
Nathan menatap tajam Aiden, sedangkan yang ditatap seperti itu malah terlihat sangat cuek.
"Sudah jangan menatapku seperti itu. Kirana, jinakkan suamimu itu!" ucap Aiden kepada Kirana yang sedang duduk bersisian dengan Nathan.
Kirana yang mendengar hal itu hanya terkekeh geli saja, seraya mengusap punggung tangan suaminya.
"Kamu keterlaluan sih. Kenapa harus bilang kalau Sean berada disini! Semoga itu bocah nggak terkena masalah lagi," gerutu Nathan, menatap kesal Aiden.
Aiden menyenderkan punggungnya di kursi kerjaanya, menatap Nathan lalu bergantian menatap wajah cantik Kirana. Lalu ia meraba dada kirinya yang berbalut jas berwarna hitam itu. Jantungnya masih berdetak tidak karuan saar melihat Kirana, bertanda jika masih ada cinta untuk wanita tersebut. Dan dadanya berdenyut nyeri saat melihat Nathan mengecup bibir Kirana sekilas dihadapannya.
Hai, hati. Kenapa sesakit ini? Aku mohon lepaskan dia. Kenapa begitu sulit? Batin Aiden.
Pria itu berdehem pelan guna mentralisir rasa sesak didalam dadanya. "Bisa tidak, kalian itu kalau mau bermesraan tahu tempat!" ketus Aiden.
Ansel yang sejak tadi diam dipojokan sambil fokus kelayar ponselnya pun menoleh kearah Aiden, lalu menggeleng pelan. "Dia mulai lagi," gumam Ansel.
"Terserah aku mau bermesraan dimana saja," jawab Nathan, ketus. Lalu merangkul pinggang istrinya dengan posesif.
"Mas, nggak enak sama yang lain. Jangan seperti ini," ucap Kirana seraya melepasakan tangan kekar yang melingkar dipinggangnya, karena merasa tidak enak hati dengan saudara kembar suaminya.
"Nggak usah perdulikan mereka, anggap saja mereka ini tidak ada," ucap Nathan, semakin mengeratkan belitan tangannya dipinggang ramping itu.
Kirana hanya menghela nafas panjang, karena sikap suaminya itu sangatlah posesif kepadanya.
Aiden dan Ansel yang mendengar perkataan Nathan pun mendelik kesal.
"Dasar lebay!" cibir Ansel lalu melemparkan bantal sofa kearah Nathan, namun bantal sofa itu teronggok diatas lantai karena Nathan berhasil menangkisnya.
Aiden memilih fokus ke dokumen yang ada dihadapannya, untuk mengalihkan rasa sakit hatinya karena melihat kemesraan orang yang dicintainya dengan saudaranya.
"Bicaranya disaring apa! Malu tahu!" kesal Kirana, seraya cemberut kesal kearah suaminya. Kemudian ia melepakan bekapan tangannya dari bibir Nathan.
Nathan tersenyum kuda, lalu mengecup pungggung tangan istrinya dengan lembut.
"Kan mereka biar pada tahu, jika menikah itu sangat enak. Segala kebutuhan suami disiapakan oleh istri termasuk urusan ranjang," ucap Nathan tanpa malu sedikit pun.
"Mas!" Kirana melotot sembari memukul lengan suaminya sedikit keras.
"Suamimu itu memang tidak punya urat malu, Kirana jadi kami sudah memakluminya," sahut Ansel, dengan nada mengolok Nathan.
Kirana hanya tersenyum canggung saat mendenggar perkataan Ansel.
Dan lagi-lagi Aiden hanya bisa menghela nafasnya saat mendengar perkataan Nathan yang absurd. Seketika itu ia menjadi membayangkan bercinta dengan Kirana.
"Astaga!" pekik Aiden saat tersadar, ia menggelengkan kepalanya seraya memukul pelan kepalanya berulang kali.
Kenapa pikirannya menjadi kotor seperti ini! Bajingan kamu Aiden. Memaki dirinya sendiri didalam hati, karena telah berani berfantasi liar dengan Kirana, kakak iparnya sendiri.
"Hei, apa terjadi sesuatu?" tanya Nathan dan Ansel bersamaan saat mendengar Aiden memekik dan memukul kepalanya sendiri.
"Oh, tidak. Aku hanya ingin ke toilet," jawab Aiden, lalu segera beranjak dari duduknya, menuju toilet yang ada diruangannya itu.
Sampai toilet Aiden membasuh wajahnya dengan air yang mengalir dari kran wastafel itu. Lalu ia menghembuskan nafasnya berulang kali agar dirinya tenang dan pikiran kotor yang masih terbayang itu sirna.
Jangan lupa like, komentar, Vote, dan kasih kopi dan bunga😘😘