My Hot ART

My Hot ART
Anak dari hubungan gelap?



Babnya panjang, jangan mabok ya.😅


Setelah selesai bercinta di pagi hari itu. Sean dan Irene membersihkan diri bersama di kamar mandi, hanya mandi saja tidak lebih, karena Sean sudah tidak tega jika harus menggempur istrinya yang sudah terlihat sangat kelelahan. Saat ini pengantin baru itu berada di Restoran yang ada di hotel tersebut untuk sarapan bersama dengan keluarganya.


"Wah, akhirnya pengantin baru keluar dari persembunyiannya," seru Nathan, yang duduk di samping Kirana, sambil mengelus bahu istri cantiknya yang sedang manja itu. Bapak dan ibu sudah pulang ke Semarang karena tidak bisa meninggalkan rumah yang ada di kampung terlalu lama. Bapak dan Ibu juga berpesan kepada Keluarga Clark agar menjaga Kirana dan kandungannya dengan baik.


"Berapa ronde?" tanya Nathan lagi.


"Ratusan," celetuk Ansel lalu di sambut tawa riuh dari semua orang yang ada berkumpul di meja tersebut. Menggoda pengantin baru menjadi hal yang paling menyenangkan untuk mereka.


Wajah Irene sudah seperti kepiting rebus lantaran malu, sedangkan Sean terlihat cuek saja sambil memainkan ponselnya.


"Kalau pengantin baru auranya beda ya? Bersinar terang bagai bulan purnama." Kali ini Fika yang meledek pengantin baru itu. Semua yang ada disana terkekeh pelan mendengarnya.


Irene menyenggol kaki suaminya yang tampak cuek dari tadi. Sean menoleh, tersenyum dan tangannya terulur untuk mengusap pucuk kepala istrinya dengan sayang. Suasana semakin riuh saja, melihat pemandangan romatis itu.


"Sirik bilang boss!" Sean bersuara dengan gaya tengilnya.


"Cih! Nggak sirik aku. Udah punya sendiri," jawab Nathan sembari mengelus perut istrinya yang sudah terlihat menonjol, lalu beralih mengecup pipi Kirana dengan mesra.


Arjuna dan Ansel menaikan bahunya bersamaan, sedangkan Aiden melirik Gwen yang sejak tadi diam saja.


"Ah, melihat kalian yang akur sama pasangannya membuat kami bahagia," ucap Jeje, seraya menyatukan kedua tangannya didada, dan menyederkan kepalanya di bahu suaminya dengan mesra.


"Iya benar sekali. Eh, BTW, Gwen dan Aiden kenapa sejak tadi diam? Apakah kalian sedang bertengkar?" tanya Fika, menatap putrinya dan Aiden bergantian.


Gwen menegakkan punggungnya seraya menatap Aiden yang juga tengah menatapnya. "Ti ... tidak, Ma," jawab Gwen, wajahnya kini bersemu merah karena mengingat kejadian tadi malam yang sangat memalukan.


Aiden memejamkan matanya sesaat dan merutuki dirinya lagi. Masih mengingat juga kebodohan yang sudah ia lakukan kepada Gwen.


"Nah ... Kan! Wajah kalian sama-sama memerah, apakah sudah terjadi sesuatu diantara kalian?" tanya Nue sambil menunjuk Gwen dan Aiden dengan tangan gemulainya.


"Ah, tentu saja tidak!" Gwen menjawab cepat, sembari menggoyangkan kedua telapak tangannya didepan dada.


Obrolan terhenti, Gwen dan Aiden selamat, ketika ada beberapa Waitress menghidangkan menu sarapan diatas meja yang sudah di kelilingi keluarga Clark dan juga keluarga Emanuel.


Sarapan bersama di mulai diiringi dengan obrolan ringan. Hingga tidak terasa mereka sudah selesai menghabiskan sarapanya. Dan setelah sarapan, mereka semua akan Check out dari hotel, karena masa cuti sudah habis, dan harus kembali ke rutinitas seperti biasanya, kecuali pengantin baru yang masih punya waktu sehari lagi untuk libur.


*


*


*


Irene dan Sean sudah kembali ke Paviliun, sedangkan yang lainnya juga sama sudah kembali ke rumah dan melakukan aktifitas seperti biasanya.


Irene terkejut ketika melihat banyak seserahan yang masih terbungkus rapi diatas meja ruang tamu. "Se, ini dari siapa?" tanya Irene.


