
Setelah Kirana menerima lamaran Nathan, keluarga Clark memutuskan berkunjung ke kampung halaman Kirana minggu depan untuk melamar Kirana secara resmi kepada Orang tua Kirana, sekaligus untuk menentukan tanggal pernikahan mereka.
Dan saat ini semua orang yang ada di ruangan kerja Xander sudah membubarkan diri dan melanjutkan aktifitasnya masing-masing.
*
*
Malam hari telah tiba, Kirana saat ini mondar-mandir di dalam kamarnya dengan perasaan gelisah. Beberapa saat yang lalu, Kirana menghubungi kedua orang tuanya untuk menyampaikan niat baik keluarga Clark yang akan datang ke kampungnya minggu depan untuk melamarnya, akan tetapi ke dua orang tua Kirana menolaknya.
Kirana memutuskan menemui Nathan, untuk membicarakan masalah ini.
Tok ... Tok ...
Kirana mengetuk pintu kamar Nathan berulang kali, setelah ada sahutan dari dalam kamar, Kirana baru memasuki kamar tersebut.
Kirana menelan ludahnya dengan susah payah saat melihat Nathan duduk bersandar di head board tempat tidur hanya menggunakan boxer berwarna hitam, memperlihatkan bentuk tubuhnya yang kekar.
"Ada apa, sayang?" tanya Nathan tanpa menoleh, karena saat ini dirinya sedang fokus dengan laptop yang ada di dekatnya.
Jadi pengen membelai perutnya. 🤣
"Emm, apa kamu sibuk?" tanya Kirana, tanpa bisa mengalihkan tatapannya dari sosok tampan yang duduk diatas tempat tidur sana.
Nathan menoleh seraya melepaskan kaca mata yang bertengger di hidungnya. Ia tersenyum lebar lalu menepuk sisi sebelahnya yang kosong.
Kirana berjalan mendekat, namun ia mendudukan diri di tepian tempat tidur.
"Apa kamu tidak lihat, jika aku memintamu untuk duduk di sampingku?!" tanya Nathan dengan datar.
"Ck! Dasar pemaksa!" sungut Kirana, merangkak naik ke atas tempat tidur dan duduk di samping Nathan.
"Apalagi sih?!" tanya Kirana dengan nada sewot.
"Dasar tidak peka!" Dengan paksa ia menarik kepala Kirana dan merebahkannya di dadanya. "Nah, kalau begini 'kan kelihatan romantis," Nathan tersenyum puas, sedangkan Kirana mengerucut sebal, sambil menusuk-nusuk perut sixpack itu dengan jari telunjuknya.
Ini perut apa karung beras, keras sekali! Batin Kirana, masih melanjutkan kegiatannya.
"Kamu ingin mengatakan sesuatu?" tanya Nathan, sambil mengecup pucuk kepala Kirana dengan mesra, dan merengkuh Kirana ke dalam dekapan hangatnya.
Eh, kenapa jadi nyaman begini ya? Batin Kirana, semakin nyaman dengan posisi seperti itu dan ke dua tangannya mulai memeluk perut Nathan dengan erat, ia memejamkan mata sambil mendengarkan detak jantung Nathan yang berdetak beraturan membuatnya semakin merasa nyaman berada di pelukan Nathan.
"Nath, ada yang ingin aku sampaikan, ini mengenai kedua orang tuaku." Mulai membuka matanya dan mendongak menatap Nathan yang juga sedang menatapnya.
"Katakan saja," jawab Nathan, seraya tersenyum dan mengecup kening Kirana.
"Kedua orang tuaku tidak setuju dengan hubungan kita," ucap Kirana dengan pelan.
Nathan menegakkan punggungnya, lalu menangkup wajah Kirana dan menatap wajah cantik itu dengan serius.
"Jangan bercanda! Tidak lucu!" tegas Nathan.
"Aku serius! Aku minta maaf, seharusnya aku mengatakan semua ini dari awal." Kirana menundukkan pandangannya.
"Mengatakan apa?"
"Kamu tahu 'kan jika aku dulu pernah punya kekasih, kami dulu pernah mau menikah saat usiaku 18 tahun, tapi gagal karena karena pria itu menghianatiku. Pria itu orang terkaya di kampungku dan sejak saat itu orang tuaku membenci orang kaya, begitu pula aku yang tidak percaya lagi dengan namanya laki-laki," jelas Kirana, menatap Nathan dengan berkaca-kaca. Gadis itu menyesal karena tidak mengatakan hal besar itu kepada Nathan sejak awal hubungan mereka.
"Penghiatan apa yang di lakukan pria itu?" tanya Nathan dengan nada datar dan terdengar sangat dingin.
"Dia menghamili sahabatku," jawab Kirana, dengan lirih dan tidak berani menatap Nathan yang sudah tersulut emosi.