
Bicara tentang anak, hakikatnya setiap anak itu pasti mempunyai kelebihan dan kekurangan masing-masing.
Setiap anak atau individu pasti mempunyai kelebihan dan kemampuan yang mungkin tidak dimiliki oleh individu lainnya, begitu pula dengan kekurangan. Sekalipun anak itu terlahir tak sempurna, pasti ia memiliki kelebihan dibalik ketidak sempurnaannya itu.
Sama halnya seperti Anaya, terlahir tidak sempurna, akan tetapi gadis kecil itu sudah menunjukkan kelebihannya yaitu kecerdasan yang tidak di miliki pada anak seusianya. Semua sudah ada takarannya, seperti sebuah timbangan, yang harus seimbang.
Setiap anak memiliki hak yang sama dengan anak lainnya. Sejujurnya setiap anak tidak suka di beda-bedakan atau dibanding-bandingkan dengan saudara kandungnya, sepupunya apalagi dengan yang lain, karena dengan begitu anak akan merasa minder atau tidak percaya diri dengan apa yang dimilikinya. Ia akan menjadi penakut dan pemalu, karena ia dituntut harus seperti anak-anak lainnya.
Yang perlu digaris bawahi bahwa setiap anak merupakan titipan sang pencipta kepada makhluknya. Setiap anak juga merupakan anugerah terindah yang diberikan oleh Tuhan. Oleh karena itu, sebagai orang tua harus menjaga, membimbing, merawat, dan mendidik si anak menjadi lebih baik, supaya mereka menjadi orang yang berguna bagi agama, bangsa, dan orang lain.
Pagi itu di kediaman keluarga Clark terlihat sangat ramai anak-anak kecil yang berlarian, tertawa, dan menangis, semua terdengar menjadi satu membuat Xander, Jeje dan Oma Airin tertawa bahagia menikmati moment di mana pasa cucu mereka berkumpul di rumahnya.
"Sehat selalu Mom, agar Mommy bisa melihat tumbuh kembang mereka," ucap Jeje kepada Oma Airin yang duduk di kursi roda sambil melihat para cicitnya yang berlarian di ruang keluarga.
"Ricko!" seru Nathan kepada putranya yang akan menarik rambut Zahra. Putranya itu hiperaktif dan usil kepada semua saudaranya.
"Mereka sangat lucu-lucu. Mommy sudah merasa sangat senang Je, melihat mereka hadir di dunia ini. Tidak tahu kapan nanti ajal akan menjemput Mommy, yang terpenting Mommy sudah melihat anak dan cucuku bahagia," jawab Oma Airin dengan kedua mata yang berkaca-kaca.
Jeje yang berdiri di belakang kursi ibu mertuanya itu berpindah posisi, berjongkok di depan Oma Airin, seraya menggengam kedua tangan ibu mertuanya itu dengan penuh kelembutan. "Jangan berkata seperti itu, Mom. Kami semua sangat menyayangi dan mencitai, Mommy. Aku yakin jika Mommy akan selalu sehat dan panjang umur," ucap Jeje dengan kedua mata yang berkaca-kaca dan suara yang bergetar karena menahan tangisnya yang ingin pecah.
Dalam hidup, kita semua tahu bahwa tidak ada yang kekal abadi kecuali Tuhan. Sehingga pada akhir yang kita miliki hanya sebuah kenangan tentang mereka yang sudah pergi meniggalkan kita.
Ya ... Jeje tidak sanggup membayangkan jika Oma Airin suatu saat nanti pergi dari dunia ini untu selamanya. Ia terus berdoa kepada Tuhan, agar Oma Airin di berikan panjang umur dan kesehatan, agar beliau bisa berkumpul bersama setiap harinya.
"Amin." Oma Airin meng-aminkan doa menantunya itu, lalu mengusap pucuk kepala Jeje dengan penuh kelembutan.
Jeje beranjak dari duduknya lalu memeluk Oma Airin dengan erat, tidak lupa ia mengecup kening Oma Airin dengan penuh kasih sayang.
