
Aiden tersenyum miring, karena hal itu tidak akan pernah terjadi kepadanya.
From Hate To Love? Impossible! Batin Aiden, lalu menggelengkan kepalanya pelan.
"Kamu percaya dengan kutukan cinta?" Aiden menggeleng sebagai jawaban.
"Kamu akan menjadi budak cinta jika kamu mendapat kutukan itu," ucap Ansel, saat melihat saudara kembarnya tidak percaya dengan perkataannya. Lalu ia berjalan keluar dari kamar Aiden, menuju lantai bawah.
"Omong kosong!" ucap Aiden, saat saudaranya itu sudah tidak terlihat lagi.
*
*
Sementara itu Nathan yang sedang berada dihalaman belakang bersama Kirana, mengernyit heran saat melihat seorang wanita memakai kaca mata tebal sedang menyapu dihalaman paviliun. Walaupun jarak pandang diantaranya sangat jauh tapi mereka melihat dengan jelas jika didepan paviliun itu ada seorang gadis berkaca mata.
Mereka selama ini tidak memperhatikan paviliun tersebut, selain dilarang keras kesana oleh Daddy Xander. Penghuni rumah itu juga jarang berada dihalaman belakang.
"Siapa Mas?" tanya Kirana.
Nathan menaikkan kedua bahunya sebagai jawaban. "Aku sepertinya tidak asing dengan gadis itu," ucap Nathan, kepada istrinya.
"Sebentar." Nathan memejamkan matanya berusaha untuk mengingat gadis yang nampak tidak asing baginya. Tak lama, matanya terbuka lebar lalu menatap istrinya dengan tatapan yang tercengang.
"Kamu sudah mengingatnya?" tanya Kirana, sembari menepuk pundak Nathan.
"Iya, tapi tidak mungkin," jawab Nathan.
"Memang siapa?" Kirana sangat penasaran dengan kalimat suaminya yang menggantung.
"Irene, sekertaris Sean," jawab Nathan, masih tidak percaya, dan berbagai pikiran negatif muncuk dikepalanya. "Apa jangan-jangan mereka selama ini—" perkataan Nathan terpotong saat melihat kedatangan Ansel.
"Jangan beritahu siapa pun dulu, kita akan menyelidikinya," bisik Nathan kepada istrinya, dan Kirana mengangguk patuh.
"Hei, kalian ada disini?" Ansel berjalan menghampiri pengantin baru yang sedang duduk berjejer di kursi panjang yang menghadap kebelakang.
"Iya, sejak tadi kami ada disini. Memang ada apa?" tanya Nathan.
Ansel tidak menjawab, pria itu malah asik menatap Kirana yang terlihat semakin cantik dan bersinar.
"Mau dicolok mata kamu!!" seru Nathan, lalu merangkul pinggang Kirana posesif. Ia tidak suka jika ada yang memandang istrinya terlalu lama walaupun itu saudaranya sendiri.
"He he he he. Istrimu makin cantik sih." Terang Ansel, sambil menggaruk pelipisnya dan tersenyum meringis.
"Apa kamu bilang?" Mata Nathan melotot tajam.
"Bercanda kali Bro, jangan dianggap serius." Ansel meralat ucapannya, lalu mendudukan diri didepan pengantin baru itu.
"Aku punya berita hangat untuk kalian," ucap Ansel, menatap pasangan yang ada dihadapannya itu dengan berbinar.
"Ada apa? Kamu mendapat gebetan baru?" tebak Nathan, dan Ansel menggeleng pelan sebagai jawaban.
"Lalu? Kamu kencan dengan tante girang?" tebak Nathan lagi, karena tahu tabiat adik bungsunya itu yang lebih menyukai wanita dewasa.
Kirana terkekeh geli saat mendengar perkataan suaminya.
Ansel mendengus seraya menggoyangkan jari telunjuknya di hadapan pasangan itu berulang kali. "Kamu salah lagi," jawab Ansel.
"Lalu apa? Aku malas menebak!" gerutu Nathan, lalu mengecup pipi istrinya dengan mesra, pamer kemesraan.
"Ck!" Ansel berdecak kesal saat saudaranya itu terlalu lebay.
"Aku mendapatkan nomer Ayu dari Oma. Ah, akhirnya," ucap Ansel dengan wajah yang berbinar.
Nathan dan Kirana saling pandang lalu tertawa terbahak bersama.
"Hei! Kenapa kalian mentertawakan aku?" Bibir Ansel mengerucut sebal, seperti anak TK yang tidak boleh membeli es krim.
"Dasar bodoh! Kalau masalah itu kenapa kamu tidak meminta sama Kirana? Ayu 'kan berteman dengan istriku," jawab Nathan, masih menyisakan tawanya.
"Oh, iya ... ya." Ansel menggaruk ujung alisnya yang tidak gatal.
Bonus Visual Ansel
Jangan lupa like, komentar, vote dan kasih gift. ❤❤