Sean berjalan mendekat, dan memeluk tubuh mungil Irene dari belakang. "Dari Mommy," jawab Sean, seraya mengurai pelukannya dan mengecup pipi Irene dengan mesra.


"Sejak kapan, kenapa aku tidak tahu ya?"


"Gue juga tidak tahu, karena Mommy mengatakannya saat kita akan pulang dari hotel tadi," jelas Sean, dan di angguki Irene bertanda mengerti.


"Tapi, ini terlalu banyak, Se," ucap Irene, seraya mendudukan diri diatas sofa, lalu mulai membuka satu persatu seserahan pernikahannya. Matanya terbelalak ketika melihat barang-barang mewah disana.


"Sean, apa ini tidak terlau berlebihan? Ini sangat mewah dan mahal untukku."


"Lo pantas mendapatakannya, Ren," jawab Sean, mendudukan diri disamping Irene, seraya memeluk istrinya itu.


*


*


*


Disisi lain, Ansel sedang berkendara menuju Holitron Grup. Situasi jalan raya sangat lenggang dan ia mengendarai mobilnya dengan santai. Sambil mendengarkan lagu yang ia nyalakan dari mobilnya.


Namun, ia tiba-tiba menepikan mobilnya ditepi jalan, ketika melihat seorang gadis kecil menangis sendirian. Merasa iba, ia keluar dari dalam mobil dan menghampiri gadis kecil itu.


"Adek tidak apa-apa?" tanya Ansel, sembari berjongkok, mensejajarkan tingginya dangan gadis kecil yang sedang menangis sesegukan itu.


"Papa ... hikss," jawabnya seraya menghapus air matanya dan menatap Ansel dengan tatapan yaang sulit diartikan. Hidung gadis kecil yang berusia 6 tahun itu terlihat memerah karena sudah terlalu lama menangis.


"Papa? Maksudmu, kamu pergi kesini dengan Papa kamu?" tanya Ansel.


Gadis kecil itu mengangguk. "Iya, tapi aku di tinggal sendirian disini. Papa bilang mau pergi sebentar, tapi sampai sekarang tidak kembali," jawab gadis kecil itu penuh kejujuran dan sangat polos. Wajahnya terlihat sangat sedih.


Ansel mengangguk mengerti, lalu menoleh ke kiri dan ke kanan. Banyak orang yang lalu lalang, namun tidak ada yang peduli sama sekali dengan gadis kecil yang malang itu. Ansel berpikir, jika gadis kecil yang ada dihadapannya ini sengaja di tinggal oleh orang tuanya. Padahal gadis kecil ini sangat cantik, menggemaskan, mempunyai rambut panjang berkilau dengan potongan poni rapi diatas alisnya. Matanya juga bulat dan bulu mata lentik, juga hidungnya kecil dan mancung.


"Lalu Mama kamu?" tanya Ansel.


Gadis kecil itu menunduk, dan mulai terisak lagi. Ansel menjadi bingung dibuatnya.


"Ya, ampun, gadis sekecil ini sudah menjadi korban broken home," batin Ansel, merasa sangat iba dan kasihan dengan gadis kecil yang ada didepannya ini.


"Apa kamu hafal jalan ke rumah kamu?" tanya Ansel lagi dan dijawab gelengan kepala oleh gadis kecil itu.


Ansel menggaruk pelipisnya yang tidak gatal. Bingung harus bagaimana? Haruskah dirinya membawa gadis kecil ini di kantor polisi?


Akan tetapi, dirinya tidak tega sama sekali.


"Aku tidak mau tinggal bersama, Papa. Papa jahat dan suka memukul," gumam Gadis kecil itu, matanya berkaca-kaca saat menatap Ansel.


"Apakah Om Tampan bisa membawaku bertemu dengan Mama? Aku ingin tinggal bersama Mama saja," ucap gadis kecil itu dengan polosnya.


"Om, tidak tahu Mama kamu dimana. Oh, iya, nama kamu siapa?" tanya Ansel, seraya mengusap lembut rambut gadis kecil itu.


"Alesha Zahra, biasa di panggil Zahra," jawabnya, sembari mengambil sesuatu yang didalam tas slempang kecil yang digunakannya.


"Ini foto Mama, kalau aku kangen selalu melihat foto Mama. Mama aku cantik 'kan?" tanya Zahra, sembari memberikan selembar foto berukuran 4 R kepada Ansel.


Ansel terpaku saat melihat foto tersebut, dan sepertinya ia pernah melihat wanita yang ada di foto tersebut. Namun, lupa dimana dan tepatnya, ia pernah bertemu dengan ibunya Zahra.


