My Hot ART

My Hot ART
Keputusan Sean



Jika dikediaman keluarga Clark, para penghunginya tengah berbahagia. Berbeda dengan Sean yang sedang merasa gelisah karena ia harus mencari uang tambahan untuk modal menikah.


Saat ini dirinya sedang berada di pantry restoran tempatnya bekerja. Duduk di pojokan sambil melamun dan bertopang dagu memperhatikan para koki yang sedang memasakan bahan makanan yang dipesan oleh pengunjung restoran tersebut.


"Dulu duit seratus ribu tidak ada artinya buat gue, dan sekarang harus kerja keras untuk mendapatkannya." gumam Sean, seraya menghela nafas.


"Melamun saja, Jo?" tegur temannya saat melihat Sean diam dipojokan.


"Heum, lagi pusing. Cari duit tambahan dimana ya? Lo ada rekomendasi?" jawab Sean sekaligus bertanya kepada temannya itu.


"Butuh banget ya? Emang mau buat apa?" Bukannya menjawab malah balik bertanya kepada Sean.


"Buat ngehalalin cewek gue," jawab Sean.


"Oh, kenapa lo nggak ambil dua sif saja? Lumayan tuh 12 juta sebulan," usul temannya.


Sean yang tadinya bertopang dagu kini menegakkan badannya dan menatap temannya itu dengan serius. "Memang boleh?"


"Bolehlah, gue juga ambil dua sif. Baru sebulan ini sih. Tapi, lo harus kuat fisik, capek banget tahu, berangkat jam 8 pagi pulang jam 11 malam," terangnya, dan diangguki oleh Sean.


"Kalau lo mau, bilang saja sama Pak Supervisor atau Bu Manager, pasti langsung di ACC," ucapnya sambil menaik turunkan alisnya, menggoda Sean. Karena ia tahu jika Manager Restoran tersebut menyukai Sean.


"Dih, ogah. Mending langsung bilang sama SPV," jawab Sean sambil bergidik ngeri mengingat tingkah Manager-nya yang genit kepadanya.


Entah kenapa, setelah mengenal Irene dengan dekat, hasrat untuk bermain wanita sudah lenyap. Irene memberi energi positif kepada Sean. Membuat Buaya Amazon itu bertobat, menjadi jinak dan berubah menjadi kadal buntung.


Sean beranjak dan pergi menemui Supervisor-nya.


*


*


*


"Kamu yakin, Jo?" tanya Supervisor tersebut, setelah mendengar pengajuan Sean yang akan mengambil 2 Sif sekaligus.


"Yakin banget, Pak," jawab Sean dengan mantap.


Sean diam sejenak. Otaknya berfikir mempertimbangkan keputusannya.


"Dengankan Irene, Se. Jadi kamu harus kerja keras lagi untuk segera menghalalkan Irene. Sepadanlah sama kerja keras kamu yang akan mendapatkan perawan."


Perkataan Ibunya tiba-tiba terngiang dikepalanya. Membuatnya menjadi semangat.


Begitu pula perkataan Irene yang ikut melintas dibenaknya.


"Yakin kaya dan mapan? Coba buka dompetmu ada berapa uangnya?"


"Nggak ada yang perlu kamu banggakan, karena yang kamu miliki punya orang tua kamu. Jadi aku ingin, kita menikah jika kamu sudah punya uang yang cukup itupun harus menggunakan hasil kerja kerasmu sendiri."


Sebuah kalimat yang pedas namun mampu membuat semangat juangnya berkobar.


"Apa pun akan gue lakukan buat lo," batin Sean, dan ia sudah mengambil keputusan dengan mantap.


"Bersakit-sakit dahulu, buka segel kemudian. Ha ha ha ha," batin Sean, didalam hati. Sambil membayangkan malam pertama dengan Irene.


Supervisor tersebut menatap Sean dengan kening yang berkerut. Lantaran pria tersebut mesam-mesem tidak jelas.


"Jo!" ucapnya sambil menggebrak meja kerjanya, membuat Sean langsung terkejut sambil mengelus dada.


"Astaga, Pak! Bikin kaget saja!" kesal Sean.


"Lagian kamu malah bengong. Jadi bagaimana?" tanya-nya.


"Aku putuskan untuk mengambil 2 Sif, Pak," jawab Sean dengan mantap.


"Yakin?" tanya-nya sekali lagi dan Sean mengangguk cepat tanpa ada keraguan sama sekali.


"Baiklah, aku akan merevisi surat kontrakmu," ucap Supervisor tersebut.


Vote ya Vote. hari senin loh dan sawerannya jangan kendor❤