My Hot ART

My Hot ART
S2. Berbaikan



Xander dan Jeje menatap anak dan menantunya dengan perasaan bersalah, mereka benar-benar menyesali perbuatan mereka kepada Sean dan Irene. Saat mereka berempat berada di ruangan pribadi Xander.


Sedangkan Irene merasa takut dan menundukkan kepalanya, sembari menggenggam tangan suaminya yang bertaut di tangannya.


"Sean, Irene, kami minta maaf karena telah menyakiti hati kalian," ucap Jeje dengab tulus. "Sungguh, kami tidak bermaksud untuk membentak kalian berdua, terutama Irene, maafkan kami," lanjut Jeje penuh sesal.


"Kami juga sudah melupakan kejadian itu," jawab Irene pelan, dan sedikit mengangkat kepalanya, namun masih menundukkan pandangannya karena ia takut menatap kedua mertuanya itu.


"Iya, yang di katakan istriku benar Tuan dan Nyonya, jika kami sudah memaafkan kalian," ucap Sean, membuat jantung kedua orang tuanya berdetak dengan cepat karena Sean memanggil kedua orang tuanya dengan sebutan Tuan dan Nyonya?


"Sean, kenapa memanggil kami seperti itu?" Jeje sudah tidak kuasa menahan tangisnya.


"Karena aku bukan bagian keluarga ini lagi," jawab Sean dengan tenang.


"Sampai kapan pun, kamu adalah anak Daddy dan Mommy! Kamu adalah putra kedua keluarga Clark dan tidak ada yang bisa merubahnya! Paham!" tegas Xander kepada putranya.


"Daddy dan Mommy benar-benar meminta maaf kepada kalian, kami menyesal karena sudah membuat hati kalian terluka, kami adalah orang tua yang bodoh dan juga egois," lanjut Xander penuh dengan rasa sesal.


Sean menatap Daddy-nya dengan perasaan gamang, baru kali ini dirinya melihat wajah Xander penuh dengan kesedihan.


"Kami sudah memaafkan, Daddy dan Mommy," jawab Irene sembari mengulas senyum tipis.


Irene mendongak seraya menatap suaminya yang juga tengah menatapnya, tatapan mata mereka seolah berkata 'ayo kita akhiri semua ini' .


"Benarkah itu?" Jeje tersenyum bahagia tapi juga sangat terharu, sembari menatap anak dan menantunya bergantian, begitu pula dengan Xander melakukan hal yang sama.


Irene dan Sean mengangguk bersamaan, membuat Xander dan Jeje tersenyum bahagia.


"Tapi, aku tidak mau kembali di perusahaan, jangan memaksaku," ucap Sean kepada kedua orang tuanya.


"Iya, tentu saja, Daddy dan Mommy tidak akan memaksa kalian lagi. Maafkan kami karena terlalu egois," jawab Xander kepada putranya itu.


"Kami mendukung usaha kalian yang sedang kalian rintis," lanjut Jeje sembari tersenyum tipis.


"Terima kasih, Dad, Mom," jawab Irene dan Sean bersamaan.


*


*


*


"Kalian para wanita selalu saja Kepo," sahut Aiden sembari merangkul pundak istrinya dengan mesra.


"Bukan Kepo, tapi hanya ingin tahu saja," jawab Gwen sembari menyentakkan tangan suaminya yang bertengger di pundaknya.


"Itu namanya sama saja Sayang," jawab Aiden, kini beralih mengelus perut buncit istrinya.


"Beda!" ketus Gwen kepada suaminya.


"Sudah ... Sudah ... Kamu tidak akan pernah menang melawan makhluk Tuhan yang bernama wanita," sela Ansel yang baru bergabung di ruang tengah.


"Ya, kamu benar, wanita adalah makhluk Tuhan yang Maha benar," jawab Aiden membenarkan perkataan saudara kembarnya.


"Ck!" Gwen dan Melisa berdecak kesal bersamaan sembari menatap sebal para suaminya.


Tidak berselang lama, Sean dan Irene keluar dari ruang pribadi Xander dan bergabung di ruang tengah bersama para saudaranya.


"Bagaimana?" tanya Aiden kepada Sean.


"Semua baik-baik saja," jawab Sean sembari tersenyum simpul.


"Syukurlah, aku merasa senang." Ansel menimpali, sembari mengelus perut buncit istrinya.


"Lalu di mana Nathan dan juga Kirana?" tanya Irene kepada semua orang yang ada di sana.


"Mereka sibuk dengan anak kembarnya yang super duper rewel dan juga cengeng, ingin sekali aku mencubit pipi gempul mereka," jawab Gwen geram dengan dua keponakan kembarnya yang semakin hari semakin pintar dan menggemaskan.


*


*


*


Maaf baru update ya, lagi sibuk di dunia nyata🤣


Jangan lupa kasih dukungannya ya, like, komentar dan Vote❤❤