My Hot ART

My Hot ART
Gara-gara rokok!



Sean menarik tangan kekasihnya sampai di dekat motornya. "Ih! Kamu itu kenapa sih?" tanya Irene, saat Sean akan mengangkat tubuhnya ke atas motor.


"Sengaja, biar mereka berhasil menjalankan rencananya," ucap Sean, sembari memasangkan helm ke kepala Irene. Sean sudah seperti seorang Ayah yang sedang melayani anak gadisnya.


Irene menganggukkan kepalanya mengerti. "Selanjutnya kita kemana? Nonton yuk!" ajak Irene, sambil menoel-noel tangan kekar Sean.


"Pulang, sayang. Nontonnya di tunda dulu, lagi ngirit," jawab Sean tersenyum meringis, tidak enak hati dengan kekasihnya.


Akan tetapi, Irene adalah gadis yang cukup pengertian dan ia membalas ucapan Sean dengan senyuman manis. "Baiklah, Se. Duitnya dikumpulin buat ngehalalin aku ya," ucap Irene, sambil menepuk-nepuk halus pungggung Sean. Memberikan semangat.


"Tuh, pinter," jawab Sean, lalu memakai helmnya dan segera melajukan motornya menuju paviliun.


Setelah berkendara selama setengah jam, akhirnya mereka sampai di halaman paviliun tersebut. Sean lebih dulu turun dari motor, setelah itu ia baru membantu Irene.


"Terima kasih, Sean," ucap Irene saat ia di gendong Sean sampai dalam paviliun itu.


"Cuma terima kasih saja? Nggak ada niat kasih kiss gitu?" tanya Sean, sambil menyodorkan pipinya di hadapan Irene.


Irene tersenyum geli, lalu mengangguk pelan. Kemudian ia menyatukan jari tangannya, membentuk bentuk kerucut lalu menempelkannya ke pipi Sean.


"Huh! Selalu saja begitu!" dumel Sean, seraya mendengus kesal.


"He he hee, tunggu halal, Se," jawab Irene, lalu berjalan menuju kamarnya untuk meletakkan beberapa buku yang sudah di belinya tadi.


"Sabar-sabar. Satu minggu lagi," jawab Sean sambil mengelus dadanya, kemudian mendudukan diri di sofa ruang tamu itu, sembari mengeluarkan rokoknya.


"Apa kamu tidak bisa berhenti merokok, Se?" tegur Irene yang keluar dari kamar dan sudah berganti pakaian, lalu berjalan mendekati Sean yang sedang menyesap rokoknya.


"Nggak bisa," jawab Sean, sembari menghembuskan asap rokok itu dari hidungnya.


Irene cemberut kesal, lalu mengambil bungkusan rokok yang ada diatas meja. "Ini satu bungkus harganya berapa?" tanya Irene.


"35 ribu," jawab Sean, sambil membuang ujung rokok itu diatas asbak.


"Dua bungkus, memang kenapa sih?" Sean merebut bungkusan rokok itu dari tangan Irene dan meletakkan diatas meja lagi.


"Sehari kamu membakar uang 70 ribu, Se dan dikali satu bulan sudah 2 juta lebih!" kesal Irene, mberengut kesal.


"Ya terus mau bagaimana? Sehari nggak merokok mulut gue asem!" jawab Sean, sedikit kesal. Dia paling sensitif jika membahas masalah rokok.


"Ya, walaupun kamu nggak bisa berhenti merokok, setidaknya mengurangi kan bisa! Dan rokok itu nggak baik buat kesehatan dan juga paru-paru kamu. Apa lagi kalau nanti aku hamil dan punya anak," jelas Irene panjang kali lebar.


Ah, hati Sean menghangat saat mendengar kalimat terakhir Irene. "Jadi lo sudah siap lahir batin mengandung bibit premium gue?" tanya Sean menahan senyumannya, saat melihat wajah Irene bersemu merah. Kemudian ia meletakkan rokoknya itu di atas asbak.


Gadis itu baru tersadar dengan ucapannya. "Emh ... itu ... Aku mau ke kamar," jawab Irene, lalu beranjak dari duduknya namun tangannya di tarik oleh Sean sehingga membuat tubuhnya jatuh di atas pangkuan kekasihnya.


"Se!! Lepas!" Irene berusaha melepaskan kedua tangan Sean yang melingkar kuat dipinggangnya.


"Nggak! Jawab dulu pertanyaan gue. Lo sudah siap lahir batin mengandung anak gue?" Sean mengulangi pertanyaannya.


"Iya," jawab Irene singkat, lalu menundukkan wajahnya yang sudah seperti kepiting rebus.


"Kalau begitu kita bikin sekarang, Yuk!" Sean langsung mengangkat tubuh Irene, menuju kamarnya.


"Sean! Jangan macam-macam kamu!!!" teriak Irene sudah ketakutan saat ia di rebahkan di atas tempat tidur. Dan bertambah takut saat melihat Sean membuka pakaiannya.


"Sean!!"


Dan selanjutnya ...


Bersambung


🤣🤣🤣🤣


Hai, besti jangan lupa tinggalkan like, dan komentar kalian ya. Syukur-syukur dikasih bunga sama kopi🤣