My Hot ART

My Hot ART
Cocok 1000 persen



Saweran kembang sama kopi mana nih?!


Nathan masih menatap sengit pria yang ada di depannya ini. Perdebatan mereka masih berlanjut ke babak yang lebih menegangkan.


"Aku tidak terima dengan ucapanmu! Kamu pikir siapa? Menilai aku seenak udelmu?! Kamu nggak tahu siapa aku? Keluargaku adalah orang terpandang di kampung ini!" ucap Rudi, sembari menepuk dadanya dengan sombong.


Kirana sangat geram sekali dengan perkataan Rudi, dia ingin meremat mulut yang suka menghina orang lain itu. Dalam hati, dia menyesal pernah berpacaran dengan pria gila seperti Rudi. Tuhan masih berpihak kepadanya, menunjukkan sisi bejat Rudi sebelum pernikahannya dulu.


"Aku tidak peduli siapa kamu! Kamu bukanlah Tuhan yang harus di agungkan dan di takuti!" jawab Nathan penuh penekanan, dia pun sama geramnya dengan pria di hadapannya ini, tapi dia harus menahan diri, mengingat dirinya hanya seorang tamu di sana dan tidak ingin membuat keributan, berujung mempermalukan keluarga Kirana.


Menghadapi pria sombong seperti Rudi harus dengan cara yang elegan.


Wajah Rudi terlihat merah karena malu dan juga marah. Tapi rasa malu itu yang lebih mendominasi. Baru kali ini ada orang yang berani berkata seperti itu kepadanya.


"Harusnya kamu sadar, jika semua hartamu itu hanya titipan dari Tuhan. Kamu sekarang bisa menyombongkan diri dengan harta dan kekuasaanmu. Tapi, ingat! Jika Tuhan murka kepadamu, kamu pasti tahu apa yang terjadi bukan? Seluruh hartamu akan di ambil lagi dalam sekejab mata!" lanjut Nathan, berbicara dengan lugas dan sangat sopan. Namun, semua perkataannya mengandung arti yang dalam dan begitu menohok di hati Rudi.


Kirana merasa sangat bangga dengan Nathan, yang tidak terpancing emosi bahkan kekasihnya itu menghadapinya dengan tenang dan elegan.


Benar yang di katakan Oma Airin, jika beliau mendidik anak, cucu, hingga ke cicitnya untuk selalu menghargai orang lain dan juga selalu mengingat Tuhan yang di atas segalanya.


Kirana sampai ingin menitihkan air matanya, bersyukur karena dia mendapatkan pria yang sangat baik dan bijaksana seperti Nathan.


Bapak dan Ibu yang mengintip dari jendela pun sangat kagum dengan sikap Nathan.


"Kirana ndak salah pilih, Pak," ucap Ibu senang, sembari menggenggam ke dua tangan suaminya.


"Iya, Bu. Untung saja Bapak sudah memberi restu kepadanya, jadi dia bakal jadi menantu kita. Wes, cocok iki 1000 persen Bapak setuju kalau Kirana nikah sama Nathan saat ini juga, jarang-jarang ada orang kaya yang mempunyai sifat rendah hati seperti Nathan," ucap Bapak, dengan mata yang berbinar kebahagiaan.


"Iyo, Pak. Ibu juga setuju," balas Ibu tersenyum bahagia.


*


*


*


Rudi langsung pergi begitu saja tanpa mengucapkan sepatah kata apa pun. Dia merasa sangat malu sendiri.


Nathan tersenyum, sembari bersedekap di dada, melihat kepergian Rudi. "Menghadapi orang seperti itu, tidak mesti memakai kekerasan. Cukup sentuh hatinya dan permalukan dia," ucap Nathan, terkekeh geli. Lalu melirik Kirana yang terus menatapnya tanpa berkedip


"Ada apa?" tanya Nathan.


Kirana menggeleng, lalu tersenyum senang. Dan tanpa di sangka dia langsung mengecup bibir kekasihnya sekilas.


Bapak dan Ibu yang masih mengintip mereka sampai melebarkan mata mereka dengan mulut yang menganga lebar.


"Anakmu wes kebelet kawin, Bu!" Bapak sedikit kesal, dan ingin menghampiri keduanya, namun gerakannya di tahan oleh Ibu.


Nathan mengedipkan matanya berulang kali dengan wajah cengoknya, lantaran terkejut dengan aksi Kirana yang menciumnya tanpa di minta. Jika dia tidak mengingat ada di depan rumah, mungkin dia akan menerjang bibir manis itu tanpa ampun melumaatnya.


"Terima kasih," ucap Kirana, sambil melipat bibirnya ke dalam dan wajahnya bersemu merah.


"Terima kasihnya nanti saja, aku butuh penjelasan dari kalian!" ucap Nathan dengan tegas, lalu menarik tangan Kirana, membawanya ke dalam rumah.


"Penjelasan apa?" tanya Kirana.


"Masalah hutang!"


Glek


Kirana menelan ludahnya dengan kasar, sudah di pastikan jika kekasihnya ini akan marah karena dia tidak jujur mengenai hutang keluarganya.