My Hot ART

My Hot ART
S2. Si Bocil



Sean sedang berada di rumahnya. Rumah sederhana yang baru di belinya satu minggu yang lalu. Usaha bengkel dan Mini market-nya berkembang dengan pesat, karena bantuan dari ketiga saudaranya. Dan juga sudah mempunyai beberapa Karyawan, baik di Bengkel atau pun di Mini Market-nya.


"Hari ini lo nggak perlu ke Mini market, kan sudah ada beberapa Karyawan di sana," ucap Sean, sembari memeluk istrinya dari belakang yang tengah membuat susu hamil di dapur, tangan kekarnya mengusap perut buncit istrinya dengan penuh kelembutan, sembari merasakan gerakan si kecil yang ada di dalam perut istrinya. Hatinya merasa nyaman, tentram dan bahagia saat berada di posisi seperti ini.


"Tapi, aku akan jenuh jika berada di rumah terus, Se," ucap Irene, sembari mendengus kesal.


"Bukan kah lo suka nonton Drakor?" tanya Sean, sembari mengecup tengkuk istrinya, membuat Irene kegelian.


"Aku sudah bosan," rajuk Irene, lalu menengguk susu hamilnya hingga tandas, setelah itu ia membalikkan badannya, mendongak seraya menatap suaminya yang tengah menunduk menatapnya juga.


Sean tersenyum, lalu mengangkat tubuh istrinya yang pendek itu dan mendudukkannya di dekat wastafel cuci piring, menatap Irene dengan lekat, seraya merangkum pinggang istrinya dengan erat, sedangkan Irene mengalungkan kedua tangannya di leher Sean dan kedua kakinya melingkar di pinggang suaminya itu.


"Perut lo sudah buncit banget," ucap Sean, seraya mengusap pinggang Irene, lalu beralih mengusap perut Irena yabg buncit itu.


"Apa perlu gue di rumah terus sambil nengokin di bocil? Biar lo nggak bosan," ucap Sean menggoda istrinya.


"Ck! Itu sih mau kamu! Kalau kamu di rumah terus mau makan apa kita?!" protes Irene, membuat Sean tergelak keras, lalu narik tangkuk istrinya seraya menyatukan kening keduanya. Saling memejamkan mata, menikmati hembusan nafas yang menerpa wajah masing-masing, begitu terasa hangat.


"Terima kasih, karena lo sudah menemani gue dari Nol sampai ke titik ini," ucap Sean dengan tulus.


"Bukan aku, tapi ketiga saudaramu yang membantu usaha kita," jawab Irene tidak mau berbangga hati.


"Tapi, lo berperan penting buat hidup gue. Dan merubah diri gue menjadi lebih baik, dari seorang bajiingan kini menjadi pria yang lebih baik dan bertanggung jawab, semua berkat lo, Irene," ucap Sean, dengan gemas ia mengecup bibir mungil istrinya yang menyesapnya, mellumatnya dengan menuntut.


"Emhh." Irene melenguh dan membalas setiap pagutan dan lumataan yang diberikan oleh suaminya. Kedua tangannya semakin mengerat di leher belakang suaminya, sedangkan tangan Sean mulai nakal, naik turun di punggung istrinya lalu berpindah ke depan dan meremat dua bukit kembar Irene yang semakin besar dan montok itu.


"Satu ronde sebelum berangkat kerja, boleh 'kan?" tanya Sean setelah melepaskan ciumannya, nafasnya terengah bertanda jika dirinya sudah sangat bergairah.


Irene menganggukkan kepalanya pelan, bertanda jika dirinya memberikan izin kepada suaminya.


Sean tersenyum senang, lalu menyatukan bibir mereka kembali dan mengangkat tubuh istrinya seperti anak koala, berjalan menuju kamar dengan keadaan bibir yang berpatukan dan saling caplok.


Sampai di dalam kamar, Sean segera melucuti semua pakaian mereka hingga polos tanpa sehelai benang. Sean menatap tubuh istrinya yang mungil dengan perut buncit, terlihat sangat lucu dan menggemaskan di depan matanya.


Sean membawa Irene ke atas tempat tidur, dan merebahkannya di sana. Ia membelai perut buncit istrinya dengan lembut. "Bocil, Papa akan mengunjungimu," ucap Sean dengan absurd, membuat Irene sedikit kesal seraya memukul pundak suaminya itu.