*
*
*
"Pusing gue," keluh Sean kepada tiga saudaranya. Saat ini keempat saudara satu rahim itu sedang berada di taman belakang, sedangkan para istri dan anak-anak berada di dalam rumah.
Mereka berempat duduk di kursi taman sambil curhat masalah mereka masing-masing.
"Kenapa?" tanya Aiden seraya menghisap asap rokoknya, mengeluarkan asap rokok itu melalui hidung dan mulutnya.
"Nggak di kasih jatah satu minggu sama bini gue," jawab Sean dengan lesu, lalu menyesap kopi hitamnya.
"Hah! Aku mana bisa nahan satu minggu seperti itu. Kamu pasti berbuat kesalahan dengan Irene, kan?" tebak Nathan sambil tertawa diiringi dengan gelengan kepala.
"Sedikit kok, gue cuma ngumpetin Sany di dalam mesin cuci," jawab Sean, dan langsung di sambut toyoran dari ketiga saudaranya.
"Bego!" ketiga saudaranya itu mengumpati Sean bersamaan.
"Kesel gue, semenjak ada Sany, gue di cuekin sama Irene," jawab Sean sambil mengusap kepalanya yang baru saja di toyor oleh ketiga saudaranya itu.
"Heh! Tolol! Kami juga seperti itu di cueki oleh istri, tapi nggak bego kayak kamu," sahut Nathan sambil menggelangkan kepala.
"Untung anaknya nggak kena sawan. Astaga Sean, bego kok di pelihara." Kali ini Aiden yang menjawab sambil menendang kaki Sean sedikit keras, sehingga membuat saudaranya itu meringis sakit.
"Setelah punya anak, istri pasti lebih mengutamakan sang anak. Aku sih nggak masalah kalau Melisa lebih perhatian kepada anak-anakku, yang penting malam harinya aku dapat jatah nyusu, he he he," jawab Ansel sambil terkekeh geli.
"Nah, setuju nih sama pendapat Ansel. Kamu kayaknya perlu bersabar lagi deh, Se," ucap Nathan sambil menggosok hidungnya yang terasa gatal.
"Terus gue harus bagaimana dong? Sudah satu minggu juga di diamkan sama Irene," keluh Sean seraya mengusap wajahnya dengan kasar.
"Minta maaf dengan benar kepada istrimu, Se," usul Ansel, sembari menepuk pundak Sean. "Yang sabar ya, tapi aku senang melihat kamu menderita, ha ha ha haa," lanjut Ansel di iringi dengan tawa yang keras.
"Taik lo!" umpat Sean.
"Ngerokok dulu biar nggak pusing." Aiden menyodorkan sebungkus rokok dan korek api kepada Sean.
"Udah berhenti merokok gue, semenjak Irene hamil," tolak Sean sembari mendorong tangan Aiden yang masih memegang rokok dan korek api.
"Sudah jadi anak alim dia semenjak ketemu sama pawangnya," ledek Nathan, sambil menyelipkan sebatang rokok di sela bibirnya yang tebal dan seksoy itu.
"Kalian juga sama saja, langsung melempem kalau berhadapan dengan pawang kalian," balas Sean tidak mau kalah.
Lalu mereka berempat saling pandang, kemudian tertawa terbahak bersama.
"Apakah ini yang di namakan suami takut istri?" tanya Ansel di sela tawanya yang sulit di hentikan.
"Aku rasa begitu," jawab Nathan yang masih menyisakan tawanya.
"Brothers, aku ada rencana untuk memasukkan Anaya ke sekolah musik," ucap Aiden kepada tiga saudara kembarnya itu.
"Serius? Sudah yakin?" tanya Nathan, menatap saudara kembarnya itu dengan serius.
"Masih terlalu kecil, Ai. Naya baru berusia 1 tahun." Sean tidak setuju dengan rencana Aiden.
"Tapi bakat menyanyinya itu sudah terlihat jelas, Se. Ya ... walaupun menyanyinya masih terdengar kurang jelas, tapi suaranya bagus," jawab Ansel.
"Aku sarankan jangan dulu. Benar kata Sean kalau Naya masih terlalu kecil," sahut Ansel kepada Aiden.
***
Jangan lupa dukungannya ya ❤