
Hari ini up 6 bab, mana saweran kopi sama bunganya nih?🤭
Pagi hari telah tiba, Kirana bangun pagi sekali untuk membantu menyiapkan sarapan didapur.
"Kirana! Bukankah Mommy sudah bilang jangan mengerjakan apapun dirumah ini," tegur Jeje, saat melihat menantunya berkutat didapur bersama pelayan lainnya.
Kirana menoleh saat mendengar teguran ibu mertuanya. "Maaf, Mom. Habisnya saya bosan jika harus berdiam diri," jawab Kirana sopan, sambil tersenyum manis.
Jeje menggeleng pelan, saat melihat sifat keras kepala Kirana. "Mommy akan marah kalau kamu tidak mau menurut! Kamu itu harus banyak istirahat dan tidak boleh kelelahan, biar bibit premium Nathan cepat tumbuh di perutmu," ucap Jeje, seraya menarik tangan Kirana menuju meja makan.
Kirana mendudukan diri sambil menggaruk pelipisnya.
Bibit premium? Di coblos saja belum. Batin Kirana.
"Ini peringatan untuk kalian semua, jangan sampai Nona Muda kalian ini mengerjakan pekerjaan rumah. Jika aku melihatnya, kalian yang akan menerima akibatnya!" ucap Jeje dengan tegas kepada para pelayan yang ada disana.
"Baik, Nyonya besar," jawab mereka kompak, seraya menundukkan kepalanya, memberi hormat.
Kirana tersenyum meringis karena menurutnya, ibu mertuanya ini berlebihan. "Mom, apakah ini tidak berlebihan?" tanya Kirana dengan hati-hati.
Jeje melotot tajam. "Kamu disini itu menantu keluarga Clark, bukan pembantu! Mommy sangat menyayangimu, Kirana!" jawab Jeje, sembari berkacak pinggang.
"Ah, baiklah," jawan Kirana, tersenyum lembut dan duduk manis disana.
Hatinya menghangat saat mendengar ucapan ibu mertuanya dan juga sangat bahagia karena mempunyai mertua sebaik itu.
Tidak berselang lama satu persatu anggota keluarga Clark berkumpul dimeja makan untuk sarapan bersama.
Nathan menghampiri istrinya dan mengecup kening Kirana. "Kenapa tidak membangunkan aku?" tanya Nathan, seraya duduk dikursi yang bersebelahan dengan istrinya.
Interaksi keduanya itu tidak luput dari penglihatan Aiden, dan lagi-lagi dadanya terasa panas terbakar api cemburu.
"Cieee, pengantin baru pasti lembur terus nih," goda Oma Airin, menaik turunkan alisnya.
"Duh, sebentar lagi rumah ini akan ramai tangisan bayi," lanjut Jeje, menatap Nathan dan Kirana bergantian.
Kirana dan Nathan menjadi salah tingkah dibuatnya.
Lembur apanya? Portalnya saja belum dibuka. Batin Nathan mendesah kesal, karena ia harus menahan hasratnya setiap berdekatan dengan istrinya, apalagi kalau malam Kirana selalu memakai lingerie seksi, membuat Nathan semakin tersiksa.
Dan acara sarapan pagi pun dimulai seperti biasa, hanya saja berkurang satu orang yaitu Sean. Mereka mencoba bersikap biasa saja, walau hati mereka merasa sedih karena Sean tidak ada diantara mereka.
Jeje menghembuskan nafasnya dengan kasar saat melihat kursi Sean kosong. Sarapannya pun menjadi terasa hambar.
Sean, kamu sudah makan belum, Nak? Batin Jeje bertanya.
Sedangkan dipaviliun sana, Sean menggaruk perutnya yang terasa lapar.
"Mommy, aku kelaparan! Hikss..." Sean mengeluh sembari membuka bungkusan mie instan.
"Ck! Tadi malam mie, pagi Mie, sore nanti juga Mie! Lama-lama ususku juga ikut keriting seperti Mie!" dumel Sean, lalu menyalakan kompor yang diatasnya sudah ada panci untuk merebus mie.
Dan tidak berselang lama Mie rebus buatan Sean sudah jadi dan siap untuk disantap.
Sean membawa Mie-nya ke meja makan, dan mulai memakan mie tersebut dengan malas.
"Hufh! Aku harus mencari pekerjaan secepatnya!" gumam Sean. Ia teringat pernah membeli motor sport menggunakan uangnya sendiri dan ia letakkan di garasi mobil rumah utama, dan akan ia gunakan untuk mencari pekerjaan.
Semangat Sean🤣🤣🤣