
Sebelum lanjut, tolong baca part 136 yang telat review, terima kasih semuanya.❤
Balik lagi ke-kediaman Keluarga Clark.
Oma Airin dan Jeje sangat lah heboh saat Kirana positif hamil. Ya, beberapa saat yang lalu mereka baru saja pulang dari rumah sakit untuk melakukan USG rahim Kirana.
"Duh, senengnya," ucap Jeje sangat berbinar sambil mengelus perut menantunya. Saat ini mereka sedang berada diruang keluarga.
"Kita harus merayakan kebahagiaan ini," ucap Oma Airin bersemangat.
"Jangan aneh-aneh lagi, Mom!" tegur Xander. Ia masih mengingat kejadian beberapa puluh tahun yang lalu saat mendengar Raya putri sulungnya hamil, langsung mengadakan pesta dengan para pelayan yang ada dirumah tersebut. Joget dangdut hingga goyang ngecor dan ngebor. Membuat pinggang Oma Airin sampai encok beberapa hari.
"Memangnya aku mau melakukan apa? Aku hanya ingin membagikan rejeki kepada anak yatim piatu, agar mereka turut merasakan kebahagiaan yang tengah kita rasakan ini," jelas Oma Airin, dan niat baik tersebut langsung disetujui oleh semua orang yang ada di sana.
Ah, Kirana sampai berkaca-kaca dibuatnya, karena merasa sangat beruntung mendapatkan keluarga sebaik keluarga Clark.
Terima kasih Tuhan atas segala rasa nikmat dan kebahagiaan yang telah engkau berikan kepada kami semua. Batin Kirana, sangat terharu.
"Nathan, kamu sudah menghubungi kedua mertuamu?" tanya Xander, dan disambut gelengan kepala oleh putranya.
"Kamu bagaimana sih?! Hubungi sekarang dan katakan pada mereka jika Mommy rindu dengan Ibunya Kirana,'' sahut Jeje kesal dengan putranya.
"Iya, Mom, iya. Tapi, sebelum itu aku harus membawa istriku untuk beristirahat," ucap Nathan, lalu meenggendong istrinya menuju kamar mereka yang ada dilantai dua.
"Ingat pesan Dokter Ciky jangan main jungkat-jungkit terus karena kandungan istrimu masih sangat lemah," seru Jeje, mengingatkan putranya yang akan masuk kedalam lift.
"Hei, itu hanya perkataan dari dokter saja. Aku rasa jika melakukannya dengan perlahan dan tidak mengeluarkan vla pudingnya didalam rahim, semua akan baik-baik saja. Tapi, jangan melakukannya setiap hari, cukup satu minggu 2 kali," sela Xander membela putranya. Karena sebagai seorang pria, ia pernah merasakan betapa tersiksanya menahan hasrat.
"Dad!" seru Jeje, berkacak pinggang dan melotot horor kearah suaminya.
"Kamu semakin cantik jika sedang marah seperti itu, Honey," ucap Xander seraya terkekeh pelan, sedangkan Jeje mencebikkan bibirnya namun juga menahan senyumannya.
"Mom!" kesal Xander, sambil memutar kedua bola matanya dengan malas.
"Thank you, Dad!" seru Nathan, saat pintu lift akan tertutup rapat.
"Sama-sama, Boy!" balas Xander, sambil mengangkat salah satu tangannya.
"Daddy memberi contoh yang tidak baik buat Nathan, bagaimana jika Nathan membuat menantu kita lemas, lunglai dan tidak berdaya? Oh, ya ampun!" Jeje berseru heboh, sembari menangkup wajahnya yang terlihat cemas.
"Nathan tidak akan seperti itu, dia tahu batasannya. Bagaimana jika kamu saja yang aku buat lemas dan lunglai?" goda Xander, langsung mendapat pukulan dari Oma Airin.
Tuk
Tuk
Tuk
Oma Airin memukul kepala putranya dengan tongkat, hingga membuat Xander memekik kesakitan.
"Mommy!"
"Apa?! Dasar tua-tua keladi, semakin tua semakin tidak tahu diri!" jawab Oma Airin kesal, lalu beranjak dari duduknya dan menuju kamarnya.
"Dasar nenek rempong!" balas Xander tanpa suara.
Jeje hanya terkekeh pelan saat mendengar perdebatan itu.
Vote ya votenya mana? Dan jangan lupa tinggalkan likenya.