
Sean dan Irene duduk di sofa ruang tamu, menunggu kedatangan Jeje dan Xander.
Dan tidak berselang lama, yang mereka tunggu akhirnya datang dan menghampirinya.
Sean dan Irene langsung berdiri menyambutnya, berjabat tangan seraya mengecup punggung tangan Xander dan Jeje bergantian.
"Duduklah, apa kalian lama menunggu?" tanya Xamder, seraya mempersilahkan duduk anak dan calon menantunya.
Jeje menatap putranya dengan penuh kerinduan, bahkan kini matanya mengembun. Dan ingin sekali, ia memeluk putranya untuk melebur rasa rindu karena sudah lama tidak berjumpa. Kejam? Mungkin iya, akan tetapi Jeje melakukan semua itu, agar putranya lebih kuat dan mandiri. Terbukti! Saat ini putranya sudah menjadi pria yang lebih baik dan sangat mandiri.
"Tidak, Tuan. Kami baru saja sampai." Irene yang menjawab, sedangkan Sean hanya diam sembari menatap kedua orang tuanya bergantian, untuk melepas rasa rindunya.
"Kalian apa kabar, dan kamu, Se?" tanya Jeje, menatap Sean dan Irene bergantian.
"Kami baik, Nyonya, dan seperti yang anda lihat." Lagi-lagi Irene yang menjawab, karena sejak tadi bibir Sean terkunci rapat tidak mengeluarkan sepatah kata apapun.
Irene menyenggol kaki Sean, agar pria itu mengutarakan niat mereka datang menemui kedua orang tuanya.
Sean berdehem sejenak, sebelum membuka suara. "Maaf sebelumnya, jika kedatangan kami kesini mengganggu waktu Daddy dan Mommy. Emhhh ... ," ucapannya terjeda sejenak, merasa gugu, lalu ia menarik nafas panjang, barulah melanjutkan perkataannya.
"Tentu tidak mengganggu sama sekali, Sayang," jawab Jeje, menatap putranya penuh kerinduan.
"Terima kasih, Mom, Dad. Niatku kesini untuk meminta restu kepada kalian. Kami, lusa akan menikah dan kami harap kalian biasa datang ke acara hari penting dan bersejarah kami," ucap Sean dengan lugas.
Jeje dan Xander terkejut mendengarnya, bahkan Jeje sampai membekap mulutnya, tidak percaya. Menitihkan air mata, ada rasa haru dan bahagia bercampur menjadi satu.
"Kalian menikah? Kenapa, tidak memberitahu Daddy? Kami sebagai orang tua, pasti akan menyiapkan yang terbaik untuk kalian," ucap Xander, menatap Sean dan Irene bergantian.
Sean menggeleng pelan. "Saya, bisa melakukannya sendiri, Dad. Walaupun sederhana, yang terpenting, saya bisa menghalalkan Irene secara hukum dan agama," ucap Sean, sembari menggenggam tangan Irene dengan lembut.
Air mata Jeje dan Irene menetes bersamaan, kala mendengar perkataan Sean yang begitu tulus.
Irene segera menghapus air matanya, lalu membalas nggenggaman tangan Sean. Ia menangis bahagia dan juga bangga kepada Sean. Ia sebagai saksi hidup Sean yang berjuang keras hidup diluar sana.
Sedangkan Jeje, merasa sedih tapi juga ada rasa bangga kepada putranya. "Sekarang kamu sudah semakin dewasa, Sean. Mommy menyetujui hubungan kalian. Dan maafkan Mommy, karena selama ini mengabaikanmu." Jeje berucap dengan suara yang bergetar. Xander mengelus punggung istrinya dengan lembut.
"Mommy bangga kepadamu," lanjut Jeje.
"Thank, Mom," jawab Sean, seraya tersenyum lembut ke arah ibunya.
"Daddy juga minta maaf, karena sudah terlalu keras kepada kamu. Tapi, semua yang Daddy lakukan demi kebaikanmu, agar kamu kembali kejalan yang benar, Daddy bangga kepadamu, Nak," ucap Xander, dengan peraasaan yang bahagia dan juga terharu.
Tentu Xander tahu perjuangan putranya, karena ia diam-diam mengirimkan Bodyguard untuk mengawasi Sean jika berada di luar Paviliun.
"Thank You, Dad. Jika kalian tidak menghukum saya, mungkin saya tidak akan berada di sini duduk bersama Irene," jawab Sean, seraya menatap kekasihnya yang juga tengah menatapnya. Kemudian keduany itu saling melempar senyuman.
"Ada hikmahnya di balik musibah. Come on Boy! Hug Daddy." Xander merentangkan kedua tangannya.
Mata Sean berair, kemudian dengan segala rasa, ia beranjak dan memeluk Sang Ayah dengan erat, saling menepuk punggung.
Kemudian beralih memeluk Sang Ibu, yang sangat-sangat ia rindukan. "Mommy sangat merindukamu, Se, dan juga aroma parfummu ini. Maafka Mommy jika selama ini, belum bisa menjadi ibu yang baik, untukmu," ucap Jeje, menu mpahkan air matanya, dipelukan sang anak.
"No, Mom. Mommy adalah ibu yang terbaik di dunia," jawab Sean, mengeratkan pelukannya. Merasakan kehangatan pelukan dari ibunya yang sudah lama ia rindukan.
Pelukan terurai, kini bergantian, Jeje memeluk Irene dan mengucapkan banyak terima kasih, karena selama ini sudah menemani perjalanan Sean. Xander hanya mengusap pucuk kepala Irene dengan lembut, dan tidak lupa mengucapkan terima kasih.
Sawer mana saweraan mau joget nih💃💃💃