My Hot ART

My Hot ART
Menyesal



Nathan merebahkan diri diatas tempat tidur berbantalkan salah satu lengannya, dan salah satu lengannya lagi menjadi bantalan kepala Kirana.


"Mas, apa Sean akan baik-baik saja?" tanya Kirana, matanya menatap langit-langit kamarnya. Membayangkan Sean dengan segala kemanjaannya dan biasa hidup mewah harus kehilangan semuanya. Pasti sangat berat. Pikir Kirana.


Bagaimana pun juga dia merasa kasihan dengan kasus yang menimpa Sean.


Nathan menarik tangannya yang ia jadikan bantal kepalanya, lalu memeluk tubuh istrinya dengan erat. "Dia pasti akan baik-baik saja," jawab Nathan, lalu mengecup bibir Kirana sekilas.


"Tapi ..."


"Stttt. Jangan pikirkan. Biarkan ini menjadi pelajaran untuknya. Lagi pula Daddy tidak akan sekejam itu kepada Sean. Semua yang beliau lakukan demi kebaikan Sean sendiri," jelas Nathan, seraya menarik selimut untuk menutupi tubuh keduanya.


Ya, walaupun Xander mendidik anaknya dengan keras dan penuh ketegasan, namun Xander adalah sosok ayah yang hangat dan menyayangi putra-putranya.


Kirana menganggukkan kepalanya, lalu menenggelamkan wajahnya didada bidang yang polos itu.


Nathan mengusap-usap punggung Kirana dengan lembut hingga istrinya itu terlelap dalam tidurnya.


Tidak berselang lama ponselnya yang tergeletak diatas nakas bergetar menandakan jika ada pesan masuk. Diambilnya ponsel tersebut dan membuka notifikasi pesan.


Aku butuh bantuanmu, please!


Nathan menghembuskan nafasnya dengan kasar usai membaca pesan tersebut, lalu ia menarik tangannya yang dijadikan bantalan istrinya dengan sangat pelan agar Kirana tidak terbangun.


"Hufft." Nathan mengibaskan tangannya yang terasa kebas, lalu ia beranjak dari tempat tidur dan berjalan menuju balkon sembari membawa ponselnya.


Ponselnya bergetar lagi namun kali ini bergetar panjang bertanda jika ada panggilan masuk.


"Othan! Aku butuh bantuanmu! Aku membutuhkan uang untuk melanjutkan hidupku, please! Aiden dan Ansel tidak mau membantuku. Sekarang kamu lah harapanku satu-satunya, please. ATM ku di blokir semua oleh daddy," jelas seorang pria diseberang sana yang tak lain adalah Sean.


"Bagaimana ya? Aku bukannya tidak mau membantumu. Tapi, daddy lebih dulu mengancam kami," jawab Nathan tidak berbohong, karena sebelumnya Xander sudah memberikan ultimatum kepadanya juga kepada dua saudarannya.


Terdengar umpatan dari seberang sana.


"Lalu aku harus bagaimana? Uang cash di dompetku tinggal satu juta," keluh Sean, di ujung telepon sana sangat resah.


"Cari kerja Se! Coba saja melamar kerja ke perusahaan lain, tapi semoga daddy tidak memasukan namamu ke daftar hitam, jika itu terjadi kelar hidupmu!"


"Kamu jangan menakut-nakuti aku! Sialan!" umpat Sean, di ujung telepon sana.


"Aku berkata apa adanya. Karier model yang kamu ajak indehoi saja sudah dihancurkan oleh daddy," jelas Nathan lagi, semakin membuat Sean bertambah resah.


"Sudah ya, kamu ini mengganggu waktu pengantin baru saja. Apa kamu tidak tahu jika aku habis belah duren. Beuhh rasanya nampol dan sangat mantap kalau sudah halal," ucap Nathan memanasi sekaligus menyindir saudaranya itu.


"Sialan!" maki Sean, lalu mematikan sambungan teleponnya secara sepihak.


Nathan terkekeh saat melihat layar ponselnya mulai meredup. "Sorry, Se. Semoga dengan hukuman yang kamu terima ini bisa membuatmu berubah, Amin," gumam Nathan, lalu memasuki kamarnya lagi dan tidak lupa menutup pintu balkon tersebut.


Sedangkan Sean yang berada di dalam kamar paviliun mengumpat kesal sambil meninju bantal berulang kali.


"Arghhhh!!!" teriak Sean dengan keras, melampiaskan kekesalan dan juga penyesalannya.


Nikmati dulu hukumanmu, Se. 🤣