
Waktu bergulir cepat dan tidak terasa sudah berganti hari. Irene pun sudah pindah ke apartemen yang ada di perusahaan WG. Tadi malam ia pindah diantarkan oleh Sean dan Ansel.
Benar kata Nathan jika apartemen tersebut sangat aman dan nyaman untuk dirinya, selain itu harga sewanya pun murah. Dan orang yang akan masuk ke apartemen tersebut harus mempunyai kartu akses, dan orang yang ingin berkunjung harus menunggu dilobi terlebih dulu untuk melakukan Body Check.
*
*
Aiden siang itu berada di depan sebuah sekolah SMA terbaik dikota itu. Ya, seperti permintaan Gwen kemarin meminta untuk dijemput oleh dirinya.
Tidak berselang lama Bel sekolah itu berbunyi panjang dan bertanda jika jam pelajaran sudah selesai. Para murid berhambur keluar dari sekolah tersebut.
Aiden menatap seorang gadis cantik yang berlari menuju kearah mobilnya. Ya, saat ini dirinya memamg sedang menunggu gadis tersebut didalam mobil, karena cuaca disiang hari itu sangatlah panas.
Aiden membuka pintu mobil dari dalam saat Gwen mengetuk jendela mobilnya.
"Huh, panas banget ya, Om," ucap Gwen saat sudah duduk di jok, samping Aiden.
Aiden menatap Gwen hampir tidak berkedip. Tanpa sadar, pria itu terpesona akan kecantikan Gwen yang terlihat sangat natural ditambah lagi gadis itu memakai seragam SMA menambah kesan lucu dan menggemaskan.
Rambut Gwen yang tadinya terurai kini dicepol keatas karena dirinya merasa gerah, dan ia juga membuka dua kancing seragam sekolahnya tanpa memperdulikan Aiden yang melongo menatapnya tidak percaya.
Merasa diperhatikan, Gwen pun menoleh kearah Aiden. "Om ilernya netes tuh," celetuk Gwen, sambil menahan tawanya.
Dan dengan bodohnya Aiden mengelap kedua sudut bibirnya, seketika itu ia tersadar jika dikerjai oleh Gwen.
Gwen yang melihat tingkah Aiden pun tergelak keras. "Ha ha ha haa. Kenapa terpesona ya sama kecantikan aku yang paripurna ini?" Gwen mencondongkan badannya kesamping kanan, menatap Aiden penuh selidik sambil menaik turunkan alisnya. Terkesan meledek Aiden.
Aiden menonyor kening Gwen kebelakang. "Yang benar saja, aku terpesona sama gadis ingusan dan bau kencur kayak kamu!" jawab Aiden dengan kesal, lalu mulai menyalakan mobilnya.
Gwen mengerucutkan bibirnya tajam, seraya berdecak dengan kesal. "Yakin nggak terpesona? Tapi tadi, Om sampai nggak bekerdip dan melongo melihatku?" cibir Gwen.
"Dih! Pede sekali kamu!" sangkal Aiden, lalu melajukan mobilnya menuju perusahaanya.
Gwen mencebikkan bibirnya kesal, dan melirik tajam Aiden yang terlihat sedang fokus menyetir.
Beberapa saat kemudian terjadi keheningan didalam mobil tersebut, Aiden fokus menyetir mobil sedangkan Gwen merasakan perutnya yang mulai berdendang ria.
"Om, aku lapar. Belum makan siang," ucap Gwen, sambil memegangi perutnya yang sudah berdemo.
"Ck!" Aiden berdecak kesal menanggapinya.
"Dengar nggak sih?" tanya Gwen, sambil menusuk-nusuk lengan kekar itu.
"Iya!" jawab Aiden singkat, dan tidak berselang lama, ia membelokkan mobilnya menuju restoran cepat saji.
"Turun!" titah Aiden dengan nada datar, lalu keluar dari mobilnya dan di ikuti Gwen yang terus menggerutu sebal.
"Itu manusia apa batu es, sih!"
Aiden menoleh kebelakang lalu berdecak kesal dan berkacak pinggang menatap Gwen.
"Apa?" tanya Gwen dengan ketusnya lalu berjalan mendahului Aiden, namun langkahnya terhenti saat tangannya ditarik oleh pria tersebut.
"Benerin dulu baju kamu itu!" ucap Aiden manatap seragam Gwen yang berantakan dibagian dada. Terlihat belahan dada Gwen yang putih dan mulus, membuat Aiden menelan ludahnya dengan kasar.
"Ogah!" jawab Gwen, lalu menghempaskan tangan Aiden dengan kasar.
"Gwen!!!" kesal Aiden, dan menahan tangan Gwen lagi.
"Aku malas mengancingkan seragamku. Bagaimana kalau Om saja yang mengancingkanya?" Gwen memajukan dadanya kearah Aiden.
Glek
Aiden menelan ludahnya dengan kasar, dan mengumpat kesal didalam hati.
Gadis ini benar-benar membuatku naik darah terus!
Bilang saja nggak rela kalau Gwen dilirik sama cowok lain, dasar tukang gengsi! 🤣