sean.
Nathan terdiam memikirkan semua cara yang sudah diberi tahu oleh Sean. Dan tanpa permisi dia langsung memasuki kamar istrinya.
Aiden diam terpaku saat melihat Nathan memasuki kamar Kirana.
Plak
Sean menepuk bahu Aiden, agar saudaranya itu tersadar.
"Yang ikhlas!" ucap Sean dan Ansel bersamaan.
Aiden hanya menghembuskan nafasnya dengan kasar, sembari tertunduk lesu.