"Kamu pikir anakmu mengerti dengan ucapanmu!"


"Setidaknya, dia tidak akan terkejut saat Papa-nya menyirami kepalanya," jawab Sean semakin absurd lagi, dan mulai melanjarkan aksinya.


Irene hanya memutar kedua matanya dengan malas menanggapinya.


"Bersiap juga untuk Bestie, karena Si Joni akan mengunjungimu," ucap Sean dengan wajah penuh nafssu, sembari menggenggam leher Si Joni dan mengarahkan ke Bestie-nya yang sudah siap di hujam dengan dalam.


*


*


*


"Aku ingin seperti Sean, membangun istana sendiri dengan keluarga kecilku," ucap Nathan memecah keheningan di dalam mobil itu.


"Kau yakin?" Ansel menatap kakak tertuanya dengan serius dan diangguki Nathan dengan mantap.


"Aku setuju juga denganmu. Sean menjadi panutan kita. Tidak menyangka saja jika bocah bajingan itu menjelma menjadi pria yang baik," sahut Aiden.


"Itu karena sudah menemukan pawang yang tepat. Lihatlah kepribadian Irene yang kuat dan tidak muda di tentang," ucap Nathan yang duduk di jok belakang sembari menekuri layar ponselnya, berbalas pesan dengan istri tercinta yang mengirimkan video lucu anak-anaknya, bibirnya terus berkembang saat melihat dua buah hatinya yang sangat menggemaskan itu.


"Iya, setuju sekali. Sean mudah tunduk dalam pesona Irene si gadis mungil dan culun itu," sahut Aiden membenarkan ucapan saudaranya itu, seraya tergelak keras.


"Irene adalah wanita yang kuat, termasuk istri-istri kita. Mereka makhluk yang lemah dan sulit di mengerti, namun sangat kuat dan tegar dalam hal apa pun," ucap Ansel, yang sedang fokus menyetir.


"Seperti Kirana yang begitu kuat melahirkan buah hati kami. Dia menahan kesakitan, dan bertaruh nyawa demi keturunanku," ucap Nathan, keduanya matanya menerawang tentang kejadian beberapa bulan yang lalu saat menyaksikan perjuangan istrinya bertaruh nyawa demi anak-anaknya. Rasa haru menyeruak di dalam dada saat mengingat kejadian itu, dan ia semakin mencintai istrinya.


Aiden dan Ansel saling tatap, dan merasa takut jika nanti tidak sanggup menemani istri mereka yang akan melahirkan, apakah mereka bisa melihat penderitaan istri mereka yang merasa kesakitan dan bertaruh nyawa demi buah hati? Entahlah, jantung Aiden dan Ansel mendadak berdetak tidak karuan.


Obrolan mereka terhenti saat sudah sampai di depan bengkel mobil Sean terlihat ramai, ada lima montir yang bekerja di sana, dan terlihat sangat sibuk mengotak-atik mobil Customer.


"Sean mana?" tanya Ansel kepada salah satu montir di sana.


"Belum datang, Pak, mungkin masih di jalan. Bisa tunggu di ruangannya," jawab Montir tersebut dan di angguki tiga pria gagah dan tampan keturunan Clark itu. Ketiganya itu menunggu di ruangan Sean yang jauh dari kata mewah, ruangan tersebut terasa sempit beruntung ada pendingin ruangan di sana.


Salah satu montir lainnya lagi, memberikan Teh Pucuk yang terkenal dengan ulat bulunya itu. 😆


"Silahkan di minum, Pak. Seadanya," ucap Montir itu dengan sopan.


"Terima kasih," jawab Three J itu.


Tidak berselang lama Sean datang memasuki ruangannya dan menyambut ketiga saudaranya itu.


"Kenapa lama sekali?!" tanya Ansel, bibirnya mengerucut tajam.


"Biasa olah raga pagi dulu, melemaskan persendian yang pada kaku," jawab Sean, sembari nyengir kuda.


"Kampret!!" umpat ketiga saudaranya itu.


**Ngumpul mereka ber-empat, ngilangin rindu kalian.


Yuk kasih Vote, like, komentar dan kasih hadiah❤❤**