"Iya, cantik sekali seperti Zahra," jawab Ansel, tersenyum lembut lalu menyerahkan foto tersebut kepada Zahra lagi.


"Om Tampan namanya siapa?"


"Jansel, panggil saja Om Ansel," jawab Ansel seraya berdiri. Ansel menatap jam tangan mewah yang melingkar di pergelangan tangannya, waktu sudah menunjukkan jam 9 pagi, dan sebentar lagi meeting penting di perusahaannya akan segera di mulai.


Kemudian menatap wajah imut Zahra yang terlihat bersedih. Ia tidak mungkin meninggalkan gadis kecil itu sendirian bukan?


"Zahra, bagaimana kalau kita mencari Mama kamu nanti. Om ada perkerjaan penting, apakah kamu ingin ikut bersama Om?" tanya Ansel, tidak punya pilihan lain.


Zahra terlihat diam dan berfikir sejenak, tidak berselang lama, ia menganggukkan kepalanya. "Tapi, Om bukan penculik anak-anak 'kan?"


"Tidak, tentu saja tidak. Om adalah pria yang baik hati dan tidak sombong," jawab Ansel, tersenyum meringis sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Zahra meraih tangan Ansel, dan menggandengnya. Gadis kecil itu mendongak dan menatap Ansel dengan berbinar.


Ada rasa hangat menjalar masuk ke relung hatinya, ketika merasakan tangan mungil itu menggenggam telapak tangannya. Ansel sampai berkaca-kaca dibuatnya.


*


*


*


Ansel memasang sabuk pengaman pinggang Zahra.


"Mobil Om mewah sekali, sama seperti Mobil Papa," ucap Zahra dengan kepolosannya, sembari memegang sabuk pengaman yang melekat di pinggangnya.


"Benarkah? Papa Zahra orang hebat dong?" tanya Ansel menoleh, seraya menyalakan mesin mobilnya.


"Iya, Papa kaya raya, tapi jahat. Suka bawa Tante Menor ke dalam rumah. Maka dari itu Mama tidak betah bersama Papa, dan memilih berpisah dengan Papa,"ucap Zahra, seperti orang dewasa.


Ansel cukup memahami apa yang di ucapkan oleh gadis kecil itu. Sungguh menyayat hati, mendengarnya. Seharusnya gadis sekecil Zahra tidak boleh melihat atau mendengar sesuatu hal yang seperti itu.


Ansel melanjutkan perjalanannya menuju Holitron Grup, dan tidak berselang lama ia sudah sampai. Keluar dari dalam mobil bersama Zahra.


"Apakah ini tempat kerja Om? Apakah nanti Om tidak di marahi Bos karena membawa aku?" tanya Zahra dengan kepolosannya, sembari menatap gedung tinggi dan megah yang ada dihadapannya.


"Tidak, Bos-nya Om, orangnya sangat baik dan menyukai gadis manis sepertimu," jawab Ansel, lalu berjongkok dan menggendong Zahra.


"Kenapa aku harus di gendong?"


"Karena Om sudah telat masuk kerja," jawab Ansel, sembari melangkah masuk ke dalam perusahaannya.


Semua mata karyawan tercengang ketika melihat Ansel menggendong gadis kecil yang sangat cantik. Akan tetapi, mereka tidak berani bertanya kepada Bos-nya itu.


Nathan melongo ketika melihat saudara kembarnya membawa anak kecil masuk ke dalam ruangan Meeting. Begitu pula beberapa klien penting yang ada di ruangan tersebut ikut tercengang.


"Anak siapa ini? Jangan bilang, kalau ini adalah hasil hubungan terlarang dengan kekasihmu?!" tuduh Nathan dengan nada berbisik, namun penuh penekanan.


"Sembarangan!" Ansel melotot tajam ke arah Nathan, tidak terima dengan tuduhan yang dilontarkan kepadanya.


"Zahra, duduk di kursi sana dulu, ya." Ansel menujuk kursi yang ada di sudut ruangan tersebut. Zahra mengangguk patuh, lalu duduk manis di kursi yang di tunjuk Ansel.


Nathan menatap gadis kecil itu, lalu beralih menatap Ansel. "Terus anak siapa dong? Masa iya, kamu menemukannya di jalan?"


"Memang iya! Aku menemukannya di jalan," jawab Ansel ringan.


"What!!"


Sawerannya ya dan Likenya udah mulai mengendor nih. 💃