
Kirana menatap pintu kamar mandi yang tidak kunjung terbuka, padahal Nathan sudah berada di dalam selama setengah jam. Dengan memberanikan diri, ia mengetuk pintu kamar mandi tersebut.
"Nathan, kamu baik-baik saja?" tanya Kirana.
Ceklek
Nathan membuka sedikit pintu kamar mandi itu dan menyembulkan kepalanya. "Aku lupa bawa baju ganti," jawab Nathan pelan.
"Kenapa nggak bilang sejak tadi? Kamu bisa masuk angin loh." Kirana berucap sambil menatap wajah tampan kekasihnya.
"Aku pikir kamu sudah tidak ada di dapur."
"Sebentar, aku akan mengambilkan pakaian untukmu," pamit Kirana, lalu berjalan keluar dari dapur sana dan tidak berselang lama, ia kembali lagi dengan membawa satu stel pakaian Nathan.
"Nih." Kirana menyodorkan pakaian tersebut kepada kekasihnya.
"Ada ibu nggak?" Bukannya mengambil pakaiannya, malah melontarkan pertanyaan.
"Ibu sama bapak pergi ke rumah Pak RT mau laporan, kalau kamu akan menginap di sini sementara waktu," jawab Kirana.
Mendengar jawaban dari kekasihnya, membuat Nathan tersenyum penuh arti. "Pas banget kalau begitu, pakaikan aku baju!" Nathan membuka pintu sedikit lebar lalu menarik tangan Kirana.
"Nathan!! Apa yang kamu lakukan?!" pekik Kirana tertahan menatap tajam kekasihnya.
Nathan tidak memperdulikan aksi protes kekasihnya. Ia mengambil pakaiannya yang ada di tangan Kirana lalu meletakkan di pinggiran bak mandi.
"Aku merindukanmu, Sayang," jawab Nathan, lalu menarik Kirana dalam pelukannya dan menelusupkan wajahnya di ceruk leher kekasihnya. "Sehari tidak memelukmu, membuatku gila," ucap Nathan.
"Jangan lebai deh! Buruan di pakai bajunya nanti ketahuan ayah dan ibu." Kirana melepaskan pelukan itu dengan paksa.
"Sebentar saja," ucap Nathan, lalu menarik tengkuk Kirana dan melumaat bibir merah ceri itu dengan sangat rakus.
"Empph." Kirana mendorong dada bidang itu dengan kuat, namun tenaganya tidak sebanding dengan tenaga Nathan.
Tangannya pun tidak tinggal diam, meremat dua bukit kembar itu bergantian, membuat sang pemiliknya melenguh dan mendesaah tertahan.
"Nathan." Kirana tidak mampu menolak lagi cumbuan yang di berikan oleh kekasihnya. Dia terbuai, dia terlena, dia menikmati semuanya, hingga keduanya mulai terbakar gairah.
Salah satu tangan Nathan, masuk ke dalam piyama Kirana dan menaikan penutup bukit kembar itu dengan kasar, lalu ia menyibakkan pakaian itu ke atas, terpampanglah bukit kembar dengan pucuk dada yang sangat menggoda.
Perlahan ia menundukkan kepalanya, menyesap dan memilin pucuk dada itu bergantian.
"Ah," satu ******* yang lolos dari bibir Kirana, namun dengan cepat ia membungkam mulutnya dengan salah satu tangannya, dan tangan lainnya bertumpu di pinggiran bak mandi.
"Nathan, jangan." Kirana menghentikan tangan Nathan yang merambat turun ingin menyentuh bagian sensitifnya.
Seketika itu Nathan tersadar dan menghentikan aksinya. "Maafkan aku," ucap Nathan, lalu membenarkan pakaian Kirana, kemudian memeluk kekasihnya dengan erat.
Kirana mengangguk pelan. "Jangan di ulangi lagi, bersabarlah," ucap Kirana, lalu mengurai pelukannya.
"Iya," jawab Nathan, seraya memijit pelipisnya yang tiba-tiba terasa sangat pusing karena hasratnya tidak tersalurkan.
"Sekali lagi maaf, Sayang." Nathan mengecup bibit merah ceri yang terlihat bengkak itu sekilas.
"Sekarang kamu keluarlah, aku ingin memakai bajuku."
"Mau aku bantu?" tanya Kirana, terkekeh geli.
"Jangan memancingku! Atau kamu ingin membantuku untuk membuatnya muntah?" tanya Nathan dengan nada menggoda, sambil menunjuk tonjolan di bawah sana yang tertutup oleh handuk.
Kirana mengikuti arah tangan Nathan menunujuk, seketika itu ia bergidik ngeri dan mengumpat kesal.
"Dasar otak mesum!!!" umpat Kirana, mencubit perut Nathan dengan kuat.
Sajen mana sajenn!