My Hot ART

My Hot ART
Kamu mau dipipisin?



Hug me and kasih bunga sekebon singkong, biar Emak semakin semangat. ❤


Sampai dipaviliun Irene dan Sean masih seperti kucing dan tikus yang terus berdebat.


"Bisa diem nggak sih, Lo!" kesal Sean kepada Irene yang sejak tadi tidak duduk tenang selama diperjalanan dan sampai didepan paviliun.


"Apa? Minggir sana! Aku mau masuk, pengen pipis!" jawab Irene, ingin turun dari motor tapi dia tidap bisa. Terlalu tinggi.


Sean turun dari motor lalu membuka pintu pavilun yang berwarna coklat itu tanpa memperdulikan Irene yang masih nangkring diatas motor.


"Sean!!!" teriak Irene, saat dirinya ditinggal begitu saja.


Tidak berselang maa Sean keluar dari dalam pavilun itu dengan wajah yang teramat kesal. "Apa lagi!" tanya Sean, sewot.


"Turunin," rengek Irene lalu mengulurkan kedua tangannya seperti anak kecil yang minta digendong.


"Nyusahin banget banget sih!" Walaupun kesal, ia tetap menghampiri Irene dan menurunkan gadis itu dari motor. "Minum Susu kambing biar cepat tumbuh tuh tulang! Dasar pendek!" kesal Sean, lalu masuk kedalam paviliun lagi dan diikuti Irene dari belakang.


"Biar pendek yang penting imut dan cantik, nggak kayak kamu!" ucap Irene membanggakan diri, sekaligus mencibir Sean.


"Aku kenapa?" Sean menunjuk dirinya sendiri.


"Kamu memang ganteng, tinggi ... ." Irene menjeda ucapannya saat melihat Sean menyisir rambut sembari berdehem pelan, sok kegantengan.


"Tapi sayangnya tidak perjaka," lanjut Irene.


NGEK


Sean yang sudah merasa diatas awan karena Irene memuji ketampanannya, langsung terhempas didasar samudera.


"Ha ha ha haa." Irene tertawa terbahak saat melihat ekpresi wajah Sean yang terlihat Syok.


"Awas lo!" Sean mengejar Irene yang sudah melarikan kedalam kamar.


Irene secepat mungkin berlari saat Sean mengejarnya.


BRAK


Irene memasuki kamarnya dan menutup pintu kamar tidak lupa menguncinya.


"Aduh, selamat dari amukan banteng." Irene mengelus dadanya sendiri.


Sedangkan diluar kamar, Sean mengumpat kesal dan hampir saja hidung mancungnya bertabrakan dengan pintu kamar tersebut.


*


*


*


Irene membuka pintu kamarnya sedikit lalu menyembulkan kepalanya keluar. "Aman," gumamnya, saat tidak melihat pergerakan dari Sean. Kemudian ia keluar dari kamar sambil membawa handuk, dan baju ganti karena ia akan membersihkan diri. Berhubung kamar mandi dipaviliun itu hanya ada satu dan letaknya ada dibelakang tepatnya didekat dapur. Maka dia harus mandi bergantian dengan Sean.


Irene berjalan berjingkat agar tidak menimbulkan suara. "Semoga tukang celup tidak keluar kamar sampai aku selesai mandi," gumam Irene sambil membuka pintu kamar mandi.


"Eh, kok nggak bisa ditutup lagi, ya?" Irene kesulitan saat menutup kamar madi tersebut. "Sudahlah, mandi sebentar ini." gumamnya lagi dan membiarkan pintu kamar mandi itu tidak tertutup dengan sempurna.


Sementara itu, Sean berjalan menuju kamar mandi karena ingin buang air kecil. Ia membuka pintu kamar itu perlahan dan matanya membola saat melihat sesuatu keindahan yang sangat sempurna.


"WOW," celetuk Sean. Membuat Irene yang sedang menyabuni tubuhnya menegang dan membola sempurna, ia perlahan menoleh kearah pintu. Dan .....


"HUWAAAAAAAAAA! Sean!!!!!" Irene berteriak keras dan segera menyambar handuk lalu melilitkan ketubuhnya. Ia manatap tajam pria yang masih berdiri ambang pintu kamar mandi itu.


"Kamu nggak punya sopan santun, ya?" kesal Iren, wajahnya sudah memerah karena marah dan juga ingin menangis.


"Sorry. Lagian salah lo sendiri pintu kamar mandi tidak ditutup," jawab Sean santai, lalu berjalan masuk kamar mandi.


Irene memundurkan langkahnya saat melihat Sean berjalan mendekatinya. "Kamu mau apa?" tanya Irene sudah merasa panik dan takut karena dirinya sudah tersudut.


"Mau pipis, kamu mau dipipisin?" goda Sean, lalu menurunkan sedikit celananya dan buang air kecil di closet yang ada didepannya tanpa malu sedikitpun.


Irene membuang muka dan wajahnya semakin memerah. Apalagi sekilas ia melihat sesuatu yang menyembul keluar dari celana tersebut.


Dasar tidak punya otak! Maki Irene didalamm hati, ingin rasanya ia mencekik leher Sean saat itu juga.


"Sekarang kita impas!" ucap Sean, membasuh miliknya dengan air lalu menaikan celananya. Dan keluar dari dalam kamar mandi seraya mengulas senyum.


"Ya!!! Dasar sialan, tukang celup, penjahat kelamin!!!" maki Irene sudah tidak tertahan.


Sean kamu nakal banget sih? Tak cubit nih ginjalnya. 😆


Agar kesel sama tingkah Sean yang gila.


Visual Irene yang gemesin dan akan bikin dunia abang Sean jungkir balik.