My Hot ART

My Hot ART
Happy Days Ansel & Melisa



Hari pernikahan Ansel telah tiba. Hanya menikah di sebuah Gereja terbesar di kota tersebut, karena semua serba mendadak dan tidak sempat untuk mempersiapkan semuanya. Jeje dan Xander juga di buat heran dengan putranya itu karena Ansel ngotot ingin menikahi Melisa hari itu juga.


Pernikahan yang sederhana itu di hadiri pihak keluarga Xander dan Emanuel, karena Melisa sudah tidak mempunyai siapa pun, kedua orang tuanya sudah meninggal dunia.


Menggunakan tuxedo berwarna putih, Ansel terlihat begitu gagah dan tampan, sedangkan Melisa memakai gaun pengantin berwarna senada yang begitu indah dan elegan. Dan di tengah mereka ada Zahra yang terlihat sangat cantik, menggunakan dress berwarna putih juga, dan bagian bawahnya mengembang. Janji suci sudah terucap, dan saat keduanya sudah Sah menjadi pasangan suami-istri. Senyum bahagia merekah di wajah pengantin baru itu. Ucapan selamat di ucapkan oleh seluruh keluarganya.


Aiden sejak tadi berengut kesal karena ia harus menunggu 3 bulan lagi untuk menikahi, Gwen.


"Wajah lo sejak tadi di menekuk, kenapa?" tanya Sean, seraya menepuk pundak Aiden.


"Ck!" Aiden hanya berdecak kesal menanggapinya. Sean yang mendengarnya pun terkekeh geli sendiri.


Irene yang duduk di samping Sean terus menguap, bagaimana tidak? Jika setiap malam ia kurang tidur. Suaminya itu tidak pernah lelah untuk menikmati tubuhnya.


"Habis pulang dari sini langsung tidur, ya." Bisik Sean, dan di angguki Irene.


"Nanti malam libur dulu ya," pinta Irene, sambil menyenderkan kepalanya di lengan suaminya.


"No!" jawab Sean dengan tegas. Bisa sakit kepala dirinya jika satu malam tidak menyentuh istrinya.


"Se ..." Rengek Irene manja.


"Gue kurangi durasinya, oke!" jawab Sean, lalu mengecup kening istri dengan mesra.


"Ck! Kalian ini sudah menodai otak suciku!" umpat Aiden, yang sejak tadi mendengarkan obrolan mereka.


"Tutup mata lo saja, biar nggak dengar apa yang kita bicarakan!" balas Sean sekaligus mencibir Aiden.


"Telinga Sean!" Irene meralat ucapan suaminya, sambil terkekeh pelan.


"Dasar setan kalian!" umpat Aiden lagi, seraya beranjak dari duduknya, dan berpindah duduk du samping Gwen.


*


*


*


"Sedikit," balas Gwen berbisik, lalu menggenggam tangan Aiden dengen erat. Rasa sakit di selang*kangannya masih begitu ketara.


"Maaf, sayang." Aiden membalas genggaman tangan kekasihnya.


Nue dan Fika memperhatikan pasangan kekasih yang saling berbisik itu sambil menggeleng pelan, tidak menaruh curiga sama sekali.


"Kita nikahkan saja mereka, Sayang. Aku takut kalau mereka kebablasan," ucap Nue kepada istrinya.


"Masih ada 3 bulan lagi, Papi. Mana mungkin mereka berbuat senekat itu. Aku percaya kepada putriku dan juga Aiden," jawab Fika, sambil mengecup rahang tegas suaminya yang di tumbuhi jambang itu. "Kenapa kamu semakin tampan sih?" Fika memperhatikan wajah suaminya yang semakin glowing.


"The power of money," jawab Nue, lalu memeluk istrinya dengan erat. "Kamu juga semakin cantik. Ah, jadi ingin memakan mu." Nue berbisik sambil menggigit cuping telinga istrinya dengan pelan.


"Dasar gemulai!" Fika memukul punggung suaminya sedikit keras.


"Tapi, Hot jika diatas ranjang. Kamu suka, kan?" tanya Nue, seraya mengurai pelukannya.


"He'em suka banget," jawab Fika tersipu malu.


*


*


Ansel, Melisa dan keluarga Clark kini sedang berfoto bersama, dengan background bangunan Gereja yang megah itu.


Mereka berfoto dengan berbagai pose dan senyuman yang terus terukir di bibir.


Bagaimana nantinya kalau Fika dan Nue tahu yang sebenarnya?


Dan selamat buat abang Ansel, sudah sah sekarang dan bisa main jungkat-jungkit kapan saja. Eaakkkk🤣🤣


Jangan lupa likenya ya. ❤