My Hot ART

My Hot ART
Menguntit?



Sampai di toko buku di kawasan Jakarta Pusat. Ansel dan Gwen bersamaan keluar dari dalam mobil, lalu memasuki toko buku tersebut sambil bergandengan tangan.


Dari kejauhan ada dua pasang mata yang memperhatikan keduanya itu. "Apa nggak salah lihat gue?" tanyanya pada sang kekasih.


"Iya, bukankah Gwen sama Pak Aiden? Tapi, kenapa malah sama Ansel?" jawab sang kekasih, sambil mengerutkan keningnya.


"Samperin yuk!" ajak pria tersebut yang tidak lain adalah Sean. Ya, dia dan Irene berada di dalam toko buku yang sama dengan pasangan yang baru datang itu.


"Ayo! Aku kepo banget," ucap Irene, berjalan mendahului kekasihnya.


Sean menggelengkan kepalanya saat melihat Irene yang sangat antusias.


"Ehem!" Sean berdehem keras saat berada di dekat Ansel dan Gwen yang sedang memilih buku Novel.


Seketika itu Ansel dan Gwen menoleh bersamaan, dan terkejut melihat Sean dan Irene juga ada disana.


"Kalian?" Ansel berkata sambil menunjuk Sean dan Irene bergantian.


"Kenapa? Kaget lihat kita berdia di sini? Ekspresi lo kayak lihat hantu tahu nggak!" jawab Sean, lalu merangkul pundak Irene.


"Kamu memang kayak hantu!" balas Gwen, sembari mencebik kesal, karena ia ingin memeluk Sean, tapi pria itu sudah merangkul bahu Irene dengan mesra.


"Kalian mau cari buku juga?" tanya Ansel.


"Iya mau cari buku masakkan." Irene yang menjawab pertanyaan Ansel.


Ansel dan Gwen mengangguk bersamaan. "Gimana kalau kita doble date?" saran Ansel, langsung mendapat cubitan kepiting dari Gwen, dan membuat pria itu memekik kesakitan.


Sedangkan Sean dan Irene melotot lebar lalu saling menatap dengan ekspresi wajah yang sangat terkejut.


"Kalian sudah pacaran?" Irene bertanya sembari menunjuk pasangan yang ada di depannya itu.


"Nggak lah!" jawab Ansel dan Gwen kompak.


"Terus?!" Sean menatap Ansel dan Gwen penuh selidik dan meminta penjelasan.


"Nanti aku jelasin tapi nggak di sini," jawab Ansel, lalu menggiring ketiga orang itu keluar dari toko buku tersebut.


*


*


*


"Oh, jadi begitu," jawab Sean.


"Iya! Jadi kamu jangan salah paham dan ini rahasia kita berempat. Awas saja kalau sampai bocor, berarti kalian berdua tersangka utamanya!" ancam Ansel, sambil menunjuk Sean dan Irene bergantian.


"Oke, gue akan tutup mulut, tapi nggak tahu kalau—" Sean tidak melanjutkan perkataannya, ia melirik Irene yang duduk di sebelahnya.


"Apa?!" sewot Irene, sembari menatap tajam Sean.


"Nggak kok sayang, aku cuma mau bilang kalau hari ini kamu cantik banget." Puji Sean, sambil membelai pucuk kepala kekasihnya dengan lembut.


"Owh, benarkah itu? Aku merasa tersanjung," jawab Irene tersenyum konyol, sembari membenarkan kaca matanya yang melorot dari hidung mungilnya.


Gwen dan Ansel yang melihatnya pun menggembungkan pipinya, menahan tawa. Sedangkan Sean hanya mendengus kesal, melihat tingkah konyol kekasihnya.


"Jadi, apa rencanamu selanjutnya?" tanya Sean, sembari mencondongkan tubuhnya dengan kedua sikunya yang bertumpu di atas meja.


"Ya, nge-date bareng sama Gwen," jawab Ansel, lalu tergelak keras.


"Ans!" kesal Gwen, seraya memukul lengan kekar itu dengan kuat, namun pria itu tidak merasakan sakit sama sekali.


"Apa sih, Gwen yang cantik?" Ansel mencubit gemas pipi gadis itu, lalu mendekatkan wajahnya ke telinga Gwen. "Lihat ke sebelah kiri, ada yang kebakaran jenggot," bisik Ansel.


Gwen melirik kearah yang ditunjukan Ansel, dan betapa terkejutnya dia saat melihat Aiden yang sedang menguntitnya, dan menutupi wajahnya dengan buku menu.


"Untuk apa dia berada disana?" gumam Gwen, dan masih di dengar Ansel.


"Tentu saja dia mengikutimu, tapi dia terlalu gengsi," jawab Ansel berbisik.


"Woy! Curut! Dari tadi kalian terus berbisik!" kesal Sean, saat melihat pasangan yang duduk depannya ini terus berbisik.


"Pulang, Yuk! Jadi obat nyamuk disini!" Sean beranjak sembari menarik tangan Irene.


"Dih, kenapa dia yang marah?" ucap Ansel, sembari menatap kepergian dua sejoli itu.


Ada yang panas tapi bukan api. 🤣💃