My Hot ART

My Hot ART
S2. Slowly, My Dear



Hari berganti dengan begitu cepat, dan tidak terasa kehamilan Istri 3 J sudah semakin membesar dan sudah mendekati HPL. Para suami bersiap siaga jika sewaktu-waktu para istrinya itu melahirkan.


Bahkan para suami rela meninggalkan pekerjaanya, karena ingin menjadi suami siaga dan ingin selalu berada di samping istrinya yang saat melahirkan nanti.


"Sayang, apakah perutmu merasa mulas?" tanya Ansel kepada Melisa dengan cemas, mengingat ini adalah pengalaman pertamanya, berbeda dengan Melisa yang terlihat santai karena ini adalah pengalaman keduanya melahirkan sang buah hati.


"Papi, yang namanya orang melahirkan itu bisa maju dari HPL dan juga bisa mundur," jelas Melisa kepasa suaminya yang sejak tadi memandangnya dengan perasaan cemas.


"Benarkah itu?" tanya Ansel, sembari menatap istrinya yang sedang melakukan senam hamil di atas matras tepatnya di dalam kamar mereka.


"Iya, makanya kalau Dokter menjelaskan perihal kehamilan itu di dengarkan!" cibir Melisa sembari menarik nafas panjang dan menghembuskan dengan kasar.


"Tapi tetap saja aku sangat cemas, dan aku merasa deg-degan," jawab Ansel, sembari memegangi dada yang terus berdebar tidak karuan.


Melisa menghentikan aktifitasnya, kemudian beranjak dengan susah payah dari atas matras, menghampiri suaminya yang duduk di tepian tempat tidur.


"Yang mau melahirkan itu aku, kenapa kamu yang deg-degan?" Melisa tersenyum sembari mendudukan diri di pangkuan suaminya, seraya mengalungkan kedua tanganya di leher kokoh itu, lalu mengecup pipi Ansel dengan mesra.


"Mami, jangan menggodaku terus," rengek Ansel, sembari melingkarkan kedua tangannya di pinggang istrinya.


Melisa tergelak menganggapi rengekan suaminya, kemudian dirinya menenggelamkan wajahnya di ceruk leher suaminya itu.


"Apakah kamu belum merasa mulas?" tanya Ansel, dan Melisa menjawab dengan gelengan kepala.


"Merasa sakit, pusing?" tanya Ansel lagi, dan Melisa menggeleng lagi sebagai jawaban.


"Kenapa, Pi?" tanya Melisa, sembari menegakkan kepalanya, menatap suaminya yang super manja itu dengan tatapan heran.


"Satu ronde boleh 'kan? Si Jono sudah bangun dari peradabannya," jawab Ansel sembari menekan pinggul Melisa ke bawah, agar istrinya bisa merasakan keperkasaan Si Jono yang sudah menegang keras di bawah sana.


"Slowly, My Dear," bisik Ansel saat Melisa melepaskan kancing kemejanya satu persatu dengan tergesa.


"Kamu sih, mancing-macing!" Melisa sudah tidak tahan lagi, bagian bawahnya sudah berkedut tidak karuan dan juga terasa basah.


"Biar aku yang bekerja," ucap Ansel parau sembari merebahkan istrinya di atas ranjang panas yang sebentar lagi akan bergoyang dan berdecit itu.


Satu persatu pakaian mereka lolos dari tubuh mereka, hingga tubuh mereka polos tanpa sehelai benang.


Ansel membuka kedua kaki Melisa dengan lebar, selebar pinggulnya lalu mengusap bagian sensitif istrinya yang terlihat basah dan merekah dan berwarna pink kemerahan itu.


"Sshhhh, Papi ..." desis Melisa sembari menggeliat pelan.


Ansel semakin bernafs* saat melihat istrinya yang menggeliat dengan perut buncitnya, terlihat sangat sexy dan menggairahkan, di tambah lagi Melisa meremat dua gunung kembarnya secara bersamaan, membuat Ansel semakin tidak tahan.


"Papi, udah nggak tahan," rintih Melisa sembari mengangkat pinggulnya, memperlihatkan belahan sensitifnya kepada Ansel.


Ansel segera menindih tubuh istrinya dengan hati-hati, dan ia mulai memosisikan dirinya sembari memegang leher Si Jono, dan mengarahkannya ke bagian intri istrinya itu.


"Ah ... Papi ..."


***


Ah ... Bersambung dulu deh ... 🤣🤣🤣🙏


Bestie jangan lupa dukungannya ya ❤