My Hot ART

My Hot ART
Naik darah!



Disisi lain Aiden yang berada di ruang Gym berdecak kesal saat melihat gadis yang ada di hadapannya.


"Mau apa kamu kesini?" ketus Aiden tanpa menoleh, karena saat ini dirinya sedang fokus mengolah otot lengannya dengan mengangkat Dumbbell.


"Cih! Aku kesini kalau bukan permintaan Oma juga ogah! Bukankah kesehatan Oma sedang menurun?" ucap Gwen, bersedap didada sembari menatap tubuh kekar Aiden yang bercucuran keringat. Terlihat sangat sexy dan menggoda.


Aiden diam tidak membalas perkataan Gwen, karena kesehatan Oma Airin belakangan ini memang menurun.


Aiden meletakkan dumbbell itu ditempatnya, lalu ia mengambil handuk untuk mengelap tubuhnya yang berkeringat. Setelah itu ia menoleh kearah Gwen sembari menyugar rambutnya dengan gaya yang sangat keren, membuat Gwen terpesona.



Maaf, Bang Ai, celananya itu kekecilan. 🤣🙈


"Kamu terpesona?" tanya Aiden, dengan nada mengejek saat melihat Gwen menatapnya tidak berkedip.


Gwen langsung mengalihkan padangannya, namun beberapa detik kemudian ada ide jahil melintas di otaknya.


"Iya, tentu saja aku terpesona dengan pria tampan dan mapan sepertimu, Om," jawab Gwen, sambil berjalan mendekati Aiden lalu tangannya terangkat untuk mengelus dada bidang Aiden yang berotot itu.


Aiden memundurkan langkah namun terlambat, Gwen berhasil menyentuh dadanya. "Apalagi tubuhmu sangat berotot, membuatku semakin—" Gwen menjeda ucapannya, lalu mencondongkan tubuhnya dan melanjutkan ucapannya dengan berbisik didekat telinga Aiden.


Mata Aiden melotot sempurna saat mendengar bisikan gadis itu, lalu ia mendorong Gwen menjauh darinya. "Dasar cewek gila!" umpat Aiden.


Gwen tertawa terbahak saat melihat wajah Aiden kesal. "Huh, kamu jadi semakin tampan, Om, kalau lagi kesal begitu," ucap Gwen, seraya mengerling nakal dan berlalu dari ruangan Gym itu.


Aiden mengusap wajahnya yang terlihat memerah itu. "Dasar bau kencur! Bisa-bisanya dia mempermainkan aku! Awas saja!" geram Aiden, dan ia pun segera berlalu dari sana.


*


*


Kekesalannya semakin meningkat saat melihat gadis yang selalu membuatnya naik darah juga berada disana bersama Kirana.


Aku bisa gila jika setiap hari berhadapan dengan gadis bar-bar itu. Batin Aiden, mengingat besok senin dia dan Gwen akan menjalin kerja sama.


Namun kekesalannya itu sedikit berkurang saat melihat wajah cantik Kirana yang meneduhkan jiwanya.


"Kamu membutuhkan sesuatu Aiden?" tanya Kirana, saat melihat Aiden menatapnya tidak berkedip.


"Ah, iya. Aku hanya ingin mengambil air minum," jawab Aiden, jantungnya masih berdetak dengan cepat saat berhadapan Kirana.


"Owh, sebentar." Kirana berniat untuk mengembilkan air dingin dari dalam kulkas namun pergerakannya ditahan oleh Gwen.


"Biar aku saja yang mengurus pria tua itu," ucap Gwen, seraya menatap tajam Aiden.


Aiden mendelik kesal saat mendengar perkataan Gwen.


Kirana tersenyum. "Baiklah, kalau begitu aku permisi," ucap Kirana, berlalu dari dapur sambil membawa secangkir kopi untuk suaminya.


"Ngarep ya di ambilkan air sama Kak Kirana?" sindir Gwen, sambil memberikan sebotol air dingin untuk Aiden.


Aiden diam tidak menjawab, namun sorot matanya yang tajam itu tidak lepas menatap Gwen penuh permusuhan.


"Aku tidak akan membiarkanmu merusak hubungan Kak Nathan dan Kak Kirana," lanjut Gwen, membalas tatapan tajam itu tanpa rasa takut sedikit pun.


"Aku rasa kamu terlalu jauh bermain!!" balas Aiden dengan dingin dan terdengar sangat datar, sembari merebut sebotol air itu dari tangan Gwen, lalu meminumnya hingga sisa setengahnya.


"Oh ya?" Gwen mendekatkan dirinya dan merasa tertantang untuk menakhlukkan pria dingin yang ada di hadapannya ini.


"Mau apa kamu?" tanya Aiden memundurkan langkahnya. Kali ini dia tidak akan terjebak dalam permainan gadis bau kencur itu.