
Masih Warning ya!! Hotnya jadi level 100!🤣🙈
Setelah puas bermain di belahan daging itu, Ansel mulai memposisikan dirinya. Ansel yang terlihat manja dan polos. Tapi jika masalah ranjang, ia tidak sepolos itu, karena ia sering menonton film laknat saat berada di kamarnya.
Ah, Ansel nacall kamu ya. Kecup bibirnya nih. 😚
"Eughh." Melisa melenguh dan mendesis enak, ketika Ansel menggesekkan kepala Si Jono di permukaan kue apem itu, sebelum membenamkannya ke dalam sana.
"Ah, sakit. Ans!" Melisa memekik, sambil mencengkram sprei yang di bawah sana dengan kuat, saat merasakan sedikit robek di dalam sana. Mungkin karena sudah lama tidak di pakai, bagian intinya kembali mengecil.
Ansel menghentikkan gerakannya, menatap Melisa yang terlihat kesakitan. Merasa Melisa lebih rileks, ia menghujamkan senjatanya lagi dengan dua kali hentakkan.
"Arghhhh!" Ansel menggeram saat senjatanya sudah tertanam sempurna di dalam sana. Terasa hangat, nikmat dan berkedut.
"Mel, ini sangat nikmat sekali. Ouh ... ya ampun." Ansel mendesis, sembari mendongakkan kepalanya dan menggerakan pinggulnya perlahan kala rintik-rintik kenikmatan itu mulai menjalar ke seluruh persendian tubuhnya.
Melisa pun sama memejamkan matanya, menikmati rasa nikmat yang sudah lama tidak ia rasakan. Apalagi milik Ansel sangat besar dan panjang, berbeda dengan punya mantan suaminya dulu.
Ansel menundukkan kepala, seraya meraup bibir Melisa dengan sangat rakus, dan terus menghujam bagian inti Melisa dengan kecepatan sedang.
Ansel benar-benar menikmati milik Melisa yang begitu sempit dan menggigit, padahal Wanita itu sudah pernah melahirkan seorang anak.
"Oh, Shiit! Ini terlalu nikmat! Pantas saja Nathan dan Sean sangat betah berlama-lama dengan istrinya," batin Ansel sambil terus menghujam Melisa.
Ansel berjanji pada dirinya sendiri, setelah ini akan menikahi Melisa. Dia bukan pria brengsek yang akan pergi begitu saja setelah mendapatkan kenikmatan. Walau pun status Melisa Janda anak satu, Ansel tidak mempermasalahkannya. Ia sudah menyelidiki latar belakang Melisa, jadi ia tahu jika wanita yang ada di bawah kungkungannya itu adalah wanita baik-baik.
Melisa menatap wajah Ansel yang terlihat sangat tampan saat menggagahinya. Tangannya terulur membelai wajah tampan itu, dan beralih membelai dada bidang yang kekar itu.
Ansel tersenyum menanggapinya, lalu mengecup bibir Melisa sekilas, dan ciumannya itu berpindah ke bukit kembar dan menyesap pucuk bukit itu bergantian, tidak lupa meninggalkan jejak pendakiannya disana. Melisa menggeliat dan terus mendesah di bawah kungkunganya.
Melisa menghentikan pergerakan Ansel, membuat pria itu berkerut heran. "Ada apa?" tanya Ansel.
"Gantian, aku yang di atas," ucap Melisa.
Ansel tersenyum dan bersorak dalam hati, ia langsung berpindah posisi tanpa mencabut penyatuannya. Saat Ini Ansel sudah berada dibawah dan Melisa berada di atas tubuhnya, dan mulai bergerak naik turun, membuat Ansel merem melek ke enakan.
"Uh ... Mel .." Ansel mengerang sambil meremat pepaya gantung yang ada di depan matanya. Melisa terlihat sangat cantik dan sexy ketika bergoyang cendol diatas tubuhnya. Apalagi pepaya gantungnya itu bergelayutan seirama dengan gerakannya naik turun.
Ansel tidak mau kalah, ia menyodok dari bawah sana sehingga Melisa memekik nikmat tiada tara. Ansel dan Melisa terus mendesah, suara mereka tenggelam dalam suara hujan yang terdengar sangat deras. Udara yang sejuk tidak mampu mendinginkan tubuh keduanya yang terasa panas. Keduanya melakukan penyatuan dengan berbagai macam gaya.
Setelah hampir 1 jam bercinta, akhirnya mereka sampai pada pelepasan pertama dengan gaya DG. style.
"Jangan di keluarkan di dalam Ans!" Melisa memperingatkan Ansel, namun pria itu tidak mendengarkannya. Ansel menghentakkan dengan kuat dan menghujamkan kepala Si Jono sampai ke titik yang terdalam memuntahkan lahar panasnya didalam rahim Melisa.
