My Hot ART

My Hot ART
Rubah betina!



Aiden menatap datar gadis yang tiba-tiba duduk sampingnya. "Apa kamu tidak bisa berangkat sendiri?!"


Gwen menghembuskan nafasnya kasar, lalu keluar dari mobil tersebut dan pindah ke mobil Ansel.


Aiden tercengang sikap Gwen yang biasanya selalu membantah dan selalu mengajaknya berdebat. Kini terlihat berbeda. "Dia kenapa?" gumam Aiden, menatap mobil Ansel yang sudah melaju lebih dulu keluar dari gerbang rumah.


"Apa kamu kecewa dengan sikapnya?" tanya Ansel, sembari menoleh sekilas kearah Gwen yang duduk disampingnya.


"Tentu saja iya," jawab Gwen.


"Apa dia menyakitimu?" tanya Ansel lagi.


Hati Gwen berdenyut nyeri dan matanya berkaca-kaca ketika Ansel melontarkan pertanyaan itu kepadanya.


"He'em, menyakiti begitu dalam. Dia sudah mengambil ciuman pertamaku tapi---"


"Sudah jangan diteruskan. Aku rasa dia tertular sikap brengseknya Sean," jawab Ansel, seraya mengusap lengan Gwen dengan lembut. Dia tahu jika gadis disampingnya ini sedang tidak baik-baik saja.


"Lebih baik untuk saat ini abaikan dia," ucap Ansel, sambil mengulas senyum penuh arti, entah apa yang sedang dipikirkan oleh anak manja itu, hanya dia seorang yang tahu.😄


"Tapi, bagaimana bisa? Kami terikat kerja sama dan tidak mungkin jika tidak berkomunikasi," terang Gwen.


"Maksudku, kamu berbicara dengannya seperlunya saja, selebihnya kamu bisa bersikap cuek," jelas Ansel, dan Gwen menganggukkan kepalanya berulang kali, bertada menyetujui ucapan Ansel.


Tidak berselang lama, mobil yang dikendarai Ansel sudah sampai di depan sekolah Gwen. "Belajarlah yang rajin, semangat!!" ucap Ansel, sambil mengepalkan salah satu tangannya, memberi semangat kepada Gwen yang terlihat lesu.


"Oke, Om!" jawab Gwen, mengulas senyum manisnya. Lalu segera keluar dari mobil tersebut lalu berlari memasuki gedung sekolah itu.


"Dasar bocah," gumam Ansel, seraya terkekeh geli, lalu melajukan mobilnya menuju Holitron Grub.


*


*


*


Ansel menghentikan langkahnya lalu berjalan menuju meja Resepsionis itu. "Siapa?"


"Gadis itu menunggu diruang tunggu, Pak," jawabnya dengan sopan, sembari menunjuk ruang tunggu yang tidak jauh dari sana.


"Oke, biar aku saja yang menemuinya," jawab Ansel, saat melihat Resepsionis tersebut akan beranjak dari tempatnya.


"Baik, Pak. Terima Kasih."


Ansel memasuki ruang tunggu itu sembari memasukkan kedua tangannya kedalam kantong celananya.


"Ans, akhirnya kamu datang juga. Sejak tadi aku menunggumu dan kenapa panggilan teleponku tidak kamu angkat?" tanya Ayu, dengan memasang raut wajah yang sedih, berjalan mendekati Ansel dan ingin memeluk pria itu namun gerakannya tertahan saat Ansel menepis tangannya dengan kasar.


"Jangan bersandiwara lagi, Yu! Aku sudah tahu tipu muslihatmu Ayu Wandira!" bentak Ansel, dengan sorot mata yang tajam.


"Maksud kamu apa?" Ayu mengerutkan keningnya dan matanya nampak berkaca-kaca. Tentu saja semua itu hanya lah akting belaka.


"Apa kamu pikir, aku ini pria bodoh yang mudah kamu manfaatkan begitu saja!" lanjut Ansel dengan menggebu. Hatinya tentu saja hancur dan sakit karena wanita yang dia cintai ternyata seorang penghianat dan memanfaatkan kebaikannya saja.


"Kamu ngomong-nya kok ngelantur begitu?" Ayu masih besikap tenang, dan menampilkan senyuman terbaiknya walaupun di dalam hati ingin sekali mengumpat kesal.


"Dasar rubah betina! Entah apa yang ada dipikirannya ini!" batin Ansel.


"Kok nggak dijawab? Kamu kenapa berubah kepadaku? Apakah otak kamu sudah di cuci oleh saudaramu itu?!" tanya Ayu lagi, dengan nada yang lembut, namun terdengar sangat menyebalkan di indra pendengaran Ansel.


Yang ingin getok kepala Ayu, monggo ambil senjatanya. 🔨🗡🔨🗡


🤣🤣🤣


Jangan lupa tetap dukung karya Emak ya😘