
Sean menatap Irene dengan tatapan tajam, dan yang ditatap hanya diam dan menundukan wajahnya dengan lesu.
"Gue sudah berulang kali mengatakan sama lo, jangan keluar dari paviliun ini kecuali untuk bekerja!" tegas Sean, yang masih memarahi Irene.
"Aku hanya membersihkan halaman yang kotor itu, apa salah?" lirih Irene dengan suara bergetar, menahan tangis.
Sean mengusap wajahnya dengan kasar. "Bukan itu masalahnya! Gue hanya takut jika keluargaku melihat lo ada disini. Bisa mati gue!!" ucap Sean, sembari mengacak rambutnya dengan kasar.
"Se, jika itu terjadi aku akan membantumu untuk menjelaskan. Kamu sudah baik menolongku," jawab Irene, seraya menghapus sudut matanya yang berair.
"Penjelasan lo itu tidak berarti untuk mereka, karena mereka tidak akan mau mengerti dan tidak mau tahu!" balas Sean.
"Maaf," cicit Irene, lalu menundukkan kepalanya lagi. Karena tidak akan menyangka tindakannnya yang sepele bisa berdampak sebesar itu.
"Apakah nanti hukumanmu akan bertambah?" tanya Irene, mengangkat kepala dan menatap Sean yang terlihat cemas.
"Tentu saja iya! Lebih buruknya lagi gue akan dipaksa menikahin lo. Gue yakin itu!" jawab Sean, langsung mendapatkan pelototan dari Irene.
"Maksudmu aku ini gadis buruk begitu?!" Irene tidak terima dengan pernyataan Sean.
"Tentu saja iya! Apa lo nggak sadar diri kalau lo ini buruk, pendek, burik dan juga cupu!" balas Sean, begitu menohok dihati Irene.
"Aku juga tidak sudi jika dipaksa menikah denganmu! Tukang celup! Penjahat kelamin dan tidak perjaka!!!" ucap Irene dengan menggebu, dadanya naik turun dan menatap Sean dengan sengit.
Seketika itu Sean langsung bungkam dan menatap wajah Irene yang terlihat merah karena marah, dan ia baru tersadar telah menyinggung perasaan Irene, tapi dia berusaha untuk menyembunyikan rasa bersalahnya itu. Terlalu gengsi.
Irene yang merasa kesal lalu memasuki kamarnya meninggalkan Sean yang masih mematung diruang tamu.
"Apa gue keterlaluan?" gumam Sean, menatap pintu kamar Irene yang sudah tertutup rapat.
*
*
*
"Kenapa hatiku terasa sakit? Padahal dulu dia sering mengatakan hal yang sama seperti itu," ucap Irene dengan lirih, disela tangisnya.
Irene menghapus air matanya, lalu ia beranjak menuju meja rias yang terletak disisi kiri kamar tersebut. Ia menatap dirinya dipantulan cermin yang ada dihadapannya.
"Aku memang jelek, pantas saja di umurku yang 21 tahun ini aku tidak kunjung mendapatkan jodoh," gumam Irene, lalu melepaskan kaca matanya dan meletakkan di meja rias tersebut.
"Dan seharusnya aku tidak bersikap berlebihan menanggapi perkataan Sean. Dia benar jika aku jelek, pendek dan cupu," gumamnya lagi, sadar diri dengan kondisi fisik dan juga penampilannya.
"Apakah aku harus merubah penampilanku?"
Kemudian Irene mengambil pouch make-up nya sekaligus ponselnya yang ada di atas meja rias tersebut.
Pertama yang dia lakukan adalah membuka aplikasi Youtube dan mencari konten 'Tutorial make-up.'
Setelah itu, ia membuka pouch make-up nya yang berisi bedak dan lipstik saja. Ia mendesah kecewa lantaran tidak mempunyai alat make-up lengkap. Kemudian ia mengambil ponselnya lagi dan membuka aplikasi belanja online, ia memesan alat make-up dan juga softlens.
Sedangkan diluar kamar. Sean tampak mondar-mandir dengan perasaan bersalah dan juga resah. Berulang kali tangannya menggantung bersiap untuk mengetuk pintu kamar tersebut, namun ia mengurungkannya.
"Argghh!!! Bagaimana caranya meminta maaf kepadanya?" Sean mengacak rambutnya frustasi, tidak pernah dia mengalami perasaan yang seperti ini.
Satu kalimat buat Sean!
Makan tuh gengsi!!! 🤣