
WARNING aja ya, bocil minggir. Yang jomblo boleh baca tapi jangan ngiler 🤣🤣🤭
Irene duduk termangu di ruang tamu sembari bertopang dagu, tidak berselang lama Sean datang dari arah dapur sembari membawa segelas susu hamil untuk istri tercinta.
"Minum susunya dulu, Ren," ucap Sean sembari meletakkan segelas susu tersebut di atas meja tepat di hadapan Irene.
Irene menoleh dengan lesu sembari mengela nafas panjang.
"Lo kenapa? Sakit? Perut lo mules?" tanya Sean saat melihat istrinya lesu.
Irene menjawab dengan gelengan kepala seraya menyandarkan kepalanya di dada bidang Sean.
"Ada apa?" tanya Sean lagi, mengusap rambut panjang Irene.
"Aku memikirkan Anaya, dan juga Gwen. Bagaimana bisa bayi yang tidak berdosa itu sudah mengalami cobaan hidup seberat ini, dan perasaan Gwen juga Aiden pasti sangat hancur 'kan?" ucap Irene dengan sendu. Sebagai calon ibu, Irene turut merasakan kehancuran hati yang di rasakan oleh Gwen. Ia tidak bisa membayangkan jika nasip sama menimpa dirinya.
Sean terdiam ketika mendengar perkataan istrinya. "Daddy, Mommy dan juga para dokter sedang mengupayakan hal yang terbaik untuk Anaya kita. Kita do'a kan saja semoga di beri jalan yang terbaik dan Anaya bisa mendengar lagi," jelas Sean, menenangkan perasaan istrinya.
"Jangan banyak pikiran, Ren. Ingat kata dokter, menuju HPL tidak baik banyak pikiran karena bisa membuat lo stres dan tekanan darah lo naik. Sekarang minum susunya dulu," ucap Sean, lalu mengambil segelas susu itu dan di berikan kepada Irene.
"Terima kasih, Sean," ucap Irene lalu meneguk segelas susu itu hingga tersisa separuh gelas..
"Habiskan susunya biar dedek bayi di perutmu sehat," ucap Sean.
"Tidak mau. Aku sudah merasa sangat kenyang," tolak Irene, dan Sean pun tidak mau memaksa karena tidak mau jika istrinya itu nanti mual dan muntah.
"Boleh ke rumah Mommy dan Daddy tidak? Aku ingin melihat Anaya," ucap Irene penuh harap sembari mengusap perutnya yang buncit itu.
"Boleh, tapi lo harus tidur siang dulu," jawab Sean sembari beranjak dari duduknya, menuju dapur untuk mencuci gelas bekas yang di pakai Irene.
"Sean, jam tidur siangku masih lama sekali!" rajuk Irene, mengikuti suaminya dari belakang.
"Mau menurut atau tidak? Lo kalau sudah berada di rumah Daddy dan Mommy pasti lupa segalanya," jawab Sean, yang sedang mencuci gelas di wastafel cuci piring.
"Ah, tidak asik!" sungut Irene lalu menghentakkan kedua kakinya kesal dan menuju kamarnya.
Sean menggeleng pelan, dan menyusul istrinya setelah dirinya selesai dengan pekerjaanya.
"Lo marah sama gue?" tanya Sean saat memasuki kamar melihat istrinya tidur diatas ranjang.
Sean merangkak naik ke atas ranjang lalu mengungkung tubuh istrinya. "Gue kabulin permintaan lo tapi dengan syarat, berikan gue satu ronde dulu," bisik Sean sambari meniup telinga Irene dengan lembut, membuat istrinya itu kegelian.
"Ah curang!" kesal Irene sembari menatap wajah tampan Sean dari bawah. Irene mengerucutkan bibirnya dengan kesal, dengan cepat Sean mencium bibir yang sedang mengerucut itu penuh lembutan.
"Tidak boleh menolak," ucap Sean saat ia melepaskan ciumannya itu sesaat. Kedua mata tajam Sean menatap dalam wajah Irene dengan penuh gairah.
Jika sudah seperti itu Irene hanya bisa pasrah dan membiarkan suaminya menyalurkan hasrat dan gairahnya sampai puas.
"Sebentar lagi gue 'kan puasa, dan ini juga akan di kontrak oleh anak kita nanti," ucap Sean seraya menunjuk dua pepaya gantung yang terlihat di depan matanya saat dress yang dikenakan Irene sudah lolos dari tubuh mungil dan sexy itu.
Sean menundukkan kepalanya seraya menyesap dan mengu*lum pucuk pepaya itu dengan sangat rakus dan bergantian.
"Ahh ... Emhh ..." Suara ******* dan lenguhan Irene mulai terdengar, membuat Sean yang sedang asik menyus* semakin bersemangat.
Irene menekan kepala Sean agar suaminya itu menyesap pucuk dadanya lebih dalam dan lama.
"Enak banget," racau Irene semakin melebarkan kakinya, agar suaminya itu segera menyantap menu utama. Bagian bawahnya sudah terasa sangat gatal tidak sabar untuk segera di sodok oleh Si Joni.
Sean yang mengerti dengan kode istrinya pun seger melepaskan pakaian mereka hingga polos tanpa sehelai benang. "Sudah siap?" tanya Sean sembari memosisikan dirinya dan memegang leher Si Joni yang sudah menegang dan berurat.
"Siap banget," jawab Irene sembari menggigit bibir bawahnya karena sudah tidak sabar merasakan keperkasaan suaminya yang membuatnya selalu terbuai dan mendesah nikmat.
Sean tidak mau mengulur waktu lagi, ia segera menghujamkan kepala Si Joni hingga amblas dan lehernya terjepit di pintu rumahnya yang sangat sempit dan menggigit.🤭
Percintaan panas di pagi hari menjelang siang itu pun di mulai. Suara ******* dan lenguhan semakin terdengar merdu memenuhi seluruh ruangan tersebut. Tubuh mereka di penuhi dengan peluh kenikmatan yang membuat mereka semakin terbakar api gairah.
Sean dan Irene menyatu dalam sebuah kenikmatan yang tiada terkira dan sulit untuk di jelaskan dengan kata-kata. Hingga pada akhirnya mereka berdua mengerang panjang saat gelombang kenikmatan menghantam tubuh mereka berdua.
CROUT!
Sean menyemburkan cairan kenikmatannya ke dalam rahim istrinya, menyirami kepala dede bayi yang ada di dalam kandungan sang istri.
***
Kalau kurang Hot bacanya sambil rebus air biar terasa hot jeletot 🤣🤣🤣🤣
Jangan lupa dukungannya buat emak gesrek, biar makin gesrek ya🤣🤭