
Senin ya! Vote dan like jangan lupa! Awas saja kalau nggak dikasih, tak slepet satu-satu kalian. 🤣
Gue nggak akan membiarkan lo dapat jodoh! Batin Sean, kesal.
Entah kenapa dirinya tidak suka melihat Irene tampil cantik, dia lebih suka melihat Irene yang polos tanpa make-up dan juga kaca mata besarnya. Dia suka Irene yang tampil apa adanya.
Akan tetapi mulutnya terlalu gengsi untuk mengatakannya.
"Gue nggak yakin kalau lo akan dapat jodoh dengan penampilan baru ini," ucap Sean, berjalan mendekati Irene. Berdiri dibelakang Irene yang masih duduk di depan meja rias.
"Kenapa? Bukankah aku terlihat lebih baik?" Irene bertanya sembari menatap Sean dari pantulan cermin dihadapannya.
Sean terdiam lalu menundukkan badannya."Karena orang yang tulus itu akan nerima dan mencintai lo apadanya," bisik Sean, tangannya terulur mengambil kaca mata yang tergeletak diatas meja rian itu dan memakaikannya ke wajah Irene.
Irene manatap dirinya dipantulan cermin itu, jujur dia lebih nyaman dengan kaca mata tebalnya dari pada harus berdandan dan memakai Softlens, tapi apa salahnya jika dia merubah penampilannya? Tidak ada yang salah dengan hal itu, bukan?
"Tapi, masih adakah orang yang seperti itu, Se?" tanya Irene, tidak yakin.
"Tentu saja ada," jawab Sean, tersenyum tipis.
"Ya, semoga saja ada yang mau menerima gadis culun dan miskin sepertiku ini. Karena kebanyakan semua pria di jaman sekarang, melihat wanita dari segi fisiknya. Kamu juga begitu, kan?" tanya Irene.
"Ya tentu saja!" jawab Sean cepat, seraya memalingkan wajahnya agar dirinya tidak ketahuan berbohong.
"Maka dari itu, aku akan tetap merubah penampilanku," lanjut Irene, lalu melepaskan kaca matanya lagi.
"Harusnya kamu dukung aku, biar aku semakin percaya diri," ucap Irene lagi. dan diangguki Sean dengan malas.
*
*
*
"Duh, kenapa gue jadi uring-uringan tidak jelas begini sih? Sadar Se ... sadar!" Sean menepuk pipinya berulang kali.
"Kamu kenapa sih?" tanya Irene tiba-tiba, membuat Sean yang membelakangi pintu kamar itu terparanjat kaget.
Tadinya Irene berniat keluar kamar untuk mengambil minum didapur, tapi pada saat membuka pintu kamar, dia melihat Sean yang berdiri membelakangi pintu sembari menepuk pipinya berulang kali.
"Eh ... Nggak kenapa-kenapa. Cuma ini pipiku pegal dan kesemutan," jawab Sean asal, sambil senam wajah untuk menutupi salah tingkahnya.
Mampus gue! Jangan-jangan dia medengar semuanya. Batin Sean merutuki dirinya sendiri.
"Hah? Baru dengar kalau ada pipi kesemutan," balas Irene lalu terkekeh pelan.
"Tentu saja ada, ini buktinya." Sean menunjuk kedua pipinya dengan jari telunjuknya.
Irene menggeleng pelan, menanggapinya. Kemudian ia berjalan menuju dapur untuk mengambil air minum.
"Se! Air di dispenser habis," seru Irene dari arah dapur.
Sean yang mendengarnya pun langsung melangkahkan kakinya menuju dapur. "Lo minumnya kayak gajah, masa baru 2 hari sudah habis," dumel Sean, sembari mengambil galon yang sudah kosong itu dari atas dispenser lalu menggantinya dengan galon yang baru.
Irene mencebik saat mendengar ucapan Sean. "Kan, air galonnya nggak cuma buat minum, Se! Tapi juga buat masak, dan bikin kopi buat kamu! balas Irene dengan perasaan kesal, tidak terima disamakan dengan gajah.
"Ya ... ya ... ya, seharusnya lo bisa ngirit lagi. Soalnya gue belum gajian," jawab Sean, lalu berlalu begitu saja dari dapur.