My Hot ART

My Hot ART
S2. Baby girl



Irene menarik nafas panjang lalu mengeluarkannya dari mulut dan ia melakukannya secara berulang kali saat merasakan kontraksi di perutnya itu. Sedangkan Sean menggenggam tangan istrinya dengan kuat, jantungnya terasa berdebar-debar tidak karuan saat melihat perjuangan istrinya melahirkan buah hatinya.


Sean terus memanjatkan doa di dalam hatinya, meminta kepada Tuhan agar melahirkan buah hatinya dengan selamat.


Irene meringis sakit, saat merasakan bayinya mendorong dari dalam perutnya. "Sakit Sean!" Irene mengerang sembari mencengkram tangan suaminya dengan kuat.


"Yang kuat, Sayang." Sean mengusap buliran keringat yang membasahi kening istrinya, lalu ia mengecupnya dengan lembut.


Dokter dan Bidan sudah bersiap siaga saat pembukaan jalan lahir sudah sempurna.


"Sudah pembukaan sempurna, Bu. Ayo, berjuang melahirkan dede bayinya. Jika merasakan dorongan dari dalam, nanti ibu langsung mengejan ya," ucap dokter memberikan intruksi kepada Irene.


Irene mengangguk bertanda mengerti kemudian ia menatap suaminya yang duduk di dekatnya sembari memegang kedua tangannya dengan erat.


"Lo bisa, Ren," ucap Sean, memberikan semangat kepada istrinya itu, walaupun dirinya sendiri merasa sangat ketakutan, tubuhnya juga gemetar, buliran keringat dingin mulai membasahi tubuhnya.


Ketegangan di ruangan bersalin tersebut semakin terasa, saat Irene mulai mengejan kuat, berjuang untuk melahirkan bayinya.


Sean sebagai suami hanya bisa memberikan dukungan, menguatkan dan terus berdoa untuk istri dan bayi yang akan lahir ke dunia itu.


"Ayo dorong sedikit lagi, Bu. Rambut dede bayinya sudah terlihat," dokter memberikan semangat kepada Irene.


Irene mengeluarkan air matanya, merasakan sakit yang luar biasa. Tubuhnya seperti dibelah dua dan seluruh tulangnya remuk redam.


"Sakit banget, Se. Aku nggak kuat," ucap Irene yang hampir menyerah karena tenaganya sudah terkuras habis.


"Lo bisa, Ren. Demi anak kita, please," ucap Sean memberikan semangat untuk istrinya.


"Ayo, Bu. Satu atau dua dorongan lagi bayinya akan keluar," dokter dan bidan pun ikut memberikan semangat kepada Irene.


Irene menganggukkan kepalanya saat mendengar dukungan dan semangat yang diberikan oleh dokter dan suaminya. Kemudian ia mulai mengejan lagi saat merasakan dorongan dari dalam perutnya.


"Eughhh!!!" Irene mengejan kuat sembari mencengkram tangan suaminya hingga membuat Sean memekik kesakitan saat kuku-kuku Irene menembus kulitnya.


"Aww!! Sakit, Ren!" pekik Sean meringis sakit.


Suara bayi yang baru lahir itu terdengar sangat keras, memenuhi ruangan bersalin tersebut.


Perawat segera mengambil alih bayi itu untuk segera di timbang lalu di bersihkan. Sedangkan ibu bidan membersihkan rahim Irene dari sisa memelahirkan.


Suasana haru juga menyelimuti hati Sean dan Irene yang baru saja menyandang menjadi orang tua.


"Irene, lo hebat banget. Love you so much," bisik Sean di dekat telinga istrinya, lalu mengecup pipi dan bibir istrinya sekilas.


Irene yang sudah tidak bertenaga dan lemas pun tersenyum haru sembari menganggukkan kepalanya.


"Selamat ya, Pak, Bu. Bayinya cantik sekali, seperti ibunya," ucap dokter yang menggendong bayi merah itu dan meletakkan di dada Irene, untuk melakukan metode IMD.


"Cantik kayak lo, Sayang," ucap Sean seraya mengusap lembut pipi putrinya yang mulus itu.


"Iya, aku 'kan yang mengandungnya selama sembilan bulan," jawab Irene dengan penuh rasa bangga.


Irene mendekap lembut tubuh mungil putrinya yang ada di atas dadanya.


Bayi tersebut merengek dan menangis keras saat bibirnya mencari sesuatu namun tidak kunjung ia dapatkan.


"Menggemaskan sekali," ucap Irene, lalu meminta bantuan kepada Dokter yang berdiri di samping tempat tidurnya untuk mengarahkan pucuk dadanya ke bibir putrinya.


"Ah, Sayang. Itu punya Ayah." Sean berucap tanpa malu sama sekali, saat melihat putrinya itu menyedot sumber makanannya dengan kuat.


"Puasa dulu ya, Pak. Selama dua tahun," sahut dokter seraya terkekeh geli, Sean menanggapinya tersenyum meringis.


Sedangkan Irene mengumpati suaminya tanpa suara, ingin rasanya memukul kepala suaminya itu dengan sangat keras.


***


Yeii, baby girl ❤❤


Jangan lupa dukungannya ya. ❤