My Hot ART

My Hot ART
Main rumah-rumahan



Malam hari telah tiba, kedua penghuni dipaviliun itu saling diam dan tidak bersuara.


Irene membenarkan kaca matanya yang melorot dari hidung mungilnya sambil menatap Sean yang sedang merokok didepan televisi. Ia berjalan mendekatinya dan duduk disamping Sean yang terlihat melamun.


Sean menoleh sesaat, lalu menyesap rokoknya lagi dan menghembuskan asap rokok itu dari hidungnya. Dalam hati, Sean tersenyum senang karena Irene memakai kaca matanya kembali.


"Se," panggil Irene pelan.


"Heum." Hanya deheman saja yang keluar dari bibir Sean, lalu melirik Irene dengan ekor matanya.


"Em ... aku minta maaf karena sudah merepotkanmu," cicit Irene, menundukkan kepalanya.


Sean mengernyit lalu menegakkan punggungnya, dan menatap Irene dengan serius. "Maksud lo apa?!" tanya Sean dengan nada tidak suka.


Irene merogoh kantong baju tidunya dan memberikan beberapa lembar uang berwarna merah kepada Sean. "Aku bukan bermaksud untuk merendahkanmu, tapi alangkah baiknya jika biaya hidup disini kita tanggung bersama-sama," ucap Irene pelan, karena tidak ingin membuat Sean tersinggung.


Sean hanya menatap uang yang ada ditangan Irene tanpa berniat menerimanya, lalu ia mematikan bara api yang ada diujung rokok itu dipermukaan asbak. "Simpen saja duit lo," tolak Sean, lalu mendorong tangan Irene yang memegang uang tersebut.


"Please, Se. Terima," ucap Irene, lalu memegang tangan Sean dan menatap dengan memohon.



Sean menatap tangan mungil itu yang menggenggamnya.Ia menghela nafasnya sejenak. Lalu menarik tangannya dan balik menggenggam tangan Irene membuat gadis itu terkejut.


Sean menatap Irene dengan dalam, lalu berkata. "Gue bilang simpen duit lo. Lagi pula gue msiah sanggup buat ngebiayain hidup lo, walaupun nggak mewah. You Know lah, kondisi gue sekarang," terang Sean.


Irene speechless saat mendengar perkataan Sean. Rasa hangat merasuk kedalam hatinya. "Se, kamu kok kayak calon suami idaman sih?" celetuk Irene, lalu menggigit bibir bawahnya, dan wajahnya bersemu merah


Sedangkan Sean langsung melepas tangannya, menggaruk lehernya, salah tingkah dan berdehem pelan untuk menetralisir degup jantungnya yang tidak beraturan.


Berasa kayak punya istri. Lanjut Sean, didalam hati.


"Emh, anggap saja begitu. Kita lagi main rumah-rumahan," jawab Sean, setelah berhasil mengatasi rasa gugupnya.


"Kenapa nggak rumah beneran, Se?" Pertanyaan Irene seperti memberi kode untuk Sean, akan tetapi gadis itu tidak menyadari jika pertanyaannya itu mengandung sebuah arti yang bermakna untuk Sean.


"Ya, nanti kalau gue udah mapan," jawab Sean, dan Irene menganggukkan kepalanya sambil tersenyum manis.


"Kamu sebenarnya orangnya baik, dan pasti akan mendapat istri yang baik juga nanti," ucap Irene, membuat Sean langsung masam.


Gue pikir dia kasih kode minta segera dinikahin, dasar nggak peka! Gerutu Sean didalam hati.


"Iya, pastilah. Calon istri gue juga harus cantik, Sexy, baik dan juga tinggi!" jawab Sean dengan perasaan kesal.


Irene tersenyum kecut mendengarnya.


Apalah dayaku, yang pendek dan burik ini. Batin Irene, melirik Sean yang saat ini fokus menatap televisi.


"Ya, aku tahu selera kamu memang tinggi!" jawab Irene, lalu beranjak dari duduknya dan berjalan menuju kamarnya dengan perasaan kesal.


"Dih, dia kenapa sih?" gumam Sean, menatap kepergian Irene dengan bingung, namun ia berusaha bersikap acuh untuk tidak memperdulikan Irene.


Gengsi pada digedein. Bikin Authornya gemes pengen nyubit mereka berdua.🤣


Bonus Visual Si burik dan Kadal buntung🤣