
Tiba-tiba Nathan merasakan bulu kuduknya berdiri semua, ia mengusap tengkuknya sambil menoleh ke kiri dan ke kanan dengan takut. Ia merasa ada yang mengawasinya dari kejauhan, tapi di rumah tersebut tidak ada siapa pun selain dirinya dan Kirana.
Apakah di rumah ini ada setannya? batin Nathan, mengingat di sekeliling rumah tersebut banyak pohon kelapa dan pohon jati.
"Duh, Rana lama banget di dapur. Merinding ih!" Nathan mengusap tengkuknya lagi, akan tetapi tubuhnya menegang dan terpaku seketika dan matanya membola sempurna saat merasakan tepukan keras di pundaknya.
Perlahan kepalanya menoleh ke kiri dan sedikit mendongak menatap seseorang yang menepuk bahunya.
"Huwaaa!!!!" teriak Nathan histeris, saat melihat seorang pria yang berdiri di belakangnya menatapnya dengan tajam.
Sedangkan Bapak tersebut tidak kalah terkejutnya saat melihat penagih hutang itu mempunyai paras yang sangat tampan, dan terlihat seperti bule. Tapi, Bapak segera menepis rasa keterkejutannya itu.
"Bocah gemblung!! Mau apa kemari? Hah! Kamu mau menyita rumah kami? Bukankah minggu lalu Kirana sudah mencicil hutang kami!" cerocos Bapak tersebut tanpa jeda.
Rasa takut Nathan langsung lenyap seketika saat pria paruh baya tersebut menyebut nama kekasihnya. Ia yakin jika pria paruh baya tersebut adalah Ayah Kirana.
Nathan segera berdiri dari duduknya, dan berdehem pelan guna mengusir rasa malunya.
Ibu berjalan mendekati suaminya dan juga terkejut saat melihat pria tampan dan gagah berada di dalam rumahnya.
"Loh kok bule, Pak? Apa dia bosnya penagih hutang itu?" bisik ibu, kepada suaminya.
"Iyo palingan, Bu." jawab Bapak, sekenanya, masih menatap tajam Nathan.
Nathan tersenyum kaku ketika ia di tatap tajam seperti akan di kuliti hidup-hidup oleh ayah Kirana. Jantungnya berdetak dengan cepat, dan tangannya keluar keringat dingin karena ia mendadak gugup dan juga takut, tapi dia mencoba untuk bersikap biasa.
"Maaf, Pak, Bu, perkenalkan saya—"
"Halah! Ora usah kenal-kenalan!! Kamu mau menyita rumah kami ya! Nehi ya Nehi!! Langkahi dulu jempol kakiku!! Dasar lintah darat!" omel Bapak, sambil menepis tangan Nathan yang terulur itu dengan kasar.
"Apa? Hutang apa? Maaf, sepertinya ada kesalahpahaman." Nathan tersenyum kaku sambil menarik uluran tangannya kembali, dan ia mencoba untuk tenang.
*
*
Mata Kirana membola sempurna saat melihat ayahnya memarahi sambil menarik Nathan keluar dari rumahnya.
"Pak!! Stop Pak!" Kirana menarik tangan Ayahnya, yang masih menarik kasar tangan Nathan.
Sontak Bapaknya menghentikan aksinya dan menatap putrinya yang ada di depan matanya.
"Kirana!" seru Bapak dan Ibu bersamaan.
"Pak kenapa memarahi Nathan?" tanya Kirana, lalu menarik Nathan ke belakang tubuhnya, ia memasang badan melindungi kekasihnya dari amukan kedua orang tuanya.
"Kamu kapan pulang?" tanya balik Bapak, tanpa menjawab pertanyaan Kirana.
"Baru beberapa menit yang lalu, kenapa Bapak dan ibu memarahi Nathan?" jawab Kirana, sekaligus mengulangi pertanyaannya.
"Kamu kenal sama pria ini?" tanya Bapak, menunjuk Nathan yang bersembunyi di balik punggung putrinya.
"Kenal, dia yang mengantarkan aku kesini," jawab Kirana.
"Oh, dia bukan penagih hutang?" tanya Ibu, membuat Kirana mendelik tajam, agar ibunya berhenti bicara masalah hutang.
"Tentu bukan! Dia calon menantu Bapak sama Ibu," jawab Kirana.
"Apa?!!!" pekik kedua orang tua Kirana bersamaan.
Sajen ya sajen!!