
Telat update ya? Pada nungguin nggak sih? 🤭🤭
Maaf ya, authornya dari pagi lemes soalnya Maag nya kambuh. 🙏
Yuk cekidot!
Sean mengerjabkan kedua matanya. Ia meringis saat merasakan tangan kanannya kebas bukan hanya itu saja dia juga merasakan sesuatu yang berat menimpa perutnya. Kemudian ia menoleh kekanan dan mengernyit heran saat melihat Irene tidur berbantalkan lengannya sambil memeluk dirinya. Tapi detik selanjutnya ia tersenyum, lalu tangan kirinya terangkat untuk mengelus pipi Irene dengan perlahan.
"Eughh." Terdengar Irene melenguh dan menggeliat kecil.
Sean langsung menarik tangannya kembali dan memejamkan matanya lagi. Pura-pura tidur. Gengsi jika dirinya ketahuan memandang wajah Irene yang imut itu.🤭
Dan benar saja, tidak berselang lama Irene mulai membuka kedua matanya dan terkejut saat dirinya memeluk Sean.
Anggap aja begini ya. Uh gemesnya mereka😚😚
Irene meringis, merutuki dirinya sendiri. Lalu menarik tangannya yang telah lancang memeluk tubuh kekar itu.
Ia mendongak dan menatap wajah tampan Sean yang masih terlelap.
"Kok aku bisa tidur sama dia sih?" gumam Irene, sambil menjauhkan diri. Dia mengetuk kepalanya agar mengingat kejadian tadi malam.
Seingatnya dia tadi malam memijat kaki Sean sangat lama, hingga membuatnya lelah dan akhirnya tertidur tapi kenapa dia malah tidur di samping Sean?
Pasti dia yang mindahin aku. Batin Irene, lalu ia mengubah posisi tidurnya, menjadi terlentang dan menatap langit-langit kamarnya.
Sedangkan Sean tersenyum tipis, sambil mengintip Irene dengan ekor matanya
"Untung saja dia nggak tahu jika aku memeluknya. Bisa besar kepala dia dipeluk anak perawan yang imut dan lucu kayak aku," gumam Irene, dan tentu saja didengar oleh Sean yang saat ini menahan tawanya.
"Eh, tapi aku masih utuhkan?" gumam Irene lagi, seraya mendudukan diri dan memeriksa beberapa bagian tubuhnya yang takut di makan oleh Sean.
Sean menggertakkan giginya kesal saat melihat tingkah Irene yang sangat menyebalkan.
"Huh, masih utuh," gumam Irene, lalu beranjak dari tempat tidur untuk membuat sarapan.
*
*
*
"Kampret bener tuh Burik! Dia pikir gue ini buaya apa!" maki Sean dengan gemas, sambil memukul guling yang ada didekatnya.
Baru sadar dia kalau buaya. 🤣
Lalu Sean pun beranjak dari tempat tidur dan berjalan menuju kamar mandi untuk membasuh wajahnya.
"Se, ambilkan garam di rak atas itu." Pinta Irene saat melihat Sean memasuki dapur. Dia kesulitan untuk menjangkau rak dapur tersebut.
Sean yang sedang menyusut beleknya disetiap sudut matanya pun menoleh seraya berdecak kesal. "Lo kapan tingginya sih!" gerutu Sean, lalu mengambilkan garam yang diminta Irene.
"Lah kamu sendiri kenapa bisa setinggi itu sih? Udah kayak tiang listrik!" balas Irene, menatap Sean dengan malas.
"Definisi cowok sempurna ya kayak gue, tinggi ganteng, putih, dan juga—"
"Dan juga harus perjaka! Itu baru definisi cowok sempurna!" potong Irene dengan telak, membuat Sean berdecak kesal lalu berlalu menuju kamar mandi.
"Awas saja lo! Pendek!" Sean menunjuk Irene dengan perasaan kesal, sebelum menutup pintu kamar mandi.
"Apa nggak takut! Wlewkkk!" Irene menjulurkan lidahnya, meledek Sean.
BRAK
Sean langsung menutup pintu kamar mandi itu dengan keras, membuat Irene berjingkat kaget.
"Bisa rusak pintunya, Se!!"
"Bodo amat!" sahut Sean dari dalam kamar mandi.
Irene menggelengkan kepalanya lalu, melanjutkan acara memasak nasi goreng yang akan menjadi menu sarapan di hari minggu itu.
Jangan lupa kasih likenya ya❤