"Ugh!!" Ansel memaju mundurkan senjatanya sampai tuntas setelah itu, ia baru mencabut penyatuannya dan merebahkan tubuhnya diataa tempat tidur sambil mengatur nafasnya.
"Kenapa di keluarkan didalam?" Melisa protes, seraya beranjak dari tempat tidur, namun gerakannya di cegah oleh Ansel.
"Mau kemana?" tanya Ansel sambil memegangi tangan Melisa.
"Mau ke kamar mandi, ingin mengeluarkan pasukan kecebong mu!" jawab Melisa dengan ketus.
"Tidak perlu, Mel. Setelah ini, aku akan menikahimu," ucap Ansel, lalu menarik Melisa ke dalam pelukan hangatnya.
"Maafkan aku, karena sudah khilaf terlalu dalam, Mel. Aku bukan pria brengsek yang akan pergi begitu saja. Apa lagi, aku sudah menumpahkan benih premiumku di dalam rahimmu. Biarkan mereka tumbuh disini dan menjadi bayi yang lucu-lucu. Mungkin ini sudah jalan kita, untuk bersama. Ya, walaupun kita belum mengenal satu sama lain, tapi aku yakin jika kamu adalah wanita yang baik," ucap Ansel, seraya mengusap perut Melisa yang masih rata itu.
"Bayi yang lucu-lucu?" batin Melisa. Hatinya menghangat mendengarnya.
"Ans, aku tidak tahu harus berkata apalagi. Aku tidak percaya jika kamu adalah pria yang sangat baik. Tapi, disini aku juga salah, karena tidak mampu menahan hasratku. Aku rasa kamu tidak perlu bertanggung jawab, karena aku hanyalah seorang janda sedangkan kamu ..."
"Stttt! Aku tidak mempermasalahkan statusmu. Dan kita sama-sama Khilaf, Mel. Aku juga minta maaf. Dan aku serius dengan ucapanku, akan menikahimu," ucap Ansel, dengan lembut seraya menatap Melisa dengan dalam.
"Ans ... ." Melisa meneteskan air matanya, sebagai seorang wanita dia sangat tersanjung, terharu dan merasa sangat di hargai.
"Jangan menangis, Mel." Ansel mengusap air mata Melisa dengan lembut.
"Terima kasih, Ans," ucap Melisa dengan sangat tulus. Ansel mengangguk lalu mengecup bibir Melisa sekilas dan beralih menyesap pucuk dada itu dengan gemas, membuat Melisa menggeliat.
"Ans .. sudah." Melisa mendorong kepala Ansel, agar tidak melanjutkan aktifitas di dadanya.
"He he he, benar kata Zahra, kalau susu kamu itu sangat enak dan juga bikin nagih," ucap Ansel terkekeh geli dan langsung mendapat pukulan dari Melisa.
"Mulutmu dijaga Ans! Kalau di dengar Zahra bisa bahaya," kesal Melisa segera beranjak dan memunguti pakaiannya.
"Mel ... satu kali lagi, Yuk!" ajak Ansel, sambil menoel kepala Si Jono yang bangun lagi.
"Nggak!!"
"Ayolah, Mel. Biar nggak tanggung bikin dosanya. Yuk!" rengek Ansel lagi.
"Nggak!" Melisa tetap keukeuh.
Ansel beranjak dan langsung menggendong tubuh Melisa dan menghempaskannya diatas tempat tidur, membuat wanita itu memekik tertahan. "Ansel!!" Melisa memberontak ketika sudah berada di bawah kungkungannya.
"Satu kali lagi," ucap Ansel, membuka kedua kaki Melisa dengan lebar dengan cepat, lalu melesakkan senjatanya ke dalam sana.
Ronde kedua pun di mulai. Melisa yang awalnya menolak kini menikmati dan mendesah tidak karuan.
Gerakan mereka terhenti, saat mendengar ketukan pintu dari luar kamar.
"Mama, sama Om Tampan didalam? Ma, rumahnya banjir!!" teriak Zahra, di iringi dengan suara ketukan pintu.
"Iya, Sayang. Mama dan Om lagi main congklak," jawab Melisa asal.
"Ans! Cepat cabut!" kesal Melisa.
"Sebentar lagi, Mel. Oh, nikmat sekali." Ansel tetap memaju mundurkan pinggulnya tanpa mendengarkan ucapan Melisa.
Plak!
Saking kesalnya, Melisa sampai memukul punggung Ansel dengan kuat. Barulah pria itu melepas penyatuannya, dengan wajah yang di tekuk kesal.
"Mama!! Air nya semakin naik!" teriak Zahra lagi.
Dobrak pintunya, Zahra. 🙈🤣