
Ayu mengepalkan kedua tangannya yang ada diatas pangkuan. Menggeram tertahan, matanya memerah menahan amarah ketika mendengar sebuah pernyataan yang menikam jantungnya. Akan tetapi, ia mencoba untuk tetap tenang. Tersenyum tipis untuk menutupi rasa sakit hatinya yang sedang menyergapnya.
"Wah, benarkah seperti itu?" tanyanya seolah tidak percaya dengan perkataan pria yang duduk di seberangnya itu.
Ansel menajamkan matanya, menatap Ayu tidak percaya karena tidak menyangka jika wanita itu masih kuat dalam pendiriannya dan tidak mudah menyerah.
"Aku ingin bukti, apakah benar yang kamu katakan, jika hanya dengan menjetikkan jari, kamu bisa mendapatkan wanita manapun? Aku jadi penasaran, maka dari itu buktikan ucapanmu!" tantang Ayu, seraya tersenyum miring seraya bersedekap didada dan menatap Ansel dengan angkuh.
Ansel sedikit terkejut dengan ucapan Ayu, terang saja dia menjadi sedikit gugup tapi tidak berselang lama dari itu, ia mendapatkan Ide. Kemudian menjetikkan tangannya.
"Ada yang bisa saya bantu, Tuan?" tanya Seorang Waitress mendekati Ansel, ketika melihat pria tersebut menjetikan jarinya.
Ansel menoleh seraya mengedipkan salah satu matanya, membuat Waitress itu terkejut, wajahnya memerah bukan karena tersipu malu akan tetapi menahan amarah, karena menurutnya sikap Ansel sangatlah tidak sopan.
Ayu tersenum mengejek, seraya berkata, "jadi hanya seorang Waitress? Sungguh bukan tipemu sama sekali, Ans!"
"Setidaknya mempunyai akhlak yang baik, dari pada wanita terpelajar sepertimu akan tetapi tidak berakhlak sama sekali!" jawab Ansel dengan lugas, membuat Ayu menahan kekesalannya lagi.
"Mulut kekasih anda sepertinya minta di cabein, Tuan!" kesal Waitress tersebut, menjadi ikut emosi ketika melihat tingkah laku wanita cantik yang sangat sombong itu.
"See? Dia yang kamu bilang hanya seorang Waitress saja tahu mana yang sopan dan mana yang tidak! Itu bertanda jika dia lebih baik dari pada kamu!" tegas Ansel menatap tajam Ayu.
Emosi Ayu sudah sampai di ubun-ubun dan tidak terima disamakan dengan Waitress tersebut. Menurutnya, hanya dia wanita yang baik untuk Ansel.
Ngaca Yu! Ngaca! Kesel aku jadinya!😡
"Aku rasa sudah tidak ada yang perlu kita bicarakan lagi!" Ansel beranjak dari duduknya.
"Nggak! Kamu tidak boleh pergi kemana pun, Ans!" Ayu ikut beranjak lalu mencekal tangan Ansel, akan tetapi pria itu segara mengehempaskan tangannya.
"Sepertinya kamu harus segara pulang ke kampung halaman kamu! Di kota yang besar ini tidak cocok untuk gadis kampungan seperti kamu," ucapan Ansel begitu menohok di hati Ayu. Tidak berselang lama, ada dua orang pria berbadan besar memegang kedua tangan Ayu dan menyeret wanita tersebut keluar dari Hotel tersebut.
"Lepas! Lepaskan aku! Ansel, aku akan tidak terima semua ini!!!" teriak Ayu, meronta dan memberontak akan tetapi dua pria berbadan besar itu tidak mendengarkan Ayu.
*
*
*
"Dasar wanita gila!" umpat Ansel, ketika Ayu sudah tidak terlihat. Kemudian ia menatap Waitress yang masih di dekat mejanya.
"Maaf atas kekacuan ini," ucap Ansel, dan dibalas dengusan kesal dari gadis tersebut.
"Iya!" ucap Waitress tersebut dengan ketus, lalu melenggang pergi dari hadapan Ansel.
Ansel tersenyum penuh arti saat melihat sikap cuek dan ketus gadis tersebut.
"Sudah beres 'kan?" tanya Jeje yang baru datang bersama Xander.
"Sudah Mom, terima kasih atas bantuannya," ucap Ansel, lalu memeluk ibunya dengan manja, membuat Xander berdehem keras agar putranya itu tidak menyentuh miliknya.
"Dasar pelit!" gerutu Ansel, seraya menatap sengit ayahnya.
Sawerannya mana, bestie?😄💃💃